
Kehidupan pasti tak lepas dari masa lalu, mau seperti apapun kedepannya. Masa lalu akan, terus mengikuti meskipun kita sudah berusaha melupakannya.
Dan inilah yang di alami keluarga Airlangga, seseorang di masa lalu dari Alya Latifa Aurlina datang kembali.
Tidak hanya datang begitu saja, tapi juga mengganggu, dulu Alya begitu mencintai pria bernama Hendra, namun karena sebuah kejadian di mana Hendra menikah dengan orang lain, di saat ia menunggu kedatangannya.
Hendra berpamitan pada Alya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, saat itu sebenarnya Alya di minta untuk ikut.
Namun wanita itu menolak, sebab. Dia tidak kuliah sampai keluar negeri, lagi pula Alya tak ingin jauh dari keluarganya.
Tidak punya pilihan lain, akhirnya Alya membiarkan Hendra mengejar pendidikan di negara orang, dan saat itu.
Hendra bilang kepadanya, jika dia di minta untuk menunggu, pria itu berjanji setelah luluh dia akan cepat kembali ke Indonesia dan langsung melamarnya.
Tapi, bukan lamaran yang dia dapat. Namun sebuah kertas undangan yang tergeletak di meja kamarnya yang dia dapatkan.
Betapa hancurnya saat itu hati Alya, hingga kebencian pun muncul ketika dia sudah menjalin hubungan bersama Airlangga, meskipun umur mereka terpaut cukup jauh.
Tak membuat Angga mengurungkan niatnya, Angga begitu mencintai Alya di saat dia masih duduk di bangku sekolah, sementara Alya sudah bekerja.
Meskipun jarak usia cukup jauh, Angga tidak pernah mempermasalahkan. Dan dengan kegigihannya akhirnya Alya menerimanya.
Dari situlah Hendra tidak terima Alya menikah dengan orang lain, padahal Hendra berniat menceraikan istrinya untuk bisa kembali bersama Alya.
Namun sayang dia sudah terlambat dan dendam itu masih hadir hingga sekarang.
Kini kedua lelaki yang mencintai orang yang sama, tengah saling tatap. Yang satu tatapan penuh dendam dan amarah.
Sedangkan yang satu lebih tenang namun tetap tajam. "Sudah senang kamu sekarang?" kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Hendra.
"Mengambil perempuan yang aku cintai dan bisa hidup bahagia bersama dia?" Angga hanya tersenyum simpul.
Menaruh kedua tangannya di atas meja. "Jadi benar, kamu melakukan ini. Karena dendam masa lalu kita?" Hendra diam tak menjawab.
"Tapi kenapa kepada anak kamu_"
"Dia bukan anakku. Dia anak pembawa sial yang membuat aku kehilangan wanita yang aku cintai, karena dia aku harus menikahi Ibunya yang sama sekali tidak aku cinta." jawabnya dengan dingin.
Alvaro yang ikut memandang tajam, mengepalkan tangannya, ia tak terima Dinar di kata anak pembawa sial.
"Dinar nggak ada hubungannya, ini murni masalah kita. Seharusnya kamu melakukannya ke aku bukan ke anak kamu!"
Brak!
"Sudah Aku katakan. dia bukan anakku!!" murka Hendra.
"Aku sengaja ingin mencelakai Dinar karena aku ingin dia mati, aku tidak terima dia hidup bahagia. sementara aku menderita karena anak sial dan ibunya!!"
Alvaro berdiri, ingin melawan pria itu, tapi tangannya di cekal oleh sang Ayah, Ayah Angga menoleh menggeleng pelan pada putranya, memberi kode untuk bersabar.
"Aku tidak terima dengan kalian yang bisa hidup senang. sedangkan aku, kamu tidak tau seperti apa aku sekarang ANGGA!!" teriaknya memanggil nama Angga.
"Hidup aku hancur karena anak itu. Aku ingin dia mati!" Hendra mengamuk seperti orang kesetanan, petugas buru buru menenangkan pria tersebut dengan membawanya kedalam tahanan kembali.
Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. "Lebih baik kita pulang," Al mengangguk mengikuti langkah Ayahnya.
...***...
Di rumah Alvaro, Dinar celingak-celinguk melihat kondisi rumah yang sepi. "Mba, kok sepi?" heran Dinar yang bertanya dengan Mba Leli.
"Aku nyusul Bunda dulu ya Mba," Dinar melangkah dengan ringan menghampiri Bunda.
"Bunda," panggil Dinar.
Yang di panggil menoleh namun biasanya tatapan lembut, kini berbanding terbalik, beliau menatap Dinar sangat tajam dan tanpa senyuman.
"Bunda lagi ngapain?" pertanyaan bodoh, sudah tau Bunda duduk, masih tanya. Kata isi hati Dinar yang membodohi dirinya sendiri.
Bukannya menjawab pertanyaan sang mantu, Bunda justru melengos lalu pergi, meninggalkan Dinar yang terbengong bengong melihat tingkah mertuanya.
"Bunda kenapa ya?" monolog Dinar, ia pun duduk di bangku yang tadi di duduki Bunda Alya.
"Sayang, ngapain di sini?" Dinar terlonjak sampai mengusap dadanya.
"Ihh_ kamu mah bikin kaget aja." sewot Dinar menatap Alvaro kesal.
Alvaro terkekeh geli, menyusul sang istri duduk di sampingnya. "Ngapain di sini sendirian?" tanya ulang Al lebih lembut.
"Tadinya aku nyamperin Bunda, tapi kok. Bunda aneh gitu, kayak marah sama aku?"
Alvaro berdeham sejenak, menetralkan raut wajahnya. "Mungkin Bunda kurang enak badan, udah ya jangan terlalu di pikir." menaruh anak rambut Dinar ke belakang telinga.
"Heran aja kenapa Bunda gitu? apa aku punya salah?"
Alvaro menarik tubuh sang istri agar tidak terlalu memikirkan masalah tentang perubahan sang Bunda.
"Oh iya, tadi habis dari mana?"
"Ehm_" ada jeda saat Alvaro ingin menjawab. "Aku sama Ayah habis dari kantor polisi," sontak Dinar melepas dekapan suaminya.
"Kenapa kamu nggak bilang, aku kan pengin ketemu Ayah," Alvaro menangkup wajah Dinar.
"Sayang, tenang dulu ya. Untuk saat ini lebih baik jangan dulu, situasinya kurang mendukung. Biar masalah ini di proses lebih lanjut." ujar Al begitu lembut.
"Memangnya kamu dan lain sudah yakin kalau pelakunya Ayah Hendra?"
"Polisi sudah memeriksa kamera CCTV dan tulisan yang di kirim ke kamu, semua cocok dengan Ayah Hendra."
Tangis Dinar pecah, ia tak habis pikir dengan Ayah tirinya, kenapa tega jahat dengannya.
"Kenapa Ayah nggak pernah berubah, aku tau Ayah seperti ini karena aku," ujar Dinar serak.
"Sst_ sudah dong sayang. Jangan nangis terus, kasian dedeknya. Kalau Mamanya nangis terus," Alvaro mengusap perut Dinar yang sudah terlihat buncit.
Dinar mengeratkan pelukannya di perut Alvaro, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Beberapa menit Alvaro membiarkan Dinar menangis di pelukannya, ia hanya bisa mengusap, pikirannya kembali mengingat bagaimana Ayah tiri Dinar yang begitu membenci istrinya.
"Tapi bolehkan? suatu saat nanti aku ketemu Ayah?"
Alvaro mengangguk mantap. "Tentu boleh, asal masalahnya sudah sedikit tenang, kamu juga sehat sama anak kita baik-baik aja, kita pasti kesana,"
Dinar mendongak, yang membuat Alvaro menunduk. "Aku selalu jagain anak kita, aku juga insyallah baik-baik aja, asal kamu juga selalu ada untuk aku," balas Dinar menatap teduh Alvaro.
"Aku selalu ada untuk kamu," jawab Al mencubit hidung Dinar, lalu mengecup bibir istrinya di lanjut keningnya begitu lama.
...****************...