Alvaro

Alvaro
Bab 137. Meet Dad



...***...


Hari ini di rumah milik Dinar terlihat sibuk, sibuk bukan karena ingin mengadakan acara, melainkan untuk menyambut kepulangan Hendra, hari ini pria itu ajan keluar dari penjara.


Dan setelah mendapatkan bujukan dari Angga demi Jingga, Hendra akhirnya mengurungkan niatnya pergi dari kota tersebut.


Ia memutuskan menerima tawaran tinggal di rumah milik Dinar, Hendra sadar diri. Jika selama ini ia tidak pernah perhatian dengan anaknya sendiri, dia selalu mengabaikan dan tidak pernah peduli keadaan putrinya.


Padahal Hendra tau, putri satu-satunya itu tengah berjuang untuk bisa tetap hidup. Tapi sekarang Hendra sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Angga, dan juga Alya yang sudah mau membiayai mencarikan pendonor jantung untuk anaknya.


Di perjalanan pulang, Hendra yang duduk di jok belakang termenung sembari menunduk. Di depannya ada menantunya yang sibuk dengan kemudinya sedangkan di sampingnya ada Angga.


Alvaro dan Angga lah yang menjemput Hendra, sedangkan yang lain tengah menunggu di rumah sambil menyelesaikan tugas untuk menyambut kedatangan pria itu, seperti membereskan rumah dan memasak.


"Angga," panggil Hendra.


Pria itu menoleh, yang tadinya sibuk mengirim pesan dengan istrinya, kini beralih menatap Hendra.


"Ada apa?"


Hendra bingung harus di mulai dari mana, banyak kata yang ingin dia sampaikan.


Alvaro melirik sejenak lewat spion tengah, memandang sembari mengerutkan kening. "Ayah, kalau mau ada yang di omongin. Omongin aja kita nggak apa-apa," ujar Al yang paham dengan keadaan mertuanya.


"Ak_aku nggak tau harus mulai dari mana, yang jelas aku benar-benar minta maaf. Mungkin kesalahan aku tidak patut di maafkan, kesalahan aku terlalu banyak."


"Dari awal kita bertemu aku selalu berniat buruk sama kamu Ngga," menunduk dalam Hendra mengucap dengan pelan, dari nada pun bisa di dengar rasa penyesalannya.


"Kamu berhak jika tidak ingin memaafkan aku, aku sangat sadar diri bahwa aku memang orang jahat. Bahkan aku malu kalian mengeluarkan aku dari dalam penjara, seharusnya biarkan aku hidup di sana selamanya, sampai Allah mengambil nyawaku."


"Dan membiarkan anakmu sedih!" hardik Angga.


"Aku ngelakuin ini bukan karena kamu sepenuhnya, tapi karena Jingga. Sudah berapa kali aku tegaskan kalau aku terlalu sayang sama anak kamu, Jingga selalu berdoa supaya kamu segera bebas dan selalu baik-baik aja." tutur Angga menatap Hendra begitu dalam.


"Jingga begitu sayang sama kamu, apa aku tega membiarkan Jingga sedih, aku tau kesalahan kamu tidak patut untuk di maafkan, aku juga masih tidak terima saat kamu mencelakai anakmu yaitu Dinar, menantuku yang tengah mengandung cucu pertamaku."


Alvaro hanya diam, ia sesekali melirik Hendra yang ternyata sudah menitikkan air mata.


"Aku cuma minta satu hal sama kamu Ndra! tolong lakukan apapun demi Jingga, turutin apa yang dia minta. Termasuk tinggal di rumah itu, jangan sampai kamu buat Jingga sedih." pinta Angga yang langsung mendapat anggukan dari Hendra tanpa ragu.


"Dan satu lagi. Jangan pernah menyakiti hati mantuku, biar bagaimanapun dia juga anakmu. Walaupun dia bukan putrimu, paling tidak terima dia bagian dari keluargamu."


Hendra menangis tergugu, ia mengusap wajahnya. Hendra telah menyesal telah menyia-nyiakan kedua putrinya, dia ingat betul bagaimana perhatiannya Dinar kepadanya, meskipun ia tak pernah membalas kebaikan Dinar, tapi dengan tulus Dinar terus memperhatikannya.


