
...***...
"Ayah, Bunda." suara dibelakang tubuh dua orang yang kini tengah berada didapur terperanjat, terlebih Bunda Alya yang mendelik tak percaya jika mantunya berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kalian bicarain Ayah Hendra ya?" tanya Dinar pelan.
"Ehh_ nak. Ehmm," gugup Alya.
"Nggak apa-apa, jujur aja Bunda. Dinar nggak apa-apa, tadi Dinar sempat dengar Ayah lagi sakit?" memberi kode pada istrinya, Angga menyuruh Alya untuk jujur saja.
Tadi setelah dari kamar Angga dan Alya turun kebawah lalu ke dapur, tapi tanpa sadar keduanya masih membahas keadaan Hendra, mereka pikir Dinar yang ada dikamar tidak akan turun disaat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Gini nak. Tadi sore Ayah Angga memang baru aja jenguk Ayah kamu, kata dokter kemungkinan Hendra mengidap penyakit paru-paru, tapi itu belum pasti, karena dokter masih nunggu hasil CT scan." ujar Bunda cepat cepat menjelaskan saat menantunya sudah menitikkan air mata.
"Kamu jangan sedih ya, Ayah yakin. Ayah kamu akan baik-baik aja."
"Amin," gumam Dinar begitu pelan.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Dinar tidak jadi mengambil apa yang dia ingin ambil didapur, memutar tubuhnya Dinar kembali naik kekamar.
Ditengah-tengah air matanya turun lagi, mengalir deras membasahi pipinya.
Tak langsung masuk kedalam kamar, wanita itu menuju ke balkon, ia ingin sendiri disana, sambil menatap langit.
Dinar menangis sendiri, didalam hatinya ia berharap agar Ayahnya bisa hidup lebih lama, meskipun dia tak bisa bersama Ayahnya, tapi dia ingin Ayah Hendra menjadi manusia lebih baik tanpa dia yang membuat Ayahnya berubah.
Dinar ingat, pesan Ibunya jika suatu saat nanti bertemu Ayahnya, Dinar diminta untuk membimbing Ayah Hendra menjadi manusia yang lebih baik dan merubah sifatnya.
Namun bagaimana caranya ia merubah sifat Ayahnya, sedangkan bertemu dengannya saja, Hendra begitu marah sampai memakinya.
Tak kunjung kembali kekamar, rasa cemas hinggap di hati Alvaro, ia terus melirik pintu ketika suara sesuatu terdengar, namun sayangnya suara itu bukan berasal dari luar menuju ke kamarnya.
"Jingga, kamu tunggu disini dulu, kamu kerjain dulu yang Kak Al ajarin, Kakak mau cari Kak Dinar dulu," kata Alvaro dan segera beranjak setelah mendapat anggukan dari adik iparnya.
Keluar dari kamar, Alvaro melihat pintu balkon terbuka, penasaran seseorang yang berada disana siapa, kakinya pun terayun menuju ke tempat itu.
Sadar seseorang yang berdiri membelakanginya adalah Dinar, ia buru-buru menghampiri wanita itu, wajah paniknya terlihat saat tau jika sang istri tengah menangis.
"Ya Allah, sayang kamu kenapa nangis?" panik Al.
Menyadari ada Alvaro, Dinar segera menghapus air matanya, walaupun tindakan itu sangat sia-sia, sebab. Alvaro sudah tau dan sudah melihat air matanya meluncur deras kepipinya.
"Nggak apa-apa," sangkal Dinar.
"Nggak bohong. Bilang sama aku, kamu kenapa? ada yang sakit?" meneliti keadaan Dinar mulai tubuh hingga wajahnya.
Tanpa diduga, Dinar menubruk tubuh Alvaro dan memeluk erat suaminya itu, wanita itu menangis tersedu di dada bidang Al.
Membiarkan terlebih dahulu , Al pun setia mengusap dan membalas pelukan sang istri yang terasa begitu erat.
"Cerita pelan-pelan, sebenarnya ada apa?"
Mengurai pelukannya Dinar mengusap air matanya. "Kata Ayah Angga, Ayah Hendra sakit, kemungkinan Ayah pengidap penyakit yang, aku tau Ayah akan mengalami hal ini, Ayah sengaja ngerusak diri sendiri, karena nggak terima dengan kehidupannya."
