Alvaro

Alvaro
Bab 77. Memaafkan



...~•~...


Hari weekend ini keluarga Airlangga tengah berkumpul bersama, di taman belakang untuk membantu Bunda Alya mengurus tanaman bunganya.


Semua sudah di beri tugas oleh Bunda, mulai dari Ayah Angga yang mendapatkan tugas menanam bibit baru, di bagian yang masih kosong.


Sedangkan Alvaro mencabut dan memotong daun daun kering dan ranting ranting yang sudah kering. sementara Dinar Bunda berikan tugas untuk menyiram tanaman dengan selang air.


"Alvaro!!" pekik Bunda Alya saat melihat putranya itu malah memotongi daun yang masih segar, tentu saja Bunda marah. bukannya subur yang ada justru mati.


"Kenapa di potong yang hijau! Bunda minta yang kering yang di potong. Bukan yang kayak gini!" Alvaro meringis saja, ia tidak sengaja dan kurang berhati hati.


"Udah kamu sana, bukanya bantu. Malah ngerusak tanaman Bunda," omel Bunda Alya, mendorong tubuh anaknya agar pergi.


"Ya udah yuk sayang, kita pacaran aja." Alvaro meraih tangan Dinar mau mengajak sang istri masuk kedalam rumah.


"Et! berani kamu bawa mantu Bunda masuk. Bunda nggak akan mau buatin masakan kesukaan kamu nanti siang." ancam Bunda Alya, yang sukses membuat Alvaro tak berani melawan.


Sebab, hari ini Al ingin makanan buatan sang Bunda, setelah menikah. Bundanya jarang sekali masak. Karena tugas itu sudah di ambil alih oleh mbak Leli.


Kadang, Dinar pun juga sering yang memasak, Alvaro bukannya tidak suka dan tidak mau masakan istrinya, namun kadang ia rindu masakan Bundanya, wanita pertama yang dia cintai.


"Kalau mau masuk, masuk sendiri aja. Sana!" usir Bunda lagi.


Alvaro mendengus lalu masuk kedalam rumah, tidak lupa dengan gerutuan dari mulutnya, Dinar yang sempat mendengar ucapan Al, menjadi tertawa hingga ia geleng geleng kepala.


Al memilih kedepan rumah, bertemu Mang Asep, tukang bersih bersih kebun bagian halaman depan.


Ia tampak bingung sendiri, berkecak pinggang, Al berpikir mau melakukan apa. "Ck. giliran libur bingung mau ngapain_" mengacak rambut, cowok itu duduk di tangga teras depan rumah.


"Nyatai Den?" sapa Pak Jamal, satpam rumahnya.


"Hooh ini Pak, bingung mau ngapain, tadi bantuin Bunda. Malah kena omel," curhatnya.


Pak Jamal terkekeh dan hanya mengangguk angguk saja. "Itu Bapak mau ngapain?" tanya Al heran, melihat Pak Jamal membawa ember dan gayung.


"Oh ini," katanya mengangkat barang yang dia bawa. "Tadi saya habis nyuci motor Den, biasalah. Nggak sempat kalau di rumah," jawabnya.


Usai mendengar jawaban Pak Jamal, Alvaro berdiri. Mengambil barang barang yang satpam itu bawa.


"Sini Pak,"


"Lho-lho, buat apa Den?"


"Saya mau cuci motor juga, mumpung saya libur." katanya, bersemangat ingin mencuci motor sport kesayangannya.


"Oalah Den, sini biar saya yang cucikan." tawar Pak Jamal.


Tentu saja Alvaro menolak, ia kan juga ingin memiliki kegiatan di hari minggu. "Nggak usah Pak, biar saya aja. Lagian saya mau cuci motor saya sendiri, nggak boleh yang lain."


"Kenapa Den? takut lecet." kata Pak Jamal berniat menggoda anak majikannya itu.


"Wah! nggak lah Pak, saya mana pernah berpikir seperti itu. Hari ini memang lagi pengin aja."


Pak Jamal mengulum senyum sopan, Alvaro memang beda dari anak majikan yang lain, dulu sebelum kerja di keluarga Airlangga, beliau kerja di salah satu keluarga sombong, jangan kan mengajak ngobrol.


