
...~•~...
Hari ini Dinar bangun lebih awal, di saat yang lain masih terlelap, ia justru sudah mengerjakan pekerjaan rumah, dan saat ini Dinar tengah memasak.
Dia mendapatkan kabar, jika hari libur ini keluar besar Ayah Angga akan datang, dan Dinar ingin membantu Bunda Alya memasak.
Dia tidak ingin mertuanya itu sakit. Tapi dia pun tak bisa memasak semua daftar menu yang akan di hidangkan Bunda Alya di acara kumpul keluarga nanti.
Dinar takut lancang dan salah, apalagi ada beberapa menu yang dia tak mengerti dan tidak tahu caranya membuat.
"Dinar?" Perempuan itu tersentak saat seseorang di belakangnya memanggilnya.
"Kamu ngapain?" dia adalah Bunda Alya yang baru bangun.
Dinar mengulum senyum hangat, menyapa sang mertua. "Dinar mau bantu Bunda Alya, kata Al kan. Hari ini keluarga besar mau datang," Bunda Alya tak merespon, beliau diam menatap masakan Dinar yang sudah hampir matang.
"Bunda. Maaf kalau seandainya Dinar lancang, Dinar cuma mau bantu Bunda." Dinar menunduk begitu dalam. Dia takut salah, sangking gugupnya ia mengigit bibir bawahnya.
Melihat reaksi wajah yang di berikan mertuanya, Dinar yakin jika Bunda Alya marah.
"Nggak masalah, Bunda yang harusnya ngucapin terima kasih." jawabnya datar.
"Yang lain biar Bunda yang urus, Kamu bantu Mba Leli siapin piring-piringnya. Sama nanti kamu yang buat puding dan cemilan," perintah Bunda Alya pada Dinar.
Dinar menganguk kuat, ia sedikit senang kalau Bunda Alya tidak marah padanya, namun melihat perubahan sikap dan. tatapan Bunda. Membuat hatinya sesak.
"Bunda," panggil Dinar di saat mertuanya itu ingin pergi.
Bunda Alya menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Dinar. "Bunda marah sama Dinar?" beliau mengerutkan sejenak.
"Dinar sama sekali nggak ada niatan untuk bujuk Al pindah dari sini, semua ide Al sendiri. Dinar cuma ikut apa yang Alvaro mau," diam sejenak Dinar maju mendekati Bunda Alya.
"Kalau selama ini ada yang Bunda nggak suka dari Dinar. Dinar minta maaf, Dinar harap mulai sekarang. Bunda ngomong aja apa yang nggak Bunda suka dari Dinar,"
"Dinar juga mau menjadi menantu yang di sayang sama mertuanya. Jujur Dinar sayang sama Bunda, tolong jangan benci aku. Lebih baik Bunda utarakan apa yang nggak Bunda suka," ucap Dinar serak. Pipinya sudah basah oleh air mata, begitu pun Bunda Alya.
Beliau mengusap air matanya dengan kasar, menatap Dinar lekat. "Bunda bukan benci kamu, tapi kadang Bunda belum percaya kalau anak Bunda sudah menikah di saat ia masih seorang pelajar."
"Itu yang kadang bikin Bunda sedih, Bunda merasa. Telah gagal menjadi orang tua, karena membiarkan anaknya nikah sejak dini. Bunda belum sanggup melihat Alvaro menanggung beban hidup sebagai kepala keluarga."
"Bunda pernah diam-diam menyalahkan kamu, yang telah hadir di hidup Alvaro. Seandainya kalian nggak bertemu dan satu sekolah, Al masih menjadi, Alvaro anak remaja pada umumnya, yang menghabiskan waktu bersama teman-temannya."
"Maaf," ucap Dinar parau, ia menunduk tak berani menatap mertuanya.
"Tapi Bunda sadar, kalian memang sudah di takdirkan Allah untuk bersama, Bunda nggak bisa mencegah, melarang ataupun menolak."
"Bunda selalu memperhatikan Alvaro saat bersama kamu, dan Bunda bisa melihat dengan jelas, jika Al begitu bahagia di saat bersamamu."
