Alvaro

Alvaro
Bab 110. Belum berani bertemu



...****************...


Alvaro sudah tidak bisa lagi menahan Dinar untuk bertemu dengan Ayahnya, wanita yang terlihat semakin cantik ketika hamil itu, terus saja merengek ingin bertemu.


"Sayang, ingat ya kata aku tadi. Jangan terlalu di pikir apapun yang Ayah kamu bilang, aku nggak mau kamu sama anak kita kenapa-napa." pesan Alvaro yang entah sudah berapa kali lelaki itu katakan.


"Iya ya sayang, kamu kenapa sih? cukup sekali aja ngomongnya, jangan di ulang-ulang." sewot perempuan itu, melirik sinis pada suaminya.


Alvaro mendesah pelan, menyugar rambutnya kebelakang. "Bukan gitu sayang, aku cuma khawatir sama kamu, aku takut kamu jadi kepikiran sama apa yang di omongin Ayah Hendra nanti."


"Sebisa mungkin, aku ngendaliin hati aku," saut Dinar pelan, yang sebenarnya dia sendiri tak yakin ketika bertemu Ayah tirinya itu.


Dia ingat betul bagaimana, sang Ayah jika berhadapan dengannya, pasti akan marah-marah dan menatapnya dengan raut kebencian.


Dinar menunduk dan menjadi pendiam, Alvaro mengerutkan kening. "Sayang kenapa? aku salah ngomong?" Perempuan itu menoleh menggeleng pelan.


"Nggak apa-apa," jawab Dinar singkat lalu memilih melihat keluar kaca jendela mobil.


Dua puluh menit sudah mereka habiskan waktu di jalan, dan kini keduanya sudah berada di depan kantor polisi, sudah sampai Dinar justru semakin gugup.


Awalnya yang sangat menggebu ingin bertemu, kini malah ada keraguan dan ketakutan, padahal tadi ia sempat marah marah dengan suaminya.


"Sudah sampai, yuk turun." ajak Alvaro sambil melepas sabuk pengamannya.


Tak mendapat respon dari Dinar, membuat Alvaro menoleh. "Sayang," sang istri tersentak ketika ia menyentuh lengannya.


"Ayo turun," ulang Al.


Dinar menatap Alvaro, bibirnya meringis kecil.


Alvaro yang mengerti pun menghadap kearah Dinar, mengamati raut wajah sang istri. "Kenapa sayang, kok tiba-tiba jadi diam gini?"


Dinar meraih tangan Alvaro, meremasnya agar ia merasa tenang. "Nggak tau, tiba-tiba takut. Tapi pengin ketemu," Alvaro tersenyum lembut menaruh anak rambut Dinar kebelakang telinga.


"Jangan takut, kan ada aku. di sini juga banyak polisi, asal kamu tetap tenang. Dan jangan ambil pusing dengan semua yang di omongin Ayah Hendra. Insyallah semua aman," Dinar mengamati wajah Alvaro yang sedang tersenyum kepadanya.


"Apa mungkin, Ayah mau ketemu aku?"


"Kita nggak akan tau kalau kita nggak coba," tutur Al lembut.


Alvaro mencolek ujung hidung Dinar. "Tadi siapa yang ngeyel, marah-marah minta kesini? sekarang giliran kita sudah sampai jadi ragu," Dinar menghela napas memeluk Alvaro, menyandarkan kepalanya di dada bidang lelakinya.


"Ya itu tadi, tapi pas sudah sampai. Aku takut," Alvaro terkekeh mengecup puncak kepala Dinar.


"Jadi? kita masuk nggak?" wanita itu mengangguk pelan.


"Masuk, tunggu bentar ya." izinnya.


"Iya sayang," jawab Al pelan, mengusap usap lembut belakang kepala istrinya.


Dinar hanya butuh menyiapkan mental dan hatinya, ia juga sedang mengingat. Terakhir bertemu sang Ayah kapan, waktu itu dia masih kecil, bahkan Jingga masih bayi.


Dan saat mengetahui jika Jingga memiliki sebuah penyakit, Hendra semakin menjadi, pria itu sering pulang malam, bahkan pernah beberapa hari tidak pulang.


Sekali pulang dalam keadaan mabuk, dan ketika sadar pria itu langsung marah marah, menyalahkan Ibunya.


