Alvaro

Alvaro
Bab 95. Pernah Melihat



...~•~...


Alvaro melesat berlari kencang masuk kedalam rumah, tak peduli mesin motornya yang masih menyala, setibanya cowok itu di rumahnya.


Saat mendengar teriakan Dinar tadi, tanpa pikir panjang. Al pulang begitu saja meninggalkan makanan dan juga jam pelajaran kedua, yang ada di pikirannya saat ini hanya ada Dinar, dan keadaan wanitanya.


Namun nyatanya, saat sudah masuk kedalam rumah. Orang yang ia khawatirkan kini sedang tertawa keras bersama Bundanya di ruang keluarga.


Alvaro terduduk seketika, lututnya terasa lemas, napasnya tidak teratur, bahkan tubuhnya basah oleh keringat.


"Alvaro?" kata Bunda setengah berteriak saat melihat putranya tengah terduduk di lantai sambil mengatur napasnya.


"MashAllah Nak, kamu nggak apa-apa?" Bunda menangkup wajah Al yang banjir oleh keringat, tidak lama Bunda berdiri lagi berlari mengambilkan minum untuk Alvaro.


"Al, kamu kenapa?" Dinar ikut berjongkok di samping suaminya.


Cowok itu melirik sejenak kearah Dinar, lalu menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuh. "Aku kayak orang gila, dengar kamu teriak." sadar kesalahannya, Dinar membekap mulutnya sendiri.


Ia ikut terduduk, dengan raut wajah penuh sesal. "Maafin aku, tadi aku teriak karena ada orang yang ngedor pintu, tapi ternyata itu Bunda yang panik aku di dalam."


"Hape aku mati, gara-gara ke lempar, ngobrol sama Bunda, jadi lupa hubungi kamu lagi, Maaf ya." sesal Dinar memegang lengan Alvaro.


Meskipun kesal, Al tidak bisa menyalahkan sepenuhnya terhadap Dinar, dirinya ikut salah. Karena tidak mencoba mencari tau terlebih dahulu sebelum pulang.


"Di minum dulu Nak," Alvaro menerima gelas tersebut lalu meneguknya hingga tandas.


"Sebenarnya ada apa?"


"Gara-gara aku, Bunda. Al panik denger aku teriak karena kaget Bunda pulang tadi," Bunda pun bernapas lega, beliau pikir terjadi sesuatu pada putranya.


Bunda Alya mengulas senyum. "Nggak apa-apa, yang penting. Kamu baik-baik aja," kata Bundanya, mengusap surai Al dengan sayang.


Alvaro mengangguk, bersamaan dengan napas lelahnya.


"Bangun gih, jangan di lantai gini, habis itu ganti baju," titah Bunda Alya menyuruh Alvaro berdiri.


"Bentar Bunda, motor aku masih nyala tadi,"


Saat Al ingin juar, bertepatan dengan masuknya satpam. "Den Al, ini kunci motornya. Tadi saya lihat, mesinnya masih nyala."


"Terima kasih ya Pak." ujar Alvaro sopan sambil menerima kunci motor sportnya.


Dinar mengikuti Alvaro, yang berjalan ke lantai dua, Dinar menatap punggung suaminya dengan sedih.


Dia yakin, Al tengah marah kepadanya. Terbukti, kini cowok itu mendiamkannya. "Al, kamu marah ya?" belum ada jawaban.


"Sayang_ maafin aku, tadi beneran lupa telepon balik kamu." ucap Dinar serak, yang tandanya bentar lagi, perempuan itu akan menangis.


Alvaro membalikkan badannya usai melepas baju seragamnya. Ia cukup tercengang melihat mata berkaca-kaca Dinar.


Mendekati istrinya, ia menangkup wajah sendu Dinar. "Jangan nangis, aku nggak marah sayang." mengusap pipi Dinar saat perempuan itu benar benar menangis.


"Bohong!" gertak Dinar setengah merengek-rengek seperti anak kecil.


"Beneran sayang, aku nggak marah. Aku malah, khawatir sama kamu," bohong Al, yang tidak mengaku, kalau ia dongkol setengah mati.


Bagaimana tidak kesal, ia hampir saja. menabrak orang saat di jalan tadi, belum. Dia mendapatkan makian dari penggunaan jalan lain.


Menghadapi seorang Ibu hamil, mengajarkan Alvaro untuk sabar, seperti saat ini. Baru saja, istrinya itu menangis, kini seketika tersenyum lebar dan memeluknya.


"Bagus deh, kirain marah beneran," Alvaro tersenyum simpul, membalas pelukan Dinar.


...***...


