Alvaro

Alvaro
Bab 74. Menenangkan Hati



...~•~...


Bugh!


lagi, Al mendapatkan pukulan dari Roy, pria tersebut menyusul ketika Alvaro memilih pergi. dan langsung memberi pukulan telak di rahangnya, padahal. dia baru saja meminta maaf, tapi sudah memukul sahabat dari adiknya.


"B******k! semenjak Amanda datang ke jakarta. dia selalu sedih. Dan gue tau, ini gara-gara lo!" tunjuk Roy pada wajah Alvaro.


"Sebenarnya apa kesalahan adik gue? sampai lo buat nangis kayak gitu!"


"Gue tau Amanda sayang sama lo, lebih dari sahabat. Dan kenapa lo nggak nerima adik gue aja? Hah!"


"Kurangnya Adik gue apa Al!" marah Roy lalu berniat memukul Alvaro lagi, namun berhasil di tangkis oleh cowok itu.


"Kalau lo mau tau, tanyakan sama Amanda, apa yang sudah salah dari dia! dan satu lagi Bang, perasaan nggak bisa di paksa. Gue sayang sama Amanda hanya sebagai Adik, nggak lebih."jeda sejenak.


"Lo nggak mau kan, kalau gue nerima. Tapi Adik lo nggak bahagia, karena gue nggak bisa cintai dia." ujarnya, Roy terdiam memandang Al tajam.


Beberapa detik kemudian Alvaro mendorong sedikit tubuh tegap Roy yang menghalanginya, berjalan meninggalkan pria tersebut sendiri dengan renungan di hatinya.


Al lebih memilih pergi, ia sudah lelah menghadapi semua kelakuan dan masalah yang di buat oleh sahabat kecilnya.


Tiba di rumah, Al langsung masuk kedalam kamar. "Al!" pekik Dinar melihat wajah Alvaro terluka lagi.


"Kamu kenapa?" paniknya.


Alvaro meraih kedua tangan Dinar yang berada di pipinya. "Sayang, Ikut aku yuk." Dinar mengerutkan kening.


"Kemana?"


"Nggak tau, yang penting jauh dari sini. Aku capek," kata Al lalu memeluk tubuh Dinar, menghirup aroma tubuh wanitanya, agar perasaannya tenang.


Dinar membalas pelukan Alvaro, mengusap punggungnya, memberi kenyamanan. "Ayo kita pergi, kemana pun kamu pergi. Aku selalu ikut," bisik Dinar.


Alvaro melepas pelukannya, mereka saling pandang sesaat, sebelum akhirnya Al mencium kening dan bibir Dinar singkat.


Saat ini Al butuh menenangkan pikiran dan hatinya, ia ingin jauh dari keluarganya terlebih dahulu, urusan sekolah. Dia akan urus nanti.


Usai memasukkan beberapa baju kedalam koper, Alvaro benar-benar pergi meninggalkan rumah Ayah Angga, dengan membawa mobil sportnya.


Al pergi, bukan bertujuan untuk kabur, tadi sebelum menjalankan mobilnya ia menelpon Ayah Angga untuk meminta izin, tadinya Ayah Angga menolak dan melarangnya begitu pun Bunda Alya.


Tapi setelah berpikir sejenak, akhirnya beliau mengizinkan, Namun tidak untuk Bunda Alya, Bundanya tetap melarang bahkan sempat mengancam.


Dinar duduk di sampingnya, hanya mampu tertunduk diam. Dia tak tau harus seperti apa. Padahal masalah ini, hanya karena salah paham dan ketidaktahuan Amanda tentang pernikahannya.


Sampai di tempat tujuan, Alvaro mengajak Dinar lekas turun, memasuki sebuah gedung berlantai lima belas.


menggeret kopernya Al membawa Dinar ke hotel luar kota. menekan pasword keduanya masuk, tanpa beristirahat Dinar mencari kotak obat, ia ingin mengobati luka di bibir Alvaro.


"Bang Roy memang hobi mukul orang ya? perasaan kamu kena terus, padahal kan bisa di omongin baik-baik." omel Dinar.


"Tahan ya," Al mengangguk siap merasakan perih ketika istrinya mulai mengolesi lukanya dengan alkohol.


"Jadi kamu sudah cerita semua ke Amanda?" Alvaro lagi lagi hanya mengangguk.


