
...~•~...
"Dinar," panggil seseorang di koridor sekolah.
Perempuan itu menoleh, dan orang itu adalah Amanda. Dinar menung gadis itu menghampirinya. "Kenapa?" tanyanya saat Amanda sudah di hadapannya.
"Hehe_ nggak apa-apa, cuma mau ajak kamu. Tapi kalau kamu mau,"
"Boleh, memangnya mau kemana?"
"Jalan-jalan aja, yah_ itung-itung tanda permintaan maaf aku." Dinar tampak berpikir sejenak.
Sementara Amanda tengah menunggu dengan cemas, ia takut. Dinar tidak mau dia ajak pergi.
"Oke deh, gue izin Al dulu ya." senyum lebar terlihat di bibir Amanda.
"Oke, kalau Al kasih izin, kamu chat aku ya." ujarnya bersemangat.
Dinar mengangguk beberapa kali, dan mereka berpisah diujung koridor yang sudah terlihat sepi.
"Kenapa lo senyum-senyum?" Selly menatap Dinar curiga, pasalnya sahabatnya itu masuk kedalam kelas dengan wajah berseri dan penuh senyum, ini pastinya tidak jauh dari Alvaro.
"Nggak apa-apa Sell, memangnya orang senyum nggak boleh?" Selly berdecak kesal, ia menghadap kearah depan dengan bibir bergumam tidak jelas.
Dinar terkekeh tanpa suara melirik sahabatnya itu, tangan kanannya merangkul pundak Selly. "Gue lagi senang aja, soalnya. Amanda benar-benar berubah baik sama gue,"
"Tadi dia ngajak gue pergi, tapi gue nggak tau mau di ajak kemana sih," ujarnya.
"Serius lo?" tanya Selly tidak percaya.
"Serius."
"Terus, lo setuju di ajak pergi?" Dinar menganguk mantap.
"Tapi gue belum izin sama Al,"
"Mending nggak usah," Dinar mengerutkan kening.
"Kenapa?" Selly merubah posisi duduknya menghadap kearah Dinar.
"Bahaya. Lagian lo kan belum tau mau di ajak kemana?" Dinar menghela napas, memutar bola matanya.
"Astagfirullah. Selly_ lo nggak boleh suudzon. Amanda memang sudah berubah lebih baik kok, lagian Amanda itu sebenarnya baik, tapi karena dia belum menerima kenyataan kalau Alvaro nggak bisa nerima dia lebih dari sahabat, makanya dia gitu sifatnya." bela Dinar.
Selly melengos, ia kesal pada Dinar yang terdengar lebih memilih Amanda dari pada dirinya yang jelas jelas adalah sahabatnya.
"Terserah lo. gue cuma khawatir!" ujar Selly datar, bahkan gadis itu memalingkan wajah kearah lain.
Dinar yang sangat paham akan sifat Selly segera meminta maaf, ia juga yang salah karena sedikit membentak gadis itu. "Lo marah?" Dinar meraih tangan Selly.
"Nggak. siapa yang marah!" jawabnya dengan nada tinggi. sampai sampai beberapa anak murid menoleh kepadanya.
Dinar menarik napas panjang. "Kalau nggak marah, kok ngegas?" kata Dinar sedikit bernada menggoda sang sahabat.
"Maaf deh, gue tau lo cuma khawatir. Tapi kali ini, plis_ lo percaya sama gue. Oke, gue terima kasih karena lo sudah begitu peduli. Lo adalah sahabat terbaik gue, nggak ada seorang pun yang bisa gantiin lo di hati gue,"
Selly tak bisa menahan untuk tidak tertawa. "An***r. lo ngomong sama sahabat sudah kayak, ngomong sama pasangan. Pakai bilang nggak ada bisa gantiin lagi." ujarnya lalu tertawa keras, Dinar ikut tertawa, ia senang Selly sudah tidak marah.
"Lho memang kenyataannya kan? lo adalah sahabat terbaik gue." lanjut Dinar tersenyum tulus pada Selly.
"Hmm_ lo kok gemesin sih. pengin peluk," ucap Selly manja lalu memeluk erat Dinar.
Dinar terkekeh geli, membalas pelukan sahabat terbaiknya itu.
Keduanya begitu saling menyayangi sebagai sahabat, kenal sudah sangat lama, membuat mereka tau baik buruknya masing masing.
Suka duka sudah mereka lalui bersama, ketika salah satu di antara mereka sedang tidak baik, maka akan ikut merasakannya.
...***...
Dan itulah yang Dinar ingin lakukan, meminta izin pada Alvaro, namun belum mengatakan saja, rasanya ia ragu dan takut.
