Alvaro

Alvaro
Bab 120. Joging



...****...


Sepertinya cuaca sangat mendukung Dinar untuk mengajak Alvaro joging dengan setelan pinky boy, sebab hari ini matahari sudah menampakkan dirinya begitu cerah.


Langit berwarna biru cerah, dan kini keduanya sudah siap untuk pergi ke taman kompleks yang tidak jauh dari rumah mereka.


Dinar sudah sangat tidak sabar, wajahnya terlihat begitu berseri penuh senyum, berbeda dengan Alvaro menampakkan wajah sedikit muram dan kurang bersemangat.


"Ya ampun_ suami aku ganteng plus lucu," heboh Dinar mencubit pipi Al.


"Sayang, beneran kita pergi pakai baju mencolok gini?"


"Benar dong sayang, kenapa sih? kalau aku lihat nggak terlalu mencolok kok, lucu tau." Al menghela napas, wajahnya kian di tekuk.


Sebenarnya dia malu, apalagi di taman kompleks isinya Ibu ibu perumahan di tempatnya tinggal, pasti mereka kenal dan akan menertawakannya.


"Kenapa sih sayang? kamu nggak mau ya?" tanya Dinar dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Eh, nggak gitu sayang. Aku mau kok, yuk kita berangkat keburu siang." Dinar tersenyum lagi wanita itu begitu bersemangat, lalu segera pergi ke taman yang jaraknya sekitar lima belas menit dari rumah Alvaro.


Masih dalam perjalanan menuju taman aja, Alvaro dan Dinar sudah menjadi pusat perhatian orang orang, apalagi di taman nanti.


"Ya ampun, itu anaknya Pak Angga kan? ganteng banget sih, lucu lagi."


"Copule cute_"


"Andai Alvaro belum punya istri, gue mau deh nikah sama Al yang gantengnya nggak ketulungan,"


"Ma_ Alvaro ganteng banget, bisa nggak sih aku jadi istri keduanya?"


Itulah pembicaraan yang Dinar tidak sengaja dengar dari mereka, wanita itu seketika menekuk bibirnya.


Ia kesal karena mereka selalu memuji ketampanan Alvaro, sedangkan dia maunya tidak ada yang boleh memuji selain dirinya.


Menyadari perubahan raut wajah Dinar, Al menghentikan langkahnya lalu memperhatikan istrinya. "Sayang, kenapa?" memegang pundak Dinar ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


"Aku kesal sama mereka semua!" sungut Dinar menunjuk kearah para Ibu ibu dan beberapa gadis remaja dengan dagunya.


Kening Al semakin mengkerut bingung. "Memangnya kenapa mereka?"


"Mereka muji kamu terus, mereka bilang kamu ganteng, lucu, imut. Aku kan nggak suka_" ujarnya setengah merengek.


Alvaro bernapas lega, dia pikir istrinya kenapa, ternyata mode cemburu. "Ya ampun sayang, kamu bikin aku panik tau nggak! aku kira ada apa, Udahlah biarin aja."


"Tetap aja aku nggak suka, masa ada yang bilang mau jadi istri kedua kamu, aku nggak mau di madu!" sentaknya.


"SST__ Hay dengerin aku ya," Alvaro menangkup wajah Dinar agar bisa di ajak bicara.


"Aku nggak mau nikah lagi, aku cintanya sama kamu, jadi. Jangan mikir yang aneh-aneh, Oke." Dinar mengangguk meskipun bibirnya masih di tekuk kebawah.


"Jadi joging nggak?" wanita itu mengangguk.


"Tapi cium dulu," tunjuk Dinar di keningnya.


Alvaro terkekeh geli namun tetap memberikan apa yang wanitanya minta, bonus di kedua pipi tembem Dinar.


Dinar tersenyum cerah kembali, lalu segera melanjutkan perjalanannya menuju taman, tanpa memperdulikan orang orang yang terus memperhatikan mereka.


...***...


Sudah tiba di taman, Dinar semakin bersemangat, ternyata di taman banyak orang dan dia lihat juga ada beberapa wanita hamil.


Di taman pun mereka jadi objek penglihatan mereka, karena Alvaro dan Dinar memang terlalu mencolok, dengan kaos pink dan celana kuning yang sebenarnya tidak ada cocoknya, tapi mau bagaimana lagi, namanya juga ibu hamil jadi, harus di turuti.


Baru beberapa putaran Dinar mulai kelelahan, jalannya pun mulai lamban. "Sayang, capek_" rengek Dinar dengan napas sedikit memburu.


Alvaro yang sudah beberapa langkah di depannya pun berhenti dan berbalik badan, ia mengulum senyum melihat sang istri mulai lelah.


