
...****************...
Prang!
Semua yang ada di sana menoleh cepat ke sumber suara, dan betapa terkejutnya Alvaro ketika mengetahui jika di sana ada Dinar yang tidak sengaja menyenggol vas bunga.
"Dinar," gumam Al lalu berlari ke tempat istrinya.
"Sayang, kamu ngapain di sini? kamu nggak apa-apa kan?" memegang kedua pundak Dinar, mengamati keadaannya.
"Maksud Bunda ngomong gitu apa?" bukan menjawab pertanyaan Alvaro, Dinar justru balik bertanya.
"Kita kekamar ya, aku ceritain semuanya." bujuk Al lembut.
Dinar menoleh memandang Bunda Alya, namun ibu mertuanya itu memalingkan wajah tak ingin melihatnya.
Dinar menarik lembut pipi Dinar agar melihat kearahnya saja. "Kita kekamar." bisik Al lagi, lalu merangkul Dinar menuju kamar mereka.
tiba di kamar, Alvaro menyuruh istrinya itu duduk di sofa, ia mengunci pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya ia duduk di samping Dinar yang terlihat diam saja.
"Sekarang jelasin ke aku, apa maksud Bunda. Dan kenapa Bunda seperti itu sama aku?" tanya Dinar tidak sabar, wanita itu menggenggam tangan Alvaro.
"Aku bakal ceritain semuanya, dan apa yang aku tau aja ya." Dinar mengangguk kuat, menunggu Alvaro menceritakan masalahnya.
"Jadi, sebenarnya Ayah Hendra adalah orang di masa lalu Ayah dan Bunda."
"Maksudnya gimana, aku nggak ngerti?"
"Jadi, sebenarnya Ayah Hendra adalah manta Bunda," Dinar sontak membulatkan matanya.
Alvaro pun melanjutkan kisah kedua orang tuanya, dan Ayah tiri Dinar.
Semua Al ceritakan tanpa ada yang ketinggalan, Dinar tidak mampu berkata-kata. Seolah dunia itu sempit sekali, bagaimana bisa mereka di pertemukan lagi dengan cara seperti ini.
Dinar menjadi sedih, merasa marah dan takut. ia sedih karena kisah mereka, Bunda Alya sepertinya membencinya.
Tapi ia juga marah, gara gara Ayah Hendra. Bunda tidak bisa melupakan kejadian kelam yang membuatnya memiliki trauma.
Dinar pun juga takut, jika Bunda benar benar tidak bisa menerimanya sebagai menantu, lalu dirinya seperti apa. Dan juga anak dalam kandungannya ini.
"Nangis dong sayang," ujar Al sangat lembut mengusap air mata di pipi Dinar.
"Gimana nggak nangis? aku bingung harus seperti apa, biar Bunda nggak marah lagi sama aku, Bunda nggak pernah seperti ini sama aku sebelumnya, Al." ucap Dinar parau.
"Iya sayang, aku tau. Biar ini aku yang selesaikan, aku bakal cari cara supaya Bunda ngerti, kalau kamu nggak ada hubungannya sama masa lalu Bunda."
"Aku juga dengar tadi, Kalau aku sengaja dekatin kamu ya?" Dinar menggeleng kuat. "Aku nggak kayak gitu Al, aku sudah_"
"Sst_ udah udah, jangan di lanjut. aku tau kok, tanpa kamu jelasin aku udah paham." mengusap punggung Dinar agar perempuan itu tenang.
"Kalau gitu, besok kita ketempat Ayah ya, aku mau tanya sama Ayah sendiri. Aku juga mau tau kenapa Ayah tega ngelakuin ini."
"Kamu yakin? jangan kalau kamu belum siap,"
"Aku yakin, dan siap nggak siap aku harus ketemu sama Ayah, biar semuanya jelas dan aku tau apa niat Ayah Hendra sebenarnya." memandangi Alvaro dengan tatapan memohonya.
"Oke, tapi aku jagain kamu terus ya," Dinar mengulas senyum mengangguk setuju.
"Kenapa kamu nggak cerita dari awal sih Al?"
"Niat aku nunggu waktu yang pas, karena keadaan belum meyakinkan aku untuk cerita ke kamu, Maaf ya."
