Alvaro

Alvaro
Bab 124. Nambah Adik



...***...


"Assalamu'alaikum," memberi salam saat Angga masuk kedalam kamar.


Alya tersenyum menyambut kedatangan orang yang paling ia cintai. "Wa'alaikumsalam." meraih tangan Angga, Alya mencium dengan takzim.


Meskipun umurnya jauh lebih tua dari Angga, tapi ia tetap melakukannya, sebab. Angga adalah suaminya.


Meraih pinggang sang istri, tiba-tiba Angga memeluk dan menjatuhkan dagunya di pundak sang istri. "Hubby, kamu kenapa?" heran Alya, tak biasanya Angga mode manja seperti ini.


"Nggak apa-apa, memangnya nggak boleh meluk istrinya sendiri," Alya terkekeh pelan, ia pun membalas pelukan suaminya.


"Kamu nggak mau tanya tentang keadaan Hendra?" tanya pria itu tanpa merubah posisinya.


Dipelukan Alya Angga mengerutkan kening saat jawaban sang istri adalah sebuah gelengan. "Kenapa?"


Alya melepaskan diri lalu menangkup wajah Angga. "Nggak mau, masa istrinya tanya soal pria lain. Sama suaminya sendiri lagi," ujar Alya.


Angga mengulas senyum, dan mencium bibir sang istri secara singkat dan kembali memeluknya.


"Hendra di diagnosis memiliki penyakit paru-paru, meskipun masih menunggu hasil CT scan," ucap Angga yang tetap menceritakan keadaan Hendra.


"Seandainya Dinar tau, dan benar Hendra mempunyai penyakit itu bagaimana? pasti dia sedih kan?"


"Ya Hubby, walaupun Hendra nggak sayang sama Dinar, tapi mantu kita begitu menyayangi dia. Itu yang buat aku nggak tega lihat Dinar kalau bahas soal Hendra didepannya."


"Iya,"


"Terus sekarang, Hendra dirumah sakit?" kerutan dengan senyum jail diperlihatkan oleh Angga.


"Kok jadi kepo? tadi katanya nggak mau dengar soal Mantan." tekannya dikata mantan.


Alya mendelik, memukul dada bidang suaminya. "Ih! Hubby, siapa tadi yang bahas soal dia? nggak usah diperjelas juga kata Mantannya!" ujar Alya ngegas, sudah kepalang tanggung ia kesal pada Angga.


Pria itu meraih kedua tangan istrinya lalu ia genggam, sembari meredakan tawa yang begitu kencang keluar dari mulutnya.


"Hahaha_ iya ya. Maaf deh, jangan ngambek gitu dong." towel Angga di dagu sang istri.


"Senyum dong, jangan marah-marah. Malu ah sama umur." kekesalan Alya bertambah saat Angga membawa-bawa.


"Bagus ya, bawa-bawa umur! tau kok udah tua." nyolot Alya menatap sengit pada pria dihadapannya ini.


Angga tersenyum lalu mencubit pipi istrinya. "Sudah lama aku nggak lihat kamu ngomel-ngomel. Kalau aku goda soal umur," kekeh pria itu.


Pada akhirnya Alya pun mengulum senyum, mengangguk pelan. "Dulu kamu nyebelin, brondong paling nyebelin yang pernah aku kenal." sontak pria itu tertawa lagi.


Ia terlalu gemas pada istrinya sampai mencubit kedua pipi Alya dengan gemas. "Jadi kangen masa muda, boleh kali ya. Kita pacaran lagi,"


"Dih, ingat umur. Bentar lagi juga sudah punya cucu."


"Lho memangnya kenapa? walaupun sudah punya cucu, jiwa muda harus tetap bergobar." sautnya.


"Memangnya, nggak mau ngabisin waktu berdua aja? kata Al kan, kita juga butuh refreshing."


Mendekatkan telinganya pada sang istri Angga berbisik. "Kalau bisa, nambah adik buat Al dan sikembar."


"Sembarangan_ ingat. udah tua,"


"CK, tadi nggak mau bahas umur. Sekarang malah ngomongin umur," cibir Angga berpura-pura kesal.


Alya hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi putih rapinya.


...***...


Dikamar lain, Dinar tengah tersenyum-senyum melihat layar benda pipih ditangannya, Alvaro yang baru dari kamar mandi pun mengerutkan kening heran.


