Alvaro

Alvaro
Bab 51. Menginap di Villa



...~•~...


"Katanya kita pulang, ini rumah siapa?" Dinar heran saat mereka sampai di sebuah rumah cukup besar dengan dua lantai.


Alvaro yang ingin menggendong Dinar urung, ketika tangan gadis itu menahannya. "Ini villa Ayah, kita nggak mungkin pulang ke Jakarta sekarang. Kamu butuh istirahat,"


"Aku bisa sendiri," cegahnya saat Al sudah ingin membopongnya lagi.


"Yakin? katanya masih pusing," Dinar memajukan bibirnya,


benar dia masih pusing mungkin jika di buat berdiri pun ia masih sempoyongan.


Yang jadi masalah adalah, dia malu. Karena Dinar melihat ada dua orang di rumah tersebut.


Meskipun begitu. Akhirnya Dinar mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya, tidak lucu kan jika dia memaksa berjalan, malah berujung merepotkan karena dirinya pingsan kembali, tiba di depan kedua orang yang menunggunya di depan pintu, Dinar menyembunyikan wajahnya di dada Al.


"Sore Bi," sapa Al pada dua orang yang Dinar maksud.


"Sore Den." jawab perempuan paruh baya itu.


"Saya sudah bersihkan kamar aden, Bibi juga sudah menyiapkan semua yang Den Al perlukan."


"Terima kasih Bi, kalau gitu saya permisi dulu." pamit Al membawa Dinar ke kamarnya yang berada di villa Ayahnya.


Dinar membantu Al membukakan pintu, kamar bernuansa putih dan juga sedikit abu-abu, cukup menyita perhatian gadis itu.


Alvaro membaringkan Dinar pelan di kasur besarnya. "Jangan pergi," cegah Dinar saat Al langsung beranjak.


Cowok itu duduk kembali lalu tersenyum pada Dinar. "Aku nggak kemana-mana sayang, aku ganti baju bentar," Dinar melepas pengangan nya, membiarkan Alvaro beranjak menuju  Walk in closet di kamar tersebut.


Sambil menunggu, Dinar mengedarkan pandangannya, Kamar Alvaro yang berada di villa ini terasa nyaman, banyak foto-foto cowok itu, dan gambar anime yang bahkan tidak dia tau namanya.


Suaminya itu sangat suka dengan anime jepang dan ada juga poster pemain basket idolanya, hingga ia terfokuskan pada sebuah foto kecil, berada di atas meja belajar.


Foto seorang dua anak kecil, seorang anak laki dan perempuan, dia tau jika foto anak laki-laki itu adalah Alvaro, namun yang perempuan itu siapa. Pikirnya.


Ingin rasanya dia bangun dan menghampiri meja tersebut dan mengambil bingkai foto itu agar dia bisa melihat dengan jelas.


"Sst." panggil Al, Dinar terperanjat ketika baru menyadari jika Alvaro sudah bersamanya.


"Ngelamun ya?" Dinar hanya menggeleng.


Sebenarnya dia ingin bertanya, tapi untuk sekarang. dia hanya ingin tidur sambil memeluk suaminya.


Al sudah merebahkan tubuhnya, menjadikan lengannya untuk bantalan Dinar, ia mengusap dan kadang memijat kepala istrinya dengan pelan.


"Al,"


"Ehm?"


"Kamu yang sudah nolongin aku di kamar mandi?"


"Iya, kamu tau? Aku panik saat nyariin kamu nggak ada, akhirnya aku nanya Selly. Dan dia bilang kamu pergi ke kamar mandi."


"Kira-kira, siapa ya yang sudah ngunciin aku?"


"Geby pasti," yakin Al.


Dinar mendongak memandang kearah Alvaro. "Kok kamu yakin? memangnya ada bukti?" Cowok itu menghela napas panjang.


"Nggak sih, tapi feeling aja, biasanya feeling seorang suami itu nggak pernah salah." Dinar mencebikkan bibir, suaminya terlalu pede.


Dinar melamun, ia sedang mengingat kejadian di mana sebelum dia terkunci di dalam kamar mandi tersebut, mengingat siapa saja yang ada di luar saat itu.


Seingatnya, tidak ada Geby ataupun teman dari gadis itu. Tapi kenapa dia bisa terkunci dari luar.


"Udalah, jangan terlalu di pikir, sekarang istirahat. Nanti waktunya makan malam aku bangunkan," Dinar mengangguk setuju mencoba memejamkan matanya.


