
***Terim kasih yang tiap hari kasih like, jangan bosen selalu dukung ceritaku ya.
Karena dukungan dari kalian buat aku semakin semangat untuk Up***.
.
.
.
.
.
.
.
...~Happy Reading~...
...***...
"Jingga di minum dulu susunya," Dinsr menyodorkan satu gelas susu untuk adiknya.
Jingga menerima dengan senang hati, adiknya itu memang paling senang jika harus minum susu, ketimbang minum obat. "Terima kasih kak," ujarnya begitu ceria.
Dinar duduk di depan kursi roda sang adik. melihat sedang apa kah adiknya saat ini. "Jingga suka belajar sama Bu Astrid?" Bu Astrid adalah guru homeschooling Jingga.
"Suka kak, Bu Astrid baik. nggak pernah marah kalau aku nggak ngerti,"
"Syukurlah, Kakak nggak mau kalau kamu tertekan. Seandainya kamu nggak suka bilang ke Kakak ya."
Jingga mengangguk beberapa kali. "Iya Kak, aku justru senang bisa belajar sama Bu Astrid, karena kata Ayah Angga. aku nggak bisa sekolah kayak anak lainnya. makanya Ayah nyuruh Bu Astrid datang kerumah,"
"Kakak kan tau, dari dulu aku pingin sekolah, tapi nggak bisa, karena aku sakit-sakitan." ujarnya menunduk sedih, Dinar hanya mampu menarik sudut bibirnya tipis, dia ingat betul.
Dulu Jingga sering memaksanya untuk mendaftarkan dirinya di sekolah yang adiknya ingin kan, sebisa mungkin Dinar beralasan, bukannya dia tak mau mendaftarkan Jingga.
Hanya saja, dia tidak tega melihat adiknya sekolah dengan keadaan seperti itu, Jingga masih lemah. dia tak bisa bergerak dengan leluasa, jika adiknya memaksa maka kemungkinan besar dirinya akan kehilangan sang adik.
"Iya udah, kalau kamu senang, Kakak juga senang. Asal kamu harus janji sama Kakak, kalau kamu akan baik-baik aja. Dan nurut sama Bunda Alya ataupun Mba Leli,"
"Pasti Kak." jawab Jingga mantap memberi jempol dan juga wajah penuh dengan senyuman.
Dinar tersenyum hangat, ia mengusap kepala jingga. Baru kali ini dia bisa melihat wajah berseri-seri. dari adiknya.
Wajah pucat yang selalu dia lihat dulu, kini berkurang, hanya raut wajah kebahagiaan dan keceriaan selalu muncul di paras cantik adiknya.
Dinar hanya bisa berharap semoga saja, Ayah mertuanya bisa segera menemukan jantung yang cocok untuk Jingga.
"Besok Kakak mau pergi?" Dinar tersadar dari lamunannya saat Jingga bertanya.
"Iya, besok Kakak ada kegiatan di sekolah. Kamu nggak apa-apa kan, kalau Kakak tinggal dulu dua hari?"
"Nggak apa-apa Kak, sekarang ada Bunda Alya. Kak Qilla sama Kak Rani, jadi Kakak nggak perlu khawatir." jawab Jingga yang tak pernah melunturkan senyumannya.
"Syukurlah, Kalau gitu Kakak tenang."
Dinar memang harus meninggalkan Jingga selama dua hari untuk kegiatan kemahnya, sebenarnya ada rasa khawatir yang hinggap di hatinya.
Namun mengingat jika di rumah ini banyak orang dan juga banyak pengawasnya, Dinar bisa sedikit lega.
Hanya memiliki satu-satunya keluarga dalam hidupnya, membuat Dinar sangat protektif, segala apapun tentang adiknya dia akan pikirkan.
"Lagi pada ngomongin apa ini?" Alvaro datang membawa beberapa cemilan lalu duduk di samping Dinar.
"Lagi ngomongin Kak Al," jawab Jingga santai padahal dia sudah mendapatkan delikan dari sang Kakak.
Alvaro mengerutkan kening menatap Dinar dan Jingga bergantian. "Ngomongin Kakak? ngomong apa?" Jingga terkikik geli saat mendapat kode dari Kakaknya.
"Nggak ngomong apa-apa kok Kak."
"Oh iya?" Al tak percaya.
"Kak Dinar tuh yang sering ceritain tentang Kakak,"
"Terus-terus, ngomongin Kakak yang jelek nggak?" Ia semakin penasaran.
Jingga menggeleng. "Nggak pernah. Kak Dinar malah selalu muji Kakak, katanya Kak Dinar sayang banget sama Kak Al." senyum semakin lebar di wajah Alvaro.
