Alvaro

Alvaro
Bab 103. Fakta Yang Merumitkan.



...****************...


"Dia_" jeda sejenak, Ayah Angga menarik napas dalamnya. "Mantan Bunda kamu, Hendra."


"Pria yang Ayah dan Bunda ceritain?" tanya Al memastikan.


"Ya. Dia Hendra yang dulu hampir membunuh Ayah," Alvaro mengusap wajahnya kasar.


Ia menunduk dengan pikiran berkeliaran, kemana mana. "Aku yakin. Aku pernah lihat orang itu, tapi aku lupa di mana?" gumamnya sambil memilin keningnya yang terasa pusing.


Tanpa merubah posisinya, matanya membulat sempurna. jantungnya seakan terhenti mendadak hingga menimbulkan rasa nyeri, Alvaro telah ingat.


Di mana dia melihat orang itu. "S**l!" umpat Alvaro tanpa sadar.


"Kenapa Al?" Pak Angga menjadi panik, memajukan duduknya agar lebih dekat dengan putranya.


Alvaro mendongak, menatap Ayahnya yang menunggu dirinya bicara.


"Aku ingat, di mana aku lihat orang itu."


"Di mana?" ucap Pak Angga tidak sabar.


"Sehari setelah aku nikahi Dinar, dia nunjukin foto keluarga. Di antara fotonya bersama Ibu dan juga Jingga, ada orang itu."


Berhenti untuk menarik napas, Al tetap memandang intens sang Ayah. "Pria itu adalah Ayahnya Dinar." bagai di sambar petir di siang bolong.


Pak Angga terkulai lemas, duduk bersandar di badan sofa. "Ja_jadi Dinar adalah anaknya Hendra?" tanya Pak Angga pelan.


Pak Angga bisa memastikan, jika istrinya tau tentang fakta Dinar. Bunda Alya akan marah bahkan bisa membenci Dinar.


Apa yang di lakukan Hendra terhadap dirinya dan juga keluarganya, memang sulit di lupakan apalagi di maafkan.


"Tapi, bukan Ayah kandung." lanjut Al bercerita, sontak Pak Angga mendongak dengan kerutan semakin dalam di kening.


"Maksudnya?"


"Dinar sendiri, nggak tau Ayahnya siapa. Dulu Ibunya di jebak pria tidak bertanggung jawab, sudah mencoba mencari pria itu. namun sayang Ibunya tidak menemukannya. Hingga akhirnya di jodohkan dengan Pak Hendra, saat Pak Hendra masih melanjutkan pendidikan di luar negeri. setelah menikah, mereka di karuniai satu orang anak, yaitu Jingga."


"Tapi karena kondisi Jingga yang sakit-sakitan, Pak Hendra meninggalkan Dinar bersama adik dan Ibunya."


Ayah Angga tercekat, beliau menelan susah payah ludahnya sendiri, dia ingat betul bagaimana kisah percintaan istrinya.


Yang di tinggal menikah dengan perempuan lain, di saat kekasihnya meminta izin untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.


Pada saat itu, Bunda Alya begitu terpuruk. Karena dari awal Pak Angga sudah mencintai Bu Alya.


Dia mengutarakan niatnya untuk menikahi Bunda Alya. Walaupun usia mereka cukup jauh berbeda, Ayah Angga tak peduli dengan usia.


Yang terpenting, dia begitu mencintai dan akan bertanggung jawab.


"Aku nggak cerita, soal ini ke kalian. Karena aku nggak mau Ayah dan Bunda berpikir buruk tentang Dinar, aku takut. Bunda akan mengecap Dinar sebagai anak yang tidak jelas, asal usul Ayahnya."


Pak Angga mengusap wajahnya, sekarang bagaimana solusinya. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Al mau pun Pak Angga .


"Ayah tidak pernah mempermasalahkan tentang Dinar, dia gadis baik dan selama nikah sama kamu. Justru Dinar yang selalu mendapat perlakuan kurang baik dari keluarga kita." Alvaro hanya mengangguk lemah, memijit tengkuknya.


"Sekarang kita harus gimana?" tanya Ayahnya pelan.


Alvaro pun tidak tau harus bagaimana, jujur dengan Dinar. ia takut akan berdampak dengan kandungannya. terus berdiam semakin mengkhawatirkannya keadaan keluarga dan istrinya.


