
...***...
Karena Ayahnya terlihat begitu serius, Dinar akhirnya membawanya ke belakang rumah, di sana hanya ada kolam ikan dan beberapa tanaman milik Alya yang sengaja di taruh disana.
Tidak seperti di rumah mertuanya yang terdapat taman cukup besar.
Mengajak duduk di kursi Dinar langsung bertanya. "Ayah mau ngomong apa?" tanya Dinar tanpa basa-basi.
Hendra terlihat menggaruk keningnya sejenak, seolah menyusun kata yang pas untuk bicara dengan putrinya.
"Sebenarnya Ayah mau tanya sama kamu, tentang Ayah tinggal di rumah kamu ini, apa kamu nggak masalah? Ayah nggak mau kalau bikin kamu repot. Sudah cukup selama ini Ayah buat kamu sengsara, Din."
"Ayah ngomong apa sih, kan yang nyuruh Ayah tinggal di sini aku, ya pastinya aku nggak apa-apa dong." ujar Dinar lembut.
Mengusap pundak Ayahnya Dinar berkata. "Pokoknya Ayah nggak perlu mikir yang aneh-aneh, kita justru senang kalau Ayah mau tinggal di sini bersama Jingga,"
"Baiklah, kalau begitu Ayah mau tinggal bersama Jingga. Kamu tidak apa-apa, jika adik kamu tinggal dengan Ayah? kamu nggak khawatir pada Jingga?"
"Ayah ini kenapa ngomong gitu sih, Dinar tuh sudah percaya sama Ayah. lagipula Jingga pengin tinggal sama Ayah, jadi Dinar mohon. Jangan berpikir kayak gitu, tolong kabulkan permintaan Jingga. Cuma itu yang ingin Jingga minta."
Menghela napas Hendra mengangguk. "Baiklah, jika seperti itu, Ayah benar-benar mau." putus Hendra pada akhirnya.
"Alhamdulillah, pokoknya Ayah jangan mikir yang aneh-aneh ya," ujar Dinar mengusap-usap lengan Ayahnya.
"Iya Nak, sekali lagi terima kasih. Kamu sudah maafin Ayah dan mempercayai Ayah untuk tinggal di sini,"
Dinar tertegun hatinya berdebar kuat, ini adalah kali pertama kalinya Ayah Hendra memanggilnya dengan kata Nak begitu lembut.
Hatinya membuncah, rasa bahagia tak bisa Dinar sembunyikan. Sampai-sampai ia meneteskan air mata.
"Kamu kenapa lagi? Ayah salah?" panik Hendra, Dinar menggeleng pelan dengan derai air matanya.
"Ayah, boleh nggak aku peluk Ayah? aku pengin peluk Ayah," pinta wanita itu di sela sesenggukan nya.
"Tentu Nak, kenapa nggak." tanpa di suruh lagi Dinar menghambur ke dalam pelukan Ayahnya.
Wanita itu kian menangis, menumpahkan perasaannya di dalam dekapan pria yang sudah dia anggap seperti Ayah kandungnya.
Tanpa mereka sadari, di belakang keduanya. Alvaro tengah melihat dan mendengar dia bukan berniat untuk menguping, ia hanya ingin melindungi istri dan anaknya.
Lelaki itu mengusap sudut matanya yang berair, ia bahagia istrinya sudah bisa melakukan apa yang dari dulu di inginkan nya.
Alvaro mundur membiarkan mereka menikmati waktu bersama, kali ini dia benar-benar tak ingin mengganggu.
Alvaro bergabung bersama Ayah dan Bundanya di ruang tengah. "Yang lain mana?" tanya Al sembari mencomot biskuit di dalam toples.
"Di depan, pada main." jawab Bundanya.
"Dinar masih di belakang?" tanya Alya.
"Iya Bunda, biarin aja mereka berdua, menikmati waktu bersama. Dinar lagi bahagia banget, aku nggak mau ganggu." jawab Al.
"Iya kamu benar, apalagi Dinar itu sayang sekali dengan Ayahnya, walaupun dari kecil nggak pernah di anggap." saut Angga.
Mengangguk setuju Alvaro menelan kuenya lalu berkata. "Yang lebih buat dia senang, karena Ayah Hendra menerima tawaran Dinar tinggal di sini bersama Jingga."
