Alvaro

Alvaro
Bab 131. Don't Cry



...***...


Wanita berparas cantik, duduk sembari bersenandung kecil di depan cermin, tangannya dengan luwes menyisir lembut surai hitam yang panjangnya dibawah bahu.


Senyum manis pun tak pernah luntur dari wajah cantiknya, sangking asyiknya ia tidak sadar jika ada yang memperhatikannya.


Berdiri di ambang pintu, melipat tangannya di dada, garis melengkung menerbitkan senyum dari pria tampan yang tak lain adalah Alvaro.


Ia tengah memandangi sang bidadari di hadapannya, hatinya begitu membuncah setiap melihat senyum dan tingkah yang di lakukan oleh Dinar.


"Astaghfirullah," pekik Dinar ketika berbalik badan, sudah melihat suaminya berdiri di sana.


"Sejak kapan kamu di situ? kenapa nggak masuk?" Alvaro terkekeh geli, barulah ia masuk menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.


"Aku lagi nggak mau ganggu, bidadari lagi nyanyi." goda Al menaik turunkan alisnya.


"Ihh_ apaan sih," ucap Dinar sewot, namun pipinya bersemu merah.


"Sayang, sini deh." titah Alvaro menepuk kasur tepat disampingnya.


Dinar pun menurut ia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke suaminya yang sudah mengulurkan tangannya.


"Kenapa?" tanya Dinar ketika sudah berada di samping Al.


Tersenyum manis Al mengamati wajah Dinar terlebih dahulu, menaruh anak rambut yang menutupi sebelah mata sang istri. "Aku punya kabar baik buat kamu," alis wanita itu bersatu pertanda ia kurang paham.


"Kabar apa?"


Sedikit merubah posisinya Alvaro meraih kedua tangan Dinar lalu ia usap begitu lembut. "Ayah Hendra, sebentar lagi bisa bebas." ucap Al mantap.


Dinar hanya diam mencoba mencerna ucapan Alvaro barusan, jangan sampai dirinya salah dengar dan akhirnya akan kecewa.


"Hai. Kok malah bengong sih," jawel Al di ujung hidung sang istri.


"Ka_kamu nggak bohong kan?" gagap Dinar.


"Nggak dong sayang, masa aku bohong, yang ada aku dosa."


Dinar membekap mulutnya sendiri, matanya begitu berbinar. Ia menubruk tubuh suaminya memeluk erat lelaki itu.


"Agh_! aku senang, Alhamdulillah Ayah bisa cepat bebas." pekik Dinar di ceruk leher Alvaro.


Al ikut senang, ia membalas pelukan Dinar mengusap punggung wanitanya.


Beberapa menit kemudian Dinar melepas pelukannya, menatap Alvaro intens dan penuh tanda tanya.


"Ayah kenapa bisa bebas?" tebakan Al benar, Dinar pasti akan menanyakan hal itu.


"Ini semua karena Bunda, Bunda sudah memaafkan kesalahan Ayah Hendra, hingga akhirnya Bunda mencabut tuntutannya."


"Alhamdulillah, aku senang banget sebentar lagi Ayah bebas, aku bisa sering-sering ketemu Ayah." ujarnya penuh harap.


Alvaro hanya tersenyum tipis, menanggapi ocehan Dinar, mungkin saatnya dia mengatakan keinginan Ayah Hendra pada Dinar.


Jika tidak sekarang kapan lagi, ia tidak mau Dinar merasa kecewa nantinya, lebih baik sekarang agar Dinar bisa menerima keputusan Ayahnya.


"Sayang,"


"Hmm?"


"Tapi aku ada informasi lagi buat kamu,"


"Oh iya? apa?"


Menarik napas panjang terlebih dahulu baru Alvaro baru bicara. "Sebenarnya Ayah minta sesuatu nanti ketika Ayah sudah bebas."


"Minta apa?" ucap Dinar penasaran sekaligus takut dan khawatir.


Dinar takut jika Ayahnya tetap tidak mau bertemu dengan dirinya.


"Ayah minta dibelikan satu tiket kereta," mata indah Dinar membulat sempurna.


"Ayah mau kemana?" tanyanya pelan dan sudah sedikit parau.


"Aku nggak tau pasti sayang, yang jelas Ayah minta di belikan tiket, karena dia mau menjauh dari keluarga kita, dan kamu." satu tetes berhasil lolos membasahi pipi mulus Dinar.


Dengan sigap Alvaro menarik tubuh Dinar lalu ia peluk, mengusap punggung istrinya yang sudah berguncang.


