
...***...
"Assalamu'alaikum." salam seorang wanita hamil yang masuk sebuah rumah.
Wanita itu mengernyitkan kening ketika salamnya tidak ada yang membalas, keadaan rumah pun sepi namun pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum, Ayah?" panggil wanita yang lain adalah Dinar.
"Wa'alaikumsalam, Ayah dibelakang Nak!" saut seseorang yang Dinar cari sejak tadi.
Berjalan dengan pelan, Dinar menyusul ketempat Ayahnya. Ia tersenyum kala melihat ternyata sang. Ayah sedang mencocok tanam, belakang rumah milik Dinar beberapa hari yang lalu tengah di renov, katanya itu permintaan Ayah Hendra yang ingin sekali berkebun, menanam berbagai buah dan sayur.
Sebagai menantu yang baik, Alvaro pun menuruti keinginan Ayah mertuanya, dengan sedikit merubah bentuk rumah istrinya di bagian belakang, meskipun tidak terlalu banyak yang berubah tapi luasnya kian melebar hingga bisa menanam beberapa buah dan sayuran.
"Ayah, jangan terlalu capek. Nanti Ayah sakit lho, dari kemarin ngurusin tanaman mulu."
Hendra menyeka keringat di keningnya sembari menyusul Dinar yang duduk sambil menata makanan di atas meja kecil.
Perempuan itu baru saja membuat makanan kesukaan Ayahnya, setelah sudah matang ia memutuskan untuk datang sendiri ke rumah Ayahnya ini, untung jaraknya tidak terlalu jauh, jadi ia cukup jalan kaki sudah sampai, hitung-hitung berolahraga agar nanti ketika dirinya melahirkan bisa berjalan dengan lancar.
Sebab, dia mendapatkan informasi dari Bunda Alya jika sering jalan-jalan ketika hamil, apalagi menjelang persalinan, maka bisa mempermudah prosesnya nanti.
"Ayah boleh bersemangat mencocok tanam, tapi jangan lupa istirahat," sambung Dinar lagi.
Hendra tersenyum simpul menyeruput kopi buatan sang putri.
"Ayah lagi senang-senangnya bercocok tanam, apalagi melihat mereka tumbuh, tuh kamu lihat. Mereka mulai bertunas," tunjuk Hendra ke beberapa tanaman yang mulai tumbuh.
Mulai dari tanaman cabai, tomat, daun bawang dan daun seledri.
"Iya sih, tapi tetap aja. Dinar nggak suka kalau Ayah nanti lupa istirahat, terus kecapean."
"Hehe_ Iya nak, Ayah nanti istirahat kok," jawab Hendra tertawa pelan.
"Ngomong-ngomong, kamu kesini sendiri?"
"Iya Ayah. Seperti biasa kalau jam segini Alvaro masih sibuk di kampus, nanti jam empat langsung ke cafe," jawab Dinar menatap lurus ke tanaman sang Ayah.
"Ayah bangga sama suami kamu," ujar Hendra yang sukses membuat Dinar menoleh. "Alvaro cowok yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan yang paling penting dia begitu menyayangi dan mencintaimu." menghela napas sebentar Hendra menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kamu beruntung di pertemuan oleh Alvaro, mungkin dulu kalau kamu tak berjodoh dengan Al, Ayah nggak tau nasib kamu bersama Jingga bagaimana." Dinar mengangguk kuat, ia setuju dengan ucapan Ayahnya.
Dia memang beruntung bisa bertemu dengan lelaki sebaik suaminya itu.
"Ayah benar, aku beruntung dan bersyukur banget, Allah kasih aku jodoh seperti Alvaro, dulu awal-awal aku nikah aja kadang masih ragu apa benar Alvaro begitu mencintai sampai rela nikah muda, tapi seiring berjalannya waktu. Aku paham dan tau kalau Alvaro benar-benar sesayang itu sama aku dan juga ke Jingga."
Tersenyum simpul Hendra mengingat sesuatu. "Ayah tau, sifat baik Alvaro itu di dapat dari siapa?"
