
...***...
Tak terasa setelah melewati hari yang panjang dan cukup melelahkan, kini Dinar bisa melewati hari-harinya begitu menyenangkan.
Wanita itu sangat menikmati perannya sebagai perempuan yang sedang mengandung, kandungan Dinar saat ini sudah memasuki bulan empat.
Yang dimana hari ini, adalah hari acara empat bulanannya.
Kini Dinar tidak lagi terlalu memikirkan Ayahnya, semenjak dia diberitahu oleh Alvaro kalau Ayah Angga ingin membiayai semua pengobatan Ayahnya.
Dinar tak pernah lagi menanyakan kabar atau pun meminta suaminya untuk datang ke tempat Ayahnya berada.
Dia bukan tidak peduli dengan Ayahnya lagi, tapi Dinar menghargai keluarga Alvaro yang kurang suka bahkan masih ada rasa benci untuk Ayahnya.
Yang lebih membuat Dinar tidak enak adalah, Ayah Angga masih mau menolong Ayahnya dengan cara membiayai semua kebutuhan pengobatannya.
Wanita cantik dengan baju gamis berwarna putih itu kini tengah tersenyum didepan cermin besar, tangannya mengusap usap, mengamati perutnya yang sudah semakin terlihat besar dan membulat, menurutnya sangat menggemaskan.
Ia tersentak kala tangan besar tiba-tiba melingkar sempurna diperutnya. "Hari ini kamu cantik banget sih?" bisik lelaki itu di telinga kirinya.
"Kamu juga ganteng, pakai peci hitam. Aku suka," puji Dinar untuk Alvaro yang kini sedang memeluknya dibelakang tubuhnya.
Mereka saling lempar senyum, lewat kaca tersebut. "Semoga acara hari ini lancar ya?"
"Amin," jawab Al. "Yuk turun sekarang, mereka sudah nunggu. Acaranya juga sebenarnya lagi mulai,"
"Tunggu, aku sudah cantik belum?" katanya seraya berbalik badan, tangannya lentiknya memperbaiki pasmina yang ia kenakan.
"Aku kan tadi bilang, kamu cantik banget malam ini." wanita itu malah nyengir memperlihatkan gigi rapinya.
"Siapa tau ada yang kurang?"
"Sudah cukup, jangan cantik-cantik. Ntar ada yang naksir aku yang repot,"
Tawa renyah keluar dari mulut Dinar, wanita itu merasa lucu jika Alvaro sudah cemburu seperti ini.
"Memangnya ada yang naksir aku?"
"Adalah, tiap hari juga ada."
"Oh iya? siapa?"
"Aku sendiri. Hehe_ soalnya setiap hari aku semakin naksir,dan semakin cinta sama kamu, kamu sih terlalu cantik kan aku nggak bisa mengontrol diri kalau sama kamu,"
"Ihh Apaan sih, kok malah gombal." ujar Dinar diakhiri kekehan kecil.
"Ayo ah kebawah, tadi katanya sudah ditunggu."
"Oh iya. Tuh kan kalau sama kamu suka lupa," lanjut Al yang masih saja menggoda istrinya.
Menepuk lengan Alvaro, Dinar berdecak lalu pergi lebih dulu keluar dari kamar mereka, meninggalkan Al yang masih tertawa cukup kencang.
Segera berlari menyusul sang istri, Alvaro merangkul pundak Dinar saat menuruni anak tangga, kedatangan mereka sudah disambut kehebohan dari keluarga Al yang jauh jauh datang.
"MashaAllah, keponakan Tante cantik sekali," puji Tante Ayu istri dari Andre adik kembar Ayah Angga.
"Terima kasih Tante, Tante juga cantik." balas Dinar tersenyum lembut.
"Bisa aja kamu," mengusap pundak Dinar.
"Aku kok nggak di puji, Tante? aku juga keponakannya loh?" saut Al yang berpura-pura cemberut.
"Oalah iya, kamu ganteng juga. Pakai peci gitu, kayak ustadz,"
"Ehmm si Tante, ini niat muji atau ngeledek." sautnya kesal.
"Dua-duanya." jawab Ayu lalu tertawa bersama, yang memang kebetulan mendengar obrolan mereka.
...***...
