
...~Happy Reading ~...
...***...
"Masih pagi, mukanya udah di tekuk gitu." kata Dinar memperhatikan Alvaro yang tidak bersemangat pergi ke sekolah hari ini.
Alvaro menghela napas, memutar tubuh menghadap kearah Dinar. "Bisa nggak kita pindah sekolah." rengeknya.
Dinar menahan tawa sambil memakaikan dasi untuk suaminya. "Ngaco, masa gara-gara Amanda, kita pindah sekolah," kekehnya.
"Aku jadi malas, nanti kamu lihat ya. Pasti dia berulah lagi,"
"Sabarin aja. Dulu kamu juga senang punya sahabat kayak dia,"
"Itu dulu sayang. Sekarang nggak!"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu di ketuk, di susul suara Bunda Alya di luar sana. "Al buruan, di bawah ada Amanda." Al dan Dinar saling pandang sejenak.
Alvaro membuka pintu menatap bingung pada Bundanya. "Ngapain dia pagi-pagi sudah kesini?" Bunda menaikkan bahunya.
"Katanya sih mau berangkat bareng kamu."
Alvaro mendelik seketika, mengepalkan tangan ke udara. "Benar-benar ya!" gumam Al sendiri, harus seperti apa lagi dia bicara pada gadis itu.
Apakah kurang jelas, penjelasannya kemarin. kenapa masih datang mengganggunya. "Kalau kamu nggak mau, temui dia. Bilang pelan-pelan, Bunda nggak bisa ikut campur." menepuk pundak putranya lalu pergi ke lantai satu.
Berkecak pinggang Alvaro membuang napas dengan kasar, menoleh ke kiri di mana Dinar juga sedang memandanginya.
"Turun Sayang, nanti dia malah kesini. repot lagi lihat aku di sini," kata Dinar lembut.
Alvaro membasahi bibirnya, mengambil tas yang di sodorkan Dinar. "Tunggu, aku nggak lama." pesannya di angguki istrinya.
"Selamat pagi Al," sapa Amanda sangat ceria.
Seakan melupakan pertengkaran yang terjadi di mobil kemarin. "Aku sudah buatin roti selai coklat." gadis itu mengangkat piring,.memberikannya pada Alvaro.
Tanpa merespon atau menerima piring tersebut, Al lebih memilih mengambil segelas susu coklat yang sudah Dinar buatkan untuknya.
Raut kecewa dan sedih, di perlihatkan oleh Amanda. Piring berisi satu potong roti ia taruh di atas meja kembali.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit Alvaro memilih untuk pergi saja. "Ayah. Bunda Al berangkat dulu." pamitnya.
"Nggak sarapan?"
"Nanti di sekolah," jawabnya lalu pergi ke ruang tamu.
Amanda ikut menyusul Alvaro, namun ia sempat mencium tangan Ayah Angga dan Bunda Alya terlebih dahulu.
"Al__!" teriaknya ketika cowok itu sudah di atas motor.
Tanpa di duga Amanda naik tanpa persetujuan dari yang punya motor. "Ngapain lo ikut naik?"
"Aku kesini kan mau berangkat bareng sama kamu. Yuk kita berangkat," katanya. memeluk perut Al.
Alvaro merasa risih, berusaha melepaskan tangan Amanda dari perutnya. "Lepas!" bentaknya sangat keras.
"Nggak mau! buruan nanti kita telat Al."
Alvaro bingung, di satu sisi dia ingin menjemput Dinar yang sudah menunggunya di dekat pos perumahan tempat tinggalnya.
Namun di sisi lain, jam sudah hampir pukul tujuh. sedangkan gadis di belakangnya tak henti merengek untuk segera berangkat, apalagi ini hari pertama Amanda masuk sekolah.
Dinar menunggu Alvaro dengan gelisah, tadi dia di minta untuk menunggu di tempatnya saat ini. tapi sudah hampir sepuluh menit suaminya itu belum muncul.
Selang beberapa menit, perempuan itu diam terpaku, memandang siapa yang lewat di hadapannya, motor sport merah melintas bersama seorang perempuan di boncengannya.
Bahkan Dinar melihat gadis itu memeluk erat. Hati Dinar panas, sia sia dia menunggu pada akhirnya ia di tinggal.
Padahal siapa tadi yang menyuruhnya menunggu di sini, dia sampai tidak sempat sarapan.