"Terus, kalau kamu sudah cerita, kenapa mesti menghindar? Aku bisa jelasin ke Amanda yang sebenarnya,"


"Nggak semudah itu sayang, mereka masih menyalahkan aku, biarin mereka tenang dulu. Aku juga pusing hadapi kelakuannya Amanda."


Dinar lebih memilih diam, tak berani menyela atau pun membantah. "Ya_ aku ikut kamu aja." melanjutkan kegiatan mengobati luka Alvaro.


Masalah yang di hadapi Al, apa karena kehadiran dirinya. Dia selalu dan semakin merasa, jika Alvaro seperti ini karena dirinya.


Dinar merubah posisinya menjadi telentang, menatap langit-langit hotel. "Kayaknya gue harus ngelakuin sesuatu," gumamnya sendiri, ia menoleh kesamping. Tangannya menyentuh pipi Al dan mengusapnya pelan.


...***...


Pagi pagi sekali Dinar di bangunkan oleh suara ponselnya yang terus bergetar, terpaksa ia bangun dan melihat siapa yang sudah menelponnya.


Dinar segera mengangkat ketika nama sang mertua tertera di layarnya.


"Assalamu'alaikum Bunda,"


"Wa'alaikumsalam, sayang kamu di mana Nak? Alvaro nggak kasih tau Bunda kalian ada di mana,"


Sebelum menjawab pertanyaan Bunda Alya, Dinar menoleh. Memastikan apakah suaminya masih tidur, Dinar berniat beranjak dari kasur dan menelpon dengan Bunda menjauh dari Alvaro.


"Di luar kota Bunda, Al ngelarang aku untuk kasih tau. Tapi Bunda nggak usah khawatir. Aku bakal bujuk dia untuk pulang." jawabnya usai berhasil menjauh dari Al.


"Bunda nggak habis pikir sama Alvaro, kenapa di saat seperti ini. Dia justru pergi, kamu tau? keluarga mereka marah-marah, karena terakhir kali Amanda bersama Al, sebelum Manda pingsan."


Dinar meremas piyamanya, mendengar Bunda mengomel tiada henti. "Iya_ Bunda. Dinar ngerti, tapi Dinar juga nggak bisa berbuat apa-apa."


Terdengar Bunda membuang napas kasar. "Maafin Bunda ya, Bunda sudah marah-marah sama kamu. Habisnya Bunda bingung,"


"Bunda, udah dulu ya. Nanti Dinar telepon, pokoknya Dinar usahin Al mau pulang aja," ucapnya ketika melirik Alvaro yang sedang menggeliat.


"Sayang_ kamu udah bangun?" tanya Al, bernada serakah, khas bangun tidur.


"Hmm_" jawabnya singkat.


"Bentar lagi shubuh, bangun kita sholat." titah Dinar.


Alvaro merentangkan kedua tangannya, meminta istrinya untuk membantunya bangun.


Tapi itu hanya modus, sebab. Al justru menarik tangan Dinar, hingga tubuh perempuan itu jatuh di atas tubuh Alvaro.


"Al!" pekiknya.


Ia keget, dan memukul dada bidang suaminya. Masih di posisi di atas tubuh Alvaro, Dinar mendongak. "Jail banget sih!" gertaknya kesal.


Alvaro terkekeh, mengusap pipi, dan menatap teduh pada istrinya. "Kangen_" ujarnya.


Dinar mengulum senyum manis, ia tau arti ,Kangen, yang di maksud Al. memberi anggukan kecil, Alvaro langsung merubah posisinya yang kini menjadi di atas tubuh Dinar.


"Kita main cepat," katanya berbisik.


Alvaro selalu memperlakukan Dinar sangat lembut ketika sedang melakukan kegiatan intimnya, hingga Dinar terbuai dan merasa bahagia.


Dengan napas memburu, Alvaro menundukkan kepalanya di atas perut polos Dinar. "Aku berharap, Di sini." jeda sejenak mencium perut Dinar. "Lekas tumbuh Alvaro junior, agar dia bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga kita."


"Amin_" jawab Dinar tulus, menangkup wajah tampan Al.


Alvaro berharap dan berpikir, Mungkin jika adanya anak di antara mereka, masalah sedikit berkurang, dan sahabatnya itu bisa menerima jika dia tak akan bisa memilihnya dan meninggalkan Dinar.


Semua yang ada di dunia ini, sudah memiliki takdir masing masing, ia yakin. Amanda akan bahagia, meskipun tidak bersamanya.


...***...