"Harusnya aku yang minta maaf, gara gara Ayah. semuanya jadi kacau, aku nggak nyangka kalau Ayah tega ngelakuin ini, padahal masalahnya sudah berlalu. Tapi tetap aja, dendam Ayah masih terasa."
"Udah ah, jangan di pikirin." saut Al, lalu menarik lembut Dinar kedalam pelukannya.
...***...
Hari ini ada yang berbeda di rumah Alvaro, semua sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan keluarga Airlangga pagi ini. Tidak sarapan bersama di ruang makan.
kedua adik Alvaro dan adik Dinar yang memang tidak tau apa-apa pun menanyakan hal itu kepada Mba Leli, namun Mba Leli tidak mengatakan sejujurnya, ia hanya mengatakan jika semua sudah pergi karena ada urusan penting.
Mba Lile bisa bernapas lega, ketika tiga anak gadis itu percaya, jadi semua aman tanpa harus memberitahu sebenarnya.
Sedangkan Dinar pun tidak ada keluar kamar, segara urusan tentang istrinya Al sudah meminta tolong kepada Mba Leli.
Alvaro memang sengaja menyuruh Dinar untuk tetap di kamar selama ia pergi ke sekolah, dia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya ketika dia tak ada di rumah.
Dan nanti ia akan segera pulang, begitu pelajaran selesai, sesuai permintaan Dinar, hari ini mereka ingin bertemu Ayah Hendra, agar masalahnya segera selesai.
Ketika pulang sekolah, Alvaro ternyata berpapasan dengan Bunda Alya, meskipun dia sedikit kecewa dengan sikap Bundanya, Al tidak pernah lupa akan kesopanan, ia tetap mengucap salam dan mencium punggung tangan Bunda.
"Kamu sudah cerita semua ke Dinar? gimana reaksi dia, pasti biasa aja kan? kalau pun kaget, Bunda yakin dia cuma pura-pura," langkah Alvaro yang sudah naik satu tangga terhenti, ia berbalik badan menatap sang Bunda.
"Bunda," panggil Al bernada dalam. "Kenapa sekarang Bunda kayak gini sih? seperti bukan Bunda aku, kenapa sifat Bunda berubah kayak gini?" Alya terdiam, ia memalingkan wajahnya.
"Bunda yang aku kenal, adalah perempuan yang baik. Yang nggak pernah berpikir buruk tentang orang lain, apalagi sekarang Bunda sudah berpikir buruk tentang istri anaknya, yang bahkan sebentar lagi mau memberikan Bundanya cucu." ujar Al panjang lebar, matanya memerah menahan tangis, Al memang benar-benar kecewa dengan Bundanya.
Dan ia tidak bisa menutupi akan hal itu, bahkan ketika Bundanya tak ingin melihat kearahnya, Al memandang sendu kepada orang yang begitu berarti untuk dirinya.
Orang yang sudah membuatnya hadir di dunia ini, orang yang sudah merawatnya dari kecil hingga dewasa, memberikannya kasih sayang dan cinta.
Alya menoleh, menatap sang putra tajam. "Apa yang Dinar bicarakan sampai kamu bisa ngomong gitu ke Bunda? kamu lebih milih Dinar dari pada Bunda kamu sendiri?" Alvaro menghela nafas lelah, ia meraup wajahnya dengan kasar.
"Terserah Bunda, aku capek." memutar badan Al berjalan lagi menuju kamarnya, mengabaikan teriakan sang Bunda.
"Sayang, kamu sudah pu." belum selesai bicara, Dinar melihat Alvaro mengusap sudut matanya.
"Al. Kamu kenapa?" panik perempuan itu, menangkup wajah suaminya.
Alvaro tiba tiba memeluk Dinar erat, lalu berbisik. "Sayang, aku mau pindah, kali ini kita beneran pindah ke rumah yang dulu," Dinar mengerutkan keningnya heran, ia melepas pelukannya mengamati wajah Alvaro.
"Ada apa sih? kenapa kamu bilang gitu?"
"Aku cuma mau nenangin hati, biar lebih tenang aja. Aku terlalu kecewa sama Bunda, mungkin dengan cara kita pindah untuk sementara waktu, Bunda bisa berpikir jernih."
"Kamu yakin?" Alvaro mengangguk yakin.
"Aku terserah kamu, aku ikut kamu aja." lagi Al mengangguk seraya tersenyum manis.
...***...