
...~•~...
"Astagfirullah Dinar kenapa kaki kamu Nak?" Bunda Alya panik ketika menantunya masuk kedalam rumah dengan keadaan pincang.
"Kepleset Bunda,"
"Bohong!" saut Al, Dinar mendelik, tangannya menyikut perut Alvaro.
"Hah?" Bunda tampak bingung, beliau memandang anak dan mantunya bergantian.
"Dia di sakiti Amanda,"
"Nggak Bun, Al bohong." Alvaro memutar bola matanya malas, masih saja Dinar melindungi Amanda.
"Duh__ Bunda jadi bingung. Yang benar, yang mana?"
"Amanda yang udah buat Dinar seperti Bunda," jeda sejenak. "Kalau gini terus, Al mau cerita semuanya ke dia." pungkas Al, nadanya sangat tegas tak terbantahkan
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin!"
Bunda mengangguk angguk saja. "Bunda ikut kamu aja. Baiknya gimana," Dinar melihat Bunda Alya sendu.
Padahal dia berharap, Bunda menolak keputusan Alvaro, dia belum siap jika harus menghadapi kenyataan orang orang tau, bahwa dia bukan tunangan. Tapi melainkan seorang istri.
Membawa istrinya kedalam kamar, Alvaro mengompers kaki Dinar dengan handuk panas, tidak ada pembicara dari keduanya.
Padahal Dinar sangat ingin bicara, tapi melihat raut wajah Al yang sangat datar, mengurungkan niatnya.
"Masih sakit?" tanya Al lembut.
"Udah mendingan," Alvaro tersenyum lega.
"Terima kasih," tulus Dinar.
Alvaro yang kini sedang berlutut di hadapan Dinar, mengharuskan cowok itu mendongak. "Nggak perlu terima kasih, sudah sewajarnya suami ngerawat istrinya." Dinar memberi senyum, mengusap pipi Al.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan membuyarkan Alvaro dan Dinar dari tatapan mereka, Al segera menghampiri pintu. "Kenapa Bunda?" Bunda Alya berdiri di luar pintu ingin memberitahu sesuatu.
"Bunda dapat telepon dari Bu Lilis, katanya mereka nanti malam mau datang." Alvaro mendelik.
"Mau ngapain Bunda?" tanya Al bernada tidak suka.
"Bunda nggak tau, katanya tanda permintaan maaf dari Bang Roy, mereka mengundang kita makan malam di restoran."
Alvaro membuang napas kasar, mengacak rambut hingga berantakan. "Bunda ajalah yang datang. Al males."
"Jangan gitu nak, lebih baik kita turuti keinginan mereka, kamu memang memiliki masalah dengan Amanda. Tapi bukan berarti kita menjauh. kekeluargaan kita harus tetap berjalan."
"Aku ajak Dinar?" Bunda Alya diam sejenak, seperti sedang berpikir.
Baru beberapa detik Bunda pun mengangguk membiarkan Alvaro membawa Dinar, dari pada putranya itu tak ingin ikut.
Al menutup pintu ketika Bundanya sudah pergi, ia kembali menghampiri Dinar yang duduk di sofa.
"Kenapa?"
"Nanti keluarganya Amanda mau kesini, mereka mau ngajak makan malam di luar." Al menoleh pada Dinar.
"Sayang, kamu ikut ya," ajaknya yang langsung mendapatkan gelengan dari Dinar.
"Aku di rumah aja, aku nggak mau ngerusak acara makan malam kalian. Aku yakin, kalau ada aku suasana jadi canggung dan nggak enak." Alvaro mendesah kecewa.
"Kalau gitu aku nggak pergi." putus Al.
Dinar menoleh cepat, matanya membola. "Al_ jangan mempersulit keadaan. Kalau kamu kayak gini, masalahnya nggak ada habisnya!" marah Dinar.
Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, melipat tangannya di dada. "Kamu bilang, kamu mau cerita semuanya ke Amanda," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Alvaro.
Benar juga, ini kesempatannya bertemu Amanda untuk memberitahu semuanya tentang dia dan Dinar.
"Jadi aku harus cerita tanpa kamu?" Dinar mengangguk pelan.
"Oke_" ucap Al pelan.
...***...
Perempuan itu termenumg, ada perasaan sesak ketika suaminya akan pergi. Sebenarnya dia seperti tidak rela, namun mengingat jika Al akan makan malam bersama keluarga dari sahabatnya
Mengharuskannya ikhlas, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti, pasti Al akan selalu di dekatkan oleh gadis itu.
Kemarin saja ketika di hotel, orang tua Amanda tetap mendekatkan anaknya dengan Alvaro, padahal ada dirinya di samping cowok itu.