Rutinitas seorang pelajar jika malam tiba pasti di sibukkan dengan tugas yang diberikan oleh guru, sama halnya dengan Alvaro.


Cowok itu sudah duduk anteng di kursi meja belajarnya, fokus Alvaro hanya tertuju pada satu titik, yaitu buku tulis dan soal yang cukup memusingkan kepala.


Dan kali ini, di sekolahnya yang baru, ia tak ingin kalah. Alvaro selalu ingin membuat Ayah dan Bundanya bangga, ini juga menjadi sebuah bukti, untuk mereka.


Walaupun dia sudah menikah, bahkan memiliki masalah yang sampai saat ini belum selesai, ia mampu, dan sanggup mendapatkan nilai terbaik.


Sesuai janjinya dulu kepada Ayahnya, yang memperbolehkan dirinya menikah muda, asal nilainya tidak berubah.


Dinar masuk, membawa satu nampan berisi satu piring kecil puding kesukaan Al, dan dua gelas susu.


Yang satu susu untuk Alvaro, dan yang satu susu untuk dirinya yang khusus untuk Ibu hamil.


Dinar mendekati Al, menaruh nampan itu di sisi meja, melongokkan kepalanya melihat apa yang suaminya kerjaka.


Wanita itu duduk di tepi meja belajar, sambil meminum susunya sedikit demi sedikit, matanya fokus memperhatikan wajah serius Alvaro.


Jika sedang fokus dan juga serius seperti itu, ketampanan Alvaro dua kali lipat, bahkan berkali kali lipat. Jauh lebih tampan.


Dinar mengigit bibir bawahnya sendiri, merasa pipinya memerah karena malu tengah memandangi Alvaro.


Sejatinya, itu hal wajar dan tidak masalah. "Sudah puas, lihatinnya?" ujar Al tiba tiba, lalu mendongak tersenyum teduh memandang Dinar yang terkejut.


"Eh_" kaget wanita itu. "Memangnya kamu tau aku lihatin kamu?" Al mengangguk menopang kepalanya dengan tangan kanannya.


"Nggak kok, siapa yang lihatin sih! kamu kepedean!" elak Dinar.


Alvaro mengulum senyum, lalu bangkit dari kursi belajarnya, menyudutkan Dinar.


Alvaro memajukan kepalanya, lalu menaruh kedua tangannya di sisi kana dan kiri tubuh Dinar "Ma_mau apa?" gugup wanita itu.


saat Alvaro semakin mendekatkan kepalanya ke depan wajah Dinar.


Wanita itu menutup matanya seakan siap jika Alvaro menciumnya.


Hingga beberapa detik kemudian, suara tawa keras keluar dari mulut Al, yang sukses membuat Dinar kesal.


Merasa di kerjain, Dinar beranjak ingin pergi, namun Alvaro menahannya dan seketika mencium bibir istrinya, ******* dan menyesapnya begitu dalam.


Sangking terbuainya sentuhan yang Alvaro berikan, Dinar hampir menjatuhkan gelas yang sedari tadi wanita itu bawa.


Beruntung Al sigap mengambil gelas itu tanpa melepas pamgutannya, perlahan Alvaro mengangkat tubuh Dinar begitu pelan, dan hati hati, untuk duduk di atas meja.


Sudah tidak membawa apa apa lagi di tangannya, Dinar melingkar tangannya di leher Alvaro, meremas rambut cowok itu.


Tangan kokoh Al, merambat naik masuk kedalam kaos yang Dinar kenakan, mencari pengait kancing.


Saat sudah menemukan dan Alvaro sudah melepasnya, terdengar suara ketukan pintu yang mengharuskan kegiatan mereka terhenti.


"Al, apa kamu sudah tidur? ada sesuatu yang mau Ayah obrolin," teriak Ayah Angga di depan pintunya.


"Iya Yah_ bentar." sautnya sedikit berteriak, sambil menatap wajah kecewa yang Dinar.


Tanpa mengatakan apapun, Alvaro keluar menemui Ayahnya. Dinar turun dari meja, sambil memperbaiki penampilannya.


Ia meraih ponsel Al yang tidak di bawa oleh cowok itu, ia ingin bermain game seperti biasanya.


Saat ia menyalakan layar benda pipih itu, ia terdiam sangat lama. saat sebuah foto menampilkan seorang pria menggunakan baju hitam, masker hitam dan topi hitam.


Di amatai lagi Dinar sepertinya pernah melihat orang itu, tapi dia lupa di mana.


Saat mencoba mengingat siapa orang itu, sebuah tepukan di pundaknya mengejutkan dirinya.


Sontak ia berbalik dan mendelik menetap orang itu.


...***...