Alvaro

Alvaro
Bab 53. Sebuah Panggilan



...~Happy Reading~...


Masih dongkol dengan kelakuan Geby. Alvaro tidak bisa tidur, sementara Dinar sudah nyenyak di sampingnya.


Mungkin mencari udara sejuk, bisa membuatnya lebih baik dan mengantuk, ia bangun membenarkan selimut Dinar sebelum dia meninggalkannya sebentar.


Keluar dari kamar, Villanya sudah gelap dan sepi. menengok kebawah ia bisa melihat ada beberapa anak murid yang sudah terlelap bersama beberapa Pak guru.


Alvaro berjalan menuju balkon, ia mengerutkan kening ketika mendengar seseorang yang berada di balkon itu, dia tersenyum ketika orang itu adalah ketiga sahabatnya.


"Eh Al, lo belum tidur?" tanya Niko melihat kedatangan Alvaro.


"Kenapa lo? muka kusut gitu?" sambung Heru melihat raut wajah Al yang terlihat sedang kurang baik.


"Nggak apa-apa," bohongnya, tidak mungkin kan Alvaro menceritakan kejadian sebenarnya.


"Dinar sudah tidur?" Ia hanya mengangguk duduk di samping Bastian.


"Maaf ya Al, kita jadi ngerepotin lo."


"Nggak apa-apa, namanya juga musibah kita nggak akan ada yang tau,"


"Memangnya kejadian gimana?"


"Ya lo tau anginnya kenceng banget, ada salah satu pohon yang tumbang di tenda salah satu murid kelas dua, Alhamdulillah nya mereka nggak di dalam pas kejadian." cerita Heru di tempat kemah mereka.


"Oh iya, sorry Al kita nggak sempat beresin tenda lo sama punya Dinar, nggak sempat."


"Ck. nggak masalah, yang penting kalian nggak apa-apa."


"Enaknya ngapain ya, sambil nunggu ngantuk. padahal cuaca mendukung, malah nggak bisa tidur." gerutu Niko melihat cuaca yang masih mendung dan gerimis.


"Mikirin hidup lo aja, biar lebih baik." sindir Heru.


Niko medecak menatap Heru sinis. "Kayak hidup lo udah benar aja," ledek Niko balik pada Heru.


"Al," panggil Niko. yang di panggil hanya mengangkat alisnya.


"Sebagai sahabat, kita sharing-sharing lah. Kalau boleh jujur gue masih nggak percaya lo nikahin Dinar," kata Niko sedikit memelankan kata nikah.


"Kenapa lo seberani itu nikahin cewek yang baru lo kenal? bukannya berpikir buruk ya. Tapi bisa aja kan Dinar manfaatin lo,"


"Hush! suudzon lo." Heru menendang kaki Niko.


"Bukan Suudzon, tapi kan misalkan doang_" greget Niko.


Alvaro terkekeh kecil ia meminum minuman bersodanya yang ia dapat dari Bastian. "Nggak apa-apa, semua juga pasti berpikir begitu."


"Awalnya juga gue nggak ada pikiran sampai sana," menghela napas sejenak ia bersandar pada sofa. "Tapi setelah gue terus berpikir, Satu-satunya cara cuma dengan nikahi dia, akhirnya gue ngambil keputusan itu."


"Ada rasa nyesal nggak?"


"Lo lama-lama kayak wartawan aja, banyak nanyak!" sela Heru.


"Kenapa sih lo! Alvaro aja nggak masalah!" sungut cowok berkemeja kotak-kotak merah.


"Sama sekali nggak, justru gue senang."


"Kalau gue jadi lo, ya pasti senang lah. secara Dinar itu cantik, manis dan baik, sayangnya aja kehidupan dia kurang beruntung," kata Heru.


"Gue jadi penasaran?" Heru mengusap dagunya. "Apa yang buat lo suka sama Dinar, terus lo sebelumnya nggak punya pacar?" Lo nggak mikir masa muda lo yang masih segini tapi sudah nikah."


Niko melipat bibir bawahnya, mengejek sang sahabat. "Tadi aja, di salahin, Eh nggak taunya nanya juga!" cibirnya.


"Ini sebenernya bahas apa sih?" kekeh Al pada ketiga sahabatnya.


"Niko duluan yang mulai!" ucap Heru menunjuk kearah Niko yang sedang duduk di lantai balkon.


"Alasannya__ ehm." cowok itu mendongak sebelumnya, seolah sedang berpikir. "Gue juga bingung harus ngomong gimana, yang jelas menurut gue. Dia berbeda dari gadis yang pernah gue temui sebelumnya."


"Gue suka cara dia kalau lagi ngomong, selalu tegar mempunyai adik yang sedang sakit, gue yakin. nggak semua perempuan bisa seperti dia,"


"Perasaan ini tumbuh dengan sendirinya, jujur dari awal gue nggak pernah ngerasain perasaan yang seperti ini."


"Wah_ Wah_ seorang Alvaro ternyata puitis juga ya. gue salut sama lo, nggak semua anak cowok sepemikiran kayak lo ini, dan gue yakin cowok jaman sekarang lebih memilih merusak dari pada memiliki." kata Niko bertepuk tangan bersama Heru.


