Alvaro

Alvaro
Bab 128. Canggung



...***...


Setelah melepas rindu dan mengobrol tentang Amanda dan Aron, kini dua wanita itu tengah asyik bercerita dan juga membicarakan tentang bayi yang ada di dalam kandungan Dinar.


Kata Manda ia sudah tidak sabar menggendong bayi Dinar, dan ketika Amanda menanyakan bayinya perempuan atau laki-laki, Dinar pun menjawab kalau dia sendiri tidak tau, dia masih belum mau mengetahui jenis anaknya nanti.


Di tempat lain, lebih tepatnya di ruang tamu rumah Airlangga, terdapat dua cowok berwajah tampan sedang duduk bersama, namun saling diam dan menunduk.


Kedua cowok tampan tersebut adalah Alvaro bersama Aron, keduanya ingin membicarakan sesuatu.


Tapi entah kenapa ketika bertemu malah saling dan tak tau harus siapa yang lebih dulu membuka obrolan mereka.


"Ya elah! kalian ini sudah besar woy. Malah diam-diaman kayak anak kecil, buruan obrolin! yang gentle, katanya mau ngomong serius." gerutu Niko yang gemas melihat Alvaro dan Aron tak kunjung bicara.


"Apaan sih Lo, nyaut aja." sentak Al pelan menatap Niko geram.


Kedua cowok tampan tersebut menoleh bersama, lalu matanya menatap datar pada Niko yang kini malah nyengir kuda.


"Di minum Ron," basa basi Alvaro meminum minumnya.


"Oh iya," jawab Aron kikuk sembari meneguk minumannya.


"Eghm." berdeham adalah cara Aron untuk meredakan rasa gugupnya, ia menatap Al lekat menanti pria yang dulu sempat sangat ia benci angkat suara.


"Jadi, Lo beneran sama Manda?" tanya Al langsung tanpa mau banyak kata.


Aron mengangguk yakin, bibirnya mengulas senyum manis, sangat terlihat jika cowok itu tengah merasa bahagia.


"Sejak kapan?" lanjut Al semakin penasaran.


Menghela napas Aron menerawang kejadian kapan dan di mana ia mulai sadar kalau memiliki perasaan lebih pada Amanda.


"Gue nggak tau sejak kapan, yang jelas. Perasaan gue ketika lihat senyum dia, hati ini selalu bergetar. Sama seperti dulu ketika gue bersama Dinar, tapi bodohnya dulu gue nggak sadar tentang perasaan itu."


"Karena Dinar bukan jodoh Lo!" saut Alvaro tak suka.


Aron terkekeh pelan. "Iya makanya Tuhan nggak nyadarin gue kalau sebenarnya gue sayang Dinar."


"Stop! nggak usah ungkit masa lalu, Dinar udah punya gue." lagi Al sangat sensitif kalau Aron membicarakan tentang masa lalu bersama istrinya.


"Ya elah Al_ baperan Lo!" lanjut Niko menyaut lagi sambil asyik memakan jajanan pasar yang tadi sempat di suguhkan saat acara empat bulanan Dinar.


"Lo nyaut terus, pulang sana!" usir Al yang semakin jengkel.


"Kayaknya efek bininya bunting nih, marah-marah mulu!" gerutu Niko memakan cepat jajanan tersebut.


"Gue nggak masalah kalau Lo punya hubungan sahabat gue, asal Lo jangan pernah sakiti dia. Jujur Lo adalah cowok pertama yang berhasil dekat sama Manda, dari dulu dia paling nggak suka. Dan nggak mau kalau ada cowok dekat-dekat sama dia."


"Itu. Karena Amanda punya perasaan sama Lo, dia nggak suka. Karena terlalu berharap sama Lo," sambung Aron yang di benarkan oleh Alvaro sendiri.


Dulu memang Al kurang paham, namun sejalannya waktu, Alvaro menyadari dan mengerti.


Kenapa Amanda selalu menolak dan menjauh dari cowok yang mencoba mendekatinya.


"Iya makanya, waktu itu gue langsung minta pindah sama bokap, tapi ternyata dia nyusul. Dan Amanda adalah tipe perempuan nekat dan suka memaksa kehendak, Lo kalau memang sama dia, harus extra sabar dan mencoba menuruti keinginan dia." beritahu Al pada Aron tentang Watak dan kebiasaan Amanda.


