
...~β’~...
"Al, gimana ini. kalau sampai orang itu ngomong ke guru gimana? kita nggak tau orang itu siapa," panik Dinar mengigit bibirnya.
Dia takut orang itu mendengar apa saja yang dia obrolkan bersama Alvaro, jika sampai orang itu mendengar, itu berarti pernikahan mereka akan terbongkar.
Alvaro memegang pundak Dinar menenangkan hati istrinya yang terlalu panik. "Jangan khawatir, kalau sampai terjadi apa-apa, aku yang bakal tanggung jawab." Dinar mendesah menaruh kepalanya di dada Al.
Ia hanya takut jika orang-orang berpikir buruk tentang Alvaro, dia tak ingin membuat nama baik keluarga Airlangga tercoreng, karena putra satu-satunya menikahi gadis seperti dirinya, yang jelas-jelas jauh berbeda.
"Kita balik ke tenda ya," Dinar mendongak lalu mengangguk setuju.
Tiba di depan tenda, Alvaro menangkup pipi Dinar. "Istirahat, jangan pikirin soal yang tadi, oke." peringat Al.
Dinar menarik napas terlebih dahulu sebelum mengiyakan permintaan Alvaro. "Iya," jawabnya dengan tersenyum.
"Masuk," titahnya, sebelum masuk kedalam tenda Al memberikan kecupan ringan di kening Dinar.
Dinar mulai membuka kancing tendanya, sementara Alvaro masih setia menunggu di sana sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku.
Membalas lambaian tangan sang istri saat Dinar ingin menutup tendanya, ketika Dinar sudah benar-benar masuk dan menutup tendanya.
Raut wajah Alvaro berubah datar dan dingin, ia menoleh ke kiri dan kanan. Dengan langkah besar, Al menghampiri tempat yang terlihat sedang betdiri di balik pohon.
Saat sudah dekat Al samar-samar mendengar suara, tertawa kecil dari sana. "Rasain lo! Lihat apa yang_ EH!" belum selesai bicara orang itu terkejut.
Alvaro merampas ponsel dari si pemilik. "Al__" gumamnya ketakutan.
Al melihat layar ponsel tersebut, ia tersenyum miring saat apa yang dia lihat tadi benar, tanpa persetujuan dari sang pemilik, Alvaro menghapus semua foto yang di ambil oleh seorang gadis, yang tak lain adalah Geby.
"Kalau mau ngerusak hubungan orang. cara lo norak!" kata Al enteng sambil melempar ponsel milik Geby ke pemiliknya.
Cowok itu putar badan, siap pergi. Namun saat sudah satu langkah, ia berhenti dan berbalik badan menatap Geby tajam.
"Awas kalau sampai lo macam-macam, gue nggak tinggal diam!" ancamnya.
Geby diam terpaku, ia tak pernah melihat Alvaro seperti ini sebelumnya, terlihat jelas jika cowok itu sedang marah.
Tapi di sisi lain, Ia kesal karena tujuannya gagal kembali, dia tadi tidak sengaja melihat Alvaro dan Dinar tengah berjalan-jalan, akhirnya ia mencoba mengikuti kemana keduanya pergi, dan saat Alvaro membawa Dinar ke sebuah lapangan di atas bukit, Geby mengambil beberapa foto saat mereka sedang berciuman.
Geby sama sekali tidak mendengar apa yang mereka obrolkan, sebenarnya dia ingin tau. Namun karena jarak yang kurang dekat, membuatnya tak bisa mendengar apa-apa.
...***...
"Huh!" suara ******* dari mulut Dinar terdengar di dalam tenda gadis itu, ia sedang membuang dan menarik napasnya, Dinar merasa gugup, ia takut tentang kejadian semalam.
Ia belum siap jika nanti ketika dia membuka tendanya ibu, semua pada murid dan guru menghakiminya.
Srek!
Suara kancing terdengar terbuka dari luar, Dinar terminis saat Alvaro muncul. "Kenapa belum keluar? kamu baik-baik aja?" Al khawatir ia memperhatikan wajah Dinar.
