
...~Happy Reading~...
Mengetahui jika pasanganmu ternyata memiliki sahabat seorang wanita, pastilah ada perasaan takut di hatimu.
Takut bila pasanganmu lebih memilih sahabat dari pada pasangannya, atau bisa di bilang sahabat pasanganmu adalah prioritas utama dari pada dirimu.
Itulah yang di alami Dinar, setelah mendengar cerita bahwa Amanda adalah sahabat kecil Alvaro, perasaan itu muncul. Apalagi keluarga keduanya sangat dekat.
"Jadi kalian bersahabat?" meyakinkan lagi dengan bertanya.
Alvaro mengangguk, sambil meneguk air mineralnya setelah menghabiskan sarapannya. "Dia juga yang buat aku memilih pindah sekolah," Dinar mengerutkan kening.
"Kenapa?" kepo Dinar.
Alvaro ******* bibir bawahnya, memandang Dinar sekejap, sebelum ia harus bercerita. "Amanda memiliki perasaan lebih sama aku," Dinar tanpa sadar membuang napas dengan kasar.
Dugaannya benar, sejak awal bertemu ia memang sudah curiga. "Terus?" Dinar ingin tau apakah Alvaro juga memiliki rasa yang sama.
"Aku nggak suka. Dan nggak mau, kalau di antara persahabatan kita berdua ada rasa suka dan sayang lebih dari itu,"
"Itu sebabnya, aku minta Ayah. Untuk di izinkan pindah kota dan tinggal bersama Ayah dan Bunda." jeda sejenak. "Tapi ternyata dia ikut kesini," gerutunya pelan.
"Amanda tau, kalau kamu nggak mungkin balas perasaannya?"
"Tau. Karena dia sudah pernah nyatain perasaannya lebih dulu, Aku sudah menolak dengan tegas, tapi dianya tetap kukuh mau aku terima dia sebagai pasangan, bukan sahabat lagi."
"Dari situ aku lebih kecewa, dan nggak suka. Karena menurut aku, dia sudah merusak arti sahabat."
Alvaro meraih tangan Dinar yang ada di atas meja. "Sayang, aku tau apa yang ada di pikiranmu." mengusap lembut punggung tangan Dinar.
"Jangan khawatir ya, karena aku nggak ada rasa apa-apa sama Amanda, perasaan aku ke dia hanya sebatas sayang seperti adik,"
"Tapi setelah aku tau, dia punya perasaan lebih ke aku. Rasa sayang itu sudah berkurang, kini tinggal rasa kecewa."
Tok! Tok!
Tok! Tok!
Baru saja Dinar ingin membuka suara, Tiba tiba ada ketukan pintu, tidak sekali dua kali. Tapi berulang kali, sampai sampai Dinar dan Alvaro saling pandang.
"Biar aku yang buka," Alvaro beranjak mendekati pintu, melihat terlebih dahulu siapa yang ada di depan kamarnya.
Setelah melihat lewat layar, ia menghela napas. Sangat malas membukakan pintu, tapi karena suara ketukan itu menganggu akhirnya cowok itu terpaksa membuka pintu tersebut.
"Ngapain!" to the poin Al bernada sedikit tinggi.
"Aku kira kamu belum bangun," kata orang itu, yang tak lain adalah Amanda.
"Kamu udah sarapan Al?" Amanda sesekali melirik kearah dalam kamar, pintu memang sengaja tidak di buka lebar oleh Alvaro.
Membuat gadis itu ingin tau Alvaro sedang apa, bersama siapa. "Lihat apa?" hardik Al tak suka ketika Amanda ingin tau.
"Eh. Hehe_ nggak kok. Oh iya, aku kesini ngajak kamu sarapan bareng. Sama temani aku keliling pantai, kamu mau kan?" Amanda begitu berharap jika Alvaro akan berkata. IYA.
"Gue nggak tau, udah kan? gue mau mandi dulu," jawab Al lalu menutup pintu kembali.
Rasa kecewa dan sedih terlihat di wajah Amanda, padahal dia sangat ingin bersama cowok itu di tempat ini. "Kamu berubah Al," lirihnya menatap pintu yang tertutup rapat dengan sendu.
Alvaro dan keluarganya, memang belum ada yang kembali ke Jakarta, mereka masih ingin liburan satu hari lagi di kota tersebut.
"Amanda?" tanya Dinar ketika Al kembali.
