Alvaro

Alvaro
Bab 48. Kemah Day I



Yuk kasih support cerita ini dong, terima kasih buat yang setia baca.


Kritik dan saran boleh.


.


.


.


.


.


...~Happy Reading~...


...***...


Tiba di kota tujuan, para murid turun dari bus begitu ceria, mereka sudah tidak sabar, melakukan kegiatan-kegiatan kemahnya.


Dinar berdiri tidak jauh dari Alvaro yang sedang mengambil tas mereka yang di taruh didalam bagasi bus.


Saat sedang menunggu, ia tak sengaja bertemu tatap dengan Geby, gadis itu menatap Dinar sinis dan tajam, Namun Dinar justru terlihat santai, bahkan memberi senyum.


"Aww!" pekik Geby ketika tak sengaja dia terjatuh dengan posisi kedepan, karena terlalu asyik melihat kearah Dinar, umi sampai tak sadar jika di depannya ada beberapa tas milik para murid.


Semua yang melihat adegan Geby terjatuh, bukannya di tolong, mereka malah tertawa kencang, hal itu membuat Geby malu.


"Neng_ Neng_ punya mata di pakai atuh." ledek salah satu siswa.


"Al__ tolongin gue dong, kaki gue sakit." rengeknya ketika Alvaro berdiri tidak jauh dari dirinya terjatuh.


"Bim_" Alvaro bukannya menolong Geby, ia justru memanggil salah satu murid yang satu kelas dengannya.


"Iya Al?"


"Tolongin Geby tuh," suruh Al enteng, Geby mendelik dan langsung berdiri.


Melihat itu Geby justru mendapatkan sorak sorai, dara mereka, karena ketahuan gadis itu hanya modus dan mencari kesempatan.


Karena semakin malu, Geby bergegas pergi, tak jadi mengantri untuk mengambil tasnya di dalam bagasi.


"Dasar. cewek gatel!" sungut Selly menatap kepergian Geby dengan kesal.


Tempat yang cukup strategis, untuk mengadakan perkemahan, tempatnya di dataran tinggi, di kelilingi pohon-pohon, dan ada bukitnya yang tak terlalu tinggi, di tambah kebun teh membentang luas, sangat sejuk, dan asri.


"Udah lama nggak berdiriin tenda, kenapa susah betul dah! dari tadi nggak kelar-kelar." keluh Selly.


Ia sangat kesal karena mendirikan tenda saja sulit, yang lain sudah pada selesai, dirinya malah belum apa-apa.


"Lagian lo sih Din. Ngapain beli tenda segede ini, kita tidur juga berdua." sungut Selly pada Dinar.


"Gue nggak tau, ini Alvaro yang milih."


"Atau jangan-jangan lo mau ngajak Al tidur di sini." Dinar mencubit lengan Selly.


Bahaya jika sampai ada yang dengar. "Mulut lo, bisa di kecilin nggak!" bisiknya. Selly hanya memberi cengiran, tanpa ada rasa bersalah.


"Selly," Keduanya menoleh kebelakang, ada Bu guru Susan yang memanggil Selly.


"Iya Bu?"


"Maaf, Ibu mau ada perlu sama kamu. boleh kita bicara?"


Selly bingung, dia belum selesai mendirikan tenda. Tidak mungkin juga dia meninggalkan Dinar sendiri untuk mengerjakan ini. "Aduh maaf Bu, tapi_" belum selesai bicara Dinar lebih dulu memotong ucapannya.


"Udah nggak apa-apa, lo pergi aja. Gue bisa kok,"


"Yakin!" Dinar memberi senyum sambil mengangguk.


"Maaf ya Dinar, Ibu ada perlu soalnya."


"Iya Bu Nggak apa-apa." keduanya pun pergi mrnyisahkan Dinar.


Gadis itu menghela napas panjang, melihat tendanya yang masih sangat berantakan. "Butuh bantuan?" Dinar terlonjak, bahkan gadis itu hampir terjungkal kebelakang karena posisi Dinar sedang berjongkok.


"Al!" geramnya menatap sinis pada Alvaro yang malah tertawa.


"Sini-sini, biar aku yang berdirikan. Masa gini aja nggak kelar-kelar."