"Lho Non, itu tadi bukannya Den Al." kata satpam yang sudah sangat mengenal baik Alvaro dan dirinya.
"Iya Pak,"
...***...
Tiba di sekolah, Dinar telat. Pintu gerbang sudah di tutup, dia minta di bukakan pintu oleh satpam. namun tidak di izinkan.
Mengambil ponsel dalam tas, ia mendesah kecewa saat tidak ada pesan dari Alvaro, tak ada juga penjelasan dari suaminya itu. Kenapa dirinya bisa di tinggal.
Jika tau Alvaro berangkat bersama Amanda, lebih baik tadi dia naik taksi online atau ojek online.
Dinar meringis saat sinar matahari menusuk netranya, kepalanya terasa sakit, matanya berkunang-kunang, ingat jika dia tidak sempat sarapan.
Sudah tidak sarapan, di tambah tidak bisa masuk kedalam kelas, hari ini benar benar hari sial untuk Dinar. duduk di halte Dinar memijit pangkal hidungnya.
"Dinar," panggil seseorang, Dinar mendongak.
Ia sempat terkejut saat melihat cowok yang tengah berdiri di hadapannya. "Lo kenapa bisa di sini?" Cowok itu mendekati Dinar lalu duduk di sampingnya.
"Gue telat," jawabnya singkat, tanpa mau memandang cowok tersebut.
"Biasanya lo sama Al?" keponya.
Dinar sedikit menggeser duduknya, bahkan dia tak menjawab pertanyaan yang di berikan cowok itu.
Rasa gelisah, tidak nyaman dan takut, melanda hati Dinar. Saat ini yang duduk bersamanya adalah Aron, mantannya yang selalu memperlakukan buruk kepadanya.
"Lo nggak usah takut. Gue nggak akan macam-macam sama lo," Aron seolah tau apa yang Dinar rasakan.
"Lo telat?" tanyanya lagi begitu sabar.
Dinar mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Aron diam diam memperhatikan wajah Dinar, ia berubah panik ketika melihat perempuan itu meringis bibirnya juga sudah pucat.
"Din lo sakit?"
"Nggak." jawab Dinar pelan.
"Bohong, lo pucet Din." Dinar berusaha menepis tangan Aron di lengannya.
"Gue anter kerumah sakit ya? atau ke UKS?"
"Nggak usah, gue mau pulang aja." Dinar mulai berdiri.
Namun belum sempat berdiri Dinar sudah ambruk tak sadarkan diri, beruntung ada Aron yang gesit menangkap tubuh Dinar.
"Din, bangun Dinar!" Aron mencoba menyadarkan cewek itu dengan menepuk pipinya.
Tapi tak ada pergerakan dari Dinar, akhirnya ia membopong tubuh Dinar lalu mencegat taksi yang lewat.
Aron membawa Dinar ke rumah sakit terdekat, tiba di sana. Dinar di periksa oleh dokter di ruang UGD. dokter muda tersebut bilang. Jika Dinar kekurangan cairan karena perempuan itu memiliki darah rendah dan maag berat.
kondisi pasien yang seperti itu, tidak bisa jika tidak cepat mengisi perutnya dengan makanan. contohnya seperti Dinar yang langsung pingsan.
"Jadi teman saya baik-baik aja dok?" tanya Aron khawatir.
"Hanya perlu segera makan, dan beristirahat. Nanti akan pulih kembali, ini resep obat yang perlu di tebus," memberikan selembar kertas pada Aron.
"Jadi, tidak perlu di rawat inap?" dokter tersebut menoleh sekejap pada Dinar lalu kembali menatap Aron.
"Terserah saja, jika mau rawat inap silahkan. Tidak. juga tidak masalah,"
"Baik Dok, terima kasih." selepas dokter pergi, Aron mendekati brankar Dinar, memandang sendu Dinar.
"Gue mau pulang," kata Dinar saat perempuan itu sudah sadar.
"Lo yakin, nggak mau di sini dulu sampai lo pulih?" Dinar menggeleng pelan.
"Iya udah, gue tebus obat dulu. Baru gue anterin lo pulang." mendapatkan anggukan Aron bergegas pergi ke apotik untuk menebus obat yang sudah dokter resep kan tadi.
Masih terasa lemas, Dinar mengambil ponselnya. Lagi lagi ia kecewa saat tidak ada pesan dari suaminya.
Tanpa terasa air mata yang dari tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga. Ia kecewa pada Alvaro.
...***...