
...~•~...
"Dinar, gimana. Kamu masih pusing?" tanya Amanda ketika gadis itu sudah kembali, usai memesan makanan nya.
"Masih, tapi sudah agak mendingan." bohong Dinar, ia masih terasa pusing dan berkunang.
Namun melihat makanan yang Amanda pesan sudah tiba, ia tidak enak, jika mengajak pulang.
Dinar tidak mau mengecewakan Amanda yang sudah berniat baik kepadanya.
"Kamu sering pusing gini?"
"Nggak juga, Mungkin memang lagi kebetulan aja. Tadi juga baik-baik aja."
"Kalau kamu ngerasa nggak enak badan, kamu bilang aja. Aku anterin pulang sekarang?" Dinar mengulum senyum.
"Gue nggak apa-apa, kita makan dulu baru pulang." jawabnya.
Amanda tidak percaya jika Dinar baik baik saja, sebab. Wajah Dinar kian memucat. "Kamu yakin?" Dinar mengangguk mantap dan memberi jempol pada gadis itu.
"Aku nggak tau kesukaan kamu apa? jadi. Maaf ya, kalau nggak sesuai sama kesukaan kamu."
"Nggak masalah, apapun gue makan kok, asal. Kulitnya aman," katanya sambil mengangkat kulit ayam.
"Lho kok sama?" pekik Amanda. "Aku juga suka kulit." lanjutnya dengan heboh.
"Biasalah, cewek kan. Memang gitu, pasti suka kulit." Amanda terbahak menganguk kuat, sangat setuju yang di ucapkan Dinar.
Dinar tidak bisa menikmati makanannya dengan tenang, kepalanya kian terasa pusing. "Man, gue mau ke toilet bentar ya," izinnya.
"Ya, silahkan. Mau aku temani?" Dinar menolak, ia pun mulai berdiri.
Alvaro yang jaraknya lumayan dekat, sedikit menunduk agar Dinar tidak melihatnya. tapi ia di landa kebingungan. Melihat kondisi Dinar yang kurang sehat, membuatnya ingin menarik dan membawa istrinya pulang.
Dinar tidak menyadari, jika cowok yang sudah dia lewati adalah Alvaro, padahal. Ia sempat berpegangan pada sandaran kursi yang sedang di gunakan suaminya.
Hingga dua langkah dari tempat Al berada, Dinar tiba tiba ingin jatuh kembali, namun kali ini bukan Amanda yang menahan, melainkan adalah Alvaro.
Dinar memejamkan matanya, ia kira akan terjatuh dan berakhir pingsan. Namun dia justru mencium parfum yang sangat dia hapal.
Perlahan ia membuka mata, Dinar sedikit terbelalak saat melihat siapa pria yang sedang dia peluk. "Al," gumamnya.
Alvaro membawa Dinar keluar dari restoran tersebut, lalu mendudukkan istrinya di salah satu kursi di sana. Cowok itu melepas topinya, lalu menekuk lututnya di hadapan Dinar.
"Al_ kamu kok bisa di sini?"
"Itu nggak penting, sekarang aku tanya. Kenapa bisa pucet gini?" tanya Al balik, dengan raut wajah khawatir, Al mengusap lembut kening dan pipi istrinya.
"Aku nggak tau, tiba-tiba pusing." keluh Dinar memejamkan matanya, menikmati usapan tangan Alvaro.
"Kita ke dokter ya?" ajaknya.
Namun ia mendapatkan gelengan dari Dinar. "Kalau gitu, kita pulang." kali ini Dinar membuka matanya sambil mengangguk.
"Tapi tas aku masih di dalam,"
"Biar aku yang ambil. Kamu tunggu di sini," titahnya.
"Tapi Amanda gimana?"
"Nggak apa-apa, biar aku yang ngomong." Dinar mengangguk pelan, membiarkan Al masuk mengambil tas dan juga bertemu dengan Amanda.
Sekitar lima menit lebih akhirnya Alvaro kembali, ia membantu Dinar berdiri. "Mau jalan, apa aku gendong?" tanya Al sekaligus menggoda istrinya.
Dinar melirik sinis pada Alvaro. "Aku masih bisa jalan ya. Lagian parkiran jauh,"
"Jangan ngeremehin aku sayang, gendong kamu sampai rumah pun aku sanggup," jawabnya.
Dinar menekuk bibirnya. "Aku serius, nggak mau bercanda. Ini tempat umum, malulah kalau di lihat orang," ujarnya lalu memeluk Al sambil berjalan, tak peduli dengan tatapan orang orang yang melihatnya.
