
...~•~...
Melakukan kegiatan sekolah di rumah, sangat membosankan bagi Dinar, tidak seperti di sekolah.
Ketika bel terdengar, semua murid pasti akan bersorak kesenangan dan berhamburan keluar menuju kantin, bersendau gurau.
Bercerita apa saja yang bisa di ceritakan, menggila bersama teman teman. Itu adalah momen seorang pelajar untuk menikmatinya.
Namun, Dinar tidak bisa melakukannya.
Kadang ia ingin protes, kenapa masa mudanya sudah sesulit ini, sudah tidak bisa bebas lagi seperti teman temannya.
Sampai kadang, ketika teman satu kelasnya. mengaupload postingan baru di sosial media, hatinya sesak, ada rasa sakit melihat mereka bisa tertawa bersama para teman dan sahabatnya.
Tapi ini sudah jalan yang dia pilih, ia juga tidak boleh egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri, sementara kini ada mahkluk hidup di perutnya.
Dinar mengusap bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dia tak boleh selalu mengeluh, jika sampai Alvaro tau.
"Maafin Mama ya nak, Mama selalu bikin kamu sedih," ucapannya parau sambil mengusap perutnya.
"Mama janji, nggak akan nangis lagi. Demi kamu," lanjutnya, lalu bertepatan dengan masuknya Alvaro kedalam kamar.
Buru buru Dinar menghapus air matanya, dan memperlihatkan wajah seceria dan secantik mungkin.
Alvaro tersenyum melihat Dinar yang tengah duduk di tepi kasur tanpa curiga, Dinar begitu pandai menyembunyikan raut wajah sedihnya.
"Kenapa senyum-senyum?"
Dinar cemberut melirik sinis suaminya. "Nggak boleh senyum?"" ujarnya galak.
Al terkekeh, segera menyelesaikan kegiatan ganti bajunya, lalu segera ikut duduk di samping Dinar.
Sebenarnya wanita itu sedikit takut, ia takut jika Alvaro tau dirinya habis menangis.
"Boleh dong sayang, malah. Aku senang kalau kamu tersenyum, daripada bersedih." kata Al begitu lembut.
"Kamu tau kan? kalau aku paling nggak suka kalau kamu sedih, dari pada aku lihat kamu kayak gitu, mending kamu marah-marah sama aku," Dinar mengulum senyum.
Menghambur ke dalam pelukan Alvaro, bagaimana bisa dia sempat berpikir menyesal menikah muda, sementara pria yang menikahinya begitu tulus mencintainya.
"Aku sayang kamu," beonya, yang sebenarnya ingin ia katakan adalah, AKU MINTA MAAF.
Sudut bibir Alvaro naik, membentuk lengkungan manis dari bibirnya. Dia senang Dinar akhir akhir ini sering mengutarakan perasaan kepadanya.
"Me to," jawab Al lembut sambil mengecup beberapa kali kening perempuan itu.
"Sayang," ucapnya setengah merengek.
Al sudah waspada dan bersiap siap, sebab. Jika nada sang istri seperti itu, biasanya akan meminta sesuatu.
"Aku pengin makan tapi kamu yang masak," tuh bener kan, untung saja. Apa yang diminta tidak sulit atau harus keluar rumah, Alvaro bukan tidak mau.
Hanya kadang ia masih lelah belum lagi nanti mengerjakan tugas.
"Siap bosku!!" jawab Al begitu bersemangat.
Dinar menarik tubuhnya dari pelukan Alvaro, mengamati wajahnya sejenak. "Memangnya nggak apa-apa? kamu kan, baru pulang?"
"Demi kamu capek aku ilang, lagian masak aja, nggak susah." Dinar tersenyum, lalu menarik tengkuk Alvaro, mencium ***** suaminya begitu dalam.
Alvaro lebih dulu melepas tautan mereka, sebelum Al lepas kendali berakhir tidak jadi memasak.
Dengan napas memburu, Alvaro mengusap bibir istrinya yang basah. "Kenapa?" ada nada kecewa yang Dinar keluarkan.
"Nanti aku nggak jadi masak, kamu nggak jadi makan." jawabannya bernada berat.
Dinar hanya tersenyum tipis, jujur ia menginginkan lebih. Entah kenapa semenjak hamil Dinar justru sering ingin melakukannya, pernah ia berkonsultasi dengan dokter, lewat panggilan telepon.