"Aku baik-baik aja, tapi aku takut." Al menaikkan sebelah alisnya.
"Soal semalam?" Dinar mengangguk mantap.
Alvaro justru tertera pelan dan mengacak rambut Dinar karena sangking gemasnya. "Nggak ada apa-apa sayang, semua baik-baik aja. Tuh lihat," cowok itu membuka lebar penutup tendanya.
Dinar melongokkan kepalanya, ia pun bisa bernapas lega ketika melihat semua memang tidak ada apa-apa, mereka justru sibuk masing-masing.
"Gimana?" tanya Al.
"Syukurlah kalau nggak ada apa-apa." ujarnya tersenyum pada Alvaro.
"Yuk sarapan terus kita mulai kegiatan hari ini." Al mengulurkan tangannya, membantu Dinar berdiri keluar dari tenda tersebut.
Ke kamar mandi terlebih dahulu, sebelum dia bergabung bersama yang lain, Dinar duduk di samping Alvaro, cowok itu sudah mengambilkan nasi goreng untuk Dinar, dari pada istrinya ikut mengantri, lebih baik dirinya saja yang mengantri dan mengambilkannya.
"Makasih," ujarnya tersenyum cerah menerima piring yang Al berikan.
"Maaf ya, harusnya aku yang ngambil buat kamu." Al tidak menjawab, cowok itu hanya memberi senyum lalu menepuk kepala sang istri pelan.
"Kira-kira, tadi malam siapa ya Al?" tanya Dinar di sela mengunyah makanannya.
"Nggak tau," bohong Al, ia sengaja tidak memberitahu Dinar tentang siapa yang sudah mengikuti mereka.
"Ya udahlah, biar aja. Yang penting semua nggak ada masalah," Dinar hanya mengangguk memperhatikan semua orang yang ada di dekatnya.
Hingga ia tak sengaja saling tatap dengan Geby, gadis itu menatap horor kearah Dinar, merasa tak takut. Dinar justru menantang Geby dan mendelikkan matanya.
Geby yang mendapatkan tatapan itu, mendengus kesal, ia ingin sekali mencakar wajah Dinar karena sangking kesalnya.
"Lihatin apa sih?" Dinar terlonjak kaget, ia menengok pada Alvaro dan menggeleng dengan tersenyum lebar.
Kegiatan pertama setelah sarapan, adalah olahraga ringan, yang di pimpin oleh guru olahraga.
Alvaro dan Dinar memilih berdiri paling belakang, mereka semua mulai dengan menggerakkan tubuh, agar otot tak kaget.
"Semoga hari ini nggak terlalu panas," gumam Dinar ia mendongak memandang cerahnya langit.
Al mendengar ucapan Dinar, cowok itu mengusap kepala gadisnya. "Kalau nggak kuat ngomong ya, jangan di paksa." Alvaro mengetahui jika Dinar tidak bisa terlalu terkena teriknya matahari.
Gadis itu akan pusing, dan lebih parahnya lagi akan pingsan. Dan Al tidak mau itu terjadi.
"Tapi kalau cuma pusing aja, aku masih kuat. Lagian ntar aku di belang cewek lemah, baru kepanasan gitu aja udah nyerah." gerutunya.
"Nggak perlu dengerin omongan orang, mereka nggak tau apa-apa, kita yang akan rugi jika merespon ucapan orang." kata Al bijak.
Alvaro hanya ingin Dinar tak terlalu memikirkan omongan orang-orang, Karena apapun yang kita jalani, itu adalah hak diri kita sendiri.
Orang lain hanya bisa melihat, tapi tak bisa merasakan apa yang kita rasakan.
Usai olahraga raga, guru menyuruh para murid ikut permainan yang sudah di siapkan.
Permainannya seperti perlombaan, yaitu tarik tambang, bercocok tanam di salah satu sawah warga yang sudah mendapatkan izin dari pemiliknya.
Dan ada juga permainan-permainan yang menarik, hingga satu lagi permainan yang sangat di nanti Dinar, yaitu balap karung, dari dulu ia sangat suka lomba tersebut.
