
...****************...
"Sayang, hari ini kamu jadwalnya olahraga kan? aku sudah masukan baju seragamnya," Dinar mengerutkan kening saat ia memasukkan baju seragam Alvaro kedalam tas lelaki itu.
Tapi yang di ajak ngobrol tak ada suara atau sautan. Dinar pun menoleh, kerutan di keningnya semakin dalam, ketika menyadari jika Alvaro tengah melamun.
Dinar menghampiri suaminya, lalu menepuk pundak lelaki itu, sontak Al terperanjat menatap Dinar bingung.
"Kamu kenapa Al? masih pagi ngelamun? ada masalah, sayang?" tanya Dinar khawatir.
Alvaro membuang napas dengan kasar, mengusap wajahnya. menoleh kesamping memandangi Dinar dengan tipis. "Nggak ada, Sayang. Tadi cuma kepikiran tentang pelajaran hari ini," meskipun tidak percaya, namun Dinar tetap mengangguk mengerti.
"Ya udah kalau kamu baik-baik aja, tapi kalau ada masalah, cerita." peringat Dinar.
"Iya sayangku_" gemas Al mencapit kedua pipi Dinar lalu mencium pipi sang istri dengan gemas.
"Yuk turun, yang lain pasti sudah nungguin." ajak Al, menggandeng tangan Dinar menuju lantai satu untuk sarapan.
"Selamat pagi," sapa Al.
"Pagi_"
"Dinar? ini Bunda sudah buatkan susu Ibu hamil, gimana hari ini, masih mual?" Bunda memberikan satu gelas penuh berisikan susu hangat.
"Masih Bunda, tapi sudah nggak terlalu."
"Alhamdulillah, semoga sudah mulai berkurang rasa mualnya,"
"Amin," jawab Al dan Dinar kompak.
"Dulu Bunda lumayan lama, sampai Ayah nggak bisa pergi kerja, karena nggak tega ninggalin Bunda." saut Ayah Angga yang menceritakan masa Bunda Alya hamil Alvaro.
"Namanya juga anak pertama, Yah. Pasti begitu." kata Bunda, Ayah terkekeh sambil mengunyah roti tawarnya.
Saat menoleh, mata Ayah Angga bertemu dengan mata Alvaro yang sedari tadi memperhatikan kearahnya, mereka saling pandang beberapa detik, sebelum Ayah Angga yang memutuskan terlebih dahulu.
Al menunduk memandang roti di hadapannya, ia tak bisa seperti ini terus, dia harus tau siapa dan apa maksud ucapan Ayahnya semalam.
Jika tidak, dia akan terus penasaran hingga tak bisa berpikir tentang hal lain.
"Hubby, nanti siang aku izin ke butik ada orang yang mau menyewa gaun untuk acara pernikahan." suara Bundanya menyadarkan Alvaro dari lamunannya, ia mendongak cukup terkejut ternyata Dinar di sampingnya sedang melihat kearahnya.
"Ayah pergi dulu, sudah ada meeting yang harus segera di mulai." kata Ayah mulai berdiri dari duduknya.
Alvaro pun bergegas meminum gelas berisi susu coklat, ia pun pamit. Dia ingin bicara dengan Ayahnya.
"Bunda aku pergi,"
"Lho kok pada buru-buru sih?"
"Al, ada jadwal olahraga." sautnya lalu beralih ke Dinar. "Sayang, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku," pesan Al.
"Iya, kamu hati-hati," jawab Dinar sambil mencium punggung tangan Alvaro.
Selesai berpamitan, Alvaro berlari keluar rumah. "Ayah!" teriak Al, ketika Ayah Angga sudah ingin membuka pintu.
Pak Angga urung membuka pintu mobilnya, ia pun memutar tubuh melihat putranya yang menghampirinya. "Ada apa Al?" tanyanya usai Al sudah berdiri di depannya.
"Alvaro kepikiran soal tadi malam, bisa Ayah jelasin maksudnya gimana? jujur Al penasaran, Yah."
Pak Angga menghela napas berat, memandang Al sejenak lalu beralih ke rumahnya yang masih terbuka. "Ayah nggak bisa jelasin di sini, kamu pulang sekolah bisa ke tempat Ayah?"
"Bisa Yah,"
"Kalau gitu nanti sore Ayah tunggu di cafe aja, jangan di kantor." pintanya.
