
...***...
"Udah yuk maaf-maafannya. Lebaran masih lama," ledek Al menghampiri dua wanita itu.
Tangannya merangkul di kedua sisi, Bunda di sebelah kanan, sementara Dinar di sebelah kiri.
"Mending kita makan, aku lapar soalnya." lanjut Al raut wajahnya di buat semelas mungkin.
"Duh, anak ganteng Bunda lapar ya? kalian lagi makan malam?"
"Iya Bun, tadi Dinar lagi ngidam,"
"Ngidam apa?"
"Tuh lihat aja," tunjuk Al dengan dagunya.
"Ya ampun kreatif sekali kamu sayang," Bunda begitu heboh, menantunya membuat kue klepon dengan karya warna warni.
"Boleh Bunda cobain?"
"Boleh Bunda, tapi aku nggak tau enak, atau nggak." Bunda mulai mencomot satu klepon warna pink.
"Ehmm, enak sayang. Manisnya pas," puji Bunda tulus.
"Ini kan yang ngajarin Bunda, aku ikutin resep Bunda,"
"Makan kuenya nanti lagi aja, yuk kita makan nasi." ujar Alvaro lebih dulu, sebelum mereka mengobrol lebih lanjut.
"Maaf ya Ayah, Bunda. Aku nggak masak, cuma goreng nasi, Al yang ngelarang aku masak tadi."
"Aku nggak mau Dinar kecapean Bun, dari tadi dia sudah sibuk buat klepon,"
"Nggak apa-apa, lagian Bunda senang kok nasi goreng buatan Dinar," senyum Bunda pada menantunya yang menular ikut tersenyum.
"Harumnya enak, sudah lama Ayah nggak makan masakan mantu Ayah, yuk di makan yuk. jangan malu-malu," kelakar Ayah Angga.
mengundang tawa anak istri dan mantunya. Setelah itu mereka benar benar menikmati makan malam itu dengan hening seperti biasa, sesekali Dinar melirik kearah Bunda Alya.
Sampai detik ini dia belum, percaya jika saat ini di depannya adalah Ibu mertuanya, dia pikir Bunda Alya masih marah dengannya.
Namun dalam benaknya, ia di penuhi pertanyaan pertanyaan, apa yang membuat Bunda Alya berubah begitu cepat.
Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu, kini keempat orang tersebut saling berhadapan.
Alya lebih dulu mengeluarkan suaranya, dan mengutarakan apa yang dia inginkan. "Al, Bunda datang kesini, selain mau minta maaf sama kalian, Bunda juga mau. Kalian pulang kerumah, Balik ya nak, kita kumpul seperti dulu lagi."
"Bunda kesepian nggak ada kalian, lagi pula. Apa kamu nggak kasian sama Dinar kalau kamu sekolah, Dinar sendirian di rumah."
Alvaro yang duduk menopang tubuhnya di kedua pahanya pun menoleh pada Dinar, wanita menaikkan bahunya kecil, bibirnya menyungging senyum tipis.
"Benar apa kata Bunda, di sana juga jauh lebih aman. Kamu nggak takut kalau ada orang jahat," saut Angga ikut membujuk.
"Kasih aku waktu Bun, Yah. Nanti aku kabari."
"lho, kenapa kamu harus mikir lagi? kamu bilang, kalau Bunda berpikir buruk sama Dinar, kamu mau pulang."
"Al_" panggil Alya lebih lembut. "Bunda beneran sadar, kemarin itu Bunda cuma kebawa emosi. Tolong nak, kita pulang yuk." Alya sangat berharap putranya mau kembali tinggal bersamanya.
Dia tak ingin kesepian terus ketika di rumah.
Namun Alvaro tetap pada pendiriannya, ia belum mau pulang untuk saat ini, dia masih mau mempertimbangkan keputusannya.
"Ya udah Bunda, nggak usah maksa Al. Kita kasih waktu untuk anak kita, mungkin dia masih mau berduaan sama Dinar." ujar Angga setengah meledek putranya.
Dia masih ingin satu atau dia hari lagi berada di rumah ini, Al ingin menghabiskan waktu di rumah hanya berdua saja, tanpa ada yang ganggu.
...***...