Menarik napas sejenak Bunda menatap Dinar intens, meskipun perempuan itu sedang menunduk. "Tolong selalu bahagiakan anak Bunda, kebahagiaan Alvaro adalah kebahagiaan Bunda, kamu sudah pernah Bunda ceritakan, gimana Al kecil kan? pasti kamu mengerti apa yang Bunda maksud," katanya.
Memberanikan diri Dinar mendongak, membalas tatapan Bunda Alya dengan lembut dan juga senyuman. "Iya Bunda, Dinar janji."
Dinar bisa tersenyum lega jika begini, yang terpenting dia sudah tau, apa yang. Membuat Bunda Alya sedikit tidak suka kepadanya.
...***...
"Sayang, kamu kok masih rebahan sih?" Dinar berkecak pinggang menatap Alvaro yang masih tidur tiduran di atas kasur.
Padahal sebentar lagi keluarga Ayah Angga akan datang. "Males ah, nanti aja aku nyusul." Dinar berdecak kesal, menghampiri Alvaro.
"Belum mau ketemu Bunda, pasti Bunda marah kan."
"Siapa bilang?" Al menjauhkan tubuhnya, menatap Dinar sambil mengerutkan kening.
"Bunda nggak marah?" Dinar menggeleng memperlihatkan senyuman manisnya.
"Kok bisa?" Dinar terkekeh.
"Bisalah. Justru tadi aku masak bareng sama Bunda," Al tersenyum lebar lalu memeluk Dinar erat.
"Istri aku memang hebat. Makin cinta aku," pujinya mencium seluruh wajah Dinar dengan gemas.
Dinar terkekeh geli, hanya memejamkan matanya mendapatkan hujaman ciuman di wajah. keduanya senang.
Alvaro sangat senang, jika Ibunya bisa akur bersama istrinya, sebab. Jika Al di suruh pilih, mana yang paling dia sayang.
Al tak bisa memilih, kedua wanita itu, sangat berarti untuknya. Dia begitu mencintai Bunda Alya dan Dinar.
Setibanya keluarga besar Ayah Angga, semua berkumpul di ruang tamu, saling mengobrol dan bercanda, Dinar senang.
Di saat berkumpul seperti ini, mereka bisa menerimanya bersama Jingga. Keluarga Ayah Angga begitu baik baik, semuanya tak pernah membahas soal keluarga Dinar.
Bahkan ada anggota keluarga yang baru bertemu, bisa langsung akrab dan bisa di ajak bicara.
"Hmm. enak banget kuenya." saut salah satu Tante yang bernama Tante Della.
"Iya, enak kamu yang buat Al?" tanya nenek Alvaro kepada Bunda Alya.
"Bukan, Ma. tapi mantu aku," jawab Bunda.
"Wah_ kamu pintar masak?" tanya Tante Della.
"Sedikit bisa Tante, aku di ajarin Bunda juga." jawab Dinar, menoleh pada Bunda Alya yang tersenyum tipis kepadanya.
"Kapan kalian kasih Nenek Cicit?" Dinar sedikit membulatkan matanya.
"Mereka bentar lagi lulus Ma, sabar aja. Biarkan mereka fokus dengan ujiannya,"
"Memangnya kenapa kalau Dinar hamil di saat masih sekolah? toh. Mau sekarang atau nanti sama saja," kata Nenek Al yang tak setuju dengan jawaban Bunda Alya.
"Memangnya kamu belum siap punya anak?"
"Dinar inshaallah sudah siap Nek, tapi apa yang di katakan Bunda benar, nanti takutnya kalau Dinar hamil sekarang, nggak bisa fokus siapin ujiannya. Biarin Dinar sama Al fokus dulu untuk ujian. Baru nanti terserah sama Allah kapan di kasihnya." jawab Dinar membela sang mertua.
Nenek Al menghela napas, namun mengangguk setuju.
Jam makan siang telah tiba, semua sudah berkumpul di meja makan. "Ini kamu semua yang masak Al?" tanya Nenek Alvaro.
"Sebagian Dinar yang masak Ma." Nenek Al mengangguk lalu mulai mencicipi masakan yang Dinar buat.
"Enak," Dinar bernapas lega, mengucap syukur dalam hati, ia sudah takut jika masakannya tak sesuai kesukaan Nenek mertuanya.
...***...
...TBC...