Alvaro

Alvaro
Bab 107. Menjebak



...****************...


Rencana untuk menangkap orang itu, semalam gagal, Sebab. ternyata dia tidak datang.


Berhubung rencana pertama gagal, saat ini Alvaro sudah menyiapkan jebakan dengan Dinar sebagai pancingan.


"Sayang, mumpung libur. joging yuk," ajak Al setengah merengek.


"Males ah, kapan-kapan aja," tolak Dinar.


"Nggak boleh malas sayang, joging untuk Ibu hamil itu sehat, aku pernah dengar dari Bunda kalau nggak salah, sering jalan-jalan pagi bisa mempermudah persalinan nanti." kata Al lagi berusaha membujuk sang istri agar mau pergi bersamanya.


"Emang ya?" tanyanya sambil menatap Alvaro kaget.


"Coba, aja kalau nggak percaya. Tanya Bunda sekarang," tak mengindahkan perintah suaminya.


Dinar justru mencari informasi itu, di internet. saat sudah tau, bibirnya pun membulat sempurna.


"Oh iya, bener," gumamnya.


"Tuh benar kan, nggak percayaan banget sih sama suami." gemas Alvaro, mengacak rambut Dinar gemas.


"Memangnya kita mau kemana," belum sempat menjawab, Dinar menyela. "Ah_ aku mau joging, tapi boleh ikut Car Free Day." pinta Dinar.


"Boleh sayang," jawab Al sangat lembut.


Dinar bersorak senang, tanpa di suruh perempuan itu bersiap siap, beruntung Dinar tidak terlalu lama mengalami morning sickness.


"Kalian mau kemana? pagi-pagi sudah rapi aja?"


"Kita mau joging Bun." jawab Al usai meneguk susu coklatnya.


"Oh_" jeda persekian detik. "Gimana kalau Bunda ikut." usulnya.


Hampir saja Alvaro menyemburkan susu coklatnya, mendengar keinginan Bundanya. "Ngapain, Bunda?" tanya Al kaget.


"Loh? kok ngapain, ya joging lah. Bunda juga sudah lama nggak olahraga," Alvaro melirik Ayahnya yang ternyata juga menatapnya.


Bisa gagal rencananya jika Bunda ikut, yang ada nanti kacau karena Bunda bertemu dengan mantannya, apalagi kalau sampai Bunda tau Hendra adalah Ayah tiri menantunya.


"Udah Bunda di rumah aja. Nanti kapan-kapan kita joging sama-sama," putus Al lalu berniat pergi.


"Bundanya mau ikut kok nggak boleh sih, Ayah. yuk kita joging sama-sama, mumpung Ayah libur,"


"Sudahlah sayang, kita di rumah aja ya. Aku pengin di rumah sama kamu," ujar Ayah Angga manja.


"Apaan sih, Malu di lihat mereka." gertak Bunda Alya kepada suaminya.


"Tuh, Ayah lagi mau di manja Bunda. Di rumah aja Bun, lagian aku sekarang kayaknya yang Ngidam." Dinar yang sedari tadi diam di dekapan Alvaro, mengerutkan kening.


"Sayang, kamu ngidam?" Dinar mendongak menatap wajah Al.


"Ehm_" jawabnya tersenyum pada Dinar.


"Ngidam apa?" tanya Bunda.


"Pengin pergi berdua aja sama istri aku, nggak ada yang boleh ikut."


"Halah! bilang aja, kamu memang ngelarang Bunda. pakai alasan ngidam segala," sungut Bundanya yang kesal.


Alvaro terbahak, ternyata sang Bunda mengerti maksudnya.


"Kalau gitu kita pamit, Bun. Ayah," keduanya menyalami tangan Ayah Angga dan Bunda Alya.


untuk beberapa detik Alvaro saling pandang dengan Ayahnya, memberi kode tentang masalah nanti.


Barulah Alvaro pergi, setelah Ayahnya mengangguk sekali.


"Kenapa sih sayang. Bunda nggak boleh ikut?" tanya Dinar penasaran.


Alvaro memakai sabuk pengamannya, dan mulai memutar setir meninggalkan pelataran parkir rumahnya.


"Tadi kan, aku sudah cerita. Kalau aku ngidam sayang," jawab Al sambil memutar setir ke kanan.


"Kirain kamu bohong," lelaki itu tersenyum tipis, bisa di bilang.


Ia setengah bohong, setengah tidak.


...***...


"Wahh_ enaknya, kalau tiap hari bisa hirup udara segar kayak gini." katanya sambil merentangkan kedua tangannya ke samping, kepala mendongak.