"Assalamu'alaikum, Anak Papa. Lagi apa nak, udah bobok belum." Alvaro sedang bicara dengan anaknya yang masih berada di kandungan sang istri.
Ini adalah ritual keduanya ketika ingin tidur, Dinar lah yang minta, kadang perempuan itu meminta Al untuk mengusap usap punggungnya, meskipun kehamilannya belum besar, tapi perempuan itu kadang sudah merasakan pegal di bagian pinggang.
Dinar mengulas senyum, tangan pun menyisir lembut rambut hitam Alvaro yang kini masih tepat di depan perutnya.
"Aku nggak sabar pengin lihat jagoan aku," kata Al, mendongak sejenak guna memandang kearah Dinar.
"Jagoan? gimana kalau anak kita perempuan?"
"Nggak masalah sih, tapi aku berharap sama Allah, agar di beri laki-laki terlebih dahulu, biar tugas aku nanti nggak nggak terlalu berat jagain kamu."
"Oh, jadi sekarang kamu berat jagain akunya." ujar Dinar pura pura ngambek.
"Eh! bukan gitu sayang. Maksud aku, kalau anak kita cowok kan, dia bisa jagain Mamanya. Kala di saat aku nggak bisa jagain kamu lagi, ada anak kita yang gantiin aku." raut wajah Dinar berubah sendu.
Matanya pun mulai berkaca-kaca. "Kamu ngapain ngomong gitu, aku nggak mau kamu pergi." ucap Dinar parau, air matanya pun sudah lolos membasahi pipinya.
Alvaro semakin di landa kepanikan, dia lupa jika wanita hamil sangat sensitif. "Sayang _ bukan gitu maksud aku, udah dong. Jangan nangis, aku nggak kemana-mana. Aku selalu ada di samping kamu, ya." memeluk Dinar Al mengucapkan kata kata itu sangat lembut.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Dinar melepas pelukannya. "Janji ya jangan ngomong gitu lagi, aku takut." Dinar mengacungkan jari kelingkingnya, suara pun masih serak.
Alvaro menatap Dinar sekejap, ia tersenyum begitu tipis. Dia bisa melihat begitu jelas bagaimana Dinar ketakutan, lewat tatapan istrinya itu. "Ya sayang, aku janji nggak ngomong gitu lagi. Asal jangan sedih lagi ya," Dinar mengangguk berulang kali, lalu kembali memeluk Alvaro.
"Usapin punggung aku," titah Dinar setengah merengek.
"Siap! nyonya." kekehnya lalu ikut berbaring menyusul Dinar yang tidur memunggungi-nya.
Beberapa menit mereka tak merubah posisinya, keduanya pun juga belum terlelap, namun tidak saling bicara.
Alvaro dan Dinar sedang memikirkan kejadian beberapa jam lalu, di mana orang tuanya datang dan meminta maaf,
Gerakan usapan di punggung Dinar melambat kian melambat dan akhirnya terhenti.
Menengok kebelakang, mata mereka bertemu dan saling pandang. Dinar kira Alvaro sudah tertidur, begitu pun sebaliknya.
Al kira Dinar sudah tidur, karena tidak ada pergerakan dari perempuan itu. "Aku kira sudah tidur?" Dinar menggeleng dan merubah posisinya menjadi menghadap kearah Alvaro.
"Belum, aku lagi kepikiran tentang Bunda,"
"Sama sayang," jawab Al di susul helaan nafas panjangnya.
"Menurut kamu, kenapa Bunda secepat itu berubah?"
"Tadi aku sempat tanya sama Ayah, tapi jawabannya malah, kita harus pulang kalau mau tau."
"Jadi?" balas Dinar.
"Aku mau di sini beberapa hari, ternyata enak juga ya, tinggal berdua." Dinar mencebikkan bibir.
"Bilang aja, ada maunya. Emang apa bedanya coba," Alvaro tertawa renyah, ternyata Dinar paham apa yang dia mau.
"Aku janji, cuma beberapa hari. Yang di omongin Bunda ada benarnya juga, kalau aku sekolah, kamu sendiri di rumah."
"Oke, kalau gitu, aku ikut kamu aja lah." pasrah Dinar, dan memeluk suaminya agar bisa tidur.
...***...