
...~•~...
...***...
Hari ini Dinar tidak bisa menikmati sarapannya dengan nikmat, sebab. pikirkannya selalu tertuju pada Alvaro, bagaimana caranya. Agar membujuknya untuk mau pulang.
Dinar ******* bibirnya terlebih dahulu sebelum bicara. "Sayang_" panggil Dinar.
"Hmm?"
"Menurut aku, apa yang kita lakukan ini salah?" Alvaro seketika menghentikan kegiatan makannya, cowok itu mendongak mengerutkan kening bingung.
"Maksudnya?"
"Sebaiknya kita pulang, setelah aku berpikir lama. Aku baru sadar kalau apa yang kita lakuin ini salah."
"Nggak seharusnya kita pergi, aku yakin. Saat ini mereka nyalahin kamu, apalagi dengan kita pergi gini. Aku nggak mau mereka semakin menyalahkan dan berpikir buruk sama kamu," Al terpaksa menaruh sendoknya, selera makannya berkurang.
"Terus aku harus gimana? Aku cuma butuh tenang sebentar, apa aku salah?" tanya Al bernada sedikit tinggi.
"Nggak! kamu nggak salah Al, tapi seharusnya kita selesaikan dulu baru mencari ketenangan."
"Jadi menurut kamu aku harus gimana!" sentaknya. Dinar cukup terkejut melihat raut wajah Alvaro yang terlihat begitu marah, bahkan cowok itu juga bicara dengan nada tinggi.
Alvaro tak pernah seperti ini sebelumnya. "Aku mau pulang dan temui mereka, kalau kamu nggak mau! Nggak masalah." Dinar menjadi ikut emosi, perempuan itu berdiri mengemasi pakaiannya.
"Sayang, Kita kesini berdua. Tolong tunggu sebentar aja, setelah itu kita pulang, Jangan pergi duluan." mohon Al kembali bernada lembut.
Dinar tak menjawab, ia masih sibuk memasukkan baju bajunya kedalam koper, "Sayang pliss jangan pergi." cegahnya, lagi lagi Dinar tetap diam lalu pergi tanpa menoleh pada suaminya.
sangking kesalnya Alvaro yang belum beranjak dari meja makan, membanting piring hingga jatuh dan pecah, mengacak rambutnya frustasi.
Dinar memesan mobil yang bisa mengantarnya pulang, karena mereka tidak terlalu jauh dari Ibu kota, cukup memakan waktu satu jam setengah Dinar sudah tiba.
Namun Dinar bukan pulang kerumah, melainkan datang kerumah Amanda, tadi ia sempat bertanya pada Bunda Alya tentang kondisi gadis itu.
Dan ternyata Amanda kini sudah berada di rumah, Dinar ingin bertemu dengan gadis itu dan mengajaknya bicara.
Ia sangat gugup berdiri di depan pintu bercat putih tersebut, namun untuk berbalik badan dan pergi itu rasanya tidak mungkin.
Dengan mengucapkan bismillah ia menekan bel pintu, tinggal menunggu seseorang membukanya.
"Assalamu'alaikum," salam Dinar saat pintu terbuka dan muncul Bu Lilis.
"Ngapain kamu datang kesini?!" ucap Bu Lilis angkuh tanoa menjawab salam Dinar.
"Maaf Tante, Saya datang kesini. Ingin bertemu Amanda,"
"Untuk apa? untuk pamer, kalau kamu istrinya Alvaro. Mau buat anak saya makin sakit hati!" tentu Dinar menggeleng kuat, bukan itu niatnya datang.
"Nggak ada niat saya seperti itu Bu, saya mau bicara dengan dia baik-baik. Saya mohon, izinkan saya untuk bertemu." Dinar menangkup kan tangannya, ia sangat memohon pada Bu Lilis.
Bu Lilis cukup lama berpikir, hingga Dinar merasa canggung ketika terus di tatap. "Baik, tapi tidak lama." putusnya.
Usai di baeritahu kamar putrinya, Bu Lilis memilih untuk pergi, Pintu kamar Amanda yang tidak di tutup, sudah bisa melihat gadis itu sedang duduk di atas kasur, sambil menatap kearah jendela.
Mendekati pintu Dinar mengetuk pintu tersebut, saat Amanda menoleh dan melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu, membuat gadis berwajah pucet itu terkejut.