"Capek ya?" kata Al mengelap keringat dengan handuk yang tadi dia kalungkan.


"Iya, istirahat dulu boleh nggak sih?"


"Boleh dong," Alvaro mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk untuk Dinar.


"Kamu tunggu di sana, aku beli minum dulu," Dinar yang memang kelelahan pun hanya mengangguk.


Tidak sampai lima menit Alvaro sudah kembali dengan membawa dua botol air mineral, sebelum memberikan botolnya Al membukakan tutupnya terlebih dahulu.


"Sayang," panggil Dinar sembari memperhatikan anak anak perempuan yang bermain di taman tersebut.


"Hmm," jawab Al selepas meneguk air mineralnya.


"Kamu tau nggak sih, aku ngerasa anak kita nanti itu perempuan,"


"Kenapa memang?"


"Aku suka lihat anak perempuan, pengin kuncirin rambut dia nanti, kayak anak itu." katanya menunjuk anak perempuan rambutnya di kepang dua.


"Apapun yang di kasih Allah kita harus bersyukur,"


Dinar menyenderkan kepalanya di pundak Alvaro tanpa mengalihkan perhatian matanya ke arah anak anak tadi.


"Nanti, kalau anak kita lahir. Jangan sampai kita telantarkan dia ya, aku nggak mau anak kita ngerasain apa yang aku rasain, di saat aku pengin ngerasain kasih sayang seorang Ayah. Ternyata aku nggak bisa dapatin itu." ucap Dinar pelan.


"Sayang_ kok kamu ngomong gitu sih," Alvaro merubah posisinya menjadi memeluk pundak Dinar dengan kepala istrinya di dada.


"Kita nggak mungkin ngelakuin hal itu, belum lahir aja aku sayang sama anak kita. Dia adalah harta berharga bagi aku, bahkan aku aja sampai sekarang belum percaya kalau bentar lagi bakal punya anak, mana mungkin aku telantarin dia."


"Iya, maaf aku nggak bermaksud kok aku tau kamu sayang sama anak kita." mengulas senyum Dinar mengusap rahang kokoh Alvaro.


Tadi hanya pikiran sesaat Dinar saja, tiba tiba dia takut jika suatu saat nanti, dia bisa menelantarkan anaknya.


Padahal jika di pikir mana mungkin, kami semua mengharapkan kehadiran bayinya itu.


"Cari sarapan yuk," ajak Alvaro.


"Boleh, bubur ayam ya." pinta Dinar.


"Oke," jawab Al.


Tangannya terulur untuk membantu Dinar berdiri, lalu mulai berjalan kaki mencari penjual bubur ayam di sekitaran taman.


Baru beberapa langkah keduanya di hadang oleh seorang anak perempuan sekitaran umur enam tahun menggunakan dress putih polkadot hitam dan kuning.


"Om, om lucu deh."


"Hah," beo Al.


"Mungkin ini lho," tunjuk Dinar pada bando yang di gunakan oleh Alvaro.


"Oh ini yang lucu?" gadis kecil itu pun mengangguk memperlihatkan gigi putih rapinya.


Alvaro berjongkok di hadapan gadis itu mensejajarkan tingginya. "Kamu mau bandonya?"


"Memangnya boleh Om?"


"Boleh dong, nih pakai ya." Alvaro pun melepas bando kelinci berwarna putih dari kepalanya, lalu di pasang ke kepala anak kecil tadi.


"Horeee_ makasih ya Om." ucapnya sangat menggemaskan.


"Sama-sama sayang, namanya siapa? boleh kenalan nggak?"


"Nama aku Amira Om,"


"Mira_ ya ampun. Mama cariin ternyata di sini, ngapain kamu?" seorang perempuan cantik datang dan sepertinya itu adalah Ibu dari anak kecil yang bernama Amira.


"Eh Ibu, anaknya?"


"Iya Mas, kenapa ya? apa anak saya nakal?"


"Oh nggak Bu, tadi dia cuma minta bando kelinci."


"Ya ampun Ami, kok kamu nakal sih. Sudah bilang makasih belum?" omel sang Ibu.


"Jangan di marahin Bu, nggak apa-apa kok. Cuma bando aja,"


"Ya udah maaf ya Mas, kalau gitu makasih, kita pamit dulu," pamit pergi, Amira melambaikan tangannya pada Alvaro dan Dinar.


"Aahh_ gemas," rengek Dinar memeluk Alvaro. "Nanti aku pengin anak kita kayak Amira, lucu soalnya."


"Amin_" jawab Al sebelum akhirnya terkekeh geli karena Dinar begitu menggemaskan.


...***...