
...~•~...
"Al," panggil Kakek Hadi pada Alvaro, usai makan siang.
Para laki laki di keluarga Airlangga berkumpul di ruang tamu, mereka mengobrol hal hal ringan.
"Iya Kek?"
"Gimana sekolah kamu?"
"Alhamdulillah lancar," jawabnya santai sambil menggeser bidak catur papannya, pria tampan beda generasi ini sedang bermain catur.
"Apa rencana kamu nanti setelah lulus?" Al menatap sang Kakek sekejap, kembali menunduk memperhatikan permainan Kakek Hadi.
"Al pengin kuliah sambil kerja, aku juga mau mandiri Kek. Biar bagaimana pun, aku sudah berumah tangga," Kakek Hadi mengulum senyum mendengar jawaban cucunya.
"Bagus, itu namanya kamu suami bertanggung jawab. Kakek Bangga punya cucu seperti kamu. Meskipun kamu masih muda, kemauan kamu untuk bekerja sudah ada."
"Kakek sudah dengar niat kamu ingin pisah pindah rumah." Alvaro mengerutkan kening.
"Kakek tau dari mana?"
"Tuh," tunjuk Kakek Hadi dengan dagunya, pada seseorang yang sedang bermain kartu bersama anggota keluarga yang lain.
Orang yang di maksud Kakek adalah Ayahnya sendiri, yaitu Ayah Angga. "Kenapa kamu berniat ingin pindah?"
"Nggak apa-apa Kek, Al berpikir aja. Kalau Al sudah memiliki istri, dan Al juga pengin ngerasain tinggal di rumah yang berbeda bersama Dinar." jawab Al tanpa memberitahu alasan sebenarnya, kenapa dia ingin pindah rumah.
"Kakek ngerti, tapi Bunda kamu yang jadi masalah. Mungkin dia belum bisa berpisah sama kamu," Al hanya mengangguk.
"Sabar, siapa tau nanti Kakek bisa bantu kamu."
Alvaro menggeleng kuat, ia tidak ingin merepotkan Kakeknya. "Nggak usah Kek, biar ini jadi masalah Al, mungkin untuk sementara Al tetap tinggal di sini, sampai nanti lulus. Setelah lulus dan Al bisa mencari uang sendiri, baru. Al akan bicara lagi sama Bunda,"
Kakek Hadi menghela napas, menyeruput teh yang mulai dingin. "Kamu jangan khawatir, usai lulus dan di terima universitas yang kamu mau, Kamu bisa bekerja di perusahaan Kakek atau Ayah kamu, tapi." diam sejenak beliau mengamati wajah cucunya sejenak.
"Kakek tidak menaruhmu di devisi tinggi. Kakek harap kaku mau bekerja dari bawah, agar kamu mengerti, bagaimana susahnya dan kerja kerasnya seseorang untuk menjadi orang sukses."
"Apa kamu sanggup, dan tidak keberatan?" bukannya marah atau menolak, Alvaro justru tersenyum lebar.
"Nggak masalah Kek, Al malah senang. Jika Kakek menyuruhku seperti itu, Karena aku masih belajar. Dan aku ingin berjuang dari awal,"
Kakek Hadi kian tersenyum lebar, beliau bangga dan senang. Memiliki cucu seperti Alvaro, yang mau bekerja keras tanpa memikirkan jabatan tinggi di perusahaan.
...***...
Malam harinya di rumah Ayah Angga. Bukannya sepi, justru kian ramai. Usai Bunda Alya menelpon Amanda untuk datang kerumah bersama keluarganya.
Tentu saja, Keluarga Pak Damar tidak menolak, mereka senang bisa berkumpul dengan keluarga Airlangga yang terkenal dengan perusahaannya.
"Damar, apa kabar?" basa basi Kakek Hadi.
"Alhamdulillah baik Pak,"
"Saya dengar perusahaan kamu kian melejit usai anak kamu yang megang?" Pak Damar terlihat tersipu mendengar Pak Hadi memujinya.
"Yah_ seperti itu Pak. Tapi perusahaan Bapak tetap Yang paling hebat, perusahaan saya belum bisa mengalahkan Bapak," Pak Hadi tertawa keras.
Memang kenyataannya seperti itu, anak Pak Damar. Roy, belum bisa memenangkan tender jika perusahaan Pak Hadi yang di pengang oleh Ayah Angga, ikut serta dalam sebuah proyek.
"Angga yang selama ini bekerja keras, saya cuma tau beres nya saja."