Bagaimana jika Al tidak memberi izin, padahal. Dia ingin sekali pergi bersama Amanda.
Dinar dan Alvaro kini berada di kamar, usai pulang sekolah dan berganti pakaian, mereka belum keluar dari kamar.
Mereka sedang sibuk dengan dunianya sendiri, yang satu sibuk dengan laptop, karena Alvaro mendapatkan tugas dari sekolah, sementara Dinar tengah sibuk memikirkan bagaimana cara untuk bicara pada Alvaro, sedangkan cowok itu sangat sibuk.
Dinar mendekati Al, lalu duduk di sampingnya. Menengok kearah laptop dan juga wajah Alvaro bergatian. "Sayang_" panggilnya.
"Hmm?" jawab Al lembut namun matanya tetap fokus pada laptop itu.
Tak kunjung mendengar suara dari istrinya, Al pun menoleh , mengerutkan kening heran. "Kenapa sayang?" Dinar tersenyum manis, yang semakin membuat Alvaro bingung.
Al menutup laptopnya, ia mefokuskan diri pada Dinar. "Kenapa sih sayang_ hmm?" tanya Al lembut, mengamati wajah Dinar.
"Nggak apa-apa sih, aku cuma mau ngomong." katanya bernada pelan.
Alvaro menyangga kepalanya dengan tangan kiri yang bersandar pada badan sofa. "Ngomong apa?"
"Ehm_" Dinar gugup, perempuan itu sampai mengigit bibir bawahnya.
"Mau minta izin,"
Kerutan di kening Al semakin terlihat, cowok itu semakin bingung. Sebenarnya Dinar ingin izin apa, kenapa segugup itu.
"Kemana?"
"Keluar sama Amanda," ucap Dinar pelan saat menyebut nama Amanda.
Raut wajah Alvaro seketika berubah, yang tadinya penuh senyum dan tatapan lembut, kini senyum itu hilang.
Di ganti dengan tatapan datar tanpa senyuman. "Mau kemana?" tanya Al datar.
"Aku juga nggak tau, tadi dia bilang cuma mau ngajak aku," Al menarik napas panjang, memijit pangkal hidungnya.
"Kalau gitu, aku nggak kasih izin."
Dinar melebarkan bola matanya. "Lho kenapa Al?" Alvaro memilih fokus pada laptopnya lagi. "Al, jawab dong. Kenapa kamu nggak kasih izin?" Dinar memegang lengan Alvaro, meminta penjelasan dari suaminya.
"Kamu aja, belum tau mau di ajak kemana, gimana aku tenang. Kasih kamu izin sayang_" tekan Al masih bernada datar.
"Gimana kalau dia berbuat nggak baik sama kamu?"
"Kamu nggak boleh kayak gitu, dia sahabat kamu lho. Masa nggak percaya sama Amanda, dia sudah berubah lebih baik. Harusnya kamu jangan suudzon." kini giliran Dinar yang terdengar marah.
"Nggak ada yang jamin dia nggak berbuat sesuatu sama kamu!"
"Pliss_ kali ini kasih kesempatan buat Amanda membuktikan kalau dia memang sudah nggak seperti dulu. Toh dia nggak pernah nyakitin aku kan,"
"Ya sayangku_ plis izinin aku pergi," rayu Dinar, memperlihatkan wajah semelas mungkin, yang justru sangat menggemaskan bagi Alvaro.
Tangan kiri Dinar naik dengan gerakan menngoda lalu meraba dada Al, membuat tulisan abstrak di sana, hal itu memancing Alvaro untuk meraih tengkuk Dinar dan ******* bibir yang sedari tadi menggodanya.
Hingga beberapa menit Al baru melepas tautan bibir mereka. memandang Dinar sayu, Napasnya pun memburu, tangannya mengusap bibir basah istrinya. "Bisa banget rayuannya." Dinar terkekeh geli, ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
"Jadi, gimana? boleh kan?" butuh beberapa menit untuk Alvaro mengangguk kan kepala.
Dinar yang kesenangan mendapatkan izin pun, mencium bibir Al kembali.
Karena istrinya terus menggoda, Al pun membawa Dinar pindah ke atas kasur tanpa melepas ciuman mereka.
Merebahkan tubuh sang istri begitu pelan, Alvaro mulai melepas satu persatu pakaian yang di kenakan Dinar, Perempuan itu menurut saja. Sebab, ia pun menginginkan hal itu, dan itu tanda terima kasihnya pada suaminya yang telah memberi izin kepadanya.
...***...
...TBC...