Alvaro

Alvaro
Bab 90. Belum terungkap



Alvaro bertindak cepat, mencari tau siapa guru dan siswanya yang sudah melakukan perundungan terhadap sang istri.


Di bantu Ayah Angga, kini Al sudah mengetahui pelakunya dari bukti CCTV yang ternyata di pasang di setiap kelas.


Tidak ada yang tau, jika ternyata setiap kelas mereka terdapat CCTV, bahkan guru pun tidak mengetahui.


Dari pihak sekolah memang sengaja melakukan itu, agar mereka benar benar tau jika terjadi sesuatu hal buruk di dalam kelas.


Kepala sekolah begitu terkejut dan tidak percaya, bahwa guru yang di anggap baik, teladan dan menjadi guru terbaik, justru melakukannya.


"Maaf Bu, apa boleh saya bertemu dengan mereka?" izin Al pada kepala sekolah.


Kepala sekolah itu mengangguk sekali mempersilahkan Alvaro untuk masuk ke ruangan khusus.


Saat masuk, Al melihat dua orang tengah duduk dengan tenang, Ia menghampiri mereka lalu duduk di salah satu kursi.


"Lo yang namanya Bella?" gadis berwajah bulat dengan rambut sebahu itu mendongak, menatap Al sekejap lalu tertunduk kembali tak ingin memandang lawan bicaranya terlalu lama.


"Jawab!" hardik Al marah, perlahan gadis itu mengangguk pelan.


"Kamu mau apa? kalau kamu mau laporkan kita ke polisi, laporkan saja. Jangan banyak bertanya, kamu bukan pihak kepolisian!" sanggah sang guru bernada datar, seolah tidak merasa bersalah.


"Kenapa kalian ngelakuinnya?" keduanya diam.


"Ada salahkah Dinar pada kalian?" lagi lagi kedua diam tidak merespon atau pun menjawab.


Alvaro menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya, merasa pening menghadapi orang yang sulit di ajak bicara.


"Siapa yang nyuruh kalian? gue yakin ada seseorang yang kalian berdua!" sang guru yang masih terlihat muda namun sudah menggunakan kaca mata minus itu mendongak, membalas tatapan tajam Alvaro.


"Kamu terus bertanya, percuma. Karena kita tidak akan menjawab,"


Lagi, napas berat dari hidung Al. "Kenapa?" guru itu tersenyum miring.


"Karena kita butuh duit, dan kita bisa mendapatkannya dari hasil perbuatan kita." rasanya Alvaro ingin tertawa keras, ia tak menyangka ada orang seperti kedua orang itu.


Tidak ingin menjawab karena ingin melindungi si pelaku sebenarnya dan mendapatkan uang dari pelakunya.


Al tersenyum miring, mengangguk beberapa kali. "Baiklah, mungkin memang hanya polisi yang bisa membuat kalian buka mulut." jeda sejenak. "Tapi akan ku pastikan, hidup kalian tidak tenang. karena sudah mengusik dan menganggu Dinar," kata Al tegas, tanpa mengalihkan pandangan dari keduanya.


Memilih keluar dari pada semakin pusing dan emosi, menghadapi mereka berdua.


"Gimana Al?" tanya Ayah Angga.


Alvaro berkecak pinggang. "Mereka sulit di tanyain. Yah, mereka ngelakuinnya demi uang, dan mereka nggak ada yang mau ngaku." kata Al bernada lirih di akhir ucapannya.


Ayah Angga menepuk pundak sang putra sekali. "Kita serahkan masalah ini ke pihak kepolisan, biar mereka nggak ngurus. Kita selesaikan lewat jalur hukum," putus Ayah Angga, yang di angguki oleh Alvaro.


Saat keduanya berjalan beriringan menuju parkiran, tidak sengaja bertemu Amanda, gadis itu menghampiri Al bersama Ayahnya, dengan kondisi kacau.


Mata sembab, hidung merah dan juga jejak air mata di pipinya. "Manda, kamu kenapa?" tanya Ayah Angga khawatir.


Gadis itu tersenyum tipis sambil melirik ke arah Al. "Nggak apa-apa Ayah," Alvaro memalingkan wajahnya tersenyum miring tak ingin melihat ke Amanda.


"Aku sudah dengar soal Dinar, Yah. Gimana? sudah ketemu pelakunya?"


"Guru dan muridnya sudah, tapi pelaku aslinya, belum. Kita mau memperkarakan masalah ini ke jalur hukum, biar polisi yang mengatasi." Amanda mengangguk paham.


...***...