"Masa sih. Tapi kok Kak Dinar nggak pernah ngomong langsung ke Kakak?"
"Malu kali," ujarnya menutup mulut karena ingin tertawa.
Alvaro terbahak hingga mengacak rambut Jingga, Dinar menatap sinis pada keduanya. dia sungguh dongkol dan malu, kenapa juga adiknya harus mengatakan hal itu.
Dirinya memang sering bercerita kepada Jingga tentang Alvaro, dia tak pernah ragu menceritakan apapun kepada adiknya tentang perasaannya terhadap Al.
Namun jika harus di ceritakan ke orangnya langsung, tentu saja dia malu.
"Apaan sih kalian. Nggak jelas!" marahnya lalu pergi begitu saja untuk menghindar.
Alvaro dan Jingga hanya mampu tertawa lepas, memandang kepergian Dinar.
...***...
Dinar tengah sibuk mempersiapkan peralatan untuk mereka bawa besok, memasukkan baju milik Al kedalam tas milik cowok itu, ia memilih baju-baju santai saja, dan tidak lupa dua style jaket dan satu sweater, dia yakin kota yang akan mereka kunjungi cuacanya sangat dingin dari pada kota yang sebelumnya di kunjungi.
Cklek!
suara pintu terbuka, membuat tubuh Dinar yang sedang berjongkok di lantai menegang, ia masih mengingat kejadian beberapa menit lalu bersama Suami dan adiknya.
Al menutup pintu, tidak lupa ia menguncinya dan menghampiri Dinar duduk di samping gadis tersebut. "Perlu bantuan?" tawar Al.
"Nggak usah, bentar lagi selesai." tolaknya tanpa menoleh kearah suaminya.
Selesai urusan tentang kemah besok, Dinar ingin menghindari Alvaro kembali, ia berdiri lalu berniat keluar dari kamar.
Namun sebelum itu terjadi, Al lebih sigap dari dirinya. Cowok itu menarik tangan Dinar hingga gadis itu terjatuh dengan posisi di atas pangkuan Alvaro.
Dinar memekik, memegang pundak suaminya.. "Al! kalau aku jatuh gimana!" kata Dinar kesal.
Alvaro hanya diam memandang Dinar lekat, mengikis jarak wajahnya dengan wajah Dinar. "Siapa suruh cuekin aku." bisiknya.
"Kamu sih, aku kan malu." adunya menunduk memainkan kaos Al membuat tulisan abstrak di dada cowok itu.
"Kenapa harus malu, justru itu bisa membuat hati suami senang," kata Al menarik Dinar kedalam dekapannya.
"Aku pernah baca, pengakuan dari istri dapat menimbulkan kebahagiaan untuk suami. cukup dengan mengungkapkan kata-kata sayang atau cinta, sudah bisa membuat hati suami menghangat dan bahagia."
Alvaro memang sering membaca artikel-artikel atau apapun yang berhubungan dengan rumah tangga, dia melakukan itu, karena ingin menjadi suami yang terbaik untuk Dinar.
Suami yang bisa membuat istrinya bahagia dan bertanggung jawab, sebagai kepala rumah tangga. Apalagi dia menikah di usia muda, pasti banyak sekali godaan dan cobaannya.
Dia dan Dinar masih anak remaja yang masih suka labil, dan kadang kekanakan, jika dia tak belajar, maka tak menjamin akan pernikahannya bisa bertahan, Al sama sekali tidak ingin hal itu terjadi.
"Tetap aja aku malu." Dinar mencoba melepas lilitan tagan besar Alvaro yang berada di perutnya.
"Harus belajar mulai dari sekarang, kamu aja nggak pernah manggil aku sayang." Dinar diam seketika.
"Memang harus?" tanyanya sambil menatap Al tetap di wajah cowok itu.
"Nggak sih, tapi lebih senang lagi kalau aku dengar kamu manggil aku dengan kata sayang." bisiknya.
Dinar tersenyum lembut, tangan kirinya mengusap rahang suaminya, dan tanpa Al duga. Dinar mengecup bibirnya. "Aku akan belajar, tapi dengan aku melakukan sesuatu untuk kamu. sudah cukup tahu. Kalau aku sayang sama kamu,"
Alvaro tersenyum hangat mengusap balik pipi sang gadis.
Dengan cara seperti itu saja sudah cukup membuat hatinya berdetak cukup kuat.
Tidak perlu dengan kata-kata, cukup buat dia bahagia dengan caramu. Maka dia akan mengerti tentang perasaanmu.
...***...
...TBC...
...Next!...