Alvaro

Alvaro
Bab 86. Hamil



...~•~...


Sudah hampir sepuluh menit dokter putra memeriksa Dinar yang belum sadarkan diri, Alvaro di sampingnya tak ingin beranjak.


Ia terus merapalkan doa dan menggenggam tangan Dinar erat. "Gimana Om? apa perlu di bawa kerumah sakit?" tanya Al tak sabar.


Dokter muda dengan lesung pipi sebelah kiri itu hanya tersenyum. "Nggak usah khawatir, istri kamu baik-baik aja." jawabnya sambil memasukan peralatan kedokteran nya kedalam tas.


"Kalau baik-baik aja, kenapa sampai sekarang Dinar belum sadar juga." nada Alvaro sedikit meninggi, ia kesal pada dokter pribadi keluarganya ini.


Yang terlihat begitu tenang, padahal dia sudah sangat khawatir pada istrinya. "Sabar Nak, dengerin dulu penjelasan Om Putra," tegur Ayah Angga.


"Nggak apa-apa Ngga_ namanya juga suami. pasti khawatir sama istrinya," saut Putra dengan tersenyum kearah Al.


"Maaf Om," saut Al pelan, ia menunduk memperhatikan wajah pucat Dinar.


"Istri kamu baik-baik aja, sepertinya dia sedang mengandung." ucap Putra tenang.


Kedua orang tua Alvaro sangat terkejut, Bunda Alya sampai menutup mulutnya lalu memeluk Ayah Angga erat, beliau begitu senang ingin mempunyai cucu.


"Ap_apa Om?" tanya Al putus putus.


Om Putra memberi senyum hangat, mengusap pundak Al. "Ya Alvaro, bentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah, Dinar tengah mengandung sekitar dua minggu. Tapi, untuk memastikan. Kamu ajak Dinar periksa ke rumah sakit,"


Alvaro tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bibir cowok tampan itu berkedut, matanya memerah menahan tangis haru, ia tak menyangka akan menjadi seorang Ayah.


Al mencium tangan Dinar yang masih ia genggam, lalu mencium seluruh wajah istrinya.


Ayah Angga dan Bunda Alya mengajak Dokter Putra keluar dari kamar Alvaro, biarkan pasangan muda itu merasakan kebahagiaan nya.


Karena Al tak henti mencium wajah Dinar, perempuan itu mengerjapkan matanya, menatap Al kaget saat melihat ada air di pelupuk matanya.


"Sayang_" panggil Dinar pelan, tangan lentiknya mengusap pipi Alvaro.


"Hmm?"


"Kamu kenapa nangis?" Al meraih tangan Dinar yang berada di pipinya, ia cium lagi tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Aku tadi pingsan ya?"


"Iya sayang, kamu bikin aku khawatir."


"Aku kenapa Al? kenapa aku tiba-tiba pusing?" jeda sejenak. "Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu kenapa nangis? Aku nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Dinar beruntun.


"Kamu nggak kenapa-kenapa sayang, kamu sehat. Cuma sekarang kamu harus jaga kesehatan, karena_" Al diam beberapa detik sambil mengulum senyum, Dinar sudah tidak sabar menunggu jawaban Al.


Ia meremas kaos Alvaro. "Di dalam sini," tunjuk Al pada perut rata Dinar.


"Ada calon anak kita," ucapnya setengah berbisik.


Dinar tidak merespon, ia terdiam untuk sesaat. Wanita itu sedang mencerna ucapan suaminya. "Aku_ Aku hamil?" Alvaro mengangguk tanpa melunturkan senyumannya.


"Iya sayang, sebentar lagi kita akan jadi orang tua." Dinar tersenyum haru, ia pun memeluk Alvaro erat.


Menyembunyikan wajahnya di ceruk pria tampan itu. Dinar pun tak kalah bahagia, di umur yang bisa di bilang masih muda. Dia sudah akan menjadi seorang Ibu.


Dinar menarik tubuhnya, mereka saling pandang dengan jarak begitu dekat, bahkan kening mereka saling menempel. "Bentar lagi kita punya anak?" tanya Dinar seolah memastikan.


Alvaro mengangguk tanpa menjauhkan wajahnya. "Aku senang Al, Kita mau punya anak."


"Sama sayang, ini anugerah dari Allah." kini giliran Dinar yang mengangguk.