Alvaro rasanya ingin tertawa sangat kencang, bagaimana tidak. Tadi katanya tidak mau di lihat orang, namun jika menempel seperti ini sama aja orang orang akan melihat kearah mereka.
...***...
Dinar masih sering meringis menahan sakit dan sering memijit pelipisnya. "Sayang, kita kerumah sakit?" entah sudah ke berapa kali Alvaro mengatakan hal itu.
Namun jawaban Dinar pun juga sama, yaitu gelengan kepala, yang artinya wanita itu menolak.
"Kamu jawab belum jawab pertanyaan aku tadi, kenapa bisa ada di tempat tadi?" tanya Dinar mengalihkan pembicaraan.
Alvaro menghela napas, menatap lurus kedepan. "Aku diam-diam ngikutin kamu," aku Al.
Dinar menoleh cepat, memandang Alvaro bingung. "Ngapain? kenapa harus di ikuti."
"Aku khawatir sayang, aku tetap nggak tenang, kalau kamu pergi cuma berdua aja." kini giliran Dinar yang menghela napas.
Ia memutar bola matanya, menyandarkan kepalanya di kaca mobil. "Kalau gitu. Kamu bisa lihat kan? Amanda nggak macam-macam sama aku, dia beneran sudah baik, dia mau berteman sama aku,"
"Terus, kenapa kamu bisa pusing? tadi di rumah baik-baik aja?"
"Mana aku tau sayang_ aku juga bingung. Udah Ah! buruan pulang, aku mau tidur!" sewot wanita itu, dan memilih memejamkan matanya.
Alvaro tersenyum, mengusap kepala Dinar.
Sudah sampai di depan rumah, Al tidak membangunkan Dinar, ia memilih membopong istrinya sampai kamar.
Masuk kedalam rumah dan melewati ruang tengah, Bunda Alya mendelik saat melihat Al menggendong menantunya. "Astagfirullah, Dinar kenapa Al?" paniknya.
"Sshh," Al menyuruh Bundanya agar tidak berisik, ia mengatakan tanpa suara jika Dinar baik baik saja, dan saat ini Dinar tengah tertidur.
Bunda bernapas lega, lalu segera menyuruh Alvaro membawa menantunya itu ke kamar.
Usai mengantar Dinar ke kemar Alvaro kembali kebawah menemui Bunda Alya. "Bunda," yang di panggil menoleh.
"Ya, kenapa Nak?"
"Bisa telepon kan Om Putra?"
"Siapa yang sakit?" Putra adalah dokter pribadi keluarga Airlangga, dan Al berniat menyuruh Dokter putra untuk memeriksa istrinya.
"Dinar, Bunda." jawabnya seraya duduk di samping Bundanya.
"Lho, tadi kamu bilang. Dinar nggak apa-apa?"
"Dia ngeluh pusing, tadi Al juga lihat, dia hampir jatuh di mall."
"Memangnya kalian dari mana?"
Alvaro menepuk keningnya, ia lupa memberitahu pada Bundanya jika Dinar pergi bersama Amanda tadi.
Sebelum pergi tadi, sebenarnya Dinar sudah mau pamit pada Bunda, namun ternyata Bunda sedang tidak di rumah. alhasil Alvaro dan Dinar tidak memberitahu kepada Bundanya.
"Dinar tadi, di ajak Amanda pergi ke mall. Tapi tiba-tiba dia pusing, akhirnya aku ajak pulang."
Brak!
Belum selesai cerita, suara seperti benda jatuh terdengar di lantai dua, tepatnya berada di kamar Alvaro.
Al bergegas berlari menuju lantai dua, membuka kasar pintu. Matanya membulat saat melihat Dinar sudah terkapar di lantai.
"Dinar!" pekik Al, berlari menghampiri istrinya lalu mengangkat kepalanya.
"Sayang, hai bangun." Al menepuk nepuk pipi putih Dinar.
"Masyaallah Dinar!" Bunda menutup mulutnya kaget, ia berlari kembali guna menelpon dokter pribadi sesuai permintaan putranya.
Tidak ada respon dari Dinar, wajahnya pun kian memucat, Al membopong tubuh lemah Dinar naik ke atas kasur, cowok itu tak mengalihkan pandangan dari Dinar
Matanya memerah, wajahnya sangat panik, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Mencium kening Dinar dalam dan berdoa semoga baik baik saja.
...***...