
...***...
"Astaghfirullah. Kenapa sih nggak disana disini, sama aja. Ngumbar kemesraan!" pekik seseorang saat melihat Alvaro tengah saling mengobrol diselingi adegan romantis, seperti mengusap pipi, mencubit pipi Dinar yang mulai terlihat berisi.
Mengerut tak paham Alvaro berdiri menghampiri seseorang tersebut. "Siapa maksud Lo?" tanya Al penasaran.
"Tuh!" tunjuk nya yang tak lain adalah Niko.
Dan seseorang yang di tunjuk adalah Heru bersama Selly, namun ada yang lebih mengejutkan bagi Alvaro.
Yang dimana, Ia melihat sahabat kecilnya, tengah terlihat sedang dekat dengan mantan Dinar, yang berarti adalah Aron.
"Mereka pacaran?"
"Siapa? Herus sama Selly? Iya lah, kan Lo udah tau."
"Bukan. Maksud gue Amanda sama Aron?"
"Oalah, mereka. Ya nggak tau juga gue cuma dapet kabar burung, kalau mereka memang lagi dekat."
Melipat tangannya di dada, Alvaro mengamati dua orang tersebut, hingga sebuah sentuhan di lengannya membuat ia terpaksa menoleh.
"Lihat apa sih?" tersenyum lembut Al merangkul pundak istrinya.
"Tuh lihat mereka, kayaknya mereka lagi dekat? atau memang pacaran?"
"Memang kenapa kalau mereka pacaran? kamu cemburu?" raut wajah Alvaro seketika berubah, perasaannya mulai tidak enak.
Kayaknya dia salah bicara, menangkap nada bicara Dinar yang terdengar kurang nyaman, sontak Al tersenyum pada Dinar.
"Nggak gitu sayang, maksud aku."
"Tau kok, Amanda sahabat kecil kamu, makanya kalau Manda di dekatin cowok kamu seakan nggak suka!" ujar Dinar dengan bibir bergetar menahan tangis.
"Gue nggak ikut-ikutan." gumam Niko menaikkan tangannya lalu pergi.
Meninggalkan Alvaro, Dinar duduk kembali ke sofa matanya kian berkabut ingin menangis, entah apa yang membuatnya menangis.
Yang jelas ia tidak suka saat Alvaro seperti memprotes Amanda dekat dengan cowok.
"Sayang, jangan nangis dong." ucap Al sangat memohon.
"Maafin aku ya kalau salah."
"Kamu memang salah!" sentak Dinar kian marah.
"Iya ya aku salah, makanya aku minta maaf. Ya,"
Ibu jari Alvaro mengusap lembut pipi Dinar yang mulai di aliri air bening dari mata cantik istrinya.
"Loh loh, Dinar kenapa? kamu apain mantu Bunda, Al?" panik Bunda Alya mengetahui mantunya sedang menangis.
Sontak Alvaro mendelik kepalanya menggeleng kuat, bukan dia pelaku utamanya.
"Nggak Bun. Aku nggak ngapa-ngapain Dinar,"
"Terus kalau nggak kamu apa-apain, kenapa bisa nangis. Hah?" mengacak rambutnya Al mulai diserang rasa kesal dan frustasi.
"Gini lho. Tadi aku cuma lagi ngobrol sam Niko, kita lagi ngomongin Amanda yang lagi dekat sama Aron."
Mengerutkan kening Bunda tampak mengingat nama tersebut. "Aron mantan Dinar itu kan?" Alvaro melotot kaget, kenapa harus diperjelas sih Bunda.
Dinar semula menunduk ikut mendongak memandang Bunda Alya.
"Terus apa hubungannya sama Dinar?"
Menarik napas panjang lalu dibuang pelan mengurai rasa kesal. "Aku cuma heran kenapa bisa Amanda dekat sama Aron, tapi Dinar malah berpikir yang nggak-nggak." ucap Al pelan, menatap Dinar sendu.
"Oalah_ itu tandanya Dinar cemburu. Masa kamu nggak peka? Udah ah. Jangan bertengkar terus malu dilihat orang."
"Iya Bunda Maaf,"
"Ya udah Bunda kesan dulu, jangan bikin nangis lho. Awas kalau Bunda kesini Dinar masih nangis," pesan Bundanya dengan tampang serius.
