Alvaro

Alvaro
Bab 55. Malam Pertama Yang Gagal



...~•~...


Alvaro perlahan menggandeng tangan Dinar melalui pintu belakang, ia sudah bekerja sama dengan Bi Jum dan Mang Wawan untuk membantunya agar bisa keluar.


Kebetulan semua yang ada di villa nya berada di depan, jadi. mereka aman keluar dan menuju kebun teh lewat belakang rumah Mang Wawan yang berada di samping persis Villa Ayahnya.


"Hati-hati," kata Al, ia membantu Dinar naik ke atas bukit.


Sebenarnya ada jalan lebih mudah untuk sampai ke tempat kebun teh itu, Namun mereka harus melewati depan Villa dan rumah penduduk.


Tiba di atas Dinar berdecak kagum, ia tersenyum cerah melihat begitu indah pemandangan hijau di depannya.


Dia merentangkan tangannya, memejamkan mata membiarkan wajahnya di terpa sejuknya angin, meskipun hari mulai siang, tapi suasana dan udaranya masih sejuk.


Alvaro berada di samping Dinar tersenyum menikmati cantiknya wajah sang istri. "Cantik," gumamnya.


Dinar yang dapat mendengar ucapan suaminya pun membuka mata, lalu menoleh. "Iya cantik, pemandangan nya,"


"Bukan," saut Al, Dinar mengerutkan kening. "Kamu yang cantik." Dinar mengulum senyum malu ia menunduk dan membuang muka, menutupi rona merah di pipinya.


Cowok itu tersenyum geli, mendekati Dinar lalu memeluk gadis itu dari belakang, menikmati indahnya pemandangan alam, Dinar mengusap punggung tangan Alvaro yang berada di perutnya.


"Ini semua punya Ayah?"


"Ehmm." Al menjawab dengan hanya bergumam, ia sedang menikmati wanginya harum vanilla dari tubuh istrinya.


"Kamu sering kesini?" lagi dia hanya mengangguk tanpa merubah posisinya.


Dinar berdecak kagum pada mertuanya, jika di lihat dari lebarnya kebun ini, sudah di bayangkan seberapa kayaknya sang mertua, dan ia juga sempat mendengar jika bukan hanya kebun teh saja, tapi ada kebun strawberry, blueberry, melon, dan juga sayur-sayuran.


Tanpa sadar Dinar mendesah, membuang napas beratnya. Ia merasa sangat kecil di bandingkan keluarga suaminya, dia tak ada apa-apanya, bahkan dia tak memiliki apa-apa.


Kadang saat berkumpul dengan keluarga besar Airlangga, Dinar merasa malu, mereka semua di atasnya jauh.


Alvaro tersentak saat satu tetes air mengenai tangannya, ia kira turun hujan, dan dia terkejut saat baru sadar jika air itu berasal dari air mata Dinar.


"Hay, sayang kamu kenapa? kok nangis?" panik Al membalikkan tubuh Dinar.


Gadis itu segera menghapus, menggeleng pelan mencoba tersenyum. Alvaro menangkup wajah gadisnya untuk menghadap kearah, meminta Dinar untuk menatapnya.


"Ada apa? aku ada salah? bilang kalau aku ngelakuin kesalahan,"


Menggeleng Dinar justru memeluk suaminya. "Nggak ada, aku nggak apa-apa." jawabnya di dada bidang tempat paling ternyaman untuk Dinar.


Meskipun masih heran, namun Al tak ingin bertanya lagi. Ia memeluk erat mengusap kepala belakang istrinya.


...***...


"Al kita kesana dulu ya, mau foto-foto." pamit Heru mengajak Niko Bastian dan juga Selly.


Memberi jawaban hanya mengacung jempolnya, Al sedang menemani Dinar yang katanya ingin memetik daun teh. "Itu salah sayang." seru Alvaro ketika Dinar memetik tidak sesuai.


"Hah! salah ya!" panik gadis itu, padahal dia sudah di ajari oleh petani.


"Bukan gitu, tapi gini lho_" Alvaro dengan sabar mengajarkan istrinya bagaimana memetik daun teh tersebut.


"Memang nggak sembarangan ya?"


"Nggak dong, semua ada aturannya, nggak boleh terlalu pendek dan nggak boleh kasar, nanti bisa merusak cita rasa dan juga mesin di pabrik."


