
...***...
"Siang Pak, saya dari keluarga Airlangga. Ingin bertemu dengan Pak Hendra."
"Maaf, orang yang anda cari sedang di rawat. Semalam beliau pingsan," Dinar yang sedari tadi hanya diam di belakang Alvaro pun menggeser posisinya berdiri.
Ia terkejut ternyata Ayahnya sedang tidak baik-baik saja. "Ayah saya sakit apa Pak?" tanyanya.
"Belum bisa di pastikan, Kita belum bawa Ayah kamu ke rumah sakit."
"Terus. Kenapa nggak di bawa kerumah sakit aja?" sentak Dinar emosi.
"Sshh_ tenang sayang. Nggak boleh emosi, ingat kita lagi ada di kantor polisi." bisik Al sembari mengusap kedua pundak istrinya agar tenang.
"Gimana aku nggak emosi, Ayah lagi sakit tapi nggak di bawa kerumah sakit.'
"Ada alasan mereka untuk nggak bawa Ayah ke rumah sakit."
"Benar. Kita tidak langsung membawa karena kita takut ini hanya akal-akalan pelaku untuk bisa kabur, Kalian tidak usah khawatir. Ada dokter yang akan datang untuk memeriksa keadaan Ayah kamu," kata petugas kepolisian itu pada Dinar.
"Apa boleh kita menjenguk?" tanya Alvaro.
"Silahkan," mengarahkan tangannya ke salah satu pintu yang terhubung pada klinik di kantor tersebut.
Alvaro menggandeng tangan Dinar untuk masuk keruangan itu, tiba di dalam ada beberapa pasien yang terbaring di brankar.
Mereka di tuntun tempat tidur paling ujung dan tertutup tirai berwarna coklat, Dinar sempat meringis memegangi perutnya.
Aroma obat-obatan dan kurang sedap membuat perempuan itu mual, dan pusing. "Sayang, kamu nggak apa-apa? muka kamu pucat?" panik Al lebih erat memegang pundak istrinya.
"Tiba-tiba aku mual, tapi aku mau ketemu Ayah." bisik Dinar.
"Iya udah, sebentar aja ya?" Dinar mengangguk setuju.
Petugas membuka tirai itu, dan dapat di lihat Hendra terbaring lemah dengan tangan di infus, sementara satu tangannya lagi di borgol di besi ranjang.
"Ada yang ingin bertemu, silahkan mengobrol. Waktu kalian tidak banyak." ucap petugas itu sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Ayah," ucap Dinar parau.
Menoleh pelan Hendra mengamati dua orang yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Ngapain kamu datang kesini?!!" hardik Hendra tak suka.
"Ayah," Dinar maju ingin lebih dekat dengan Ayahnya.
Namun Hendra malah ingin mendorong tubuh putrinya, beruntung ada Alvaro yang sigap mencegah pria itu.
"Pergi! aku tidak butuh belas kasian dari kalian. Termasuk kamu anak sial!" tunjuk Hendra pada Dinar.
Dinar pun tak sanggup, ia memeluk suaminya menangis tersedu di dada bidang Alvaro, hatinya terasa ngilu karena sampai saat ini panggilan untuk dirinya dari Ayah Hendra tak pernah berubah, masih sama. Yaitu Anak Sial. jika bisa memilih Dinar pun tau mau hadir di dunia kalau dirinya hanya menjadi anak sial yang tak tau bapaknya siapa.
"Kita datang kemari dengan niat baik, tapi kenapa sambutan anda seperti ini?" ucap Al datar.
"Seburuk itukah Dinar di mata anda? dia begitu sayang dengan anda, tapi kenapa anda tidak bisa melihat ketulusan hati Putri Bapak sendiri."
"STOP!! sampai kapan pun, dia bukan putriku. Dia hanya anak haram yang tidak pernah di anggap!" Alvaro menutup telinga Dinar, ia tak ingin istrinya mendengar hal-hal buruk.
Meskipun hal itu pasti sia-sia, Dinar tetap bisa mendengar, hatinya pun semakin ngilu dan sakit.
