Alvaro

Alvaro
Bab 111. Semakin Rumit



...****************...


"Istri aku makin cantik sih, makin gembul." ujar Al seraya mencubit kedua pipi sang istri.


"Ihh_ kok ngomong gitu sih?" sewot Dinar tak suka.


"Nggak suka, punya istri gembul? ya tau kalau gembul pasti jelek."


"Lah, kan aku tadi bilang kamu cantik sayang. Siapa sih yang bilangin kamu jelek," gemas lelaki itu.


"Cantik, tapi kamu bilangin aku gembul, kalau gitu aku diet aja ah_"


"Jangan dong, ada adek yang harus makan banyak sayang."


Mereka berdua sedang berdebat di depan rumah, setelah pulang dari tempat makan, yang tadinya tempat tujuannya adalah bertemu Ayah Hendra.


"Kalian dari mana?" suara dingin di depan mereka, sontak membuat keduanya berhenti berdebat.


Di ambang pintu ada Bunda Alya melipat tangannya di dada.


"Assalamu'alaikum, Bunda." salam Al sangat lembut.


"Wa'alaikumsalam, dari mana kalian?" ulang Bunda.


"Biasalah Bunda, bumil minta jalan-jalan." jawab Al merangkul pundak Dinar.


"Kalian ini Bunda perhatikan sering jalan, kenapa? apa karena mentang-mentang penjahatnya sudah ketangkep?" ujar Bunda sinis, matanya pun sering melirik kearah Dinar.


Keduanya sontak mengerutkan kening, apalagi Dinar, ada yang aneh dengan Ibu mertuanya.


"Masuk. perempuan hamil nggak baik sering keluyuran!"


"Bunda!" hardik Al tertahan.


Seperginya Bunda, Dinar menoleh ke Al. Menatap lekat suaminya itu. "Sayang, sebenarnya Bunda kenapa ya? aku perhatikan sekarang Bunda kayak beda gitu sama aku, apa aku punya salah?"


"Nggak sayang, mungkin Bunda lagi nggak enak badan."


"Masa sih? tapi kelihatannya Bunda sehat-sehat aja. Kalau pun Aku punya salah, kira-kira kesalahan aku apa?" gumam Dinar, tangannya meremas jaket milik Alvaro


"Ssst_ istri aku nggak boleh terlalu banyak mikir," memeluk Dinar, mengusap belakang rambut sang istri.


"Biar nanti aku cari tau ya, ingat kan kata dokter, nggak boleh banyak pikiran. Kasian dedek bayinya," Dinar mengangguk pelan, namun tetep memikirkan perubahan yang di lakukan oleh Bunda Alya.


Dinar merasa Bunda Alya berubah, semenjak Ayahnya di tangkap, apa karena itu Mertuanya marah.


Alvaro membawa Dinar ke kamar, ia ingin Dinar tak terlalu memikirkan perubahan sang Bunda, ada rasa kesal yang di rasakan Alvaro terhadap Bundanya.


Semua itu masa lalu, tapi rasa marah Bundanya masih di rasakan oleh wanita pertama yang paling dia sayangi.


Jelas-jelas Dinar tidak salah, istrinya tidak tau apa-apa tentang masa lalu kedua orangtuanya dan orang tua istrinya.


"Sayang, aku mandi dulu ya." Dinar hanya mengangguk duduk di tepi kasur.


"Iya," usai mendapat anggukan, Alvaro segera memanjakan tubuhnya dengan air dingin dan sabun.


Dinar masih saja murung, memikirkan Bunda Alya, hingga Alvaro yang berada di kamar mandi sekitar lima belas menit sudah kembali.


Lelaki itu mengerutkan kening, lalu menghela napas beratnya. Menghampiri Dinar perlahan ia berlutut tepat di hadapan Dinar.


Dinar tersentak, melihat Alvaro yang sudah berada di hadapannya. "Kenapa lagi sayang? masih kepikiran?" tanya Al mengusap usap pipi Dinar.


"Iya, aku tuh takut. Kalau aku punya salah, tapi aku nggak sadar apa itu,"


"Aku harus gimana?" lanjutnya.