...***...


Usai mendengar cerita dari Alvaro tentang keinginan Ayahnya, Dinar menjadi sering murung dan sedih.


Ternyata Ayahnya pergi bukan karena tidak mau bertemu dengan dirinya, namun karena Ayahnya merasa malu dan tidak pantas mendapatkan maaf dari keluarga Alvaro atau pun dirinya.


padahal dia sudah memaafkan sejak dulu, bahkan Dinar sama sekali tidak marah atau pun dendam.


Ia juga ingin seperti anak lainnya yang berbakti kepada Ayah dan Ibunya, Dinar juga tidak mempersoalkan status Ayah Hendra, yang hanya seorang Ayah tiri.


Dari dalam rumah, Alya menghela napas beratnya. Melihat menantu kesayangan merenung di taman belakang.


Menyusul Dinar yang sendirian, ia menepuk pundak sang mantu pelan, sampai wanita hamil itu sedikit terlonjak.


"Bunda," kata Dinar tersenyum tipis.


"Kamu ngapain disini sendiri sayang? Nanti kalau Al tau marah lho." ujar Alya seraya duduk di samping Dinar.


"Hehe_ Al kan belum pulang Bun, bentar lagi aku juga masuk kok." Alya terkekeh pelan menepuk-nepuk pundak Dinar.


"Ada apa? pasti ada yang di pikir kan?" tebak Bunda Alya.


Dinar mengulas senyum tipis, ia mengangguk pelan sebagai jawaban. "Kepikiran apa? Ayah ya?" tebak Alya.


"Iya Bunda, aku sedih aja. Kenapa Ayah malah pengin tinggal jauh dari aku, padahal aku maunya Ayah tinggal di dekat aku walaupun kita nggak serumah."


"Rumah yang Ayah Angga beli nggak pernah ada yang tempati, aku penginnya Ayah tinggal di sana, bahkan aku sempat mikir kalau Ayah biar tinggal sama Jingga di sana." lanjut Dinar parau.


Alya terdiam sejenak, ia hanya bisa mengusap usap punggung sang mantu, jujur dia pun bingung bagaimana bicara pada Dinar.


Walaupun ia tak pernah bertemu dengan Hendra sejak hari itu, tapi dia tau dan paham kenapa pria itu tak mau dekat dengan putri sambungnya.


Baru saja ingin mengeluarkan suaranya, Ada Alvaro yang datang menghampiri mereka. "Ya ampun, aku cariin ternyata di sini." kata Al jalan mendekati dua wanita yang ia cintai.


Dinar segera mungkin mengusap air matanya, dia tak mau Alvaro tau jika dirinya habis menangis.


Namun sayangnya, Al sudah lihat dan lelaki itu panik berlutut di hadapan Dinar.


"Sayang, kamu nangis? kenapa?" ujarnya mukanya terlihat begitu panik.


"Nggak kok! aku nggak nangis." elak wanita enggan melihat wajah sang suami.


"Ada Bunda? Dinar baik-baik aja kan?" Bunda Alya memberi kode lewat matanya.


Lalu bibirnya bergerak, mengatakan jika Dinar menangis soal Ayahnya.


Sudah paham akan keadaan, Alvaro menghela napas meraup wajahnya dengan kasar. "Bunda bisa tinggalin aku berdua?" pinta Al.


Bunda Alya mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan masuk kedalam rumah.


Alvaro berdiri, dan kini ia merubah posisinya duduk di samping Dinar. "Katanya nggak nangis, ini apa? kok basah?" ledeknya mengusap pipi Dinar.


"Nggak _" kekeuh wanita itu, namun suaranya serak.


Alvaro tergelak lalu membawa tubuh Dinar ke dalam pelukannya, dan baru saja beberapa detik masuk kedalam pelukannya.


Dinar sudah menangis tersedu, kehamilan pada wanita itu membuat Dinar sangat sensitif, sekarang mudah sekali menangis.


Kejadian apapun atau hal kecil saja, Dinar bisa menangis ketjer.


"Besok ketemu Ayah yuk," ajak Al.


Tangis Dinar berhenti seketika, ia mendongak menatap suaminya penuh harap. "Beneran?" ucap Dinar serak.


"Beneran sayang, asal jangan nangis lagi." lanjut Al tepat di depan wajah sang istri, tangan pun menghapus air matanya.


Dinar tersenyum di sela sesenggukan nya, perlahan ia mengangguk dan menghambur ke pelukan Alvaro kembali.


...***...