Alvaro

Alvaro
Bab 134. Ask for help



...***...


"Sayang.." Dinar menghampiri Alvaro yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Al mendongak, menepuk sisi Kadur untuk memberi kode agar Dinar ikut bergabung bersamanya.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Al usai Dinar sudah duduk di sampingnya bahkan sudah bergelayut manja.


"Tadi Bunda bilang, besok lusa Ayah sudah bisa bebas. Boleh nggak kalau kita ikut jemput? aku masih berharap Ayah mau tinggal di rumah itu."


"Boleh dong sayang, tapi kalau aku nggak bisa ikut maaf ya. Soalnya banyak tugas dari dosen, dan kadang ngasihnya suka dadakan, nggak apa-apa kan? nanti kamu marah."


Dinar menggeleng kuat semakin memeluk lengan suaminya. "Nggak kok, aku juga ngerti kamu sekarang sibuk, apalagi kamu bukan seorang siswa tapi seorang mahasiswa."


Merubah posisinya menjadi memeluk, Al memberi kecupan di puncak kepala Dinar. "Makasih ya sayang, udah ngertiin aku."


"Iya calon Papa," jawab Dinar mencubit pipi kiri Alvaro.


Alvaro tergelak cukup keras, sangking gemasnya ia sampai mengacak rambut Dinar secara brutal.


"Ih_ kok di berantakin sih." sungut Dinar melirik sinis kearah Alvaro yang malah tersenyum tidak jelas.


Tok! tok! tok!


"Al, kamu sudah tidur? ada tamu di bawah," ujar Bunda Alya di balik pintu.


Kedua orang yang masih betah di atas kasur itu saling pandang dengan penuh tanya.


"Siapa Al?"


"Nggak tau sayang, aku turun dulu ya." Dinar hanya mengangguk menatap punggung Alvaro sampai hilang di balik pintu.


"Siapa Bun?" tanya Al di ujung tangga atas.


"Teman kamu, ituloh siapa? Aron? Ya Aron yang sekarang lagi sama Amanda,"


"Tumben, mau ngapain ya?" monolognya sembari turun satu persatu anak tangga.


Dan benar ternyata, tamu itu adalah Aron. "Hai," sapa Al lalu duduk di hadapan cowok itu.


"Tumben, ada apa nih? eh ngomong-ngomong mau minum apa?"


"Nggak usah, gue bentar doang kok."


"Oh_ oke. Memangnya ada apa?"


"Jadi gini, sebenarnya gue mau minta tolong sama Lo."


"Minta tolong apa?"


"Gue ada masalah sama keluarganya Amanda, jadi mereka kayaknya nggak setuju sama hubungan gue dan Amanda karena mereka tau siapa gue dulunya. Dan mereka coba ngeremehin gue," terdengar helaan napas keluar dari mulut Alvaro.


"Gue udah duga, bokap sama nyokapnya Manda itu, sedikit materialistis. Jujur gue juga kurang suka sama mereka yang terlalu menekan Amanda,"


"Itu dia Al, Amanda jadi suka ngurung diri, dan dia sering nelpon gue lagi nangis, gue merasa bersalah." ucap Aron menunduk begitu dalam.


"Tapi untuk mundur pun rasanya sulit, gue udah terlanjur terlalu sayang sama Manda. Dan karena Amanda juga yang membuat gue lupa tentang perasaan gue ke Dinar, gue mau mempertahankan Amanda, Al." ucap Aron tulus, Al yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis ternyata Aron bisa juga memiliki hati lembut seperti itu.


"Jadi, apa yang bisa gue bantu?" tanya Al, memangku kedua sikunya di atas paha.


"Lo kan punya Cafe, izinin gue kerja di cafe lo. Tapi nggak tiap hari, gue harus kuliah. Siangnya gue kerja di kantor bokap." menjeda sejenak Aron menarik napas.