Alvaro pun bingung harus gimana, apa mungkin dirinya harus bicara baik baik dengan Bundanya, siapa tau dengan begitu, Bunda Alya bisa memaafkan kesalahan Ayah tiri Dinar dan tidak menyalahkan istrinya.


"Iya semoga," balas Dinar lesu.


...****...


Di taman belakang, Ayah Angga tersenyum simpul melihat istrinya yang sedang duduk sendiri di taman itu.


"Bunda_" panggil sang suami sangat lembut.


Bunda menoleh, namun hanya sekejap istrinya itu kembali menatap kedepan. "Ada apa ini? tumben duduk sendiri di sini? biasa minta di temani?"


menyusul duduk di samping istrinya, Angga mengamati wajah Alya. "Sayang," Alya bergeming, wanita yang tak muda lagi tapi masih sangat cantik itu menoleh.


"Ada apa? ehmm?"


Alya cukup lama memandangi suaminya, matanya pun perlahan memerah dan berkabut. Angga adalah salah satu pria yang tak suka melihat orang yang dia cintai menangis, maka dari itu, ia segera menarik tubuh istrinya, mengusap belakang rambut Alya.


"Jangan nangis, cerita sama aku, sebenarnya kamu kenapa?"


Alya merapatkan pelukannya, menangis tersedu di dada bidang Angga. "Aku nggak tahu, kenapa aku kayak gini huby, setiap lihat Dinar, aku jadi ingat kalau ternyata dia anaknya Hendra. Hati aku merasa nggak rela jika anak kita menikah dengan anak dari orang yang paling aku benci," cerita Bunda di sela sesenggukan nya.


"Sst_ udah, jangan nangis. Ini sudah takdir, kita harus terima sayang." Alya melepaskan diri dan sedikit mendorong tubuh suaminya.


"Tetap aja, aku merasa nggak terima. Atau jangan-jangan semua ini rencana mereka, biar mereka bisa ganggu keluarga kita?" ujar Alya sedikit meninggi.


"Astaghfirullah. Sayang kamu nggak boleh ngomong gitu! kalau sampai Dinar dengar, pasti dia sedih."


"Aku nggak peduli. Justru bagus kalau sampai dia dengar!"


Angga menghela napas, memegang kedua pundak istrinya. "Sayang, dengerin aku ya. Dinar sama sekali nggak tau tentang masalah ini, dia juga bukan anak kandung Hendra, kita nggak boleh menyalahkan Dinar, Alvaro dan Dinar saling mencintai, sama seperti kita yang juga saling cinta."


"Kamu tega misahin keduanya, apa lagi Dinar sedang mengandung, cucu pertama kita."


"Tapi tetap rasanya aku nggak terima ini Hubby!" suara Bunda Alya yang terlalu tinggi membuat sepasang suami istri itu saling pandang dengan kerutan di kening.


"Itu ribut-ribut kenapa sayang?" Alvaro menaikkan bahunya.


"Nggak tau, kamu tunggu di sini ya," titah Al lalu beranjak dari tempat tidur.


Meskipun Dinar mengangguk, nyatanya ia ikut menyusul suaminya keluar dari kamar, dia mengikuti Al dari belakang.


"Ayah, Bunda. Ada apa? kenapa ribut? sampai kamar aku dengar,"


Bunda Alya menghampiri putranya, ia menatap tajam Alvaro. "Kita lagi bahas istri kamu!" hardiknya.


"Sayang!" peringat Angga pada istrinya, ia tak ingin urusannya semakin panjang.


Alvaro menatap Ayah dan Bundanya bergantian. "Maksudnya? kenapa dengan istri aku?"


Bunda semakin maju mendekat ke arah Al. "Bunda sudah berusaha terima, tapi tetap nggak bisa. Bunda nggak terima kalau kamu menikah dengan anak dari masa lalu Bunda!!"


Alya memicingkan matanya. "Bunda ngerasa, mereka berkerjasama agar keluarga kita hancur!!"


"BUNDA!!" teriak Al marah, rahangnya sudah mengatup rapat.


"Bunda boleh punya masalah dengan Ayah Hendra, tapi Dinar nggak ada hubungannya!"


"Tau dari mana?" potong Bunda cepat.


"Sampai kapanpun Bunda nggak terima kamu menikah dengan Dinar!! Bunda nyesel restuin kalian!"


Prang!!


...****************...