"Angga dari dulu memang tidak bisa di remehkan, dia selalu sukses. Apapun itu bisnisnya,"
"Makanya dulu, saya berpikir. Bisa berbesan dengan Angga, agar kita bisa menyatukan dua perusahaan. tapi ternyata. Al sudah memilih yang lain," semua terdiam, termasuk Ayah Angga.
Di tempat lain, Alvaro tengah duduk sendiri di taman belakang. Dan Dinar yang mencarinya segera menghampiri suaminya.
"Sayang, kok kamu di sini sih? yang lain pada di dalam?"
"Kepala aku pusing sayang, dengerin mereka ngoceh mulu, mereka nggak capek apa yak?" Dinar terkekeh geli memberikan satu kaleng minuman kesukaan cowok itu.
"Nggak boleh gitu ah, Bunda tau. Kena omel lho_" Alvaro mendengus saja. Lalu ia menarik Dinar agar duduk perempuan itu dekat dengannya.
"Kamu di sini aja, temani aku." pinta Al, Dinar mengangguk setuju.
Mereka saling diam memperhatikan air mancur di kolam yang berada di taman tersebut. "Sayang," Dinar menoleh menatap Al.
"Tadi aku ngobrol sama Kakek,"
"Terus?"
Alvaro menengok membalas tatapan istrinya. "Kakek setuju, setelah kita lulus. Aku kuliah sambil kerja, tapi Kakek minta aku untuk bekerja di bagian bawah. Bisa di bilang, karyawan biasa,"
Menggeser duduknya agar menghadap kearah Dinar, tangan Alvaro menaruh anak rambut Dinar kebelakang telinga. "Apa, kamu nggak masalah, misalkan aku kerja dengan gaji kecil. Dan hanya pegawai biasa?"
"Kenapa kamu ngomong gitu? aku nggak akan mempermasalahkan kamu kerja apa, bagian apa. Yang penting bagi aku, kamu senang, dan pastinya. Kerja kamu halal."
Alvaro tersenyum manis, ia mencubit hidung Dinar gemas. "Kalau gaji aku cuma cukup makan sebulan gimana?"
"Aku nggak apa-apa sayang, kan aku sudah bilang. Yang penting halal, lagian aku sudah sering hidup susah. Jadi apapun pekerjaan kamu nanti nggak akan masalah buat aku,"
"Tetap sayang dan cinta nggak?" ucap Alvaro yang berniat menggoda Dinar.
Perempuan itu justru terbahak, sampai menutup mulut. "Pertanyaan kamu nggak banget deh, masa iya. Cinta aku di ukur dari kamu kerja apa," ujarnya di akhiri kekehan.
"Yah_ kan siapa tau aja. Kayak gitu," Dinar berdecak kesal, bibirnya maju tanda ia bete.
"Ck. Kamu mah, mikirnya aneh-aneh. Kalau kamu mikir gitu, kamu nggak yakin dong sama perasaan aku," ujarnya, menatap Al sedih.
Alvaro merengkuh tubuh Dinar. "Nggak gitu sayang, maaf deh, kalau pertanyaan aku keterlaluan. Aku percaya kok." Al menarik dagu Dinar agar mendongak menatapnya.
"Maaf ya," bisik Al lembut. Lalu mengecup singkat bibir Dinar.
"Iya," jawab Dinar bernada sedikit sewot.
Alvaro terkekeh gemas, kenapa Dinar jika marah, malah semakin cantik. Pikir Al dalam hati.
Tanpa keduanya sadari, ada Amanda yang mendengar dan melihat Alvaro bersama Dinar, tadinya ia ingin menemui Al, tapi ternyata sahabatnya itu sedang bersama istrinya.
Amanda hanya ingin mengobrol dengan Alvaro, sekaligus meminta maaf lagi, sebab. gadis itu merasa, Al belum sepenuhnya memaafkan dirinya.
"Kamu ngapain di sini sayang?" tegur Bunda Alya yang melihat Amanda tengah melamun di depan pintu belakang.
Gadis itu tersentak, ia tersadar dari pikirannya tentang Alvaro. "Eh. Bunda," gagapnya.
"Kamu cari si_" Bunda tak melanjutkan ucapannya, beliau tau siapa yang tengah di lihat Amanda.
"Kamu mau samperin Al?"
"Nggak Bunda, tadi aku cuma ke dapur mau ambil minum, terus lihat kayak ada orang di taman, eh. ternyata itu Al sama Dinar," bohong Amanda, Bunda Alya tau Amanda tengah berbohong.
Akhirnya, mengajak Manda untuk masuk dari pada melihat Alvaro dengan Dinar.
...***...
...TBC...