Setiap ada lomba tujuh belas agustus, Dinar selalu ikut perlombaan itu, dan ia selalu menang.
Ia mulai bersiap-siap masuk kedalam karung. "Kita harus menang Sell!" ujarnya bersemangat.
"Yoi! pokoknya kita harus, semakin di depan!" Dinar tertawa memberi jempol pada sahabatnya.
Di pinggir lapangan, Alvaro memberi semangat, ia meneriaki nama Dinar dan memberi jempol saat gadis itu melihat kearahnya.
Lomba pun di mulai, persaingan sungguh sengit, ketika Dinar di tengah-tengah, ia hampir tertinggal, namun sekuat tenaga ketika berbalik dan menuju finish dia berjuang secepat mungkin.
"YEE!!" teriaknya kesenangan, ketika dia berhasil sampai finish duluan, di susul Selly di belakangnya.
"Yee__ kita menang Sell!" hebohnya memeluk Selly.
"Pasti menang lah, kita kan jagonya soal main ginian.." Dinar tertawa lepas, hari ini ia begitu bahagia.
Meskipun tanpa sepengetahuan Alvaro dan yang lainya, Dinar sering memejamkan mata, sepertinya darah rendahnya mulai kambuh.
Tapi ia tidak memberitahu siapapun, termasuk suaminya, dirinya yakin jika Alvaro tahu, dia akan di suruh istirahat. Dia tidak mau ketinggalan momen-momen bahagia hari ini, sudah lama ia tak merasakan hal seperti ini.
Dinar memutuskan beristirahat bersama Selly, meneguk air hingga setengah. "Lo kenapa?" tanya Selly yang peka dengan perubahan raut wajah Dinar.
"Darah rendah lo kumat?" Selly mendesah saat Dinar hanya menjawab dengan deheman.
"Gue udah bilang tadi, jangan terlalu di forsir."
"Lo mau kemana?" cegah Dinar saat Selly ingin beranjak.
"Ngasih tau laki lo. Kalau bininya sakit!" Dinar mendelik dan menarik tangan gadis itu agar duduk kembali.
"Nggak usah aneh-aneh Sell! gue nggak apa-apa. Lo nggak lihat Al lagi happy sama temannya," Keduanya memandang kearah Alvaro, cowok itu memang tengah asyik mengobrol bersama teman-temannya. Dan Dinar tak ingin menggangu.
"Ta_" Dinar menaruh telunjuknya saat Selly ingin protes.
"Gue mau ke kamar mandi, awas lo kalau sampai ngadu Al." ancam Dinar menunjuk tepat di depan wajah Selly.
"Iya_ Iya." Selly memutar bola matanya.
Dinar beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi yang jaraknya cukup jauh, Selly hanya mampu menghela napas melihat itu.
Sampai di kamar mandi, tempat itu cukup ramai. Banyak anak murid menggunakan kamar mandi juga, untuk membersihkan kaki dan tangannya yang terkena lumpur dan tanah.
"Masih ada yang kosong nggak?" tanya Dinar pada salah satu siswi.
"Ada, tuh paling pojok." jawab siswi itu menunjuk dengan dagunya.
Dinar pun masuk kedalam bilik kamar mandi yang paling ujung, dia diam beberapa saat hingga suara klik dari pintu membuatnya terperanjat.
Ia panik saat pintu tidak bisa di buka. "WOY! Bukain pintunya!" dia berteriak menggedor pintu tersebut.
Dinar tak mendengar ada suara lagi di luar, sunyi dan hening. Ia kian panik ketika sadar tak membawa ponsel. "Siapapun di luar! tolongin gue_ Buka plis!" Dinar sudah menangis, dia takut gelap dan kamar mandi yang dia masuki sangat gelap hanya ada sinar dari genteng yang terbuka sedikit.
Lelah menggedor pintu namun tak ada yang membukakan, membuatnya terduduk, menangis tersedu. Ia sangat takut, dan saat ini dia hanya bisa berharap jika Alvaro datang menolongnya.
"Al_ tolong aku__"
...***...
...πΏπ ππ ππππππππ...