
...~Happy Reading~...
...***...
Alvaro berlari tergopoh gopoh saat, mendapatkan kabar jika istrinya masuk ke UGD, ia segera masuk kedalam kamar.
Melihat Dinar terbaring di atas kasur dengan wajah pucatnya. "Sayang?" panggil Al duduk di samping perempuan itu.
Dinar hanya melirik sekilas lalu memilih memejamkan matanya lagi, hatinya masih terasa nyeri dan sesak. Mengingat apa yang sudah Alvaro lakukan kepadanya tadi.
"Sayang kenapa kamu bisa gini?" Dinar mengalihkan tangannya ketika Al ingin menggenggamnya.
Di dalam hati, Dinar tersenyum kecut. masih di tanya dia kenapa, bukankah ini karena ulah nya, hingga ia bisa berada di UGD.
Tidak merasa bersalah kah Alvaro kepadanya, Dinar menolehkan kepalanya. Menatap langit lewat kaca jendela.
Air matanya luruh, hatinya semakin sakit, apakah. Apa yang di takutinya akan terjadi, Amanda akan merebutnya dari dirinua.
"Sayang, Maafin aku. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu, kenapa aku bisa ninggalin kamu tadi."
Alvaro meraih tangan Dinar, yang kini tidak di tolak oleh perempuan itu. Namun ia masih enggan menatap suaminya. "Aku nggak ada pilihan buat nggak berangkat bareng dia, Amanda maksa. sedangkan aku di kejar waktu,"
"Kamu tau kan, hari ini aku ada tugas. Makanya aku berangkat pagi, Sialnya hape aku ketinggalan."
"Maafin aku, kamu berhak marah." melas Alvaro meremas tangan Dinar.
Dinar menghapus air matanya dengan kasar, melepas tangan yang masih di genggam Alvaro, lalu membelakangi suaminya. "Aku mau sendiri," pinta Dinar dengan suara paraunya.
Al menunduk lesu, menghela napas kasarnya sebelum ia keluar meninggalkan Dinar sendiri di kamarnya.
Turun ke lantai satu, ia menghampiri Bunda yang tengah mengupas buah apel untuk sang mantu, Bunda Alya memperhatikan putranya yang terlihat seperti banyak pikiran.
"Dinar marah?" tanya Bunda.
Alvaro memberi anggukan sebagai jawaban. "Al yang salah, harusnya tadi, Nggak nyuruh dia nunggu di pos." tertunduk Al memainkan jarinya di atas meja.
"Ini yang nggak Al suka, kalau Amanda datang Bun. Baru sehari aja dia sudah buat aku sama Dinar berantem."
Bunda menghentikan kegiatan mengupas apel, beliau ingin bicara serius dengan sang putra. "Sebenarnya Bunda juga nggak mau ini terjadi Nak. Tapi kamu tau sendiri kan, Bunda dan Mamanya sudah temanan cukup lama."
"Bunda juga nggak bisa ngomong apa-apa, mungkin seandainya mereka tau kalian sudah menikah. Beda cerita lagi,"
Alvaro menyugar rambutnya. "Al akan lebih tegas ke Amanda, kalau pun dia marah, itu urusan nanti. Al nggak mau hanya karena Manda, Rumah tangga Al bermasalah terus Bun." kata Al memandang sang Bunda serius.
Bunda Alya memberi anggukan, tangannya mengusap lengan putranya. "Bunda selalu dukung kamu,"
"Terima kasih Bunda," memeluk sesaat Bundanya Al memberi kecupan singkat di kening.
"Gih kasih ke Dinar, kamu tau nggak? tadi siapa yang nganter Dinar pulang." kata Bunda memberikan piring kecil berisikan potongan apel yang tadi sudah di kupasnya.
"Siapa Bun?" tanya Al, mencomot satu potongan apel lalu ia masukan kedalam mulut.
"Bunda lupa namanya, yang jelas. dia teman kamu," Alvaro menekuk keningnya.
"Teman?" tanyanya memastikan.
"Iya. Tadi dia yang bawa Dinar kerumah sakit, tadinya mau rawat inap. Tapi Dinar nolak," Cerita Bunda.