Alvaro meninggalkan Ayah dan Amanda lebih dulu, ia masih tidak percaya pada sahabatnya itu. Namun untuk mengatakan pada Ayahnya dia kurang berani, sebab dia tidak memiliki bukti jika Amanda pelaku sebenarnya.


Usai mengurus masalah itu, Al buru buru pulang. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Dinar. Saat membuka pintu, hal pertama yang dia lihat. Adalah wajah cantik Dinar yang tengah tertidur.


Saat asyik memandangi Dinar, perempuan itu terbangun. Mengerjapkan matanya beberapa kali. "Sudah pulang?" tanyanya bernada serak.


Alvaro hanya tersenyum sambil mengangguk. "Ini kenapa ada di sini?" tunjuk Al pada kaosnya.


Dinar cemberut, menatap Al sendu. "Dari tadi aku mual terus, kangen kamu. Waktu aku coba cium bau parfum kamu, mualnya berkurang." cerita Dinar.


Alvaro mengusap puncak kepala Dinar dengan sayang. "Aku sudah pulang, mau peluk?" tawar Al dengan senang hati.


Wajah berseri langsung terlihat di wajah cantik Dinar, perempuan itu mengangguk kuat. Lalu merentangkan kedua tangannya.


Alvaro terkekeh, merubah posisinya menjadi ikut berbaring, Dinar menyelipkan tangannya di pinggang Alvaro, menghirup sebanyak banyaknya aroma suaminya yang membuatnya menjadi tenang dan lebih baik.


"Sayang," panggil Dinar yang kian merapatkan tubuhnya pada Alvaro.


"Ehm?"


"Kayaknya, aku hamil bakal manja. soalnya aku nggak jauh dari kamu," rengek Dinar, yang terdengar lucu di telinga Al.


"Nggak apa-apa? kalau misal aku manja?" Alvaro terkekeh pelan, lalu mengecup beberapa kali kening Dinar.


"Nggak apa-apa dong sayang, kok nanya nya gitu?" Dinar bernapas lega, mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Aku takut, kalau aku manja dan nyusahin kamu, bikin kamu kesel terus nggak sayang aku lagi." sontak Alvaro terbahak kuat, ia sampai sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang istri.


"Kamu mikirnya terlalu jauh sayang, justru aku senanglah. kecuali, kamu manjanya sama cowok lain, baru aku marah." kekehnya, mengacak rambut Dinar gemas.


Awalnya Dinar cemberut, namun tidak lama. Setelah itu ia tersenyum lagi dan memeluk kembali Al.


"Oh iya, gimana masalah tadi?" raut wajah Al seketika berubah, datar dan dingin.


Ia mengusap punggung Dinar, menaruh kepalanya di pucuk kepala Dinar. Rasanya ia malas membahas masalah itu, sebelum benar benar tau siapa orangnya.


"Masih di urus polisi," sontak Dinar menjauhkan kepalanya lalu menatap Al yang juga menatapnya.


"Kamu sudah tau Guru sama muridnya?" perlahan Al mengangguk.


Dinar mendesah, ia takut ini akan menjadi masalah yang besar. Dinar tak ingin keluarga Alvaro memiliki masalah lagi hanya karena dirinya.


"Kamu bawa masalah ini ke kantor polisi?" lagi lagi Alvaro mengangguk.


"Nggak bisa berdamai aja? aku sudah nggak apa-apa kok? aku takut mereka nuntut yang nggak-nggak?" Alvaro tersenyum membelai pipi putih Dinar.


"Jangan khawatir sayang, semua sudah aku atur, sekarang tinggal cari pelaku aslinya."


Tidak dia dengan raut wajah yang ketara sekali jika khawatir pada suaminya. "Sayang," kini giliran Alvaro yang memanggilnya lembut.


"Aku boleh minta sesuatu sama kamu? tapi aku mau kamu nurut." Dinar mengerutkan kening.


"Minta apa?"


"Mulai besok, kamu sekolahnya. Homeschooling sama seperti Jingga,"


"Kenapa?"


"Aku merasa kamu belum aman, Selama aku belum tau orang yang sebenarnya siapa, please nurut. Demi anak kita," rasanya Dinar ingin protes, namun saat Alvaro mengatakan demi anak.


Mendadak bibirnya kelu, tenggorokannya seolah susah mengeluarkan kata kata, dan tak ada pilihan. Akhirnya Dinar mengangguk setuju,


Alvaro begitu senang, istrinya menuruti keinginan nya, paling tidak sampai dia tau siapakah orang tersebut.


...***...