"Gue mau tunjukkin ke mereka kalau gue serius, dan bisa membahagiakan putrinya. Gue akan mulai dari nol,"


"Boleh-boleh, Lo tinggal datang langsung aja. Besok pun kalau lo mau bisa,"


Menaikkan bahunya Al tersenyum. "Kenapa Nggak? asal lo serius demi sahabat gue bahagia, gue pasti dukung dan bantu lo,"


"Makasih ya Al, sebenarnya gue malu. Gue_"


"Ssst. udahlah nggak usah di ingat, gue udah lupa kok." ujar Al tulus.


...***...


"Siapa?" Alvaro yang baru kembali ke kamar setelah Aron pulang pun cukup terkejut, saat melihat Dinar ternyata belum tidur.


"Kamu belum tidur sayang?" bukannya menjawab pertanyaan istrinya Alvaro malah tanya balik.


"Ih_ kamu mah kebiasaan, di tanya. Malah nanya balik!" memajukan bibirnya wanita itu menatap Alvaro kesal.


Al terkekeh geli, menepuk puncak kepala Dinar. "Iya ya, gitu aja marah sih istri aku." balas Alvaro mencoba menggelitiki sang istri.


"Hahaha_ ya ya stop. Udah udah, ntar perut aku keram lho," ujar wanita itu di sela tertawa keras akibat ulah suaminya.


"Habisnya kamu gemesin, yang kesini tadi Aron."


"Hah! ngapain lagi? awas ya kalau sampai dia mau jahatin kita." sentak Dinar cukup terkejut, untuk apa cowok itu datang lagi, bukannya dia sudah mempunyai kehidupan sendiri, pikir Dinar dalam hati.


"Jangan marah-marah dulu dong sayang, aku kan belum cerita dia mau ngapain kesini. Kenapa sih? perasaan sensi banget sama Aron, ingat lho dia sudah baik. Alhamdulillah Aron mau berubah," sela Al menanggapi.


"Iya sih, tapi aku kaget aja. Ngapain coba, dia malam-malam datang kerumah orang,"


"Dia lagi punya masalah," alis Dinar naik sebelah.


"Masalah?" beo Dinar, yang mendapati anggukan dari Alvaro.


"Masalah apa?"


"Aron sama Amanda lagi ada masalah, hubungan mereka punya kendala,"


"Ada apa? Aron selingkuh?" Alvaro menghela napas sabar.


"Sayang, bisa nggak sih jangan suudzon dulu, nggak baik lho. Ingat kamu lagi mengandung, dengerin dulu aku cerita." peringat Al begitu sabar dan penuh tekanan.


Dinar hanya meringis, meminta maaf.


"Hubungan mereka punya kendala dari orang tua Amanda, aku tau sih Mamanya itu sedikit matre,"


"Hufs nggak boleh ngomong gitu." kini giliran Dinar yang memberi peringatan.


"Kenyataannya sayang, aku kan cukup tau sifat Mamanya. Jadi Aron selalu di pandang remeh, apalagi mereka cukup tau sifat Aron dulu seperti apa."


"Jadi tadi itu, dia mau minta tolong. Supaya aku kasih izin dia kerja di cafe, setiap sore sampai malam. Siangnya dia kerja di kantor Papanya, Aron mau memulai dari awal."


Jeda sejenak Al mengambil napas. "Aron mau buktikan kalau dia serius sama Amanda, dia mau memberikan yang terbaik dari hasil kerja kerasnya demi Amanda, semoga dengan dia bekerja keras, dan memiliki hasil dari usahanya sendiri, tanpa di bantu orang tuanya. Aron dan Amanda bisa mendapatkan restu." ucap Al panjang lebar.


"Amin," gumam Dinar.


"Aku nggak nyangka, Aron bisa mau seperti itu. Padahal dulu dia masa bodoh dengan perempuan, bahkan gadis-gadis yang dekat sama dia banyak di abaikan. Tapi sekarang dia justru mau berjuang demi wanita." lanjut Dinar.


"Makanya, jangan selalu suudzon sama orang. Nggak semua orang jahat, akan jahat terus, suatu saat pasti dia bisa berubah. Intinya kita doain aja yang terbaik buat Aron dan Amanda." Dinar hanya mengangguk lalu merebahkan kepalanya di pundak.


"Aku jadi pengin ketemu sama Amanda, bisa nggak ya?"


"Kita coba besok ya."


...***...