Alvaro

Alvaro
Bab 130. Meniti kehidupan yang baru



...***...


Berdiri didepan cermin, memperhatikan perutnya yang sudah semakin membuncit, membuat wanita berparas cantik tak pernah melunturkan senyuman.


Dia adalah Dinar yang begitu bahagia, calon buah hatinya tubuh sehat didalam perutnya, kehamilan Dinar saat ini sudah memasuki bulan kedelapan.


Beberapa Minggu yang lalu, keluarga besar Airlangga berkumpul kembali, untuk mengadakan acara tujuh bulanan untuk dirinya.


Dan Dinar kian bahagia, ketika sudah mengetahui kalau buah hatinya berjenis kelamin perempuan.


Ternyata impiannya akan terwujud, keinginan untuk menguncir dan mendadani sang putri nanti bisa terlaksana.


"Sehat-sehat ya sayang, beberapa Minggu lagi kita ketemu. Insyallah," monolog Dinar mengusap usap perutnya.


Sudah lelah berdiri terlalu lama, Dinar berjalan pelan kearah sofa, sekarang Dinar mudah lelah dan kadang pinggulnya sering sakit.


"Assalamu'alaikum," salam Alvaro muncul dari luar.


Dinar menoleh, menjawab salam suaminya dengan memberi senyum lebarnya. "Wa'alaikumsalam," Dinar merentangkan tangannya meminta lelaki itu untuk mendekat karena ia ingin memeluknya.


"Hai, sayang gimana? bikin Mama susah nggak? nggak nakal kan anak Papa didalam sana?" seolah mengerti, perut Dinar bergerak, ada tonjolan yang muncul.


"Nggak kok Pa, aku kan anak pintar." jawab Dinar mewakili, suaranya pun seperti anak kecil.


Al tertawa pelan, mengacak rambut Dinar dengan gemas. "Gimana sayang? lancar juga nggak kuliahnya?"


"Lancar dong," jawab Al enteng.


Satu lagi informasi, kalau Alvaro telah lulus dengan nilai terbaik, ia juga sudah berkuliah di fakultas terkenal di ibukota.


Begitu pun dengar Dinar, meskipun dia melakukan homeschooling tapi nilainya tetap bagus walaupun tak sebagus Alvaro, sebenarnya dia ingin seperti Al yang melanjutkan pendidikannya, namun mengingat dirinya tengah mengandung.


Akhirnya Dinar menuruti keinginan kedua orang tua Alvaro untuk menunda terlebih dahulu sampai dirinya melahirkan.


Tapi itu dulu, untuk sekarang Dinar justru berpikir untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, ia sadar saat ini dirinya sudah seorang istri, dan sebentar lagi pun dia akan menjadi seorang Ibu.


Keluarga Alvaro sudah begitu baik dan terlalu banyak membantunya, sekarang saja Jingga sekolah di sekolah bertaraf internasional, bersama Qilla dan Rani, adik kembar suaminya.


Dirinya merasa tidak tau diri jika sampai meminta kuliah.


"Sayang," panggil Dinar mengusap ruas rambut Alvaro.


"Hmm?"


"Kamu malu nggak, punya istri kayak aku?" kening Alvaro mengerut.


"Kamu ngomong apa sih? kenapa ngomong kayak gitu?!" sentak Al tidak suka.


Tersenyum lembut Dinar mengusap pipi Al. "Nggak apa-apa, pengin tau aja. Aku ini kan cuma cewek biasa yang nggak berpendi_" belum selesai bicara, bibirnya sudah dibungkam oleh Alvaro.


Lelaki itu tau kemana arah pembicaraan sang istri. "Aku nggak suka kamu ngomong gitu, aku nggak peduli kamu seperti apa, dan aku nggak masalah kalau kamu cuma jadi istri dan ibu buat anak-anak aku,"


"Dari dulu aku nggak masalah dan nggak maksa kamu, untuk melanjutkan kuliah atau nggak, kalau suatu saat nanti kamu mau kuliah, aku pasti dukung dan kasih izin."


Dinar memandang Alvaro berkaca-kaca. "Jadi kamu tau, aku mau ngomong apa?"


"Hmm," jawab Al mengangguk pelan.