Alvaro jadi penasaran, siapa cowok yang sudah menolong dan mengantar Dinar pulang.
...***...
Alvaro setia menunggu Dinar di samping perempuan itu,menggenggam dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
Perlahan Dinar bergerak, bahkan perempuan itu membalas genggaman tangan suaminya.
Dinar membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah senyum lembut yang Alvaro berikan.
Sudah sepenuhnya sadar, Dinar melepas tangan Al, ia berusaha bangun, namun di cegah oleh cowok itu. "Jangan bangun dulu, istirahat aja." kata Al lembut.
"Masih marah?" Dinar tak menjawab ia hanya memberi lirikkan sinis.
"Udah dong sayang, marahnya. Maafin aku ya," Alvaro memberi wajah semelas mungkin. Matanya meredup memohon agar istrinya mau memaafkan dirinya.
Hingga beberapa detik, Dinar justru menangis ia menutup wajahnya. dengan sigap Al menarik tubuh bergetar Dinar lalu ia peluk.
"Kamu jahat, masa tega ninggalin aku gitu aja. nggak ada kabar tau-tau boncengan sama perempuan lain!" ujar Dinar tersedu, memukul dada bidang Alvaro.
Cowok itu sesekali meringis, lumayan juga pukulan sang istri, tapi tak apa yang penting dia di maafkan. Pikir Al dalam hati.
"Tadi aku sudah bilang, aku terpaksa. sayang, baru sadar hape aku ketinggalan waktu sudah di kelas. kamu pikir aku tenang di dalam kelas, nggak! aku kepikiran kamu, tapi aku nggak bisa apa-apa. Ada guru yang sudah memulai pelajarannya," Dinar mengurai pelukannya lalu mendongak.
"Lain kali aku nggak mau kayak tadi, aku kayak anak ilang tau nggak!" sentaknya marah.
Alvaro ingin tertawa namun ia tahan, bagaimana tidak tertawa, Dinar mengatakan jika dia seperti anak ilang. "Kok anak ilang?"
"Ya! aku nungguin kamu, taunya di tinggal. Pergi ke sekolah ternyata sudah di tutup gerbangnya, Kebingungan mau kemana,"
"Untung ada Aron yang tiba-tiba datang." ujar Dinar tanpa sadar.
Alvaro mengerutkan kening. "Aron?" Dinar sedikit mendelik sesaat, lalu akhirnya perempuan itu mengangguk pelan.
"Jadi cowok yang Bunda maksud, Aron?" lagi Dinar mengangguk.
"Dia nggak jahatin kamu kan sayang?" Alvaro berubah panik dan khawatir.
"Nggak, Al! aku kan udah bilang. Dia yang nolong aku, harusnya kamu berterima kasih sama dia." Alvaro mendengus sedikit tidak suka Dinar seperti membela cowok itu.
"Iya, nanti aku berterima kasih sama dia," kata Al tidak ikhlas mengulang ucapan Dinar.
Perempuan itu menutup mulutnya, yang tadinya menangis, kini ia ingin tertawa. "Kamu cemburu?"
"Iyalah! mana tenang aku, istrinya sama mantannya." aku Alvaro tanpa ragu.
"Apa kabar aku tadi, yang di tinggal terus lihat langsung suaminya boncengan sama cewek lain!" kata Dinar tak mau kalah.
Alvaro mendesah, mengusap pipi Dinar. "Ya__ maaf ya. Aku nggak gitu lagi, besok-besok aku bakal lebih tegas sama dia."
"Aku nggak masalah, kalau kamu masih mau bersahabat sama Amanda, itu hak kamu. Tapi kamu juga harus tau batasnya, kita sudah bukan pacaran lagi. Tapi sudah menikah, aku nggak mau karena masalah Amanda kita bertengkar terus," Alvaro memberi senyum hangat.
Ia suka dengan ucapan Dinar, istrinya sangat dewasa. "Ya sayang, aku pun juga maunya seperti itu."
"Jadi sudah nggak marah kan? udah di maafin?" Dinar mengangguk memeluk Alvaro.
Al tersenyum senang dan lega, ia mencium kening Dinar berulang kali.
...***...