"Beneran?" Al mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah, syukurlah Bunda senang dengarnya. Dengan begitu Jingga bisa tinggal sama Ayahnya."
...***...
"Ih_ kok kamu ngomong gitu sih, kenapa? cemburu ya?" goda balik Dinar menghampiri Alvaro yang tengah berbaring di atas kasur.
"Dih, cemburu? nggak lah."
"Masa? ya udah kalau gitu besok aku jalan aja sama cowok lain, biar aku sudah hamil perut gede gini. Masih banyak kok yang mau jalan sama aku!"
"Ehh_ kok bisa gitu! nggak ya. Kamu nggak boleh jalan sama cowok lain!" sentak Al lalu duduk dengan tegak menatap Dinar sedikit tajam.
"Lah_ kok jadi kamu yang marah? tadi siapa coba yang ngomong kalau nggak cemburu?!" kini giliran Dinar menaikkan nada suaranya.
Alvaro mengacak rambutnya dengan kesal. "Bukan gitu sayang, tadi kan kamu berduaan sama Ayah, ya aku nggak cemburu lah. Beda lagi kalau kamu jalan sama cowok! pastinya aku marah," jawab Al.
"Hehe_ kirain kamu nggak cemburu, aku pikir kamu sudah nggak peduli dan nggak cinta lagi sama aku, jadinya biarin aku jalan sama cowok lain." Alvaro mendengus sebal.
Ia membuang muka kearah lain. "Yahh_ sayang jangan marah dong," bujuk Dinar menyusul Alvaro duduk di atas kasur.
"Sayang, Papa kamu nih. Ngambek kayak anak kecil, padahal kamu kan kangen ya, minta di usapin sama Papa." ucap Dinar pada anaknya, tangan kanannya mengusap perut buncitnya.
"Wahh_ kamu nendang, berarti benar kan, kalau kamu pengin di usap Papa. Sabar ya, sama Mama aja, Papanya lagi nggak mood."
Alvaro yang hanya diam melirik mencuri pandang kearah istrinya. "CK, sini aku usapin."
"Nggak usah! kalau kamunya masih ngambek, ntar nggak ikhlas." sewot Dinar.
"Nggak sayang, aku yang minta maaf. Tadi kebawa emosi aja, aku pikir kamu beneran mau pergi sama cowok lain."
Dinar tertawa pelan, tangannya mengusap sebelah pipi suaminya. "Kamu kalau mau ngambek mikir dulu dong. Mana ada cowok lain selain kamu."
"Kalau pun jalan, ya cowok itu kamulah. Semenjak kita pacaran terus nikah, mana ada aku teman cowok." tersadar dengan kebodohannya Alvaro menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aku kan sayangnya cuma sama kamu, mana bisa aku ke cowok lain." mengulas senyum bahagia, Alvaro menangkup wajah Dinar lalu memberi kecupan berulang kali di bibir wanita itu.
"Jadi udah nggak marah kan?" Alvaro menggeleng.
"Terus gimana? mau ngusapin perut aku?"
"Mau dong, sini rebahan." titah Alvaro begitu bersemangat.
Dinar pun merebahkan tubuhnya, tidur miring dengan Alvaro yang berada di belakangnya. seperti memeluk dari belakang, Alvaro masuk kedalam baju Dinar lalu mulai mengusap usap perut sang istri.
Kebiasaan Dinar semenjak hamil ketika ingin tidur, sesuatu yang wajib di lakukan. Jika tidak maka wanita itu tidak bisa tidur.
"Kamu bahagia?" tanya Al.
Dinar yang sudah merasakan ngantuk terpaksa membuka matanya kembali lalu menjawab pertanyaan Alvaro dengan mengangguk pelan.
"Alhamdulillah kalau gitu, aku senang kalau kamu senang. Akhirnya penantian kamu terwujud iya kan?" tak ada jawaban.
Alvaro mengangkat kepalanya sejenak, ia pun hanya tersenyum saat menyadari jika ternyata Dinar sudah tidur.
"Ya ampun_ baru juga di usap. Udah tidur aja," kekeh Al menggelengkan kepalanya.
"Good night, love you." bisik Alvaro sangat lembut lalu meninggalkan kecupan hangat di kening wanitanya.
...***...