Alvaro

Alvaro
Chapter 19



Alvaro menggendong kembali tubuh Hana dan memasuki kamarnya.


"Ganti baju mu,aku akan tunggu di luar"ucap Alvaro sambil mengusap rambut Hana,lalu ia keluar dari kamarnya membiarkan Hana berganti baju terlebih dahulu.


Hana langsung mengganti bajunya dengan cepat,lalu keluar. Ia melihat Alvaro duduk di sofa depan tv.


Alvaro yang melihat Hana sudah selesai mengganti baju,ia menepuk sofa disebelahnya .


"Duduk"ucap Alvaro,Hana langsung duduk disamping nya.


Alvaro menarik tubuh Hana lalu memeluk pinggangnya,perlahan ia mengubah posisi duduknya menjadi posisi tidur di sofa.


Alvaro mengelus rambut Hana lalu mencium keningnya dengan lembut.


"Jangan dengarkan perkataan mereka tadi"bisik Alvaro sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku tau"ucap Hana.


Alvaro tersenyum tipis lalu menutupi seluruh badan mereka dengan selimut.


"Apapun yang mereka katakan jangan kau dengarkan,karena aku tau kau tidak seperti itu"ucap Alvaro.


"Tetap jadilah diri sendiri,jangan hanya karena perkataan orang kau jadi berubah"sambung Alvaro.


Hana membalas dengan anggukan,lalu Alvaro mencium kedua mata Hana yang mulai terpejam.


"Tidurlah"bisik Alvaro.


"Aku akan menjaga mu"sambungnya.


Selang beberapa lama akhirnya mereka tertidur di sofa depan tv,sampai Arika dan Ervin sudah pulang.


Mereka menatap Alvaro dan Hana yang sudah tertidur lelap.


"Lucu sekali"ucap Arika sambil tersenyum.


"Ayo,kita juga istirahat"Ervin merangkul bahu Arika.


Arika mengangguk lalu berjalan mendekati mereka sambil membenarkan selimutnya.


Arika mencium kening Alvaro dan Hana sambil mengusap rambut mereka masing-masing. Ervin tersenyum melihat itu.


Arika berjalan mendekati Ervin"apa kau ingin anak lagi?"bisik Ervin jahil.


Arika menyikut perut Ervin"ah,sudahlah"ia menaiki tangga menuju kamarnya disusul Ervin dari belakang.


"Apa yang kau lakukan kepada mereka?"tanya Arika saat mereka sudah sampai di dalam kamar.


"Kau tau aku kan sayang"ucap Ervin.


"Aku menghancurkan mereka"sambung Ervin.


Arika bernafas pelan"tak bisakah kau hanya menghukum dia saja,jangan keluarga mereka"ucapnya.


Ervin menatap Arika lalu mengusap kepalanya"kau tau aku,aku tidak akan mentoleransi mereka yang berbuat salah sekalipun keluarganya tidak melakukan kesalahan"ucapnya.


Arika mengangguk pelan"bagaimana dengan Devina?"tanya nya.


Ervin terdiam"aku kehilangan jejaknya ,aku tidak tau sekarang dia ada dimana."Ervin memeluk tubuh Arika.


"Tapi tenang saja,aku akan pastikan dia tidak menganggu keluarga kita lagi."


∆∆∆


Alvaro membuka matanya,lalu ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi,untung saja hari ini libur sekolah. Jika tidak,Alvaro sudah biasa membolos tapi tidak dengan Hana yang pasti akan mengamuk jika telat.


Alvaro menatap Hana yang masih tertidur pulas di pelukannya lalu ia mengelus pipi Hana.


Hana yang sedikit terusik mulai membuka matanya menatap Alvaro.


"Morning"sapa Alvaro dengan suara seraknya.


"Kalian sudah bangun?"tanya Arika.


Hana membulatkan matanya lalu bangun dengan posisi masih di atas tubuh Alvaro,ia menoleh kesamping ia melihat Arika yang sedang menyiapkan makanan.