"Apa, kita cari tau terlebih dahulu, apa motif Pak Hendra melakukan ini. Dia juga kenapa sampai mencelakai Dinar, yang aku yakin. Dia tau jika orang di tabrak kemarin adalah Dinar."


Ayahnya mengangguk angguk, sambil mengusap dagunya.


"Sepertinya, ide kamu bagus. Yang terpenting jangan sampai Bunda tau tentang orang ini," kini Alvaro yang mengangguk setuju.


...****************...


"Sayang. Kamu kenapa sih? lihatinnya gitu banget," kata Dinar di akhiri kekehan kecil.


"Memangnya nggak boleh? istri aku, kan. makin cantik," Dinar terbahak menghambur ke pelukan Alvaro.


Menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. "Kamu ada masalah?" Alvaro sempat menegang, bagaimana Dinar tau.


"Ehm? nggak kok sayang, semua aman." bohongnya, berusaha tidak gugup.


"Bohong Ya? buktinya, jantung kamu berdetak kencang," beo Dinar lagi.


"Masa sih? mungkin karena kamu terlalu dekat, setiap aku dekat kamu. Aku selalu degdegan,"


"Kenapa? kita kan sudah nikah?" Alvaro pun menjadi gemas, memeluk erat lalu mencium kepala sang istri.


"Bagus dong, itu tandanya. aku makin cinta, coba kalau aku nggak degdegan, memangnya mau?" Dinar menggeleng kuat.


"Jangan! kamu harus tetap cinta sama aku, kamu udah nanem benih lho di perut aku. Masa langsung nggak cinta!" sungut Dinar.


Sontak Alvaro terbahak kencang, sampai ia mendapat cubitan dari sang istri di perutnya.


"Sst_ jangan kencang-kencang. Malu di dengerin Bunda!"


"Salah siapa? ngomong asal ceplos. Kan aku jadi gemas," jawabnya sambil menghujani Dinar dengan ciuman.


Alvaro menyuruh Dinar duduk di depannya, ia meraih tangan mungil istrinya lalu berkata. "Sayang, kamu jangan ikut mikir. tentang masalah yang lagi kita hadapi ya, biarkan ini aku yang urus."


Dinar cemberut menatap Al tidak terima. "Nggak bisa Al, aku tetap ikut kepikiran. Aku juga rasanya pengin cepat tau, biar aku bisa fokus mikirin kandungan aku,"


"Justru itu. Aku nggak mau kamu terlalu mikir, karena kandungan kamu lebih penting. Aku nggak mau, kamu dan anak kita kenapa-napa." mohon Al, mencium punggung tangan Dinar.


Dinar menghela napas beratnya. "Tapi. Kamu Janji ya, kalau nanti ketemu, harus kasih tau aku." Alvaro tersenyum paksa, mengangguk menuruti keinginan istrinya.


"Sayang _" panggil Dinar yang tiba tiba berbinar.


"Iya, kenapa?"


"Aku pengin sesuatu." Alvaro mengulas senyum sambil menaikkan alisnya.


"Pengin apa?"


"Bikin mie rebus, pakai telur."


"Nggak! kamu nggak boleh makan mie selama hamil."


"Dengerin dulu sayang _" kata Dinar meremas tangan Alvaro.


"Yang makan, bukan aku. Tapi kamu,"


"Aku?" tunjuk Al pada dirinya sendiri.


Dinar mengangguk kuat, dengan penuh harap. "Oke, aku yang makan. Yuk kita bikin,"


"Tunggu dulu," cegah Dinar saat Alvaro sudah ingin beranjak dari tempat tidur.


Seketika Al melemas, dia yakin permintaannya yang aneh aneh lagi. "Apa lagi sayang_" tanyanya dengan nada rendah.


"Cabainya, harus lima puluh!" seketika Alvaro mendelik.


"Sayang kamu. Mau aku sakit perut?"


Sontak Dinar mencebikkan bibir, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Cuma lima puluh kok, sayang. Masa kamu nggak mau, ini keinginan Dedeknya. Kamu nggak sayang sama anak kamu," ujarnya santai, bahkan cairan bening sudah berhasil lolos jatuh membasahi pipinya.


Di dalam hatinya Alvaro, ia meringis, apa kata Dinar tadi. Cuma lima puluh, oke. Lima puluh biji ceunah.


rasanya lelaki itu ingin berteriak.


ITU BANYAK SAYANG_!