
...~•~...
"Ada apa?" orang itu adalah Alvaro yang kembali lagi ke kamar, untuk mengambil ponselnya.
"Oh_ nggak." gugup Dinar yang kaget. "Ini siapa Al?" tunjuk Dinar di ponsel milik suaminya.
"Alvaro mengambil ponselnya yang masih di pegang Dinar, lalu melihat siapa yang di maksud istrinya.
"Dia kurir, yang kemarin kasih paket. Ke Amanda," Dinar membulatkan mulutnya mengerti.
"Kenapa? kamu kenal?"
"Nggak, aku nggak tau."
"Aku balik dulu ya, di tunggu Ayah." Dinar mengangguk.
Sepeninggalan Alvaro, Dinar termenung. Ia masih berusaha mengingat orang itu.
"Nggak mungkin!" ujarnya tertahan.
Dinar membekap mulutnya sendiri, sambil menggeleng kuat. "Semoga salah, semoga bukan_" Dinar tidak melanjutkan ucapannya.
Ia duduk di tepi kasur, mengenyahkan pikiran buruk yang sedang dia pikirkan.
Tidak lama Alvaro kembali, Dinar berusaha terlihat baik baik saja. "Udah?" tanyanya saat memperhatikan Alvaro yang kembali duduk di meja belajar.
"Ngomongin apa?" kepo Dinar.
Alvaro menoleh sekejap, tersenyum tipis pada Dinar. "Nggak ada ngomongin apa-apa," kali ini Alvaro yang tengah berbohong.
Tadi ia sedang berdiskusi, pada Ayahnya untuk segera menangkap orang yang ada di foto tersebut.
Bukti rekaman CCTV dan paket yang di kirim sudah di serahkan ke pihak kepolisian.
Dinar menghela nafas beratnya, berbaring memiringkan badan. Memandangi Alvaro yang tengah fokus mengerjakan tugas dari sekolah lagi.
"Sayang," panggil Dinar.
"Hmm?"
"Sebenarnya, aku kayaknya tau orang itu siapa?" gerakan pulpen Alvaro terhenti.
Cowok itu menoleh menatap Dinar. "Siapa?" tanya Al penasaran.
Dinar membasahi bibirnya, ia gugup dan takut salah bicara. Wanita itu duduk kembali, menatap Alvaro cukup lama. "Tapi aku belum yakin, aku takut salah orang."
Alvaro membuang napas beratnya. Perlahan ia mengangguk, menarik sudut bibirnya. "Kalau belum yakin, ya udah. Tunggu hasil dari pihak kepolisian aja," Dinar mengangguk berulang kali, ia setuju.
Lebih baik menunggu dari pada salah, dan dalam hati Dinar. Ia berharap, jika orang itu bukan. Orang yang dia maksud, jika sampai dugaannya benar.
Dia tidak tau harus bagaimana.
"Ini siapa yang buat?" kata Al mencairkan suasana, sambil menyendok pusing yang Dinar bawakan.
"Aku, kenapa?"
"Manis, kayak yang buat." goda Al menarik turunkan alisnya.
Dinar tersipu, pipinya memerah. "Apaan sih!" ujarnya lalu merebahkan tubuhnya lagi, menyembunyikan wajahnya dengan selimut.
Alvaro terkekeh pelan, melanjutkan pekerjaannya yang tidak selesai selesai.
Hingga beberapa menit, saat ia sudah hampir selesai, ponsel milik Dinar terdengar bergetar, tidak hanya sekali, tapi berulang kali.
Sepertinya Dinar sudah terlelap di bawah selimut sana, saat Alvaro mendekat, ternyata benar.
Istrinya sudah tidur, membenarkan letak selimutnya terlebih dahulu, sebelum membuka ponsel Dinar.
Meraih benda pipih itu di atas nakas, pesan dari orang tidak di kenal, Al mengerutkan kening, siapa yang mengirim pesan malam malam, padahal tidak kenal.
Karena penasaran, Alvaro membuka pesan tersebut.
Pesan pertama hanya sebuah gambar pisau, alis Al menyatu. Raut wajahnya pun sudah mulai tidak enak.
Lalu pesan kedua, berisi bangkai tikus yang di potong menjadi tiga, rahang Al semakin mengetat amarah mulai tersulut.
Kalau nasib kamu, tidak mau seperti itu. pergi dari keluarga Airlangga, tinggalkan Alvaro sekarang juga!
"S**l!" umpat Alvaro meremas ponsel Dinar, ia menoleh pada Dinar yang masih terlelap.
Ia buru buru keluar dari kamar, dan menemui Ayahnya kembali dengan membawa ponsel Dinar.
...***...
Pagi harinya Alvaro tampak biasa saja, ia sengaja tidak memberitahu Dinar tentang pesan WhatsApp di ponsel istrinya.
Bahkan pesan itu sudah dia hapus semalam, usai menemui Ayah Angga.
"Selamat pagi," sapa Al memberi kecupan sayang di kening Dinar.