"Kamu sih, belikan gede gini. Kan aku jadi susah." gerutunya.


Tak menanggapi ocehan sang istri, Alvaro mulai mendirikan tenda tersebut, karena Al hanya sendiri, cukup membutuhkan waktu agar tenda itu bisa berduru tegak tanpa takut ambruk.


"Selasa!" pekik Dinar kesenangan.


Alvaro tersenyum puas sambil menyapu keringat di keningnya. Cowok itu menoleh melihat wajah binar dari Dinar. "Sudah selesai," Dinar menghampiri Al, berdiri tepat di depan cowok itu.


Dengan telaten, Dinar mengusap keringat Alvaro yang membanjiri wajah tampan suaminya. "Maaf ya, pasti capek." katanya.


"Capek lah, nggak gratis ini. Masa udah capek-capek nggak ada upahnya."


"Emang apa bayarannya?" Al menaikkan bahunya tanpa memandang Dinar, ia sedang mengikat sebuah tali.


Dinar melihat situasi terlebih dahulu, cukup sepi, yang lain rata-rata sudah masuk kedalam tenda untuk beristirahat. Dan ada juga sibuk dengan para teman-temannya.


Dinar sedikit menjinjit dan.


Cup!


Ia mengecup bibir Al dengan cepat, Senyum lebar tak bisa Alvaro hindari, dia sangat senang. "Terima kasih," kata Dinar tulus dan juga senyuman.


"Sama-sama." Al mencubit pipi Dinar gemas. "Aku balik ke tenda dulu ya," pamit Al.


Dinar mengiyakan, sebelum pergi Alvaro memberi sebuah kecupan ringan di kening gadis itu, membuatnya diam terpaku.


Memegang dadanya, Dinar bergegas masuk kedalam tenda agar detak jantungnya normal kembali, Masih saja ia belum terbiasa padahal mereka ataupun Al susah sering melakukannya.


Selly masuk kedalam tenda, Dinar yang sedang melipat selimut untuk tidur mereka nanti malam menoleh pada sahabatnya itu.


"Ngomongin apa lo sama Bu Susan?"


"Tapi nggak lo doang kan?" Selly menggeleng ia membuang napas panjang.


"Niatnya kan mau senang-senang, malah di suruh bantuin." katanya dengan bibir maju, ia kesal namun tak bisa menolak.


"Nggak apa-apa, setelah bantu-bantu lo udah bebas." Selly hanya mengangguk pasrah.


...***...


Berhubung mereka sampainya sudah sore, akhirnya semua kegiatan di lakukan esok hari, Usai makan malam dan membuat api unggun, para murid bersantai bersama.


Ada yang bernyanyi, berjoget, Membuat lelucon. Hingga tak terasa waktu cepat berlalu, mereka satu persatu masuk kedalam tenda masing-masing.


Begitu pun Dinar, kini ia sudah berbaring di bawah selimut tebal, namun matanya masih terjaga, dia sama sekali tidak mengantuk.


"Sell__" panggilnya.


"Eghm?" di jawab dengan deheman saja, Selly sudah meringkuk di bawah selimut, Ia sudah sangat ngantuk, apalagi besok dia harus membantu guru dan yang lainnya untuk keperluan kegiatan berkemah mereka.


"Sell lo udah tidur?" Dinar menggoyang-goyang pundak Selly.


"Ini udah mau di jemput Jeno ke alam mimpi lo manggil," jawab Selly bernada berat, Dinar terkikik mendengar ucapan gadis itu.


"Iya udah, lo tidur aja." Dan Selly sudah benar-benar terlelap, terbukti dari suara dengkuran halus yang Dinar dengar.


Dinar menghela napas memandang langit-langit tenda, merubah posisinya membelakangi Selly, meraih ponselnya Ia berniat mengirim pesan pada Al.


Alvaro yang sudah memejamkan matanya, menaruh tangannya di atas kening, terpaksa membuka matanya kembali ketika suara notifikasi terdengar di ponselnya.


Bibirnya melengkung ke atas, terlihat senyum begitu tipis terlihat di wajah tampannya.


*P


Udah tidur?


^^^^^^Belum, kenapa?^^^^^^


Aku nggak bisa tidur*,


Dinar mengerutkan kening saat Alvaro tidak membalas pesannya, apa cowok itu juga sudah terlelap.