"Morning honey"sapa Arika.


"Mor-morning aunty"balas gugup Hana.


"Tidur mu nyenyak?"tanya Arika.


Hana tersenyum kikuk"nyenyak"jawabnya.


Alvaro memangku tubuh Hana lalu memeluk pinggangnya membuat tubuh Hana semakin merapat kearah tubuh Alvaro.


Alvaro menggeleng lalu menatap Arika"tidak apa sayang,aku bisa mengerjakan nya sendiri"ucap Arika yang mengerti arti tatapan Alvaro.


"Tapi--"


"See?"Alvaro menyeringai Hana hanya membalasnya dengan dengusan kesal nya.


"Akhh.."pekik Hana.


Alvaro mendorong tubuh Hana tiba-tiba membuat ia berbaring di sofa,Alvaro memeluk tubuh Hana.


"Alvaro!! Kau mengagetkan ku!!"ucap Hana kesal.


Alvaro hanya diam,ia lebih memilih memeluk tubuh Hana.


Ervin menggelengkan kepalanya melihat putranya yang sedang bermanja-manja dengan Hana.


"Dasar remaja"gumam Ervin.


"Ada yang bisa aku bantu?"tanya Ervin sambil Arika yang sibuk menyiapkan sarapan.


"Tidak usah,aku bisa melakukannya sendiri"ucap Arika sambil tersenyum.


"Lihat putra mu"Arika menatap Alvaro yang sedang memeluk Hana pelan.


"Biarkan saja"balas Arika.


"Varo!! Bangunlah,tidak enak di lihat orang tua mu"ucap Hana sambil menarik hidung Alvaro.


Alvaro menatap Hana yang berada di bawahnya lalu mencium bibir Hana.


"Ekhem"Ervin pura-pura batuk melihat mereka. Alvaro melepaskan ciuman mereka.


Alvaro menatap Ervin datar"apa?"tanya nya.


"Nothing"balas Ervin santai.


Arika menyikut perut Ervin"jangan menganggunya"bisiknya.


Ervin mengangkat bahunya acuh "aku hanya batuk saja"ucapnya.


Alvaro menatap datar,ia tau bahwa ayahnya sengaja melakukan itu. Alvaro kembali memeluk tubuh Alvaro hingga suara dering ponsel miliknya berbunyi.


"Hallo?"Alvaro tetap memeluk tubuh Hana.


"Aku ada kabar buruk untukmu,mungkin benar-benar buruk"ucap Rio.


Alvaro mengerutkan keningnya"ada apa?"tanya nya.


"Charles kabur"ucap Rio.


"Maksudmu?"tanya Alvaro.


"Charles kabur dari penjara dan sekarang polisi tidak tau keberadaan nya"ucap Rio.


"Aku sarankan jaga Hana,aku tak tau apa motif nya kabur dari penjara yang pasti ini ada hubungannya dengan Hana"sambung Rio.


Tubuh Alvaro menegang,Charles kabur? Dan belum tau ia berada dimana.


"Apa tak ada petunjuk?"tanya Alvaro.


"Tak ada,aku juga baru di beritahu oleh dokter yang memeriksa Charles"ucap Rio.


"Charles memiliki kelainan kejiwaan dan kecanduan terhadap sesuatu yang harus ia dapatkan,jika tidak..."


"Tidak apa?"tanya Alvaro,Hana menatap bingung .


"Charles akan melakukan apapun yang ia bisa sekalipun itu membunuh,kalau begitu aku tutup"ucap Rio sambil menutup sambungan telepon.


Alvaro menaruh ponselnya kembali lalu menatap Hana.


"Ada apa?"tanya Hana.


"Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku"ucap Alvaro.


Alvaro memeluk tubuh Hana dengan erat sambil berpikir bagaimana caranya menemukan Charles di kota yang luas ini.


Alvaro sedikit takut apalagi mendengar jika Charles kabur.


Ya,Charles kabur dari penjara dan belum diketahui dimana ia berada.


∆∆∆


TBC