
...~•~...
Keluar dari rumah Amanda Dinar memelankan langkah kakinya saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
"Al_" yap cowok itu menyusul Dinar kerumah Amanda, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Ia di beritahu oleh Bunda Alya di mana Dinar berada.
"Kenapa datang kesini sendiri? nggak bisa nunggu aku gitu." ucap Al marah.
Dinar menunduk lesu, merasa bersalah. "Maaf, aku cuma ingin mengungkap apa yang aku ingin sampaikan."
"Kita pulang yuk, nggak enak kalau sampai mereka lihat kamu ada di sini." Dinar menarik tangan Alvaro mengajak suaminya itu untuk pulang.
Tadi sebelum ia keluar dari rumah besar milik keluarga Pak Damar, suara keributan dan teriakan yang keluar dari mulut Amanda begitu jelas terdengar.
Dinar yakin, kini Amanda tengah menangis. padahal niatnya datang bukan mencari keributan, tapi ingin menyelesaikan masalah.
Dinar ingin berteman dengan Amanda, ia juga tidak mungkin memisahkan dan menjauhkan Alvaro dengan gadis itu, biar bagaimana pun mereka sahabat dari kecil.
Dinar menoleh, menatap Alvaro yang tengah fokus menyetir. "Masih marah?" kata Dinar.
Al menoleh sekejap pada istrinya, ia melihat Dinar menatapnya sendu, namun dalam hatinya masih ada sedikit rasa kesal.
Dia bukan marah, hanya saja ia kesal pada Dinar, lantaran istrinya itu terlalu terburu buru, padahal yang ia mau. menunggu sebentar hingga waktunya pas, baru dia akan mengajak Dinar bertemu Amanda bersama.
Bukan malah menemui sahabatnya itu seorang diri, Alvaro takut, ketika Amanda kalut. Gadis itu mencelakai istrinya.
Dia sangat tau sifat Amanda seperti apa jika sudah marah, tak peduli siapa, ia akan mendapatkan amukan amarah.
"Maafin aku_ lagian aku ngomong baik-baik kok sama Amanda, aku cuma bilang sama dia, kalau memang kita ini sudah suami istri. Dan aku juga minta sama dia untuk menerima kenyataan, bahwa kamu nggak mungkin membalas perasaannya." tak tahan di abaikan akhirnya Dinar bersuara pada Alvaro tentang apa yang dia ucapkan.
Perempuan itu memeluk lengan Alvaro, tak peduli jika suaminya itu tengah mengemudi, yang jelas. Dia ingin Alvaro memaafkannya.
"Kalau dia tetap nggak terima?" ujar Al tiba tiba.
Dinar mendongak, bibirnya melengkung tipis, senang Alvaro mau bicara. "Harus terima!" sungut Dinar kesal, ia menjadi membayangkan jika Amanda tetap berusaha merebut Alvaro darinya.
"Lagian kenapa harus kamu, cowok banyak."sambungnya.
Alvaro menahan susah payah untuk tidak tertawa, suara kesal dari Dinar sangat lucu dan menggemaskan.
"Kamu udah jadi punya aku, dan akan terus punya aku_" Alvaro tak tahan. Akhirnya tawa pun keluar dari mulutnya.
"Kok ketawa sih! salah ya?" Dinar memandang Al sebal menjauh dari cowok itu, melipat tangannya di dada.
Memangnya ada yang salah dari ucapannya, Alvaro berdeham berusaha meredakan tawanya, Ia menoleh lalu meraih tangan Dinar.
"Nggak sayang, kamu nggak salah. aku tadi kesal aja sams kamu, kalau terjadi sesuatu sama kamu gimana? aku takut Amanda nekat,"
"Maaf,"
"Udahlah. Nggak usah di pikirkan, yang terpenting apa yang terjadi sama kita. Kamu sudah ceritakan, dan aku harap Amanda mulai ngerti." Dinar mengangguk setuju.
...***...
"Assalamu'alaikum," salam Alvaro dan Dinar setibanya mereka di rumah.
"Wa'alaikumsalam. Nah ini biang keroknya, akhirnya pulang! siapa suruh main kabur-kabur! Ah." marah Bunda Alya menjewer telinga Alvaro.