Dengan wajah berbinar Dinar menunjukan apa yang sedang dia lihat diponselnya. "Oalah_ sudah malu beli?" tanya Al.


"Belum, kata Bunda kalau kecepatan, pamali. Tunggu beberapa bulan lagi," ujarnya seraya menatap lagi ponselnya.


Dinar memang tengah melihat-lihat baju bayi diolshop, begitu banyak baju-baju lucu perempuan yang sudah menjadi incarannya, namun sayang.


Kata mertuanya, tidak boleh membeli peralatan atau perlengkapan bayi kalau belum tahu bayi mereka apa, takutnya hanya membuang-buang uang.


Bunda bukan sayang dengan uangnya, tapi beliau hanya berpikir dari uang dibuat beli tentang sesuatu yang belum pasti, lebih baik uangnya disimpan.


"Pengin banget ya? anak kita nanti cewek?"


"Nggak tau juga, soalnya aku ngerasa anak kita cewek. Aku suka bayangin tentang anak perempuan, aku dandanin. Pakai baju yang lucu-lucu, Kepangin rambutnya, main masak-masakan." ujar Dinar mulai menghayal dengan ekspresi yang begitu menggemaskan dimata Alvaro.


"Iya udah, nanti kalau kita periksa kandungan. Minta dokternya untuk USG,"


Bibir wanita itu maju. "Jangan sekarang deh," ucapnya pelan.


"Loh, kenapa sayang? kan katanya mau tau anak kita cewek atau cowok?" heran Al.


"Iya sih, tapi aku maunya nanti kalau sudah mendekati lahiran, belum apa-apa aku tuh takut duluan," Alvaro hanya mampu menghela napas, tangannya mengusap puncak rambut sang istri.


Tok! tok! tok!


Kedua orang yang sedang duduk kasur itu menatap pintu. "Masuk," perintah Al.


Pintu terbuka muncul Jingga membawa satu buku tulis kotak pensil dan buku paket.


"Jingga, kenapa?" gadis remaja itu perlahan masuk tanpa menutup pintunya kembali.


"Maaf ya Kak, kalau Jingga ganggu. Aku cuma mau minta tolong sama Kak Al, soalnya susah banget, ngerjain PRnya. Aku nggak ngerti, mau minta tolong sama Kak Rani Kak Qilla, mereka juga sibuk. Ayah baru datang sekarang sama Bunda dikamar." cerita Jingga panjang lebar.


Alvaro berdiri menghampiri Jingga. "Ohh_ sini-sini, mana Kak Al lihat soalnya dulu." meminta buku tulis dari tangan Jingga Alvaro mulai melihat soal apa yang membuat adik iparnya sulit mengerjakan.


"Hmm matematika ya?" Jingga mengangguk mengamati buku dan kakak iparnya bergantian.


"Duduk sini, biar Kak Al ajarin caranya." perintah adiknya lalu duduk di karpet bulu.


Dinar tersenyum mengamati interaksi antara suami dan adiknya, melihat wajah sang adik yang mirip sekali dengan Ayah Hendra, membuat Dinar termenung.


Pikirannya tertuju pada sang Ayah kembali, jika suatu saat ia pergi lagi untuk menemui Ayahnya dan membawa Jingga.


Apakah masih mengatakan hal kasar tentang dirinya, atau bahkan mengusirnya.


Menghela napas lelah, Dinar tak ingin terlalu banyak pikiran, yang ada nanti akan terjadi apa-apa tentang calon anaknya.


Dinar turun dari kasur, memperhatikan sekejap suami dan adiknya yang terlihat sangat serius.


"Sayang, aku mau ngambil minum dibawah, kamu mau nitip sesuatu?" Alvaro mengalihkan antensi matanya dari buku ke istrinya.


"Nggak usah, nanti aku ambil sendiri, kalau memang mau sesuatu." jawab Al sangat lembut.


"Oke, Jingga nggak mau apa-apa?"


"Nggak Kak," jawab gadis itu tanpa menatap sang Kakak, ia sangat serius.


Dinar dan Alvaro sampai terkekeh pelan tanpa suara, adik Dinar itu memang suka serius jika mengerjakan sesuatu, semenjak gadis itu sudah sehat.


Dia begitu bersemangat jika melakukan banyak hal, termasuk belajar dan berbau tentang pendidikan.


...***...