Alvaro tersenyum tipis mengikuti langkah Dinar di samping, sambil mengamati sekelilingnya. Dia yakin orang itu mengikutinya.


Pria bernama Hendra itu, ada beberapa meter dari Alvaro dan Dinar berdiri, menghadap kedepan lagi, Alvaro sedikit merapatkan tubuhnya ke sang istri.


Tangannya menekan sesuatu di smartwatch hitamnya, yang langsung terhubung oleh beberapa anak buahnya yang menyamar sebagai orang orang biasa.


Ada juga yang menyamar sebagai pedagang, di beberapa titik di tempat yang tidak terduga.


"Sayang, kapan-kapan kita car free day lagi, tapi bawa sepeda. Boleh nggak? aku pengin kayak gitu." tunjuk Dinar manja kearah segerombolan orang orang menggunakan sepeda.


"Boleh, Minggu depan kita pergi pakai sepeda," Dinar tersenyum senang, ia memeluk lengan Alvaro erat.


"Dinar!" pekik seseorang.


si empu nama menoleh. "Selly_!" Dinar ikut berteriak melihat siapa yang memanggilnya.


"Lo joging juga?" tanya Dinar, saat Selly sudah berdiri di hadapannya.


"Ya dong, mumpung sudah di mulai lagi nih. car free daynya. Kan udah lama tuh, nggak ada lagi." Dinar mengangguk paham.


"Lo sendiri?"


"Nggak, tuh sama mereka." jawab Selly menunjuk menggunakan dagunya.


Dinar menoleh. "Hai_ bumil cantik, pa kabar!" Niko melambaikan tangannya, menyapa Dinar.


Dinar mendengus, entah melihat Niko rasanya malas baginya, karena cowok itu sering menggodanya dengan hal menyebalkan.


Ketiga cowok itu mendekat, yaitu. Bastian, Heru dan Niko. semua ini bukan kebetulan, tapi sudah rencana dari Alvaro.


"Kok lo bisa sama dia sih?" sungut Dinar, yang di maksud dia adalah, Niko.


"Gue di ajak. lagian mumpung gratis, tadi gue di jemput." jawab Selly lalu terkekeh geli.


"Jangan sebal-sebal sama gue, ntar anak Lo mirip gue loh," ujar Niko mencolek pundaknya.


"Ih amit-amit!" pekik mendelik tidak terima.


"Makanya atuh neng, biasa aja sama saya," goda lagi Niko menggunakan logat Sunda, alisnya naik turun menatap Dinar.


Mata cantik bumil itu sudah berkaca-kaca. "Sayang _ Niko, jahat." merengek memeluk suaminya, sedangkan Niko tertawa puas.


Dia memang paling senang menggoda Dinar, apalagi ketika hamil,


"Niko! kebiasaan ah Lo!" gertak Heru mendelik kearah sahabatnya itu.


"Tau nih! suka banget bikin sahabat gue nangis." saut Selly.


Bastian berdiri di samping Alvaro, sesekali melirik orang itu, yang masih berdiri diam diam juga ikut memperhatikan mereka.


Untungnya, dia tidak sadar kalau dia pun sedang di awasi.


"Udah sayang, biarin aja Niko ngomong apa. Nggak usah di dengerin ya," bisik Al mengusap punggung dan belakang rambut sang istri.


"Kita kesana yuk, istirahat, kamu nggak boleh terlalu lama berdiri," ajak Al ke tempat sedikit rindang.


Semuanya menurut, meskipun duduk di pinggir trotoar, tapi tempatnya dingin.


"Sayang, haus kan?" yang di tanya mengangguk kuat.


"Aku beli minum dulu ya, kamu di sini dulu sama Selly."


"Iya, tapi jangan lama-lama ya." pinta Dinar.


"Iya sayang," ujar Al mengusap kepala Dinar.


"Selly gue beli minum dulu, gue titip Dinar."


"Siap!" Selly memberi jempol.


"Gue ikut!" pekik Niko berlari mengikuti Alvaro, Bastian dan Heru.


Mereka memang sengaja pergi, melihat orang itu akan melakukan apa, sedangkan di beberapa titik sudah ada orang yang mengintainya.


Dari jarak tidak tidak terlalu jauh, Alvaro memperhatikan dengan rasa cemas. Sebenarnya ia takut Dinar celaka, namun tidak ada cara lain untuk memancing orang itu.


Alvaro mendelik, kakinya maju satu langkah ketika melihat orang itu seperti celingak-celinguk lalu perlahan mendekati Dinar.


Bukan cuma Alvaro yang was was, beberapa anak buahnya pun ikut degdegan, mereka semakin siap siaga ketika orang itu kian mendekat kearah korban.


...***...