
Warning, menggadung konten dewasa bijaklah dalam membaca.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...~Happy Reading~...
Cuaca yang tadinya cerah, bertabur gemerlapnya bintang seketika berubah, hujan dengan intensitas deras bersamaan angin dan juga guntur datang di malam hari.
Dinar sampai meringkuk memeluk Alvaro, kilat dan suara guntur membuatnya takut. "AKH!" reflek ia berteriak saat lampu tiba-tiba padam.
Alvaro bangun seketika dan memeluk Dinar erat, ia meraba meja untuk mengambil ponselnya. "Sst, jangan takut ada aku." katanya saat senter di ponsel sudah di nyalakan
"Anak-anak gimana, mereka pasti kehujanan. Hujannya deras banget," Al memandang jendela yang tertutup gorden, kilat begitu terang hingga ia bisa melihat bagaimana derasnya hujan di luar sana.
Benar Al pun juga memikirkan para sahabatnya yang masih berada di tempat camping, apakah mereka baik-baik saja.
Alvaro berniat menelpon Bastian, namun urung saat nomer yang tidak dia kenal muncul. Tanpa ragu dia menerima telepon tersebut.
Dinar hanya mampu diam memperhatikan suaminya yang tengah menerima telepon sambil meringkuk di tubuh Alvaro, ia sedikit takut dengan suara bergemuruh.
Apalagi ini sampai padam lampu, semakin membuatnya tak ingin kemana-mana.
"Siapa?" tanya Dinar ketika Alvaro sudah selesai menerima teleponnya.
"Bu Rianti, kepala sekolah kita." jawab Al singkat membawa tubuh Dinar lebih erat padanya.
"Ngapain?"
"Beliau tau aku belum balik ke Jakarta, makanya minta izin numpang tidur di sini, anginnya kencang, beberapa tenda ambruk dan pohon juga ada yang tumbang, Kepala sekolah takut terjadi sesuatu sama anak-anak."
"Kamu izinin?" Al mengangguk pelan.
"Iya, kasian mereka. Nggak apa-apa kan?" Dinar mengangguk setuju.
Alvaro menelpon Bi Jum untuk datang ke Villa dan meminta tolong membersihkan kamar tamu dan ruang tamu, karena jumlah orangnya yang banyak.
Al ingin membagi tempat istirahat untuk mereka, tidak mungkin kan mereka semua berada di kamar.
Cowok jangkung berkulit putih itu berdiri meninggalkan Dinar di atas kasur, ia ingin berganti baju. Berhubung lampu sudah menyala, Dinar menjadi tidak takut lagi.
Alvaro melepas baju tidurnya di ganti dengan celana trening hitam di padu kaos berwarna putih, semua kegiatan itu pun tak luput dari perhatian Dinar, namun gadis itu hanya diam karena ia sedang berpikir sesuatu.
"Al," Alvaro menoleh pada Dinar.
"Aku di kamar aja. mereka kan nggak tau aku di sini, lagian nanti pada heboh lagi, kalau mereka tau kita menginap bersama." Al tertawa menghampiri Dinar, ia duduk di tepi.
"Bagus lah, jadi. Kita nggak perlu kucing-kucingan lagi dari mereka." Dinar mendelik mencubit lengan suaminya hingga Alvaro meringis kesakitan.
"Sembarangan! kan aku udah bilang tunggu sampai kita selesai ujian! baru mereka boleh tau." sungut Dinar menatap Al tajam.
Tawa Alvaro menggema dalam kamarnya, ia sangat gemas jika Dinar tengah marah seperti itu.
Hampir setengah jam orang-orang yang Al tunggu baru tiba, ada dua bus yang datang, Alvaro menyambut kedatangan mereka di depan pintu, memasukan kedua tangannya kedalam saku, memperhatikan semuanya yang pada turun.
Al merubah posisi berdirinya saat kepala sekolah dan beberapa guru sudah berada di hadapannya. "Assalamu'alaikum," kata mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Al sedikit membungkuk, sambil mencium tangan pada orang yang lebih tua di depannya.
"Tidak Bu, saya hanya niat membantu,"
"Mari Bu, silahkan masuk." kepala sekolah si susul yang lain, mereka semua masuk.
Banyak yang kagum dengan interior bangunan tersebut, seperti model jaman dulu, sangat ciri khas jawa. Padahal ini di jawa barat, namun nuansa Vila keluarga Al, adalah jawa timur, kota asal Alvaro dan keluarganya.
Dinar diam-diam memperhatikan mereka lewat lantai dua, dia menatap sebal, pada gadis yang sedari tadi dia perhatikan, mencari kesempatan mendekati Alvaro.