"Dinar," Gumamnya.
...***...
"Boleh gue masuk," Amanda menghela napas kasar, namun tetap mempersilakannya untuk masuk.
Dinar perlahan masuk lalu duduk di salah satu sofa yang memang ada di kamar gadis itu, Mereka saling diam, Dinar pun bingung harus di mulai dari mana ia bicara.
"Gi_gimana keadaan lo Man?" tanya Dinar gugup.
"Baik," jawabnya singkat.
Dinar tersenyum kecut, ia bisa menyimpulkan jika Amanda masih tidak suka kepadanya, ketika mendengar jawaban ketus dari gadis itu.
"Gue datang kemari, untuk melihat kondisi lo, Dan meluruskan masalah kemarin. Lo pasti sudah dengar kan kalau_" jeda sejenak Dinar menoleh menatap Amanda yang masih saja melihat keluar jendela.
"Gue dan Alvaro sudah menikah," baru usai Dinar mengatakan itu, Amanda menoleh menatap tajam Dinar.
"Sebenarnya apa yang kamu lakuin sampai Alvaro nikah sama kamu! atau jangan-jangan kamu sudah hamil?" Dinar menggeleng kuat.
"Gue nggak hamil Manda_ awalnya gue juga nggak nyangka waktu Alvaro ngajak untuk menikah. Waktu itu kondisi yang mendesak, karena gue lagi di teror seseorang dan hampir mencelakai adik gue."
"Tadinya gue pikir, Alvaro nikahin gue, cuma karena ingin lindungin gue aja, tapi ternyata dia benar-benar sayang dan cinta sama gue, meskipun kita baru ketemu dia bisa meyakinkan gue kalau dia nggak bohong soal perasaannya."
"Terus, kamu datang kesini. Mau pamer, tentang perasaan Alvaro ke kamu? kamu mau bikin aku semakin sakit hati!" Lagi lagi Dinar menggeleng, tangannya mengusap air matanya.
"Bukan Amanda. Tapi gue kesini mau minta maaf, Gue tau lo kenal Al lebih lama, dan kalian bersahabat. gue maklum dan tau, jika dua persahabatan berbeda jenis, pasti salah satu di antaranya memiliki perasaan lebih."
Memejamkan matanya sejenak Dinar menghirup udara sedalam mungkin dan membuangnya secara pelan. "Lo nggak salah, kalau cinta sama Al. Tapi cinta lo nggak akan bisa di balas, gue mau lo sadar. Gue tau ngomong itu mudah, tapi nggak bagi lo yang ngerasainnya."
"Maafin kalau gue egois, karena kadang kita perlu egois untuk mempertahankan apa yang menjadi milik kita. Dan kalau lo minta gue untuk ninggalin Alvaro, gue nggak bisa. Gue pun sayang dan cinta sama suami gue sendiri,"
"Intinya, Maafin gue dan Alvaro. Jangan benci dia, sampai kapanpun dia tetap Alvaro sahabat kecil lo, tolong kembali menjadi sahabat seperti dulu. Gue yakin lo bisa mendapatkan yang lebih baik dari Al."
"Semoga kita bisa berteman, karena gue ingin berteman sama lo, bukan bermusuhan." Dinar menatap teduh dengan senyum kepada Amanda.
Namun gadis yang masih betah menyorot Dinar dengan tatapan itu, tidak sama sekali membalas senyum tulus yang Dinar berikan.
Selesai mengutarakan niat dan menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan, Dnar berpamitan pulang. Ketika Dinar pergi, Amanda mengamuk seperti kesetanan.
Semua barang yang ada di dekatnya gadis itu hancurkan, ia begitu marah, kecewa dan sedih. ia tak terima takdir hidupnya seperti ini, sebelumnya dia tidak pernah yang namanya jatuh cinta, tapi kenapa di saat mencintai seseorang, harus mencintai sahabatnya sendiri yang sudah jelas jelas tak mungkin dia dapatkan.
Dulu ketika mereka masih duduk di bangku SMP, Alvaro sudah pernah mengatakan, jika mereka sudah dewasa nanti. Jangan pernah ada yang berubah di antara mereka, tetaplah selalu menjadi sahabat.
...***...
...TBC...