Dinar memandang Al kagum. "Wah__ kamu hebat juga ya, tau segalanya tentang teh."


"Taulah, kan kalau keluarga besar libur. Kita mainnya kesini, metik daun sama buah-buah yang lain."


"Jadi pingin lihat," gumam Dinar.


Alvaro menoleh. "Nanti ya, kalau kita liburan. Main kesini lagi," ujar Al lembut.


Dinar mengangguk sangat bersemangat, dia jadi tak sabar ingin liburan lagi. dia tidak sabar merasakan buah-buah dari kebun Ayah mertuanya.


Hampir tengah hari, Alvaro mengajak mereka kembali pulang, sebab ia di telepon jika mereka sudah ingin pergi.


"Kita pamit dulu Al, sekali lagi terima kasih, benar kamu tidak ingin ikut bersama kami?"


"Tidak Bu, saya akan balik nanti sore, soalnya saya masih ada urusan di sini." Alvaro menolak ketika kepala sekolah mengajaknya pulang bersama.


"Baiklah, kalau gitu kita pamit, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," Bu Rianti bersama beberapa guru mulai naik ke atas bus, di susul murid-murid di belakangnya.


"Al__ lo beneran nggak bareng kita?" Geby mendeka Al mencoba meraih tangan cowok itu, tapi sebelum tergapai Alvaro sudah menggeser tubuhnya. Tanpa memandang lawan bicaranya.


"Udah! buruan masuk!" Niko menarik kerah belakang jaket Geby membuatnya seperti mengangkat anak kucing.


gadis berambut pirang dengan make up tebal, sudah mencak-mencak tak karuan.


Dinar mengintip dari balik tirai jendela ruang tamu. "Bi sini, biar Dinar bantu." tawar Dinar, setelah melihat bus rombongan yang membawa para teman-temannya sudah pergi.


"Jangan Non, biar Bibi aja. Non Dinar istirahat aja," tolak Bi Jum beliau merasa takut dan sungkan, jika istri dari majikannya malah membantunya membereskan Villa besar itu.


"Nggak apa-apa Bi, lihat rumahnya berantakan banget. mereka gimana sih, harusnya sebelum pergi bantuin beberes dulu." sungutnya yang kesal pada teman-temannya.


Mereka tidak bertanggung jawab, padahal sudah di beri tempat. Malah membuat rumah kotor dan berantakan.


"Sayang kamu ngapain?" tanya Al ketika sudah masuk kedalam rumah.


"Beres-beres, bantu Bibi. Coba lihat, mereka pulang ninggalin sampah, padahal apa susahnya coba. Buang sampah pada tempatnya," gerutunya sambil memungut bungkus snack dan roti.


Berhubung mereka besok masih libur, akhirnya Al memutuskan untuk kembali ke Jakarta esok hari, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Dinar di Villa tersebut.


Ia juga sudah meminta izin pada sang Ayah, dan beliau tidak keberatan.


Justru Ayah Angga mengatakan, jika pergunakan waktu sebaik mungkin, siapa tau akan langsung ada hasilnya, Alvaro sangat paham arti kata yang di ucapkan Ayahnya.


"Kamu ngapain senyum-senyum gitu?" tanpa sadar sedari tadi cowok itu terus tersenyum mengingat perkataan sang Ayah


"Hah?" beonya bingung.


"Nggak lagi mikirin yang aneh-aneh kan?" tebak Dinar.


Alvaro tertawa, memiringkan tubuhnya menyangga kepalanya dengan tangan kiri.


"Memangnya, mikirin yang aneh-aneh itu gimana sih?" goda Al.


"Hah?" Dinar mulai gugup sepertinya ia salah bicara.


"Ehm_ iya gitu pokoknya." elaknya bernada gugup.


Al terkekeh menarik tubuh sang istri agar lebih dekat, Dinar mulai pasang badan, ia sudah merasa was-was, ia menelan ludahnya ketika suaminya mulai mendekatkan wajahnya.


"A_Al__" gugup Dinar.


"Kenapa nggak panggil sayang lagi." ujar Al, suara cowok itu sudah berbeda, lebih berat dengan napas memburu.


Dinar diam saja dan pasrah menerima hujaman sebuah ciuman dari Al, darahnya berdesir, jantungnya pun mulai tidak aman.