Beberapa menit kemudian ada sebuah pesan masuk, Dinar buru-buru membukanya, ia mengerutkan kening saat Alvaro menyuruhnya untuk keluar.


Tanpa banyak kata, Dinar keluar dari tenda. Ia terkejut Alvaro sudah berada di depan tendanya.


Cowok itu memandangi Dinar tersenyum dengan posisi kedua tangannya di masukkan kedalam saku, Gadis itu maju berdiri di hadapan Al.


"Ngapain keluar?"


"Katanya nggak bisa tidur? gimana, kalau kita jalan-jalan sekitaran sini, sambil menikmati sejuknya angin malam," tawar Al.


"Memangnya kamu nggak capek?"


Alvaro meraih tangan Dinar, menggenggam dan di masukan nya kedalam saku. "Nggak akan capek kalau buat kamu." katanya yang sudah mengajak Dinar berjalan.


Dinar tersenyum hangat dan mengikuti kemana suami membawanya.


Menikmati indahnya ciptaan tuhan, yang selalu menemani gelapnya malam, Alvaro membawa Dinar kesebuah bukit agar bisa melihat pemandangan itu.


Mereka duduk di atas rerumputan hijau nan luas. "Cantik," gumam dinar.


"Nggak kalah cantik dari perempuan di samping aku," Dinar menoleh cepat dan tertawa geli.


"Kamu setiap ngomong gitu nggak ngerasa geli?" Alvaro membasahi bibirnya matanya menyipit seolah sedang berpikir.


"Tergantung, kalau ngomongnya pakai hati. Nggak tuh," jawabnya menggeleng yakin.


Al merebahkan tubuhnya di atas rumput menjadikan tangan kanan sebagai batal, ia merentangkan tangan kiri memberi isyarat agar Dinar tidur di lengannya.


Dinar menurut ia merebahkan tubuhnya lalu melingkarkan tangan kiri ke perut Al.


"Waktu kecil kamu pernah nggak? kepikiran punya cita-cita apa?"


"Pernah," Jawab Al singkat, ia sedang memejamkan matanya menghirup aroma wangi dari Dinar.


"Apa itu?"


"Banyak, biasa anak kecil kan suka labil," kekehnya.


Dinar ikut tertawa. "Aku juga pernah, tapi menurut aku, cita-citaku nggak seperti anak pada umumnya."


"Oh iya? apa itu?" cowok itu mengerutkan kening penasaran.


"Ngebahagiain Jingga, semenjak di tinggal Ibu, Jingga nggak pernah bahagia. Dia dulu juga masih sering nanyain Ayah. padahal aku sudah berharap Jingga lupa sama Ayah, karena aku sangat membenci Ayah,"


"Ayah sudah tega ninggalin Ibu. di saat Ibu sakit keras, dia justru lebih memilih bersama perempuan lain."


"Meskipun Jingga bukan adik kandung aku, tapi aku begitu menyayangi Jingga," Alvaro termenung, fakta baru yang dia ketahui jika ternyata Jingga bukan adik kandung Dinar.


"Dan aku ngerasa, cita-cita aku sedikit demi sedikit sudah terwujud, bukan untuk Jingga tapi untuk diriku juga,"


Dinar mendongak menatap Alvaro begitu dalam. "Dan itu karena kamu, terima kasih."


"Sudah menjadi tugas aku untuk ngebahagiain kamu." Mereka saling pandang dengan penuh cinta dan ketulusan, terhanyut dalam suasana, Al mengikis jarak mereka.


Dinar mulai menutup matanya saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Keduanya terlihat begitu intens, Dinar bahkan sampai meremas jaket jeans suaminya.


Krak!


Suara seperti ranting terinjak, membuat Dinar reflek mendorong tubuh Alvaro, ia seketika terduduk melihat ke seluruh area di dekatnya.


"Apa tadi Al?"Cowok itu berdiri, ia melihat seluit seseorang yang pergi menjauh.


"Nggak tau," jawabnya sambil terus memandang kepergian orang itu yang sudah kian hilang di balik kegelapan.


...***...


...𝕿𝖔 π–‡π–Š π–ˆπ–”π–“π–™π–Žπ–“π–šπ–Š...