Hingga suatu saat pertengkaran hebat antara Hendra dan Ibu Dinar pun terjadi, keduanya saling menyalahkan dan akhirnya Hendra memilih pergi dari rumah, meninggalkan Dinar dan juga Jingga.


Mengingat itu membuat Dinar terisak, ia menangis tersedu di pelukan Alvaro, sambil meremas jaket milik suaminya.


...***...


Melihat kondisi istrinya yang tidak baik, membuat Al menjalankan mobilnya tak jadi menemui Hendra, Alvaro hanya berkeliling kota tanpa tujuan.


Dinar mengusap air matanya dengan kasar, bersamaan ia membuang napas beratnya. "Maaf ya, aku labil." Alvaro tersenyum simpul menepuk puncak kepala Dinar.


"Mungkin dedeknya belum mau ketemu Kakeknya," lanjut Dinar sambil mengusap perutnya yang mulai kelihatan membuncit.


"Nggak apa-apa sayang, dari awal aku udah bilang, kalau belum siap lebih baik jangan dulu."


"Sebenarnya aku pengin banget, tapi nggak tau kenapa tiba-tiba takut,"


"Yaa mungkin benar, dedek bayinya belum mau ketemu Kakeknya, dia masih takut." Dinar mendesah berat menyandarkan kepalanya di jok mobil.


"Kalau gitu, kita pulang atau kemana?"


Dinar berpikir sejenak. "Jalan-jalan. Sambil cari mie ayam boleh nggak?" ujarnya yang mulai berbinar lagi.


"Boleh dong, ayo kita cari ya." Dinar mengangguk senang.


Setelah berkeliling sekitar setengah jam, keduanya berhenti di salah satu warung mie ayam dengan konsep makan lesehan.


Tentu Dinar suka, wanita itu memang lebih suka makan di pinggir jalan, dari pada makan di restoran mahal.


Dinar duduk lebih dulu menunggu Alvaro yang sedang memesankan mie ayam untuknya.


"Cantik banget sih istri aku," bisik Al tepat di telinga kanan Dinar.


Sontak Dinar terlonjak dan hampir terjengkang kebelakang, jika tidak di tahan oleh Al. "Ihh! kamu ya. Bikin kaget aja, untuk nggak jatuh kebelakang, kan malu." sewot Dinar memukul dada Alvaro yang kini justru terkekeh geli.


"Ketawa lagi!" sungut Dinar memalingkan wajah.


"Hehe_ maaf deh, lagian masa nggak dengar aku datang," Dinar tak menggubris perkataan Al.


"Yahh, ngambek deh." ujarnya mengacak rambutnya.


"Kamu sih, bikin kesel." lanjut Dinar masih dengan wajah kesal.


Tidak lama, pesanan mereka datang. Kekesalan Dinar yang tadi dia rasakan, lenyap hanya karena aroma dari mie ayam tersebut.


Matanya begitu berbinar, dia sudah tidak sabar ingin segera makan mie tersebut dengan sambal yang banyak.


Baru saja wajahnya tersenyum cerah, kini senyum itu lenyap kembali, saat Alvaro sudah memberikan sambal dengan porsi yang sama sekali tidak dia inginkan.


"Kok cuma segitu?" menatap Alvaro tidak percaya.


"Sayang, kamu nggak lupa kan? ada dedek bayi di sini?" kata Al selembut mungkin, sambil mengusap usap perut Dinar.


"Iya aku ingat, tapi aku lagi pengin makan pedas," rengek perempuan itu.


"Kamu sayang kan sama anak kita?" tentu Dinar mengangguk.


"Nggak mau bikin anak kita sakit kan?" lagi lagi ia mengangguk. "Kalau gitu, makan mie ayamnya nggak boleh pedas-pedas, nanti bahaya untuk anak kita." lanjutnya mendorong mangkuk itu kedepan Dinar.


"Tapi_ aku." belum selesai bicara, jari telunjuk Alvaro sudah berada di bibir Dinar.


"Di makan, nggak usah protes," Alvaro memajukan kepalanya, hingga jarak mereka begitu dekat, sampai Dinar bisa mencium aroma mint dari mulut suaminya.


"Kalau nggak di makan, aku cium di sini!" ancam Al, Dinar sukses membulatkan matanya.


"Ih! apa-apaan sih! malu." mendorong Alvaro agar menjauh.


Alvaro terbahak, mengacak rambut sang istri. "Makanya, nurut."


...***...