Gadis itu meremas baju tidur milik Al, ketika cowok itu sudah berada di atas tubuhnya dan menciumanya lebih intens dan menuntut,


Apakah malam ini, ia benar-benar menyerahkan sesuatu yang memang sudah menjadi milik Alvaro, Dinar ingat perkataan Selly tadi siang.


Dia menjadi takut, ia takut Al akan berpaling jika dia terus menolak. "Sa_sayang." Dinar menahan dada cowok itu.


Mau tak mau Alvaro menghentikan kegiatannya, ia memandang Dinar sayu penuh kabut, napasnya pun sudah tidak teratur.


Dinar menangkup wajah suaminya, mengusap rahang yang sedang mengetat tersebut. "A_Ayo kita lakukan," ajak Dinar sangat gugup.


"Nggak sayang, aku nggak akan maksa, aku hanya ingin menyentuhmu, tanpa harus melakukannya."


Gadis itu mengalungkan tangannya di leher Al memberi kecupan-kecupan di bibir suaminya. "Aku siap. ayo lakukan, aku siap menghadapi apapun yang terjadi nanti!" mantap Dinar tanpa keraguan.


"Kamu yakin?" gadis itu mengangguk mantap.


Senyum terbit di bibir Alvaro, tak ingin menunda lagi dan menyia-nyiakan kesempatan, ia pun segera mencium bibir yang sangat membuatnya candu, tangannya pun mulai menelusup ke baju tidur milik Dinar.


Cowok itu berhasil meloloskan baju tidur milik istrinya dan melemparnya ke sembarang arah, Baru seperti itu saja Dinar sudah sangat merasa malu.


Tanpa melepas pangutan di bibirnya Al mencoba melepas kain satu-satunya penutup tubuh Dinar bagian atas.


"Tu_tunggu sayang," cegah Dinar lagi.


"Apa lagi sayangku__" gemas Al ia frustasi karena harus menghentikan kegiatannya lagi.


Dinar mendorong tubuh Alvaro agar menyingkir dari atas tubuhnya. "Tunggu," katanya.


Dinar turun dari ranjang, memungut baju tidur yang di lempar oleh cowok itu. Alvaro menyaksikan apa yang di lakukan istrinya dengan lesu.


Beberapa menit kemudian Dinar keluar dari kamar mandi, gadis itu tampak meringis. "Sayang," Alvaro menoleh.


"Ehm?"


"Kayaknya kita batal malam ini,"


Alvaro mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya semakin lesu, perasaannya mulai tidak enak.


"Aku kedatangan tamu," ringis Dinar.


"S***!!" tanpa sadar Alvaro mengumpat, membanting tubuhnya di atas kasur, memejamkan matanya, menaruh tangan kanan di atas kening, ia sangat frustasi jika Dinar tak memancingnya tadi mungkin dia akan biasa saja, tapi karena istrinya itu sudah memberi lampu hijau, ketika tidak jadi melakukannya rasanya lebih menyiksa.


Dinar buru-buru mendekati Alvaro, naik ke atas kasur, ia duduk di samping suaminya. "Maaf, aku lupa kalau minggu ini tamu bulanan aku datang," sesal Dinar, tangannya meraih tangan kiri Alvaro.


Mencoba meredam sesuatu di bawah sana Al membuka matanya, ia terduduk memberi senyuman yang terlihat di paksa kan. "Nggak apa-apa sayang," ucap Alvaro lembut mengusap pipi gadisnya.


"Tidur duluan gih, aku mau ke kamar mandi dulu," titahnya meninggalkan kecupan singkat di kening Dinar sebelum dia bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Dinar memandang punggung Alvaro dengan sendu, rasa bersalah kian melanda ketika tau apa yang akan di lakukan suaminya di dalam kamar mandi.


Rencana manusia tidak ada yang selalu berjalan mulus, semua sudah ada yang mengatur.


...***...


...Tbc...


Hai buat kalian pembacasetiaku.


terima kasih yang sudah selalu kasih like.


.


Episode ini mengandung adegan dewasa, maaf kalau kurang greget, jujurly aku belum pernah nulis cerita dengan adegan dewasanya.


Jadi tolong di maklumi ya🙏🏻🙏🏻😁**