Acara dimulai pembukaan yang dilakukan oleh MC, setelah itu lanjut penyambutan selaku pemilik rumah yaitu Ayah Angga.
Usai Ayah Angga menyambut para tamu dan ucapan terima kasih, sudah berkenan hadir untuk memberikan doa kepada calon cucu pertamanya.
Lanjut, acara pengajian yang dipimpin oleh seorang ustadz, namun sebelum itu ada sesi membaca surah Al Qur'an yang dilakukan Alvaro dan juga Ayah Angga, semua para tamu dan keluarga menitikkan air mata saat keduanya melantunkan ayat suci itu.
Ustadz mulai memimpin doa-doa terbaik untuk calon bayi dan juga sang ibu, bahkan usai berdoa ustadz memberi tauziah kecil diakhir acaranya.
Hari ini acara empat bulanan itu, hanya melakukan doa bersama, tidak ada yang namanya mandi-mandi.
Kata Bunda Alya, prosesi tersebut dilakukan nanti saja ketika kehamilan Dinar sudah memasuki usia tujuh bulan.
Dinar yang memang tidak tau apa-apa, hanya menurut yang terpenting semua demi kebaikan untuk anaknya.
Dinar merentangkan tangannya berkode kepada Alvaro, untuk membantunya berdiri.
Duduk lesehan dengan perut lumayan besar cukup menyulitkan-nya, Alvaro tersenyum manis sembari menghampiri Dinar dan membantu istrinya dengan hati-hati.
"Pelan-pelan," pesan Al.
"Baru juga empat bulan, kayak sudah susah napas gini." kata Dinar yang malah seperti meledek dirinya sendiri.
"Makanya sering olahraga bos ku," memajukan bibir bawahnya Dinar memicingkan matanya kearah sang suami.
"Ngaca, Situ juga nggak pernah olahraga." sewot Dinar tak mau kalah.
"Hehe_ iya ya. Kok kita malah debat gini sih sayang, kita kesana yuk. Kamu harus makan ini waktunya makan malam bentar lagi juga waktunya minum susu," Dinar memutar bola matanya sedikit kesal.
Semenjak Dinar hamil, Alvaro lah yang kian hari kian cerewet, apapun yang dilakukan Dinar, harus sepengetahuan lelaki itu.
Mulai makan apa, berapa sekali, minum susunya harus rutin, buah dan Dinar juga tidak diperbolehkan makan cemilan yang dulu sangat wanita itu sukai, katanya tidak baik dan tidak bagus untuk bayi.
Padahal Dinar sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan, katanya masih boleh meskipun dengan porsi yang wajar.
Tapi tetap saja, Alvaro melarang Dinar untuk makan makanan kesukaannya.
Kadang jika Alvaro seperti itu, senang ada juga tidak senangnya. Al terlalu overprotektif, Ya wajar memang.
Apalagi ini adalah calon anak pertama mereka, namun Dinar hanya ingin Al tidak terlalu berlebihan.
Cup!
Dinar tersentak saat Alvaro mencium pipinya, padahal didekat mereka ada beberapa para tamu.
"Ih_ malu Al?" geram Dinar.
"Siapa suruh ngelamun, diajak makan. Kok malah bengong," Dinar cemberut sampai menghentakkan kakinya beberapa kali persis seperti anak kecil.
Alvaro tersenyum tertahankan tangannya berada dibibir untuk menutupi mulutnya, tidak baik tertawa keras disaat banyak orang. Bagaimana tidak ingin tertawa, Dinar begitu menggemaskan.
"Iya udah ayo, kenapa masih disini." ucap Dinar semakin galak.
Merangkul pundak Dinar, Alvaro mulai mengambilkan nasi bersama lauk-pauknya.
Duduk disalah satu sofa, Al mulai menyuapi sang istri. "Kok cuma satu?" kata Dinar yang kebingungan Alvaro membawa hanya satu piring.
"Nggak apa-apa, kita makan satu piring berdua." mendekatkan kepalanya ditelinga Dinar Alvaro berbisik.
"Biar romantis," katanya.
Dinar mengulum senyum, pipinya berubah merah seperti tomat, Alvaro memang selalu bisa membuat wanita itu tak lagi kesal kepadanya.
...***...