"Aku merasa sedih dan menjadi anak yang nggak berguna, disaat sakit aku nggak bisa_"
"Ssst! nggak boleh ngomong gitu, keadaan seperti ini juga bukan keinginan kamu."
Menarik pelan tubuh Dinar, Alvaro memberikan ketenangan lewat pelukan dan usapan. "Aku tau dan ngerti, ini nggak akan mudah, tapi kita juga nggak bisa melawan apa yang sudah terjadi, jangan pernah menyalahkan diri sendiri, karena ini bukan salah kamu. Ya,"
Hanya mengangguk yang bisa Dinar berikan, namun nyatanya ia tetap merasakan apa yang tak boleh dia rasa.
...***...
Mencari keberadaan Ayah Angga, Alvaro mencoba mengayunkan kakinya keruang kerjanya, saat mengetuk tiga kali, suara sang Ayah terdengar berada didalam.
Ia tersenyum kala Ayah Angga mengeluarkan suaranya untuk masuk, menyembulkan kepalanya ia melihat Ayahnya sedang fokus ke berkas-berkas diatas meja.
"Ayah, ganggu nggak?" Angga mendongak menatap putranya yang hanya kelihatan kepalanya.
"Eh_ Al. Boleh, silahkan masuk." barulah usai mendapatkan izin untuk masuk.
Alvaro pun sepenuhnya masuk lalu menutup pintu, dan berjalan menghampiri meja sang Ayah lalu duduk didepan Ayahnya.
"Ada apa? tumben kamu kesini disaat Ayah masih kerja."
"Nggak apa-apa, Yah. Aku cuma mau tanya dan memastikan,"
"Memastikan apa?" beo Ayah Angga kurang paham.
"Tadi Dinar bilang, Ayah Hendra kemungkinan sakit paru-paru? Emang benar Yah?"
Menghela napasnya Angga membereskan berkas pekerjaannya, melipat tangannya di atas meja ia menatap putranya.
"Untuk pastinya, Ayah belum tau.Tadi dokter bilang masih nunggu hasilnya,"
"Yah, apa bisa aku minta tolong sama Ayah?"
"Minta tolong apa?"
"Seandainya benar Ayah Hendra memang mengidap penyakit itu, tolong biayai pengobatannya, ini bukan demi Ayah Hendra, tapi demi Dinar, aku nggak tega lihat dia nangis terus."
"Tanpa kamu minta, Ayah memang punya niatan untuk membiayai semua kebutuhan Hendra tentang penyakitnya, walaupun tadi Ayah sempat ragu." aku Angga.
"Kenapa Yah?"
Mengusap wajahnya dengan kasar, Angga bersandar dibadan kursi kebesarannya. "Ayah juga nggak tau, tadi tiba-tiba Ayah ke flashback kejadian beberapa tahun lalu. Mengingat lagi dulu ketika dia begitu jahat dengan Ayah dan Bunda kamu."
Memandang putranya lagi Angga tersenyum. "Tapi kamu jangan khawatir, Ayah tetap membiayai semuanya, kamu tenangin Dinar, bilang kedia kalau semua akan baik-baik saja dan semoga Ayahnya nggak terlalu parah penyakitnya."
"Amin, makasih ya Yah, aku nggak tau harus ngomong gimana? aku benar-benar terima kasih sama Ayah dan Bunda, aku tau ini nggak mudah buat kalian, dimana Ayah harus membantu orang dimasa lalu kalian. Ditambah orang itu pernah mencelakai Ayah dan Bunda."
"Jujur, aku juga marah saat tau sejahat itu Ayah Hendra terhadap keluarga kita, tapi disisi lain beliau juga Ayah mertua aku, yang harus aku hormati."
"Kamu jangan bilang kayak gitu, semua Ayah lakukan demi kamu dan menantu Ayah, selagi kalian baik-baik aja, apapun akan Ayah lakukan."
Alvaro mengusap sudut matanya, entah ia merasa terharu. Ayah dan Bundanya terlalu baik hingga mau memaafkan dan mau membantu orang yang dulu jahat kepada mereka.
Alvaro berjanji, ia akan menuruti semua yang Ayah dan Bundanya minta, karena mereka sudah begitu banyak berkorban untuk dirinya.
...***...