Tanpa mereka semua sadari, ada Dinar berdiri di balik pintu, gadis itu membekap mulutnya sendiri, ia merasa terharu dengan ucapan suaminya.


Alvaro benar-benar tulus mencintainya, bahkan dia merelakan masa mudanya hanya untuk dirinya.


Harusnya Dinar tau dan paham, jika apa yang di lakukan Alvaro memang hanya untuk dirinya, kadang dia masih ragu akan perasan Al kepadanya, dia masih takut. Jika Alvaro sama seperti Aron yang hanya bisa menyakitinya.


...***...


Shubuh pukul 04:20 Dinar sudah bangun lebih dulu, ia sedang memperhatikan wajah tampan suaminya yang masih terlelap.


Ia menarik sudut bibirnya menjadi senyum tipis, dia bersyukur bisa memiliki suami seperti Al. Dia tak ingin menyia-nyiakan dan membiarkan perempuan lain mendekati Alvaro seperti yang di lakukan Geby.


Alvaro mengeliat bangun saat ponselnya berbunyi tanda alarm waktu sholat telah berbunyi. "Kamu sudah bangun sayang?" ucap Al bersuara serak khas orang bangun tidur.


"Nggak juga kok, baru aja aku bangun." bohongnya.


"Ya udah, yuk kita bangun sholat." ajaknya.


Mereka secara bergantian mandi dan melakukan sholat berjamaah, Dinar selalu kagum dan tersentuh saat Al melantunkan ayat suci Al-Quran, usai sholat Dinar mencium tangan Alvaro, pasti jantungnya berdesir hebat, apa lagi saat kecupan lembut mendarat di keningnya. Rasa haru senang dan bangga menjadi satu.


Villa milik Al di pagi hari begitu ramai, banyak anak laki-laki bermain di taman belakang Villa tersebut, berolahraga bersama, sementara remaja putri ada yang meminta izin pada Alvaro untuk berenang di kolam besar di tempat itu.


Yang lain pada heboh dan bahagia, Dinar justru terjebak di dalam kamar, ia tidak bisa kemana-mana, padahal saat ini dia sangat lapar.


Alvaro sedang berkumpul dengan mereka, ia juga sedang di ajak ngobrol oleh kepala sekolah dan juga para guru.


"Sekali lagi kita berterima kasih, karena kamu. Kita bisa beristirahat," kata Bu kepala sekolah.


"Sama-sama Bu, kalau nggak gini, kalian nggak ketempat Villa ayah saya." katanya sambil terkekeh pelan.


Semua tertawa membenarkan ucapan Al, Semenjak Alvaro bersekolah di SMA Garuda, Pak Airlangga sering membantu untuk sekolah, dan pengurus sekolah pun sangat berterima kasih.


"Oh iya, gimana kabar Dinar? kita sampai lupa." tanya salah satu Ibu guru.


"Apa perlu kita jenguk dia nanti sebelum kembali ke Jakarta?" sambung Pak Fahrul guru matematika.


"Saya sudah hubungin dia Pak, katanya nggak perlu. Keadaannya juga sudah membaik. Nanti dia di jemput kerabatnya untuk balik ke Jakarta."


"Kerabat? kira-kira siapa? saya taunya Dinar nggak punya sispa-siapa selain adiknya." Al merutuki ucapannya.


Ia salah bicara. "Nggak banyak yang kita tau tentang Dinar Bu. Kita kan cuma guru," sela salah satu guru yang membuat Alvaro lega karena tak perlu mencari alasan.


Love D❤


sayang kamu di mana? aku lapar.


senyum lebar tak bisa Alvaro tahan saat Dinar mengirim pesan, dengan panggilan yang sangat dia ingin dengar.


"Pak, Bu saya permisi dulu," pamit Al pada.


Ia bergegas naik ke lantai dua, membuka pintu, dilihatnya Dinar tengah duduk setengah bersembunyi memperhatikan orang-orang yang ada di taman belakang.


"Ciyee__ yang manggil sayang." godanya sambil memeluk Dinar dari belakang.


Gadis itu mengulum senyum malu, lalu ia berbalik badan. "Kan aku harus belajar, setahu aku manggil suami dengan menyebut nama itu nggak sopan." Alvaro ikut tersenyum memcium puncak kepala istrinya.


"Istri aku lapar ya?" Dinar mengangguk manja.


"Tunggu ya, aku ambilkan sarapan. Tanpa ada yang lihat."


Dinar menahan tangan Alvaro saat ia ingin keluar. "Boleh nggak suruh Selly kesini. Aku pingin ketemu dia."


"Boleh, tapi ada syaratnya." Dinar tau apa yang di maksud Alvaro.


Dia pun langsung memberikan sebuah kecupan di bibir sang suami, membuat cowok itu semakin tersenyum, ia menepuk puncak kepala Dinar sebelum dia keluar untuk memanggil Selly dan juga mengambilkan sarapan.


Alvaro tak bisa membohongi hatinya jika dia begitu bahagia karena begitu banyak perubahan yang di alaminya bersama Dinar, gadisnya pun juga lebih menunjukan perasaannya kepadanya.


...***...