Al ingat betul dulu, ketika ada seorang cowok dari sekolah lain yang mencoba mendekati Amanda, gadis itu merengek kepadanya untuk berpura-pura menjadi pacarnya, tadinya Aku tidak mau.


Tapi karena Amanda terus memaksanya, maka mau tidak mau Alvaro menuruti dan berpura-pura menjadi pacarnya, alhasil Alvaro di musuhi oleh cowok tadi.


...***...


"Yuk pulang," ajak Amanda pada Aron yang terlihat asyik mengobrol dengan Alvaro dan Niko.


"Udah ngobrolnya?" tanya Al.


"Udah, lagian Dinar kayaknya kecapean. Dia ngantuk," Alvaro memberi senyum lalu mengangguk sekali.


"Memang sih, kalau jam segini biasanya Dinar mulai ngantuk, padahal dulu waktu belum hamil jam segini masih nonton Drakor," ucap Al menceritakan kebiasaan sang istri.


"Wahh kayaknya seru kalau kapan-kapan ajak Dinar mgedrakor bareng," ujar Amanda penuh binar.


"Boleh kan, kalau kapan-kapan aku kesini lagi?" izin Amanda pada Alvaro.


Kening Al mengerut. "Kok Lo izinnya sama gue?sama Bunda lah, ini kan rumah Ayah sama Bunda, tapi gue rasa boleh sih." angguk-angguk Al mengusap dagunya.


"Oke, nanti aku kabari Dinar. Kalau sekarang dia pasti sudah tidur, tadi aja Dinar sudah mulai merem,"


"Ini jadi pulang? atau masih mau ngobrol?" saut Aron yang dari tadi hanya diam menyimak.


"Hehe_ maaf, ya udah yuk kita pulang," menggenggam tangan Aron.


Amanda dan Aron pun pamit pergi.


Kini tinggal Alvaro bersama Niko, sayang sekali. Hari di mana Al memiliki acara, dua sahabatnya yaitu Bastian dan Heru berhalangan hadir.


"Gue perhatiin, tuh mulut dari tadi ngunyah terus, mulut Lo nggak capek? menatap Niko heran.


"Ya gimana ya. Makanan Lo enak-enak, bokapo juga nggak ngelarang. Kok Lo yang sibuk!" saut Niko tak santai.


"Gue suntuk nggak ada Heru sama Bastian, gue taulah kalau Bastian memang sibuk. Apalagi sebentar lagi mau persiapan cari universitas, kalau Heru. Sibuk apaan? pacaran!" sungut Niko jengkel.


Niko begitu kesal kepada kedua sahabatnya itu, kalau Bastian sibuk dengan urusan keluarga dan juga tentang jurusan perkuliahan nanti ketika mereka lulus.


Lain lagi dengan Heru yang sibuk dengan Selly, sejak keduanya pacaran. Heru sering bersama Selly.


Namun Heru bersama Selly bukan tanpa sebab, atau ingin berpacaran, melainkan Heru membantu Selly menjalani bisnis gadis itu.


Jadi, Selly tengah membuka usaha kecil-kecilan untuk membantu keluarganya, Selly bukanlah dari keluarga kaya atau mampu, orang tua Selly memiliki usaha makanan seperti istilah warteg, dan warung orang tuanya juga menerima 0esan antara.


Dan Selly sebagai anak tertua, di minta untuk membantu mengantarkan orderan, dan Heru lah yang selalu menemani dan mengantar gadis itu.


"Lo harusnya nggak boleh kayak gitu, dukung Heru lah, dia kayak gini itu namanya dia bertanggung jawab."


"HAH!! tanggung jawab?! Heru hamilin Selly?!"


Al panik, ia membekap mulut Niko. "B**o! bukan gitu maksud gue!" geram Al mendelik pada Niko.


"Maksud gue, dia bertanggung jawab mau bantu pacarnya yang lagi bantu orang tuanya." desis Al marah.


Seketika Niko nyengir, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf," sesal Niko tersenyum lebar pada Alvaro.


...***...