"Sayang_" panggil Dinar.
"Iya," Alvaro yang sedang memakai jas hitamnya menoleh, melihat wajah di tekuk istrinya.
Ia mengerutkan kening. "Kenapa sayang?" tanyanya heran.
"Nggak usah ganteng-ganteng. Nggak usah tebar pesona." sewot Dinar, tidak suka melihat Alvaro yang sangat rapi.
Karena jika berpenampilan seperti itu, Alvaro kian terlihat semakin tampan. Dan dia merasa tidak rela jika Al tampan di hadapan orang lain.
Alvaro mengulum senyum, lalu melepas jas yang sudah dia pakai, ia tidak ingin terlihat formal. Hanya kemeja abu abu saja melekat di tubuhnya.
"Gini gimana?" tanya Al minta pendapat.
"Sini," tangan Dinar berayun meminta Al untuk menghampirinya.
Alvaro menurut, ia menghampiri Dinar yang duduk di tepi kasur. cowok itu menunduk saat Dinar mengancing kemeja abu abu Al.
Al tau apa yang di pikiran Dinar, terlihat jelas dari sorot mata cantik dari perempuan itu. "Jangan khawatir, aku nggak akan macam-macam di sana." Dinar mendongak, matanya berkedip beberapa kali.
"Hah?" cengonya.
Alvaro terkekeh pelan, jarak yang begitu dekat sangat gampang mendapatkan kecupan yang Al berikan. "Aku tau kamu cemburu kan?" ujarnya santai usai mengecup singkat bibir sang istri.
"Siapa yang cemburu! nggak kok_" elaknya.
Bibir berkata tidak, hati berkata lain. sangat jelas dilihat dari mata perempuan itu. "Nggak usah bohong sayang, aku tau kok." godanya.
Dinar sudah ingin protes, tapi tidak jadi lantaran apa yang di katakan Al memang benar. "Kalau gitu ikut aja sayang, Yuk." ajak Alvaro.
Dinar menggeleng kuat kuat, tentu saja dia menolak. "Atau aku nggak usah pergi aja? iya deh, aku nggak usah pergi. Lebih baik aku di rumah sama kamu." usulnya yang langsung mendapatkan pukulan cukup panas dari Dinar di lengannya.
"Nggak usah cari masalah, udah sana kebawah. Mereka pasti sudah mau sampai," usir Dinar mendorong tubuh suaminya.
Hari ini sepertinya Al terlalu sering membuang napas beratnya, ia merasa hari ini sangat buruk, bukan hari ini saja.
Tapi setelah kedatangan Amanda, setiap harinya terasa buruk dan kacau.
"Ya udah. Aku pergi dulu. Mau di bawakan apa?"
"Nggak usah, aku minta kamu cepat pulang. Jangan lama-lama di sana," pesannya, mendapatkan tanda hormat dari Alvaro.
Dinar meraih tangan Al untuk ia cium, lalu di susul Alvaro mengecup keningnya cukup lama.
Turun ke lantai satu, di sana sudah ada keluarga Amanda. Ia berjalan santai sambil membenarkan jam di tangannya.
Bergabung dengan mereka dan memilih duduk di samping Ayah Angga. Semua tatapan tertuju pada dirinya, termasuk Amanda yang mengenakan dress merah.
"Al," panggil Bang Roy.
Alvaro mengangkat wajahnya, memandang orang yang memanggilnya. "Gue minta maaf atas kejadian waktu itu, seharusnya gue ngomong baik-baik sama lo." sesal Bang Roy.
"Nggak apa-apa Bang, gue nggak mempermasalahkan nya kok." semua tersenyum lega, apalagi gadis yang sedari tadi menatap kearah Al terus.
"Udah Sayang, Mama tau Al ganteng, jangan di lihatin terus. Ntar Alnya malu," bisik Bu Lilis, semua tertawa.
Namun tidak untuk Alvaro, ia justru memutar bola matanya malas, terlalu pede sekali mereka. Katanya dalam hati.
Dinar berada di beberapa anak tangga bagian atas, hatinya semakin sesak melihat keakraban mereka. Tak ingin hatinya ngilu ia memilih masuk ke kamar kembali.
"Yuk kita pergi, keburu malam." ajak Pak Damar.
"Amanda sama Al ya," suruh Bu Lilis.
Tentu saja Amanda senang, dia lebih dulu masuk dari pada Al menolak, belum apa apa gadis itu sudah sangat mengacaukan mood seorang Alvaro, di lihat saat menutup pintu mobil dan membawa kendaraan itu yang begitu kencang.
Tak memperdulikan ketakutan dari gadis di sampingnya, yang terpenting lekas sampai di tempat tujuan.
...***...