"Ampun. Ampun, enak banget bilang ampun, gara-gara kamu Bunda kena omel sama Mamanya Amanda, nggak cuma Mamanya tapi Papanya juga nyalahin Bunda dan Ayah. dasar nggak tanggung jawab!" cerocos Bundanya.
Alvaro melirik kearah Dinar yang sedang menahan senyum melihatnya di siksa oleh sang Bunda. "Yang_" melasnya memohon pada Dinar untuk membebaskan dari amukan Bunda Alya.
Dinar terkekeh pelan, kepalanya menggeleng dan berkata tanpa suara. "Syukurin. Wle_" Alvaro mendelik pada Dinar. karena perempuan itu justru senang suaminya di siksa seperti itu.
Naik ke lantai dua, Dinar merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit langit kamar. merenung mengingat wajah sendu dan terluka yang di perlihatkan Amanda kepadanya.
Dinar menghela napas lelah, memejamkan matanya. Berpikir, apakah yang dia lakukan salah. Apakah mempertahankan apa yang memang menjadi miliknya adalah kesalahan.
Ia hanya tidak ingin kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya. Dulu di saat Ibunya pergi untuk selamanya.
Rasanya dunianya hancur, selama ini hanya Ibunya yang bisa membuatnya bahagia, dan di saat tuhan memilih untuk mengambil sang Ibu darinya. Ia merasa dunia tak adil, mungkin jika Dinar tidak ingat masih memiliki Jingga.
Dia lebih memilih untuk menyusul sang Ibu.
"Tega banget sih Bunda_ sakit lagi." Dinar membuka mata, ia melihat Alvaro masuk kedalam kamar, dengan terus bergumam tentang Bundanya.
Dinar bangun, memperhatikan Alvaro yang sedang berganti baju. "Astagfirullah!" kaget cowok itu ketika sadar ternyata ada istrinya di sana.
Dinar terkikik geli. "Masa, segede ini kamu nggak lihat!" Alvaro menghampiri Dinar lalu berbaring di pangkuan istrinya.
"Kamu tega banget sih yang! suaminya lagi di siksa malah nggak nolongin." Alvaro sedang merajuk pada Dinar. ingin di manja dan usap telinganya yang memang terlihat memerah.
"Kamu juga sih, telpon Bunda nggak kamu angkat kemarin. wajar kalau Bunda kesal, kamu dapat hukuman."
"Kok malah belain Bunda!" Alvaro tak terima ia merubah posisi tidurnya menjadi telentang, menatap istrinya dari bawah.
"Karena aku sayang Bunda," Alvaro nencebikkan bibir.
"Jadi nggak sayang aku?" Dinar mengulum senyum lalu menggeleng, berniat untuk mengerjai Alvaro.
"Sedikit pun?" tanya Al tidak percaya.
Dinar mengangguk yakin. "Cuma sebesar ini," menunjuk rasa sayangnya sebesar ujung kuku.
"Ck_ jahat banget sih Yang. Aku sayang banget lho padahal sama kamu." gerutunya.
Alvaro terlihat kesal, ia melipat tangannya di dada dan memejamkan matanya.
Dinar mengusap pipi Al yang sama sekali tak mau membuka matanya, perempuan itu pun menunduk memberi kecupan beberapa kali di bibir Alvaro.
Alvaro baru membuka mata, usai mendapatkan kecupan dari Dinar, belum menjauhkan kepalanya dari wajah Al, Dinar berkata. "Kalau aku nggak sayang sama kamu, kenapa aku mau jauh jauh datang kerumah Amanda," bisiknya sangat lembut.
Al tersenyum senang mendengar ucapan sang istri, Dinar ikut tersenyum manis, namun ia tersentak ketika ingin menjauhkan wajahnya, Alvaro justru menahan belakang kepalanya.
Bibir mereka saling bertemu, Alvaro mulai ********** begitu dalam dan penuh kelembutan.
Melepas ciumannya mereka saling pandang dengan penuh cinta, Dinar mengusap telinga Alvaro yang memerah akibat jeweran dari Bundanya, lalu menciumnya begitu lembut.
"Biar sembuh," bisik Dinar mengulum senyum.
Tangan kanan Alvaro naik, menepuk puncak kepala Dinar dengan sayang.
...***...