Dan dokter tersebut mengatakan itu hal wajar, hormon seorang Ibu hamil tidak bisa di tebak.
...***...
Pukul lima sore keduanya baru saja keluar dari kamar, dengan keadaan segar dan rambut basah.
Keduanya memang baru saja menyelesaikan kegiatan intim mereka hingga sore hari, itu semua bukanlah keinginan Alvaro, melainkan keinginan Dinar.
Dinar malu, karena meminta duluan dan tidak ingin menyudahinya, Ia kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol, apalagi melihat Alvaro. Keinginan itu semakin besar.
Padahal Al sendiri sudah mengatakan, tidak apa apa. Itu bukan salah istrinya.
Tetap saja, Dinar ingin tenggelam di dasar laut saja jika seperti ini terus.
Dinar mencengkal tangan Alvaro, di anak tangga pertama. "Kenapa?" wanita itu tak kunjung menjawab, ia justru menatap suaminya.
"Kenapa sih sayang?" tanya Al lebih lembut, mengusap pipinya.
"Jangan cerita-cerita ya. Aku malu," rengeknya.
Alvaro menautkan kedua alisnya, kurang paham. namun beberapa detik kemudian cowok itu baru konek, dan baru setelah tau maksud Dinar, ia tertawa pelan.
"Ya nggaklah sayang, ini kan masalah rumah tangga kita." kekehnya, mengacak rambut Dinar gemas.
"Sore," sapa Al saat keduanya sudah berjalan menuju ruang tamu.
"Sore, baru bangun kalian?"
"Iya Bunda, aku capek. kegiatan di sekolah cukup banyak." bohong Al, Dinar tersenyum sangat tipis. Alvaro benar benar tidak menceritakan tentang mereka.
"Kamu jadi ngidam aku masakin?"
"Kamu lagi ngidam sayang?" tanya Bunda Alya, tersenyum senang.
"Tadi, tapi sekarang sudah nggak."
"Terus kamu nggak makan?" nada Alvaro sedikit tidak suka.
"Makan, Mba Leli pasti sudah masak. Nanti kita makan bareng,"
"Beneran nggak jadi?" Dinar mengangguk kuat seraya bergelayut di lengan Al.
"Tadi Bunda buat puding, siapa tau kamu mau?" tawar Bundanya.
"Mau sayang?" kini giliran Alvaro yang bertanya pada istrinya.
"Iya aku mau,"
"Bentar ya, aku ambilkan." Alvaro beranjak dari duduknya mengayunkan kakinya kearah dapur.
Tidak lama terdengar seseorang masuk kedalam ruangan tersebut. "Assalamu'alaikum." salamnya yang ternyata adalah Amanda.
"Wa'alaikumsalam. Eh Amanda, dari mana nak?" tanya Bunda ketika gadis itu sudah duduk.
"Dari rumah Bunda, Oh iya Dinar. Tadi ada orang di depan titipkan ini sama aku, katanya buat kamu." Amanda memberikan kotak berukuran sedang.
Meskipun heran, Dinar tetap menerima kotak tersebut. Membaca tulisan di atas kotak itu, hanya bertuliskan. Untuk Dinar.
Perlahan ia mulai menyobek kertas kado tersebut, lalu membuka tutup kotak itu.
"AAA!!" Dinar menjerit lalu melempar kotak itu.
seketika tubuhnya bergetar hebat, matanya membulat sempurna, Alvaro yang mendengar dari dapur langsung berlari ketika mendengar teriakan Dinar.
"Sayang ada apa!!" panik Al menghampiri Dinar.
tangannya menunjuk kearah kotak yang dia lempar.
Alvaro memungut kotak tersebut, ia membulatkan matanya, saat melihat apa isi kotak tersebut.
Ada sebuah bi*****i hewan yang berlumuran darah.
ada secarik kertas di sana. kertas itu juga ada noda darah dan bertuliskan. Lo harus mati.
sontak tulisan tersebut menyulutkan emosi Alvaro, ia bergegas berlari keluar. mencari orang yang sudah mengirim kotak tersebut.
"S"""t!" umpatnya menjambak rambutnya kesal, karena orang itu berhasil lolos.
Untuk kesekian kalinya, ia gagal kembali menangkap orang itu.
...***...