Mengangguk sebagai jawaban, Alvaro memperhatikan Bundanya melangkah pergi.
"Boleh aku kekamar? aku capek pengin rebahan." katanya mengalihkan pembicaraan.
"Boleh, yuk aku anter." menuntun Dinar berdiri mereka berdua pun berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
...***...
Menatap langit-langit kamar, Dinar termenung memikirkan hal yang baru saja terjadi, ia tersenyum tipis.
Seolah menertawakan dirinya sendiri atas kelakuannya, aneh. Pikir Dinar dalam hati, tangan kanannya mengusap perut dengan gerakan lembut.
"Kamu ya Nak yang cemburu? nggak suka kalau Papa ngomongin perempuan lain." ucap Dinar mengajak anaknya bicara.
"Kamu nggak boleh cemburu ya, kan Papa sayang banget sama kamu, sama Mama juga." dan hebatnya ketika Dinar bermonolog, ia merasakan sesuatu didalam perutnya, apakah bayinya sudah bisa bergerak.
Tapi kan kandungannya masih berusia empat bulan,
Tertawa tanpa suara, hati Dinar terasa senang anaknya sudah bisa merespon.
Tok! Tok! tok!
Suara ketukan pintu terdengar mengalihkan perhatian Dinar dari perutnya ke orang yang baru saja membuka pintu.
"Hai, sorry aku ganggu nggak?" tanya gadis memakai dress putih.
"Hai, boleh kok. Sini," suruh Dinar bersamaan ia merubah posisinya menjadi duduk.
"Maaf ya, tadi gue nggak nemuin Lo. Tiba-tiba kepala gue pusing," kata Dinar pada Amanda
Dinar tak sepenuhnya bohong, setelah acara tiba-tiba kepalanya terasa pusing, itu sebabnya ia mengajak Al untuk mengantarkan nya naik.
Dan Amanda datang kekamar Dinar, ingin bertemu dengan bumil yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kabar?" tanya Dinar tersenyum manis.
"Baik, lama ya kita nggak ketemu?" jawab Amanda di akhiri kekehan kecil.
"Iya ya, lagian Lo kenapa nggak pernah main kesini lagi?" mengulas senyum tipis Amanda memalingkan wajah.
"Aku cuma lagi berusaha melupakan perasaan aku untuk Alvaro, karena ternyata sulut dan nggak bisa, Maaf. Kalau aku jadi ngomongin soal itu," sesal Manda.
Dinar terdiam tak tau harus menjawab apa dan merespon apa.
"Sampai di mana, aku merasa nyaman bersama orang lain." Dinar menautkan alisnya, mengamati wajah Amanda.
"Apa boleh gue tau, siapa orang itu?"
"Kamu tau, dan kamu sangat kenal." jeda sejenak. "Dia yang datang bersamaku tadi, dan sekarang dia lagi ngobrol sama Alvaro."
"Aron?" tebak Dinar.
Amanda mengangguk sekali, Dinar melihat ada semburat merah di pipi ketika mendengar nama cowok itu.
"Sejak kapan?"
"Maksudnya?"
"Lo bisa sama Aron dan punya perasaan lebih sama cowok kayak dia."
"Belum lama, masih bisa di hitung jari, tapi kamu tenang aja. Karena Aron yang sekarang bukan Aron yang dulu,"
"Syukurlah, gue nggak mau kalau sampai Aron nyakiti Lo seperti dia nyakitin gue dulu,"
Menggenggam tangan Manda, Dinar tersenyum lembut. "Kalau memang Aron bisa buat Lo bahagia, gue bakal ikut bahagia."
"Aku juga minta maaf lagi Din, dulu aku pernah salah sama kamu. Aku benar-benar nyesal kalau ingat kesalahan aku dulu,"
"Udah nggak usah diingat, setiap manusia pasti punya salah. Begitu pun gue, semoga kesalahan yang pernah kita lakukan bisa buat kita menjadi manusia lebih baik lagi,"
"Amin," katanya seraya memeluk Dinar, Amanda bahkan sampai menitikkan air mata mengingat kebaikan wanita yang sedang dia peluk ini.
Dulu begitu bodohnya dia saat pernah memiliki niat jahat kepada Dinar.
...***...