
...~•~...
"Al_" panggil gadis bernama Amanda yang datang menghampiri Al dan Dinar.
"Boleh aku gabung?" Alvaro mengangguk meskipun terlihat malas.
"Ternyata, kamu sudah di ibu kota. Tapi seleranya masih suka makan, makanan itu ya." kekeh gadis itu, Alvaro lagi lagi hanya merespon dengan tersenyum tipis, bahkan cowok itu sering melirik Dinar yang sama sama kurang nyaman.
Dinar merasa canggung dan tidak suka, jika ada perempuan lain yang langsung akrab dengan suaminya.
"Al, aku punya kabar baik buat kamu."
Alvaro mengerutkan kening menatap gadis itu. "Aku bakal tinggal di sini. Aku ikut Papa pindah kota." soraknya kesenangan.
"Selamat," kata Al singkat.
Amanda lesu ketika respon Alvaro hanya begitu saja, bahkan terlihat biasa saja dan tidak suka, padahal ekspetasinya Al akan senang lalu memeluknya.
"Kamu nggak senang?" tanya Amanda menatap sendu pada Al.
"Hah? Gue? senang_" jawabnya namun tidak membuat gadis itu puas.
Amanda melirik Dinar, pasti karena ada dia. pikir Amanda menatap tak suka pada gadis di samping Alvaro.
"Aku pengin jalan-jalan di temani sama kamu, mau ya Al." mohon Amanda.
Dinar mendongak memperhatikan Amanda yang begitu memohon pada Al. "Gue nggak bisa janji," Amanda terlihat sedih.
Mengaduk aduk makanannya, hingga seseorang yang datang kembalikan senyum gadis itu. "Bunda_" pekik Amanda melihat kedatangan Bunda Alya bersama seorang wanita seumuran Bunda Alya.
"Hai sayang, apa kabar? Bunda kangen banget sama Kamu_" Bunda memeluk hangat Amanda, dan juga mencium kedua pipi gadis itu.
"Amanda juga kangen_ tapi Bunda tenang aja. Aku sekarang tinggal di sini, jadi kita akan sering ketemu." katanya begitu ceria.
"Oh iya? Beneran Mba?" tanya Bunda kepada wanita di samping Bunda.
"Iya, Mas Damar pindah ke sini. jadi kami ikut,"
"Ma_ aku boleh kan sering nginap di rumah Bunda." wanita itu ternyata adalah Mama dari Amanda, beliau mengusap kelapa putrinya dengan sayang yang masih di dekapan Bunda Alya.
"Itu tergantung sama Bunda Alya, boleh atau nggak?"
Bunda Alya tersenyum tipis, ia memandang kearah putra dan menantunya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.
"Bo_boleh." Bunda sedikit ragu, sebab. jika Amanda datang kerumah dan menginap, itu berarti dia akan melihat Dinar berada di rumahnya.
Amanda terlihat begitu senang, ia semakin memeluk Bunda Alya. Dinar melihat itu hatinya terasa sesak, entah dia iri atau apa.
Namun ketika melihat keakraban antara Bunda dan gadis itu, pertanda jika mereka sangat dekat.
Napsu makan Dinar turun, Ia sudah tidak ingin makan lagi, saat ini yang dia mau hanya masuk kedalam kamar dan beristirahat.
Sadar akan perubahan di wajah istrinya, Al meraih tangan Dinar meremas, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
Dinar menoleh, melihat Al sedang tersenyum kepadanya sambil mengangguk pelan, memberi isyarat jika semua akan baik baik saja.
Wanita itu membalas tersenyum begitu tipis, ia lebih memilih menunduk dari pada melihat kedekatan keluarga Alvaro bersama keluarga gadis itu.
Dia ingin Al nanti bercerita, siapa sebenarnya ada hubungan apa antara Alvaro dan Amanda.
...***...
Dinar mulai lelah, tapi acara belum selesai. Matanya sudah terasa berat, ingin segera berbaring di atas kasur lalu tidur.
"Sayang," panggil Al, di belakang cowok itu ada sekitar dua orang mengikutinya.
"Ada yang mau kenalan," bisiknya.
Dinar berdiri, menyambut kedua orang tersebut. "Masyaallah, ayu tenan calon bojomu." kata salah satu laki laki menggunakan batik berwarna coklat.
"Bahasa indonesia, please," kata Al yang mengerti kebingungan istrinya.
