
...~•~...
Hari terus berlalu, tidak terasa kehamilan Dinar sudah memasuki bulan ketiga, meskipun belum begitu terlihat, jika tertutupi oleh pakaian, namun cukup membuat Alvaro yang melihat ketika mereka hanya berdua tak bisa menahan rasa membuncah di dadanya.
Al sering menyibak kaos atau dress rumahan yang Dinar kenakan untuk menyampa dan mengajak anaknya bicara. dan mencium berulang kali kulit mulus putih sang istri.
Kondisi Dinar sendiri, belum bisa di katakan baik. wanita itu masih sering mual dan kadang sampai ingin pingsan, beruntung Alvaro tak pernah lengah dan terus memperhatikan Dinar.
Maka dari itu, Dinar begitu bahagia. mendapatkan perhatian lebih dari Alvaro, seperti saat ini. ketika mereka ingin pergi kesekolah, Dinar tiba-tiba ingin limbung kebelakang, beruntung saat itu Ayah Angga lewat ingin pergi ke kantor.
"Dinar, kamu nggak apa-apa Kak?" Ayah memegang kedua pundak sang mantu, tidak lama terdengar suara langkah besar mendekati mereka.
"Sayang!" pekik Al, mengambil alih tubuh ringkih Dinar dari Ayahnya.
"Bawa ke kamar Al," titah Ayah Angga.
Saat Alvaro ingin mengangkat tubuhnya, Dinar menggeleng pelan tanpa membuka kelopak matanya. Ia menolak ketika Al ingin membawanya ke kamar.
"Aku nggak apa-apa, kita berangkat aja."
"Kondisi kamu kaya gini, kamu tetap mau sekolah?" ujar Al datar.
"Aku nggak mau sering bolos Al, mereka sama guru selalu tegur aku." mendengar hal itu raut wajah Alvaro berubah.
Ada rasa marah saat ternyata di sekolah Dinar mendapatkan hal buruk dari teman dan para guru. "Mereka bilang apa?" Dinar tak kunjung menjawab, wanita itu takut. Jika bicara akan membuat masalah.
"Jujur Nak, nggak apa-apa." saut Bunda Alya menatap khawatir pada menantunya.
Greget tak juga mendapat jawaban, Alvaro membopong Dinar, kini tak ada penolakan, sebab. Dinar merasa kepalanya kian berdenyut apalagi ia harus jujur pada suaminya.
"Kalau kamu nggak cerita, biar aku yang cari tau!" Alvaro sudah ingin beranjak dari tepi ranjang, namun tangannya di cekal.
Dinar menatap Al teduh, meminta suaminya untuk duduk.
Perempuan berwajah pucat itu langsung bicara, ia justru meremas tangan Alvaro yang masih dia gengam erat. "Kalau aku cerita, kamu harus janji jangan marah."
"Tergantung seperti apa keadaannya," Dinar memejamkan matanya selain mendengar jawaban Al yang tidak memuaskan, ia juga meredam rasa pening di kepalanya.
"Sepertinya mereka tau aku hamil, beberapa murid selalu ngelihat aku dengan tatapan aneh, Guru juga kadang nyindir dengan kata-kata hamil di luar nikah." Al mengepalkan tangannya, memejam sejenak meredam rasa emosinya.
Cerita pun mengalir dari mulut Dinar, saat ia pernah di pojoki di dalam kamar mandi, beruntung saat itu Selly lekas datang.
Jika tidak, ia tidak tau akan seperti apa nasibnya bersama anaknya, bukan hanya itu, guru sering memberi tugas pada Dinar, dan mengatakan jangan jadikan Alvaro sebagai alasan agar dia tidak mau menjalankan tugas yang sudah Guru beri.
"Aku nggak mau bolos, karena aku nggak mau dapat hukuman dan hinaan lagi Al, aku nggak apa-apa. Aku masih kuat," Dinar sudah ingin bangkit, namun Al mencegahnya.
"Kenapa nggak pernah cerita?" tatapan Al mengintimidasi sang istri, ia ingin Dinar jujur.
"Jawab sayang," pinta Alvaro, bernada rendah mencoba meredam intonasi bicaranya.
