Alvaro

Alvaro
Bab 106. Rencana



...****************...


"Serius!" pekik Heru dan Niko berbarengan.


Alvaro mengangguk lemah. "Awalnya gue juga nggak yakin, tapi setelah gue ingat. Dinar pernah nunjukin foto keluarganya, baru gue yakin."


Seketika dua cowok itu lemas, mereka duduk bersandar di badan kursi. Sementara Bastian masih terlihat santai meskipun tadi raut wajahnya sempat ikut terkejut.


"Apa motif orang ini ya?" saut Niko.


"Ada lagi masalahnya," sambung Al menyela ucapan Niko.


"Apa lagi."


"Dia juga, mantan nyokap gue." ujar Al santai.


"What the_!" hampir saja Niko mengumpat kasar, ia meraup wajahnya dengan kasar, pantas saja.


Alvaro bisa pusing memikirkan masalah ini, ternyata serumit benang kusut.


"Kalau gini. ada dua kemungkinan besar, kenapa orang ini mau nyelakain Dinar, yang pertama dendam sama Bunda lo, atau, dia punya masalah pribadi sama Dinar." ujar Heru.


Niko memandang Heru sekejap, lalu. "Setuju!" katanya sambil menjentikkan jari.


"Gue sepemikiran sama, Heru."


"Tapi tetap kita harus selidiki, jangan asal nuduh orang," sela Bastian.


"Terus, rencana Lo apa?"


"Rencananya gue mau mancing dia supaya keluar."


"Dengan cara?" Alvaro tersenyum misterius, lalu menceritakan rencana dia yang sudah tersusun rapi di kepalanya.


Tiba di rumah, Alvaro sudah di sambut raut wajah kusut dari Dinar, perempuan itu memanyunkan bibirnya sambil menatap Al sinis.


"Kenapa sayang? aku datang kok mukanya bete gitu?" Dinar menepis tangan Alvaro yang ingin menangkup wajahnya.


"Aku kesal sama kamu. sekarang aku perhatikan, kamu pulang nggak tepat waktu!" seru Dinar melipat tangannya di dada.


Alvaro terkekeh pelan. "Aku sama Niko, Heru, sama Bastian, mereka ngajak ngobrol, masa aku nolak."


"Oh jadi, kamu lebih milih sama mereka dari pada sama aku!" sungut wanita itu marah.


Alvaro jadi bingung sendiri, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bukan gitu, sayangku_" gemasnya mencoba memeluk sang istri, namun lagi lagi Dinar menolak.


"Tauah! kamu pilih kasih." Dinar membalikkan badan berniat meninggalkan Alvaro.


Tapi ia kalah cepat, Alvaro keburu memeluknya dari belakang, mencium ceruk leher jenjang wanitanya, hari ini Dinar mengikat rambutnya ke atas, memamerkan kulit putih mulusnya di hadapan sang suami.


"Kenapa istri aku tukang ngambek kan sih, sekarang?" bisiknya.


Dinar memejamkan matanya, merasakan geli akibat ulah Al, Dinar membalikkan badan. "Aku cuma pengin kamu cepat di rumah, semenjak aku hamil. rasanya pengin peluk kamu terus," ujar Dinar manja.


"Oke deh, besok aku janji. Pulang sekolah, nggak mampir kemana-kemana lagi, langsung pulang nemenin istri aku yang paling cantik, dan paling manja," Dinar mendongak mengalungkan tangannya di leher Alvaro.


"Kamu nggak suka aku manja?" katanya, sambil mengamati wajah tampan Al.


"Suka, malah aku pengin kamu manja terus. Karena makin gemesin." greget Alvaro mencium puncak hidung Dinar.


"Aku manjanya juga sama kamu kok, ini juga bukan keinginan aku." Alvaro mengangguk seraya tersenyum manis.


"Ya sayang, aku tau." balasnya begitu lembut.


"Mandi gih, tadi aku sudah siapin air hangat." titah Dinar, lalu melepaskan diri dari pelukan Alvaro.


Lelaki itu menurut, Al mulai melepas satu persatu kancing baju seragamnya, setelah itu mengambil handuk di gantungan handuk dekat pintu kamar mandi.


...***...


"Dinar!" teriak lagi bahkan lebih kencang.


Mendengar teriakkan dari anak majikannya, membuat Mba Leli lari tergopoh-gopoh mendatangi Alvaro.