...***...


Dinar menggeliat, tangannya meraba sisi kasur yang terasa kosong, ia membuka mata mengerjap beberapa kali menyesuaikan sinar lampu.


Namun tak ada sautan, menurunkan kedua kakinya lalu berpijak pada dinginnya lantai, matanya bergulir kearah meja belajar, yang di mana.


Tadi ada foto yang memembuatnya sangat penasaran, tapi kenapa fotonya menghilang, apakah ada yang mengambil.


Atau Alvaro yang mengambilnya, tapi kenapa harus di ambil. Dinar terus bertanya-tanya.


Hingga ia memutuskan untuk keluar dari kamar, karena tak tau seluk beluk rumah tersebut, Dinar memutuskan berkeliling, hingga suara dari arah dapur menyita perhatiannya.


Tersenyum hangat, kala melihat suaminya tengah sibuk di dapur, entah apa yang dia buat, namun mampu membuat perutnya keroncongan, karena wangi harum dari masakan itu sudah tercium olehnya.


Menghampiri Alvaro tanpa suara, Dinar perlahan berdiri di belakang Al lalu ia memeluk perut cowok itu, membuat si empu terlonjak sesaat, tapi setelah itu senyum manis ketika menyadari siapa yang sudah memeluknya.


"Istri aku udah sembuh?" Dinar mengangguk tanpa merubah posisinya.


Alvaro mengusap lengan Dinar yang berada di perutnya. "Kenapa nggak bangunkan aku?" kata Dinar menggeser tubuhnya melihat apa yang sedang Al masak.


"Sengaja, karena aku ingin membuatkan sesuatu untuk kamu,"


"Jadi lapar, aku bantu ya. Biar cepat selesai," belum sempat menyentuh apapun, Al sudah melarang dan membawa gadisnya ke kursi meja makan.


"Duduk di sini aja, nggak usah bantah."


"Tapi_"


cup!


Dinar justru mendapatkan kecupan singkat dari Alvaro saat ia ingin menolak permintaan suaminya. "Nurut apa kata suami," pasrah Dinar mengangguk dan membiarkan Al menyelesaikan masakannya.


gadis yang sedang menggunakan baju tidur dengan motif beruang itu, mengedarkan pandangannya. Villa tersebut terlihat sepi, seperti hanya mereka berdua.


Padahal setaunya tadi, ada dua orang lagi di Villa ini. "Al, kok keliatannya sepi, Bibi yang tadi mana?" Cowok itu menoleh sekejap lalu fokus kembali pada masakan yang sedang dia aduk di atas kompor.


"Di rumahnya, tadi itu namanya Bi Jum, sama suaminya Mang Wawan, mereka suami istri, tinggalnya di samping vila ini." jawab Alvaro tanpa memandang kearah Dinar.


"Dia sudah lama kerja di sini?"


"Iya, dari aku masih kecil. Waktu liburan biasanya kita sekeluarga habisi waktu di sini." Dinar mengangguk paham.


Tidak lama masakan Alvaro sudah siap, cowok itu menyajikannya di atas meja, Dinar berbinar melihat makanan tersebut.


Apalagi dia sudah sangat lapar, tidak lupa tugas seorang istri. Dinar tetap melayani suaminya seperti biasa, mengambilkan nasi dan juga sayur berserta lauknya.


Alvaro membuatkan Dinar nasi goreng, yang di tambah sosis telur dan juga ayam suir.


Mungkin jika ada yang melihat, pasti makanan standar orang-orang pada umumnya, tidak ada yang spesial.


Namun tidak untuk Dinar, masakan yang Alvaro buat, sangatlah spesial, sebab ia tau Al membuatnya dengan hati dan perasaan, hingga rasanya lebih enak.


Karena rasa penasarannya lebih tinggi, Dinar pun memberanikan diri untuk bertanya soal masalah foto tersebut.


"Al, boleh aku tanya sesuatu?"


Alvaro mendongak, memandang istrinya. "Boleh, tanya apa?"


"Tadi sebelum tidur, aku lihat ada foto di atas meja. Tapi pas aku bangun, kenapa fotonya menghilang?"


Al berdeham beberapa kalu, meneguk minumannya terlebih dahulu. "Aku pindahin," jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, foto lama juga." katanya lalu fokus kembali pada piringnya.


Dinar sempat mengerutkan kening, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Alvaro tentang foto itu, tapi kenapa. pikir Dinar dalam hati.


...***...


...TBC...