"Iya, mau ngajak sarapan, sekaligus minta di temani keliling pantai katanya." kesal Al.
Dinar terkekeh pelan, Alvaro sangat lucu jika kesal gitu. jarang sekali melihat Al, memperlihatkan wajah kesalnya seperti itu.
...***...
Baru bergabung saja Al sudah di landa rasa kesal, Bu Lilis langsung memberi pertanyaan yang sekaligus sindiran.
"Ayah, Bunda, Al pamit keluar jalan-jalan dulu ya," pamit Alvaro pada orang tuanya, ia membalas sapaan Bu Lilis hanya lewat senyuman kecil.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah Bun, tadi di kamar." jawabnya.
"Amanda ada ke kamar kamu kan tadi?'
"Ada Tante,"
"Kok Tante lagi sih, Mama nggak suka ya kamu panggil gitu. Mentang-mentang kamu sudah punya pilihan, kamu jadi berubah gini," protesnya, melirik Dinar sinis.
"Ma udah Ma." bisik Pak Damar tidak enak pada keluarga Airlangga.
Alvaro membawa Dinar pergi, sebelum Mamanya bicara lebih yang bisa membuat istrinya sedih.
Dinar memang berubah pendiam, padahal mereka kini berada di pinggir pantai. tempat paling favorit untuk perempuan itu, Alvaro menghentikan langkahnya.
Membimbing Dinar berdiri menghadap hamparan birunya laut, ia memeluk istrinya dari belakang. "Kenapa dari tadi diam terus, ada yang di pikirin?" bisik cowok itu di ceruk leher Dinar.
"Atau nggak suka aku bawa kesini?" Dinar mengulum senyum, mengusap punggung tangan Alvaro yang ada di perutnya.
"Aku ngerasa, mereka nggak suka sama aku." Al menghirup aroma rambut Dinar.
"Iya aku tau, makanya aku nggak mau di sana lama-lama."
"Mereka ngarep kamu jadi bagian dari keluarganya,"
"Iya, dari awal pun aku ngerasa gitu, tapi seperti yang aku bilang. perasaan aku ke Amanda hanya sebatas sahabat."
"Kamu jangan khawatir sayang, aku nggak mungkin berpaling. Aku cuma buat kamu." Dinar tak bisa menahan tawanya.
Entah. Dia merasa geli ketika cowok itu mengatakannya. "Malah ketawa, aku serius lho ini." kesalnya.
Dinar berbalik, mengalungkan tangannya di leher Alvaro. "Iya__ aku tau. kalau pun kamu mau berpaling, aku yang akan berjuang mempertahankan rumah tangga kita." jeda sejenak perempuan itu mengamati wajah tampan Al.
"Aku terlalu sayang sama kamu Al, aku nggak mau lagi kehilangan orang yang sudah berarti untukku selain Ibu."
Alvaro menempelkan kening mereka. "Jika aku ninggalin kamu hanya karena wanita lain. Itu berarti aku adalah laki-laki bodoh." tekan Al pada ucapannya.
"Jika suatu saat aku lupa, tolong ingatkan aku. Hukum aku bila aku melakukan kesalahan," Dinar tersenyum lembut mengangguk.
Alvaro semakin menarik pinggang sang istri, membuat jarak mereka semakin dekat, tangan kirinya naik keleher wanitanya, menarik tengkuk Dinar dan ******* bibir ranum perempuan itu.
Keduanya tak peduli mereka ada di mana, bahkan ada siapa di sekitaran mereka.
Kalau pun ada yang melihat, keduanya hanya ingin orang tau. Jika mereka saling mencintai, dan tak akan ada yang bisa membuat mereka terpisah, selain maut mengambil nyawa mereka.
Katakanlah mereka masih muda, namun pikiran keduanya sudah sangat dewasa, Alvaro dan Dinar memiliki cinta yang begitu tulus, tak ada perasaan main main seperti remaja pada umumnya.
Di sudut lain, memang ada satu orang menatap Alvaro dan Dinar dengan perasaan sakit, dan tak rela. Bisakah posisi wanita itu di tukar oleh dirinya.
Tangan gadis itu terkepal, bersamaan dengan satu tetes air mengalir di pipinya, kenapa takdir tak bisa menyatukan mereka, Dan kenapa hanya karena kata sahabat. keduanya tak mungkin di satukan.
Sejahat itu kah takdir untuk dirinya.
...***...
...TBC...