Alvaro mengangguk setuju, lalu beliau segera pergi.
Al memandang mobil Ayahnya pergi dengan penuh harap soal sesuatu yang akan di bicarakan kepadanya.
...****************...
"Ya, gue ada janji sama bokap."
"Perlu gue temani?" tawar Bastian di sebelahnya.
Alvaro mengulas senyum, menoleh sekejap pada sahabatnya. "Nggak usah, beberapa hari ini. Gue selalu ngerepotin Lo," Bastian tersenyum tipis, menepuk pundak Al.
"Sudah gue bilang, santai aja. Gue senang bisa bantuin Lo,"
Alvaro mengangguk beranjak dari duduknya. "Gue terima kasih banget sama lo, Lo sahabat terbaik gue,"
"Berarti kita bukan sahabat terbaik," cetus Niko yang mendengar pembicaraan keduanya.
"Semuanya sahabatnya terbaik gue, Lo, sama lo." tunjuk Al, ke Niko dan Heru.
"Lain kali ajaklah kita jajan,"
"Gampang, kalau gue punya waktu senggang, pasti gue ajak Lo jajan."
"Yess! gue tunggu bro!" teriak Niko dan Heru berbarengan karena Alvaro sudah keluar dari kelas.
Mengendarai motor sportnya tidak terlalu kencang, Al sudah sampai sekitar sepuluh menitan, dia datang ke cafe milik Ayahnya yang katanya bakal di lepas untuk ia pegang setelah dia lulus, tentu Alvaro senang.
Keinginannya memang membuka usaha seperti Ayahnya, bukan kerja di kantoran, namun Kakeknya memaksanya untuk bekerja di kantor mengganti Ayahnya nanti jika sudah tidak mau bekerja lagi di kantor.
"Selamat sore, Mas Al." sapa salah satu karyawan.
"Sore, Ayah sudah di sini?"
"Sudah, Mas. di tunggu di atas," Al mengangguk sekali lalu bergegas naik ke atas.
Ketuk sekali pintu ruangan Ayah Angga, mendengar suara sang Ayah menyuruhnya masuk.
"Sudah datang, cepat banget." katanya setengah meledek.
Alvaro mendengus, duduk di sofa sambil menarik dasi sekolah, ia menghela napas lelah.
Pak Angga yang masih duduk di meja kebesarannya, memandang Al sekejap, sebelum beliau beranjak lalu mengambil segelas minuman.
"Minum dulu Nak, kamu capek kan?" menaruh Caffè Americano dingin kepada anaknya, beliau sendiri yang membuat minuman itu untuk Al.
Memiliki usaha dari muda, membuat Pak Angga bisa menjadi apapun, termasuk menjadi barista.
Sempat di tentang oleh Papanya, Pak Angga bisa membuktikan jika usahanya yang ia bangun dari masih sekolah, bisa berdiri hingga sekarang. Bahkan sekarang pun, masih banyak pengunjung yang datang.
Apalagi cafe Pak Angga sudah banyak dan sangat terkenal, maka tak heran jika cafe tersebut tak pernah sepi.
Alvaro menegakkan duduknya, mengambil minuman yang sudah Ayahnya buatkannya.
"Kamu dapat dari mana, orang yang bisa membuat sketsa sejelas itu?" pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Pak Angga usai beberapa menit hanya diam.
"Temannya Bastian, Yah. dia juga sering di mintai oleh pihak kepolisian untuk membantu mencari pelaku kejahatan," Ayahnya mengangguk angguk beberapa kali, menaruh cangkir kopi di atas meja.
Alvaro menumpu kedua sikunya di atas paha, menunggu Ayahnya bicara lagi. "Kamu benar-benar tidak tau siapa orang di dalam gambar itu?" Al menggeleng pelan.
"Nggak, Yah. Al ngerasa pernah lihat tapi lupa di mana,"
Ayah Angga ikut merubah duduknya seperti anaknya, menatap lurus ke mata anaknya begitu lekat dan dalam. "Ayah harap, setelah kamu tau. Biarkan rahasia ini kita dulu yang tau, sampai orang itu kita temukan,"
Alvaro sempat mengerutkan kening, namun setelah itu mengangguk setuju.
"Dia_" jeda sejenak, Ayah Angga menarik napas dalamnya. "Mantan Bunda kamu, Hendra."
...****************...