"Kita pulang ya," gumam Alvaro pada Dinar.
Dinar mengangguk, mencengkram jaket suaminya, ia semakin pusing dan mual.
...***...
Alvaro menghela napas panjang, inilah yang dia takutkan, Dinar tidak akan baik-baik saja setelah bertemu Ayahnya.
"Kita ke minimarket ya, cari minum?" ajaknya yang kali ini mendapat anggukan pelan.
Alvaro pun segera menyalakan mesin mobilnya, setelah memberi kecupan lembut di pelipis perempuan itu.
Tiba di minimarket Alvaro meninggalkan Dinar sekejap untuk membeli air mineral, tak butuh waktu lama, lelaki itu sudah kembali dengan membawa satu botol air mineral dan satu lagi minuman kopi kaleng dingin untuk dirinya sendiri dan beberapa roti.
"Diminum, biar enakan." Dinar menurut, ia mulai meminum air mineral itu hingga hampir setengah.
Begitu pun Alvaro yang juga minum, minuman dinginnya, setelah itu hening tidak ada yang membuka suara, Dinar yang bersandar di jok mobil sesekali mengusap usap perutnya yang tadi sempat terasa keram.
Alvaro menoleh dan ternyata Dinar tengah memandangi-nya, mereka saling pandang sekejap. Sampai di mana Dinar berkata. "Kamu nggak malu punya istri aku, Yang nggak tau Bapaknya? aku ini cuma anak haram."
"Dinar!" gertak Alvaro, jika sudah memanggil nama seperti itu, tandanya Alvaro sedang marah.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu! nggak ada anak haram, semua anak sama. Aku nggak suka ya kalau kamu ngomong gitu," marah Al menatap tajam mata sang istri.
Dinar memejamkan matanya yang langsung meruntuhkan air matanya, Al merasa bersalah pun merengkuh tubuh istrinya.
"Maaf, bukan maksud aku bentak kamu, tapi aku nggak suka kalau kamu ngomong kayak tadi. Jangan di ambil omongan Ayah Hendra, aku yakin. Sebenarnya Ayah Hendra sayang sama kamu, tapi untuk mengungkapkannya Ayah nggak bisa."
Tangan kanan Al memegang perut Dinar. "Jangan sedih, nanti kasian dedeknya pasti ikut sedih lihat Mamanya nangis." Dinar mengangguk.
Mengusap air matanya dengan kasar lalu bersandar lagi di jok. "Mau minum lagi?"
"Nggak," jawabnya pelan.
"Masih sakit perutnya?" tanya Al dengan tampang kekhawatiran.
"Sedikit," lanjut Dinar lalu tersenyum sangat tipis.
"Sekarang, kita pulang atau tetap jalan-jalan?"
"Pulang aja, aku mau rebahan, nggak mood juga buat jalan-jalan." katanya sambil menoleh menatap ke jendela mobil.
Alvaro tersenyum tipis, tangan kirinya mengusap puncak kepala Dinar, ia langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Sampai di rumah Bunda terkejut melihat Dinar tengah di gendong Alvaro. "Ya Allah, Dinar kenapa?" paniknya.
"Sshh_ Dinar nggak apa-apa Bunda," ucap Al sangat pelan, takut Dinar terbangun.
Bunda membuntuti Alvaro ke kamarnya, dan membantu lelaki itu membuka pintu, membaringkan Dinar begitu pelan, lalu menarik selimut sampai sebatas dada.
Mengajak Bunda keluar dan menceritakan apa yang terjadi. "Jadi, kalian ke tempat Hendra?"
"Iya Bun, Dinar yang minta. Tapi sampai di sana kita nggak di sambut dengan baik. Dinar sedih sampai perutnya keram karena terlalu mikir,"
Bunda Alya menghela napas, memijit pangkal hidungnya. "Bunda nggak habis pikir sama dia, kenapa bisa sebenci itu sama anaknya." gumam Bunda.
"Aku minta nanti kita nggak usah bahas ini ya, aku nggak mau Dinar kepikiran."
"Iya nak, Bunda ngerti kok." mengusap pundak putranya.
...***...