
"HANA!!"teriak Alvaro,ia langsung menghentikan laju motornya.
Alvaro mendekati Hana yang sudah tergeletak pingsan di jalan. Alvaro menepuk-nepuk pipi Hana,ia menggeram melihat kondisi Hana yang tidak baik-baik saja.
Alvaro langsung menggendong tubuh Hana dan memasukkan nya kedalam mobil Alfred.
"Kakek kerumah ku sekarang"ucap Alvaro di balas anggukan kepala Alfred.
Mereka pun pulang kerumah Alvaro saat sampai Alvaro langsung bergegas membawa Hana ke dalam rumah.
"Kakek terima kasih"ucap Alvaro.
Alfred mengangguk "cepat bawa dia jangan lupa obati dia dulu"ucapnya.
Alvaro langsung masuk dan menaiki tangga menuju kamarnya terlihat di mata Ervin dan Arika yang sedang berada di ruang tamu.
"Apa yang terjadi?"tanya Ervin kepada Alfred yang baru saja duduk di hadapan mereka.
"Masalah anak muda"balas Alfred.
Alfred memegang lengannya"ck! Aku semakin tua tidak begitu bebas bergerak"gerutunya.
Arika tertawa kecil"wajar saja ayah"ucapnya.
"Sudah tua tapi tidak sadar diri"ucap Ervin.
Alfred menatap datar"kau anak kandung ku atau bukan? Kenapa kejam sekali"ucapnya.
Ervin mengangkat bahunya tidak peduli membuat Alfred menggerutu kesal.
Tak lama kemudian Alvaro turun dengan tergesa-gesa menghampiri ayahnya.
"Kunci mobil ayah"ucap Alvaro dengan nafas terengah-engah.
Ervin memberikan kunci dan langsung di ambil Alvaro dan dia berlari keluar rumah.
"Panik sekali, sebenarnya ada apa?"tanya Arika bingung sambil menyuguhkan teh untuk Alfred dan Ervin.
"Kau tanyakan saja pada putramu "ucap Alfred sambil meminum teh yang sudah di sediakan.
"Ayah tidak pulang?"tanya Ervin.
Alfred mendelik kesal"kau mengusirku?"tanya nya.
Ervin mengangguk membuat Alfred hanya mendengus di buatnya.
"Sudah malam,ayah menginap lah disini. Aku akan menyiapkan kamar untuk ayah"ucap Arika sambil menaiki tangga menuju kamar diatas.
"Lihat,bahkan menantuku yang lebih perhatian kepadaku"ucap Alfred dramatis membuat Ervin hanya menatap nya datar.
"Apa ayah yakin,kau ayah kandung ku?"tanya Ervin.
Alfred melempar koran kearah Ervin"menurutmu? Apa aku harus menjawab aku menemukan mu di pinggir jalan?"ucapnya kesal.
Ervin memalingkan wajahnya,ia malas berdebat dengan ayahnya yang tidak akan ada habisnya itu.
"Apa ini ada hubungannya dengan Devina?"tanya Ervin datar.
Alfred menatap Ervin serius"kau tau?"tanya Alfred.
"Jadi benar ya"ucap Ervin sambil mengaduk teh nya dengan pandangan kosong.
"Apa aku harus menyingkirkan nya agar dia tidak mengangguk putraku lagi?"ucap Ervin datar.
"Jangan! Biarkan Alvaro yang menyelesaikan masalahnya sendiri"ucap Alfred.
"Dia sudah dewasa,dia tau apa yang dia lakukan"sambung Alfred.
Ervin menghela nafas pelan"aku tau,karena dia juga penyebab Alisha trauma. Jika dia sudah melewati batas jangan salahkan aku harus ikut campur masalah ini."
∆∆∆
"Ya,astaga!! Sudah berapa kali aku bilang tekan bel dulu jangan asal masuk saja,Alvaro!!"gerutu kesal Ervan.
Alvaro menatap Ervan datar"apa? Memeriksa wanitamu lagi?"tanya Ervan di balas anggukan kepala Alvaro.
Ervan mendengus"yasudah, ayo"ucapnya.
Mereka pun pergi menuju rumah Alvaro untuk memeriksa kondisi Hana.
Saat sampai di kamar nya,Ervan langsung bergegas memeriksa kondisi Hana.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Ervan yang melihat kondisi Hana yang memprihatinkan.
Alvaro mengangkat bahunya,ia pun tidak tau apa yang terjadi pada Hana.
Ervan menghela nafas pelan lalu membalut luka pada tubuh Hana dengan perban yang ia bawa.
"Ini oleskan pada tubuhnya setelah ia mandi agar lukanya tidak membekas"ucap Ervan.
Alvaro mengangguk"terima kasih"ucapnya.
Ervan terdiam"kau mengucapkan terima kasih padaku?"tanya nya.
Alvaro mengangguk"apa ada yang salah?"tanya nya.
Ervan menggeleng"hanya aneh saja mendengar ucapan terima kasih dari mu"ucapnya.
Alvaro mendengus"pulang lah"ucapnya.
Ervan menggerutu kesal"menyebalkan!"ucapnya. Ervan pun keluar dari kamar Alvaro dengan kesal.
Alvaro duduk di pinggir kasur sambil mengelus pipi Hana lalu ia ikut berbaring di samping Hana,ia memeluk pinggang Hana dengan erat.
Alvaro menciumi leher dan punggung Hana dari belakang lalu ia mengecup puncak kepala Hana.
"Mimpi indah"bisik Alvaro tepat di telinga Hana,lalu ia memejamkan matanya dan tertidur.
Pagi harinya...
Hana mulai membuka matanya perlahan namun ia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya,ia menoleh kearah belakang dan teryata itu adalah Alvaro yang masih tertidur pulas sambil memeluknya.
Hana terenyuh lalu membalikkan tubuhnya perlahan ia menatap wajah damai Alvaro yang tertidur lelap.
Hana menyentuh wajah Alvaro dengan pelan,ia menyentuh dari kedua mata Alvaro yang masih terpejam hingga bibir tipis milik Alvaro.
Mata Hana berkaca-kaca ia harus memutuskan hubungan dengan Alvaro takut ayahnya yang akan menjadi celaka karena dirinya.
Alvaro mulai membuka matanya merasakan ada sentuhan di wajahnya,ia menatap Hana yang sedang melamun dengan air mata yang terus mengalir.
Hana masih belum menyadari Alvaro yang sudah terbangun karena ulahnya.
Alvaro mengambil tangan Hana yang berada di pipinya membuat Hana tersentak lalu menatap Alvaro.
Alvaro mengecup punggung tangan Hana lalu mengecup bibir nya.
"Morning"sapa Alvaro sambil mencium kening Hana.
"Alvaro"panggil Hana membuat Alvaro langsung menatap wajahnya.
"Aku ingin putus denganmu."
∆∆∆
TBC