Al menarik sudut bibirnya, ia pun mencium bibir Dinar. Pelan dan begitu lembut. Mengutarakan perasaan bahagianya lewat sentuhan dari bibirnya.


...***...


"Makan dulu sayang, habis ini minum obat." Alvaro duduk di tepi kasur, mengaduk aduk bubur ayam tersebut.


"Kok ngelamun? mikirin apa?" Dinar tersentak, ia menerima suapan dari suaminya.


"Nggak ada," bohongnya, dan Al tau jika Dinar tengah berbohong.


"Kata Om Putra, Ibu hamil nggak boleh banyak pikiran."


"Sekarang, kalau ada sesuatu yang di pikirin. Ngomong ke aku," lanjut Al sambil terus menyuapi Dinar.


Wanita itu menghela napas, kepalanya menunduk menatap jari jarinya. "Aku cuma lagi mikir, kalau aku hamil. Sekolah aku gimana?"


"Jangan khawatir, Ujian tinggal itungan minggu, nggak sampai perutnya besar, inshaallah kita sudah lulus." perlahan Dinar mendongak menatap mata hitam bulat milik Al.


"Kalau mereka tau aku hamil gimana?" Al terkekeh pelan, mengacak rambut Dinar dengan gemas.


"Nanti biar aku yang jelasin ke mereka, kalau kita ini sudah menikah. Lagian kita nggak ngelakuin kesalahan,"


Dinar tersenyum, ia mengangguk beberapa kali. "Seharusnya aku jangan mikir yang nggak-nggak, toh aku hamil ada bapaknya." sontak Alvaro terbahak kencang, sungguh kenapa Dinar menggemaskan begini di mata Al.


Sangking gemas nya, ia mencubit kedua pipi tembem istrinya. "Aww! sakit!" pekik Dinar marah melirik Al sinis.


"Hehe_ habisnya. Kamu gemesin banget sih, makin cinta aku."


"Apaan sih Al_" Dinar memalingkan wajah, pipinya berubah merah.


"Yuk lanjut makan nya, biar dedek sama Mamanya sehat." Dinar mengulum senyum manis, mendengar kata kata Alvaro, hatinya sangat membuncah bahagia.


Apalagi melihat wajah berseri dari Alvaro, tambah membuatnya bahagia.


Keesokan harinya, Alvaro meminta izin pada guru untuk Dinar, pagi tadi usai sholat shubuh. Wanita itu mengalami morning sickness.


Semua isi dalam perutnya telah ia keluarkan, sampai tidak ada lagi yang bisa keluar, Dinar masih mual.


Membuat tubuhnya sangat lemas, tak berdaya. Alvaro membopong tubuh Dinar yang terlihat sudah tidak sanggup berjalan.


Cowok itu sampai tidak tega melihat Dinar seperti itu, apalagi Bundanya mengatakan jika hal itu wajar dan bisa di alami terus sampai beberapa minggu.


Bolehkah dan bisakah, jika dirinya saja yang mengalami itu, dia tak sanggup melihatnya.


"Gimana sayang masih mual?" Dinar menggeleng pelan.


Mata sayu nya memandang Al sejenak, sebelum akhirnya ia memejamkan nya lagi. "Sudah siang Al, kamu harus pergi ke sekolah." ujarnya parau lemas, dan terdengar pelan.


"Gimana aku bisa pergi, kalau kamu kayak gini," Dinar tersenyum tipis tanpa membuka matanya, sebab. Ketika ia membuka mata, maka kepalanya akan terasa sakit dan berputar.


"Aku nggak apa-apa sayang, ada Bunda. Ada Mba Leli juga,"


"Tetap aja aku nggak tenang,"


"Kamu nggak boleh bolos juga, nanti nilai kamu jelek." lanjut Dinar.


"Apa yang di katakan Dinar benar Al, pergi gih, biar Bunda yang jaga Dinar." saut Bunda Alya yang masuk kedalam kamar, sambil membawa teh hangat untuk sang mantu.


Alvaro menatap Dinar sambil berpikir, jika pergi. Dia tidak tenang, tapi jika tidak pergi. Yang ada ia ketinggalan pelajaran.


Akhirnya, setelah mendengar bujukan dari Dinar. Al pun pergi kesekolah dengan perasaan berat.


Namun sebelum pergi, Al berpesan pada Bundanya jika terjadi sesuatu pada Dinar, harus langsung menghubunginya.


...***...