"Bunda Alya?" tebak Dinar.
Hendra menoleh, ia terkekeh pelan lalu mengangguk. "Benar. Dari Alya, dulu pertama kali Ayah kenal dengan Alya ketika masih SMA, dia adik kelas, dan karena sering berpapasan ketika di keridor, Ayah jadi mulai berani saling sapa dan saling senyum."
"Dulu, hubungan Ayah dengan Alya begitu baik dan lancar, sampai di mana Ayah harus ninggalin dia untuk melanjutkan pendidikan Ayah di luar negeri, ini juga salah satu kesalahan Ayah yang memintanya untuk menunggu, tapi Ayah tak pernah memberinya kabar"
...***...
usai puas mengobrol bersama Ayah dan juga Jingga, Dinar pun memutuskan untuk pulang, ia berjalan dengan santai wajah cantiknya terus memperhatikan senyuman manisnya.
"Eh_ Mba Dinar, rajin banget jalan-jalannya," sapa salah satu Ibu-ibu kompleks yang sedang berkumpul.
"Iya Bu, biar sehat." jawab Dinar sopan.
"Benar sih, tapi jangan sampai kelelahan lho Mba, nggak baik juga." saut ibu muda sembari menyuapi anak kecil sekitaran umur satu tahun.
"Hehe_ iya Bu, terima kasih sudah di ingatkan,"
"Waduh. Jangan manggil Mba dong, kayaknya kita seumuran deh, anak aku aja masih bayi gini." Dinar tanpa sadar menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung sendiri jadinya.
"Iya deh, kalau gitu Mba aja." putus Dinar pada akhirnya.
"Nah itu lebih baik," ucap wanita itu kesenangan.
"Halah bilang aja kamu nggak mau keliatan tua!" kelakar seorang Ibu di samping wanita itu.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya semuanya. Assalamu'alaikum," pamit Dinar membukuk sedikit lalu mengucapkan salam.
"Hufs_ Ibu-ibu kompleks perasaan ada aja" gumamnya tersenyum geli.
"Lho Alvaro. Ya ampun dia udah pulang?" ia terlihat kagat saat melihat Alvaro sudah duduk di tangga teras sambil memainkan ponselnya.
Dinar mempercepat jalannya lalu berkata. "Sayang, kamu udah pulang? kok nggak kasih tau aku?" Alvaro mendongak.
"Ya Allah, sayang jangan lari-lari!" Alvaro panik ketika Dinar berjalan dengan cepat, padahal perutnya sudah semakin besar.
Wanita itu tak menanggapi ucapan suaminya, ia tetap berlari lalu menubruk tubuh Alvaro. "Maafin aku, pasti kamu marah sama aku kan? seharusnya waktu kamu pulang, aku ada di rumah buat nyambut kamu." ujar Dinar serak.
Dengan sigap Alvaro melepas dan menangkup wajah Dinar. "Jangan nangis dong, aku baru kok sampai rumah, tadi memang aku sudah masuk nyariin kamu. Di dalam juga sepi nggak ada cuma Mba Leli di belakang, barusan aku mau telepon kamu, Aku khawatir sama kamu sayang,"
"Maafin aku ya, tadi aku ketempat Ayah."
"Kenapa minta maaf? aku nggak marah, beneran. Udah ya jangan nangis," sangat telaten Alvaro mengusap air mata istrinya.
"Besok-besok, kalau mau pulang chat aku. Atau telepon. Biar aku udah di rumah." ujar Dinar yang justru mengomel.
"Siap nyonya Alvaro, maaf ya."
"Jangan minta maaf! kamu nggak salah," Al menghela napas sejenak.
"Iya ya sayang, udah yuk masuk. Malu nanti di lihatin orang-orang," Dinar mengangguk masuk kedalam rumah dalam keadaan bergelayut manja di lengan Alvaro.
Sedangkan Alvaro hanya tersenyum, antara senang dan geli, melihat tingkah sang istri, setiap harinya ada saja kelakuan yang membuatnya geleng kepala atau mengusap dada dengan sabar.
...***...