...***...


"Kak kok mereka lama ya?" kata Jingga kepada Qilla dan Rani.


"Tunggu aja, pasti bentar lagi mereka sampai." saut Qilla.


Jingga saat ini berada di teras rumah, hati gadis itu berdebar kencang, ia degdegan akan bertemu dengan Ayahnya.


Gadis itu tersenyum tipis, ketika ingat terakhir kali bertemu Ayahnya, saat itu ia sedang bersama Dinar membuat kue, dan dirinya membantu menyusun kue itu di atas piring.


Dari situ ia tak pernah lagi bertemu, entah Ayahnya pulang tapi dirinya yang tidak tau, atau memang Ayahnya sudah tidak pernah pulang dan muncul lagi di hadapannya.


Meskipun begitu, Jingga sangat menyayangi orang tua satu-satunya itu, hanya Hendra yang dia punya selain Dinar.


"Kak, kira-kira aku sudah cantik belum?" tanyanya pada gadis kembar di hadapannya itu.


"Cantik kok, kamu ini mau ketemu orang tua, atau pacar? dandan cantik benar." kekeh Rani.


"Dua-duanya," jawab Jingga enteng.


"Hah! dua-duanya? maksudnya gimana tuh?" sambung Qilla.


"Orang tua sekaligus pacar. karena Ayah cinta pertama aku," ujar Jingga bibir pun tersenyum manis.


Qilla dan Rani tertawa cukup keras. "Bisa aja kamu, Ji. Tapi kalau di pikir-pikir katanya setiap anak cinta pertama ya orang tua," sambung Qilla.


"Ya setuju, orang tua adalah segalanya, bahkan melebihi rasa ke siapapun termasuk pacar."


"Halah_ sok-sokan ngomong pacar, kayak udah punya pacar aja." ledek Qilla pada Rani.


"Dih, siapa bilang belum punya pacar? aku sudah punya ya. Kalau nggak percaya, besok aku tunjukin di sekolah."


"Siapa yang punya pacar?" kedua gadis itu diam mematung, sedangkan Jingga menutup mulut menahan tawa, kasian Kakak-kakak ketahuan.


"Siapa yang punya pacar?" tanya ulang orang yang kini berdiri di belakang kedua gadis itu.


Perlahan Qilla dan Rani membalikkan tubuh bersama-sama, ia meringis saat Bundanya menatap tajam kearah mereka.


"Eh Bunda, sejak kapan di sini?" ujar Rani meringis takut.


"Bunda tanya sekali lagi. Siapa yang sudah punya pacar?!" ucap Alya lebih tegas lagi.


"Ehmm_ nggak kok Bunda, kita cuma temenan." jawab Rani menunduk tak berani memandang Bundanya.


"Rani! Bunda nggak pernah ngelarang kamu dekat dengan siapapun, atau berteman dengan siapa. Yang Bunda mau, kamu harus fokus dalam belajar." jeda sejenak Alya lebih dengan putrinya.


"Fokus sekolah, karena kalian ini masih kecil nggak boleh ngomongin pacaran! tugas kalian belajar. Ngerti?!"


"Iya Bunda Maafin Rani, Rani tadi nggak bohong Bunda, aku memang dekat sama cowok-cowok. Tapi jujur nggak sampai pacaran." jawab Rani jujur, karena memang kenyataannya seperti itu.


Tadi dia mengatakan hal tadi, hanya untuk mengerjai saudaranya, ia tidak tau kalau ternyata Bundanya sudah berdiri di belakangnya.


Cowok-cowok memang banyak, yang berusaha mendekatinya, tapi selama ini Rani tak pernah merespon apapun yang dilakukan para cowok di sekolah selalu dia abaikan.


"Bagus! awas aja kalau suatu saat Bunda tau kalian pacaran, Bunda hukum!" Alya memang seperti itu, dia tak mau kedua putrinya terlalu dekat dengan anak laki-laki, karena ia tak mau kedua putri kembarnya itu dalam bahaya.


Jingga menoleh saat suara mesin mobil mendekat, detak jantungnya kian berdebar.


Senyum merekah kala Jingga melihat pria turun dari dalam mobil. "AYAH!!"


...***...