"Pagi,"
Tidak ada anggota keluarganya.
"Ayah pergi duluan karena ada rapat mendadak, Bunda ikut. Karena sekalian satu arah ke butik, kalau yang lain sudah pergi ke sekolah." jawab Dinar sambil memberikan selai ke roti milik Alvaro.
Al yang sudah rapi, menggunakan seragam sekolah itu, mengangguk paham.
Sambil meminum susu hangatnya, pandangan Alvaro tak lepas dari wajah Dinar.
Hingga mata mereka bertemu, Dinar mengerutkan keningnya. "Kenapa sih? lihatin terus?" sipu Dinar yang terus di tatap.
Alvaro mengulas senyum, sembari menaruh gelas berisi susu coklat yang tinggal setengah.
"Makin hari, istri aku makin cantik." Dinar tak bisa menyembunyikan senyumannya, mendengar pujian yang Alvaro berikan.
Kali ini Al tidak bohong, Dinar memang semakin cantik. Membuatnya semakin cinta pada wanita itu, namun perlahan senyum Al memudar.
Ada rasa takut menyelip di hatinya ketika mengingat isi pesan yang berisi ancaman. "Sayang," panggil Al lembut dengan suara dalamnya.
"Hmm?"
"Kamu jangan kemana-mana ya, kalau mau pergi, tunggu aku pulang,"
"Kan, biasanya juga gitu. Kenapa sih?" Alvaro membuang napas panjang.
"Nggak apa-apa, kejadian beberapa hari ini, semakin buat aku khawatir." Dinar menyuapi roti ke mulut suaminya dengan senyuman di wajahnya.
"Kamu tenang aja, aku nggak mungkin kemana-mana."
"Istri pintar," mengecup pelipis Dinar penuh kasih sayang.
"Aku berangkat ya," Alvaro beranjak dari duduknya.
Yang di susul oleh Dinar, ikut kedepan rumah. "Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku." pesan Al.
"Iya sayang," meraih tangan Al untuk ia cium.
"Assalamu'alaikum." ucap Alvaro mencium kening dan mengecup singkat bibir Dinar.
"Wa'alaikumsalam," melambaikan tangannya saat Alvaro mulai menjalankan motor sportnya.
"Duh, bikin iri aja."
"Astaghfirullah, Mba Leli!" pekik Dinar mengusap usap dadanya, yang kaget mendengar bisikan dari Mba Leli di telinganya.
"Hehe_ Maaf, maaf." cengir Mba Leli meminta maaf.
"Mau kemana Mba,"
"Kedepan situ, mau belanja sayur."
"Ikut dong Mba,"
"Jangan Din. Di rumah aja, ntar Mba di marahin," cegah Mba Leli.
"Aku kan sama Mba, bukan keluar rumah sendiri. Nggak apa-apa, yuk." ngotot Dinar.
Mba Leli pasrah, membiarkan Dinar ikut dengannya, belanja sayur di tempat biasa ia beli.
Semua tetangga di perumahan tempat Alvaro tinggal, sudah mengetahui pernikahan Alvaro dan Dinar, tidak ada yang berani menggunjing ataupun membicarakan pernikahan Muda yang di lakukan Alvaro.
Mereka takut, akan berurusan dengan hukum, keluarga Airlangga. Bukanlah keluarga sembarangan, mereka tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian.
"Eh, Neng Dinar. Tumben ikut Neng?" tanya penjual sayur keliling itu.
"Pengin aja Mang, sekali-kali ikut Mba Leli,"
"Oh iya ya_ mau beli apa Mba Leli?"
"Bayam, sama kacang panjang Mang," jawab Mba Leli.
Dinar melirik buah salak yang sepertinya enak. "Mang, ini berapa ya?" tunjuk Dinar pada bungkus buah salak.
"Oh itu, sepuluh ribu Neng," Dinar mengangguk lalu merogoh sakunya yang kebetulan ada uang dua puluh ribu.
"Mba aku pulang duluan ya," pamit Dinar usai membayar buah salak tersebut.
Tentu Mba Leli menyetujui Dinar pulang lebih dulu, dari pada ada apa-apa dengan menantu majikannya itu.
Namun apa yang di takutkan Mba Leli terjadi, sebuah motor melaju kencang mengarah ke Dinar yang sudah hampir di tengah jalan.
Refleks Mba Leli berteriak. "DINAR!!" teriak Mba Leli kencang lalu menarik Dinar.
Dinar tersungkur bersama Mba Leli, si penabrak sempat berhenti menoleh ke belakang. Di sela rasa sakit di perutnya Dinar sempat bertemu pandang dengan si pengendara.
Hingga beberapa detik, Pengandara tersebut melarikan diri melajukan motornya begitu kencang.
Mba Leli yang panik melihat Dinar kesakitan mencengkeram perutnya, berteriak memanggil satpam rumah dan juga menyuruh sopir mengantarkan kerumah sakit.
...***...