Temannya tersenyum lebar memperlihatkan giginya, lalu men
Dinar mengerutkan kening. "Ngarit apa itu?" tanyanya pada Al.
"Ngarit cari rumput, buat makan kambing atau sapi " jelas Al lembut pada Dinar.
Dinar membulatkan mulutnya, ia baru mengetahui bahasa itu. "Maaf nggak tau,"Dinar membalas uluran tangan laki laki itu, di susul temannya yang di sampingnya bernama Agung.
"Yo ora popo, Eh. maaf, iya nggak apa-apa maksudnya." kekehnya.
Alvaro menghela napas, menggaruk keningnya yang tak gatal, Kadang teman temannya ini cukup membuatnya sakit kepala.
Sifat mereka random dan sulit di tebak.
"Nanti kalau kalian nikah, jangan lupa undangannya. nanti kita tak datang lagi," mendok Agung memandang Al dan Dinar.
"Pasti, gue nggak mungkin, nggak ngundang kalian."
"Yo mesti tho, meskipun kita sudah beda kota. Pertemanan harus saling di jaga," saut Ahmad.
Usai mengobrol cukup lama, kedua teman Al yang berasal dari jawa itu pamit undur diri.
Saat tinggal berdua, Dinar duduk kembali di kursi. "Masih lama acaranya?" Alvaro menekuk lututnya di hadapan wanitanya.
"Ngantuk ya?" Dinar mengangguk membenarkan.
Cowok itu melirik jam di tangan, yang sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit, pantas saja Dinar sudah mengantuk.
"Iya udah, kita pamit duluan," Alvaro membantu Dinar berdiri, lalu menghampiri kedua orang tuanya yang masih asyik mengobrol dengan orang tua Amanda.
"Yah aku pamit dulu ya, udah malam. Dinar ngantuk,"
"Pamit?" beo Bu Lilis Mamanya Amanda.
"Iya maksudnya pamit nganter dia ke kamarnya, soalnya tadi belum tau di mana kamarnya." kata Al mencoba cari alasan.
"Harus kamu? kan bisa yang lain," Alvaro mengerutkan kening tidak suka, Mamanya Amanda seperti mengaturnya.
"Nggak apa-apa, Tante. sekalian Al mau kemar juga, sudah capek."
"Tante? kok kamu panggil Tante, biasanya juga Mama." Alvaro mengepalkan tangan, ia sudah lelah, malah di buat kesal oleh orang tua Amanda.
Tak ingin merespon lebih lanjut, Alvaro segera berpamitan ke Ayah dan Bundanya. dan segera membawa Dinar kembali ke kamar.
Dinar duduk di kursi meja rias, selesai berganti baju ia menghapus make upnya sambil menunggu suaminya yang masih di kamar mandi.
Tak kunjung selesai, Dinar lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas kasur, memandang pintu kamar mandi, dengan pikirannya melayang ke kejadian beberapa menit lalu.
Dia semakin penasaran, ketika Mama Amanda mengatakan jika biasanya, Al memanggilnya dengan sebutan Mama. bukan Tante.
Alvaro keluar dari kamar mandi, Dinar mengulum senyum ketika mereka temu pandang. "Belum tidur?" wanita itu menggeleng.
"Nungguin kamu," aku Dinar jujur.
Al terkekeh pelan, ia segera menaruh handuk di gantungan handuk, lalu menyusul istrinya ke atas tempat tidur. "Kenapa?" tanya Al sambil menarik tubuh Dinar untuk ia peluk.
Dinar membalas pelukkan Alvaro, melingkarkan tangannya di perut suaminya, bersandar nyaman di dada bidang di sana.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyanya, ia mendongak menatap dagu lancip cowok itu.
"Tentang Amanda?" kata Al yang sangat tau, isi pikiran Dinar.
"Hmm?" jawabnya.
Alvaro menunduk, memberikan kecupan singkat di kening. "Aku janji besok akan cerita semuanya, tapi sekarang kita tidur dulu. Aku capek," Dinar menghela napas kecewa, namun tetep mengangguk membiarkan Alvaro terlelap lebih dulu.
Dinar menjadi tidak sabar untuk besok, agar rasa penasarannya segera terobati, dan dia siap mengetahui apapun hubungan Amanda dan Alvaro nanti.
Walaupun mungkin nanti dia akan sakit hati, terlepas dari apapun hubungannya, tak akan merubah statusnya sebagai istri dari seorang Alvaro.
...***...