"Ada apa Al." kata Mba Leli.


"Mba. lihat Dinar?" seketika Mba Leli bernapas sedikit lega.


sedangkan Alvaro masih berwajah tegang bercampur panik. "Oalah_ Mba kira ada apa. Dinar di ajak Bunda sama Ayah kamu, kerumah Kakek. Soalnya ada acara di sana,"


"Tadi, Dinar sudah bangunin kamu supaya ikut. Tapi ternyata, kamu lagi susah di bangunkan." kini barulah Alvaro bisa bernapas lega.


"Ya Mba, aku memang kurang enak badan."


"Mungkin ini efek kamu makan cabai banyak," kata Mba Leli di akhiri kekehan kecil.


Alvaro ikut tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Namanya juga nurutin Bumil, Mba." saut Al lagi.


"Kalau Dinar minta macam-macam, sabarin aja ya. Dulu Mba anak pertama juga gitu suka nyusahin suami, Suka dukanya menjadi orang tua ya itu, ketika hamil dan ketika nanti anaknya sudah lahir, tubuh dewasa. banyak pengalaman." sambung Mba Leli.


"Menyenangkan Mba, bisa punya istri yang ngidamnya aneh-aneh." timpal Al.


"Nah makanya itu, Mba salut sama kamu. Mungkin kalau cowok lain, sudah ngomel marah-marah kalau istrinya minta yang aneh-aneh, tapi kamu justru biasa aja." heran Mba Leli menatap Alvaro.


Lelaki itu tertawa kecil. "Mba bisa aja, kalau pun aku ngeluh juga nggak ada yang tau. Di depan Dinar aku selalu berusaha sabar Mba, aku nggak mau bikin dia sedih atau ngerasa bersalah." Mba Leli berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Sesayang itu ya kamu sama Dinar, Mba iri deh. andai suami Mba begitu," gerutunya.


"Jangan gitu Mba, setiap lelaki punya cara tersendiri, bagaimana dia mengutarakan perasaannya, entah lewat tindakan atau ucapan."


"Iya ya_ duh ngomong-ngomong kita kenapa jadi ngobrol ya." sontak Alvaro tertawa.


"Iya udah, Mba kebelakang dulu ya." pamit Mba Leli berlari kecil ke arah dapur.


Alvaro memutar tubuh untuk naik ke kamarnya kembali, ketika di satu tangga bawah, ia mendapat telepon.


Dan ternyata itu dari Dinar melakukan panggilan video call. "Assalamu'alaikum," salam Al lalu mengarahkan kameranya ke depan wajah.


"Wa'alaikumsalam," lesu Dinar di sembarang sana.


"Sayang, tadi kamu bangunin aku." Dinar hanya mengangguk.


"Kenapa?" tanya Al lembut.


"Bosen di sini, pengin pulang. Tapi kata Bunda nanti dulu," jawabannya bernada sedih.


"Mau aku jemput?" Dinar memanyunkan bibir sambil menggeleng.


"Jangan, tadi aku sudah bilang gitu ke Bunda, minta kamu jemput aku, tapi Bunda ngelarang karena bentar lagi paling balik."


"Iya udah, tunggu setengah jam lagi. Kalau Bunda sama Ayah nggak ngajak pulang juga, aku nanti jemput." kini wajahnya berbinar lalu mengangguk kuat.


"Itu di kamar aku ya?" Alvaro memperhatikan tempat Dinar berada.


Wanita itu menggeser tubuhnya dan berbaring. "Ya, sekarang aku di kamar kamu. Kepala aku pusing pengin rebahan," ujar Dinar parau.


Alvaro menjadi Khawatir, semenjak Dinar hamil memang wanita itu sering mengeluh pusing ketika malam tiba, biasanya dia akan memijat leher Dinar sampai pusingnya reda.


"Apa aku kesana aja ya." monolog Al dengan dirinya sendiri.


"Jangan dulu, nanti Bunda marah."


Alvaro berjalan masuk kedalam kamar, sambil terus mengarahkan ponselnya ke wajah, ia berdiri di jendela besar, sesekali melihat area depan rumahnya, siapa tau ada seseorang yang berdiri, yang tak lain adalah Hendra.


orang yang menjadi targetnya saat ini. Jika sekarang orang itu tidak muncul, Rencana yang sudah ia diskusikan, sudah semakin rapi tersusun, semoga saja berhasil.


...****************...