Dinar ******* bibirnya gelisah, tadinya dia tak ingin memberitahu, namun melihat tatapan Al yang begitu menusuk, akhirnya dia mengalah dan menceritakan jika dirinya di ancam oleh satu murid tempat kelasnya berada, bahkan murid itu sudah bekerja sama dengan guru.
Dinar tak tau motif ancaman tersebut, mereka hanya mengatakan awas saja, sampai apa yang di perbuat diketahui apalagi sampai ke telinga keluarga Airlangga.
...***...
Alvaro datang ke sekolah dengan langkah besar, meskipun dia sudah izin tidak masuk hari ini, namun ia tetap datang guna mencari seseorang yang sedari tadi terus berputar di otaknya.
Suara gaduh di dalam kantin sontak berhenti, saat atensi mata mereka tertuju pada pria tampan berkaos putih di lapisi jaket jeans tersebut, tengah mencari seseorang yang entah pada siapa.
Alvaro menajamkan matanya, mencari objek yang sedang ia cari, dan saat matanya menemukan orang itu. Alvaro mengunci pandangan, melangkah besar dengan tatapan tajam menghampiri orang itu.
"Ikut gue!" kata Al tiba tiba dengan nada datar.
Sontak orang itu terkejut, apalagi saat Alvaro mencengkram tangannya dan menyeret keluar dari kantin itu.
"Al, ini ada apa?" kata gadis yang tak lain adalah Amanda.
Amanda berjalan terseok seok mengikuti langkah cepat dan besar Al. "Al lepasin tangan aku, sakit." gadis itu merintih menahan tangannya yang terasa panas dan perih.
Sementara Al tak menggubris apapun yang di ucapan gadis itu, ia tetap membawa Amanda ke atap rooftop sekolah
Tiba di rooftop, Al menyentak kasar tangan Amanda hingga gadis itu hampir tersungkur ke lantai, Manda menatap sendu sambil mengusap tangannya yang memerah.
"Sebenarnya ini ada apa Al? kenapa kamu kasar gini?" Cowok itu tak langsung menjawab, ia sedang mengatur napasnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari gadis itu.
"Jawab dengan jujur. lo yang ngasih tau kalau Dinar hamil, sampai dia dapat perundungan di sekolah?" bola mata Amanda membulat sempurna, ia buru buru menggeleng kuat.
"Nggak Al, aku nggak ngelakuin itu."
"Bohong! cuma lo yang tau kalau Dinar hamil." sentak Al tak percaya.
"Demi apapun, aku nggak ngelakuin itu Al, aku sudah ihklas nerima pernikahan kalian, aku nggak mungkin jahat sama Dinar!"
Alvaro maju menatap kian menajam. "Kalau sampai lo terbukti pelakunya! gue nggak akan diam aja," tunjuknya tepat di depan wajah Amanda, lalu pergi meninggalkan gadis yang kini menangis tersedu.
Amanda memukul dadanya yang terasa sesak, mendapatkan tuduhan dari sahabatnya, sungguh bukan dirinya yang memberitahu kehamilan istrinya.
"Al!" sontak Alvaro menghentikan langkahnya saat mendengar sahabatnya memanggilnya dari arah belakang.
"Lo kenapa nggak masuk?" tanya Bastian.
Al memilin keningnya, ia merasa pusing dengan masalah barunya. "Dinar dapat perundungan," jawab Al singkat.
"What! kok bisa?" saut Niko kaget.
Alvaro menceritakan kejadian yang menimpa Dinar, dan mereka pun berniat membantu sahabatnya itu untuk mencari pelakunya, dari empat cowok tampan tersebut, hanya tiga yang mencurigai Geby, Namun Al tidak yakin jika gadis itu pelakunya, sebab. Geby tidak tau tentang pernikahannya, dan dia pun sudah jarang menganggunya.
Heru meyakinkan Al jika bisa saja, diam diam gadis itu mencaritahu dan mengintai Al bersama Dinar.
Perkataan Heru, membuat Al goyah. Apa yang di katakan Heru ada benarnya, Alvaro pun memutar otak bagaimana caranya agar bisa mengetahui siapa orang yang sudah membuat istrinya menderita.
...***...