Di sapa pun tidak ada yang menyaut, ataupun menjawab ucapan sapaannya.


...***...


Al mulai menyemprotkan air, lalu menyabuni seluruh body motornya. "Al_" panggil seseorang di belakangnya.


Alvaro menoleh, dan kini di depannya ada Amanda yang baru turun dari taksi. Sangking asyiknya mencuci motor, dia sampai tidak dengar ada mobil yang datang.


Amanda perlahan mendekati Al, wajahnya terlihat biasa saja, sudah lebih baik dan segar.


Senyum di bibirnya pun selalu terlihat, Al menghela napas. Ia mematikan kran air. "Kamu sibuk?" tanyanya.


"Kalau nggak, aku pengin ngomong sesuatu sama kamu."


"Ya udah, kalau mau ngomong silahkan. Di sini aja," putus Al.


Amanda tersenyum kecut, namun tetap mengangguk. Manda menghirup udara sebanyak mungkin, lalu di buangnya begitu pelan. "Pertama, aku minta maaf. Aku baru sadar, kelakuan aku berlebihan. Sebenarnya kalau boleh jujur, kemarin aku cuma pura-pura pingsan," ucap Amanda memelankan suaranya di kata terakhir.


Al mendelik, menatap gadis itu tajam. "Maksud lo apa kayak gitu?" Amanda mendongak, memberanikan diri membalas tatapan tajam Alvaro.


"Aku pikir, dengan aku ngelakuin itu, aku bisa dapatin kamu." Al tersenyum miring, tidak habis mikir dengan jalan pikir Amanda.


"Tapi nyatanya?" jeda sejenak. "Aku nggak dapat apa-apa,"


"Itu lo sadar, gue nggak akan kayak gini. Kalau nggak lo dulu yang mulai, jujur Man. Gue kangen Amanda yang dulu." Amanda sudah terisak, kepalanya menunduk lagi, ia kalah pada tatapan kemarahan dari Alvaro.


"Kamu masih mau jadi sahabat aku kan?" tanya Amanda sangat berharap.


"Mau-mau aja, asal lo bisa menerima Dinar sebagai istri gue. Dan baik sama Dia."


Cukup lama gadis itu diam, seperti sedang berpikir. "A_aku pasti bisa berteman sama Dinar," Alvaro ******* bibirnya, masih tidak percaya dengan ucapan manis dari sahabat kecilnya.


"Tapi apa Dinar mau berteman sama aku?"


"Hati Dinar bukan pendendam, dia bisa berteman dengan siapapun. termasuk sama lo,"


"Oke, aku mau berteman bahkan bersahabat sama istri kamu."


"Nggak yakin gue," Amanda meraih tangan Alvaro yang ingin melanjutkan memandikan motornya.


"Aku harus apa? supaya kamu percaya, kalau aku akan berusaha berteman dengan Dinar." Al segera menarik tangannya. Ia tak ingin ada yang salah paham.


"Gue nggak pernah percaya sama lo! janji lo selalu omong kosong doang." Amanda terdiam, ia semakin menunduk merasa sangat sedih.


"Sayang_" teriak Dinar dari dalam.


Perempuan itu berlari keluar dari dalam rumah, ingin menyusul Alvaro yang sedang mencuci motor, namun ketika melihat suaminya tidak sendiri ia memelankan langkah kakinya.


"Amanda_" gumam Dinar.


Amanda berlari kearah Dinar, dan tanpa di duga. Gadis itu memeluk Dinar erat dan menangis tersedu. "Maafin aku Dinar, aku baru sadar. Selama ini aku salah, Kamu benar cinta nggak harus memiliki." katanya di sela tangisnya.


Dinar mengerutkan kening, menatap Alvaro, suaminya itu hanya menaikan bahunya dan memilih mengurus motornya.


Amanda melepas pelukannya, menatap Dinar lekat. "Dinar, kamu mau kan maafin aku?" Dinar mengangguk meskipun dia pun masih bingung, kenapa tiba tiba gadis itu berubah baik.


"Aku ingin berteman sama kamu, seperti aku dan Alvaro yang sudah bersahabat dengan dia dari kecil."


Lagi. Dinar hanya menganguk. Senyum cerah terpancar dari wajah Amanda, ia senang jika Dinar sudah mau memaafkannya.


...***...