"Ssst, jangan ngomong kayak gitu, aku nggak mungkin ninggalin kamu sayang. Aku sayang dan cinta sama kamu, nggak mungkin aku ninggalin kamu cuma karena masalah itu." melepas pelukannya Al menangkup wajah Dinar.


"Jangan berpikir negatif, kasian dedeknya. Dan ingat, aku nggak akan ninggalin kamu. Oke!" Dinar tersenyum bahagia, ia mengangguk kuat dan kembali memeluk Alvaro.


...***...


"Al," panggil Ayah Angga ketika melihat putranya lewat didepannya.


"Iya Yah?" jawab Al lalu urung melangkah kedapur, ia justru mendekati Ayahnya dan duduk dihadapan Ayah Angga.


"Kenapa Yah?" tanya Al lagi.


"Ayah punya kabar baik, tapi Ayah nggak tau ini bakal kabar baik untuk Dinar atau nggak," Alvaro menatap Ayahnya bingung.


Kenapa nams istrinya di bawa bawa. "Maksudnya Yah? Al nggak ngerti,"


Mengulas senyum Ayah Angga membenarkan posisi duduknya. "Jadi gini, Ayah dapat kabar dari lapas, katanya Hendra sudah sehat dan sembuh dari penyakitnya."


"Alhamdulillah," syukur Al mengusap wajahnya. "Terus kenapa Ayah bilang kalau ini bukan kabar baik untuk Dinar?"


"Jadi kemarin Ayah ketemu sama Hendra, dan Ayah agak shock, melihat Hendra yang menangis dan minta maaf sama Ayah, katanya dia sudah menyandari semua perbuatannya selama ini salah."


"Hendra sudah bertaubat, mungkin ini juga yang membuat dia sehat kembali, tapi kemarin Hendra bilang sebenarnya ingin bertemu Dinar, tapi dia begitu malu untuk bertatapan muka dan meminta maaf secara langsung kepada Dinar."


"Katanya, dia mau pergi keluar kota. Menjalani kehidupannya yang baru setelah bebas nanti, Hendra nggak mau kalau sampai merepotkan Dinar, Hendra mau menembus semua kesalahannya."


"Al rasa, nggak seharusnya Ayah Hendra pergi, justru Dinar pengin banget dekat sama Ayahnya. Dinar kadang sering ngomong ke aku, kalau suatu saat nanti Ayahnya sudah keluar, dia mau minta izin rumah yang Ayah belikan untuk dia, diberikan ke Ayah Hendra."


"Nggak perlu minta izin, rumah itu sudah hak milik Dinar, Ayah sudah bayar rumah itu atas nama Dinar, jadi terserah Dinar mau apa kan rumah itu." ucap Ayah Angga.


Menghela napas beratnya Alvaro mencoba berpikir. "Memangnya nggak bisa di bujuk lagi Yah? Aku nggak mau Dinar sedih kalau sampai tau, Ayahnya mau pergi jauh ninggalin dia lagi."


Ikut menarik napas panjang, Ayah Angga memundurkan tubuhnya bersandar di badan sofa. "Ayah belum ngomong lebih lanjut, mungkin kamu bisa bujuk Ayah mertua kamu." usul Angga pada putranya.


Mengangguk-anggukan kepalanya Al menjawab. "Boleh deh, coba Al yang ngomong ke Ayah Hendra. Semoga aja Ayah Hendra berubah pikiran," ujarnya begitu bersemangat.


"Amin," jawab Angga ikut tersenyum.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Angga merubah topik.


"Alhamdulillah baik dan lancar," jawab Al mantap.


"Syukurlah, terus. Cafe? Resto?" tanyanya lagi.


"Ayah tenang aja, insyallah semua baik-baik aja, dan semuanya lancar." sambung Al tersenyum bangga.


Angga tertawa pelan, melempar bantal sofa yang dengan sigap di tangkap oleh Alvaro, pria itu gemas pada putranya yang terlalu percaya diri.


Jadi sekarang, Alvaro lah yang memegang kedua bisnisnya, yaitu Restoran dan Cafenya, Angga membiarkan Alvaro menjadi anak mandiri, mengingat sebentar lagi, putranya itu akan menjadi seorang Ayah, dan dia ingin Al menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.


Semua hasil dari dua usaha miliknya yang dia bangun dari dirinya sekolah, ia limpahan ke Alvaro, Angga sangat percaya kepada putranya itu.


...***...