"Kenapa musti ikut sih, tuh cabe-cabean!" gerutunya meremas tangannya sendiri.
"Dinar mana? keadaannya gimana?" bisik Selly saat berdiri di samping Alvaro.
Al sedikit membungkuk, mensejajarkan tinggi gadis itu. "Ada di kamar, sudah baikan, meskipun badannya masih hangat," Selly mengucap syukur dan merasa lega, sahabatnya sudah baik-baik saja.
"Kalian istirahat aja, untuk Ibu Kepala sekolah dan Ibu guru bisa tidur di kamar. Buat yang lain bisa sebagian di kamar tamu dan sebagian di sini ya, maaf villa ini hanya ada tiga kamar,"
"Nggak apa-apa. Kita sudah di beri tempat teduh saja sudah senang." kata Bu Rianti.
"Kalau gitu saya pamit ke kamar dulu, berhubung sudah malam, kalian cepat istirahat," pamit Al pergi dari ruang tamu itu.
Saat melewati ketiga sahabatnya, Al hanya memberi senyuman dan menepuk pundak Niko, dan bergegas pergi ke lantai dua.
Al terkejut melihat Dinar tengah duduk di lantai memperhatikan orang-orang yang berada di bawah, sadar kedatangan suaminya Dinar memberi senyuman lebar lalu berlari lebih dulu kedalam kamar.
Alvaro menggeleng pelan sambil terkekeh, ada-ada saja kelakuan istrinya, ia masuk kedalam kamar melihat Dinar sudah duduk di atas kasur, sebelum menghampiri istrinya ia mengunci pintu tersebut dua kali.
...***...
Cuaca dingin dan di dukung hujan yang belum berhenti, membuat sepasang suami istri ini hanyut dalam suasana.
Yang awalnya hanya kecupan-kecupan lembut, berubah menjadi ciuman panas. Dinar terbuai dengan sentuhan suaminya, Al memperlakukannya begitu lembut.
Alvaro yang sudah berada di atas tubuh Dinar, terus menciumi seluruh wajah istrinya dan meninggalkan jejak merah di setiap titik di tumbuh sang istri.
Mereka sudah sering melakukan hal seperti ini, Namun Alvaro selalu ingat pada janjinya jika dia tak ingin melakukan sesuatu yang lebih kalau bukan Dinar sendiri yang memperbolehkan nya.
Tangan cowok itu sudah menarik kaos putih Dinar, Memperlihatkan perut putih mulus gadisnya, masih dengan mencium bibir istrinya Al meraba dan ingin melepas pengait b** namun suara yang berasal dari pintu menghentikan kegiatannya.
Tokk! tokk!
Al dan Dinar saling pandang dengan napas memburu. "Siapa?" bisiknya tepat di depan wajah Alvaro.
Alvaro menggeleng pelan, pandangan penuh kabut menatap Dinar, seakan tidak peduli, cowok itu sudah kembali menciumi bibir Dinar yang mulai membengkak.
Tokk!! tokk!!
Cowok itu mengeram kesal. "Bukain Al, siapa tau penting," kata Dinar mengusap rahang suaminya.
Dengan terpaksa Al bangun, turun dari atas tubuh Dinar, ia berjalan menuju pintu secara tidak santai sambil memakai kaos yang sudah sempat ia buka, Dinar sendiri yang setengah pakaiannya terbuka langsung menarik selimut, bersembunyi di bawah selimut tebal.
Al mendelik dengan rahang mengeras melihat siapa pelaku yang sudah menganggu waktunya bersama sang istri.
"Ngapain lo kesini!" tanya Al bernada tidur santai.
Yang di tanya justru tersenyum tidak jelas, sambil melongokkan kepalanya ingin mengintip kamar Alvaro.
Alvaro menggeser tubuhnya agar orang itu tak bisa melihat kondisi kamarnya. "Kalau nggak ada urusan, pergi!" usirnya, ia ingin menutup pintu namun di tahan.
"Tunggu-tunggu Al__ gue lapar. nggak enak gue kalau langsung cari makanan, makanya gue izin lo."
Alvaro jengah pada gadis yang tak lain adalah Geby. "Alasan! bilang aja lo mau ganggu gue. Di bawah ada Bi Jum lo bisa minta dia."
"Tapi Al__"
Brak!
Cowok itu segera menutup pintu dengan kasar, meraup wajahnya karena terlalu kesal pada Geby, Dinar keluar dari selimut menyembulkan kepala.
Dinar tertawa kecil, antara kasian dan lucu melihat raut wajah Alvaro.
...***...